
Malam telah larut, mereka semua masih setia menunggu Hafidz di rumah sakit. Kinan dan Abi memutuskan untuk ke kafetaria rumah sakit untuk sekedar minum kopi agar mengusir rasa kantuk mereka.
Saat di dalam kafetaria, tak sengaja mereka bertemu Hana yang sedang duduk sendiri menikmati cokelat hangatnya. Ia memandang keluar kafetaria dengan tatapan sedih sehingga kehadiran Kinan dan Abi tidak disadarinya.
"Hana, ngapain kamu di rumah sakit?" sapa Kinan. Hana pun menengok ke arah suara yang menyapanya.
"Tante Kinan, Ka Abi? Siapa yang sakit?" tanya Hana yang tak kalah kagetnya melihat kehadiran dua orang yang tidak disangka-sangkanya.
"Kakek Han jantungnya kambuh, sekarang lagi dirawat di ICU. Kami boleh duduk di sini?" ucap Kinan.
"Astaghfirullah Kakek, maaf Tante Hana enggak tau kalo Kakek sakit. Iya Tante, silahkan!" sahut Hana mempersilahkan.
"Iya gak apa-apa Han, Kakek juga baru masuk kok. Tadi habis makan malam jantung Kakek kambuh. Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Kinan penasaran dengan keberadaan Hana di rumah sakit.
"Ibu udah mau tiga hari Tante dirawat. Tadi Dokter Rama juga ngejelasin kalo Ibu harus operasi pengangkatan payudara karena sel kankernya sudah menyebar ke beberapa tempat. Maaf Tante Hana belum sempat mengabari, Hana gak kepikiran. Pulang syuting, Hana langsung ke rumah sakit, lagian Hana juga gak mau bikin Tante khawatir" jawab Hana menjelaskan dengan raut wajah yang terlihat sangat sedih.
"Ooh, jadi karena Ibunya dia syuting jadi gak fokus tadi" ucap Abi dalam hati.
" Tante mau ketemu Ibu kamu, boleh?" izin Kinan.
"Boleh Tante, Ibu dirawat di kamar Mawar No. 305. Emh.. Hana juga mau lihat Kakek, boleh Tante?".
"Boleh. Kalo begitu kamu sama Abi ke Kakek saja, biar Tante ke tempat Ibu Irma sendirian", usul Kinan yang dianggukkan oleh Hana dan Abi. Mereka pun beranjak ke tujuan masing-masing.
Saat Abi dan Hana berjalan berduaan menuju kamar Hafidz, Abi menghentikan langkahnya dan menarik tangan Hana.
__ADS_1
"Han sebelum ke kamar Kakek, bisa gak kita ngomong berdua dulu?" pinta Abi.
"Kenapa Ka?" tanya Hana bingung.
"Kita cari tempat dulu yuk!" ajak Abi kemudian berjalan mencari tempat yang dirasa pas untuk mereka berdua berbicara. Setelah menemukan tempat yang cocok, yaitu di kursi taman rumah sakit yang tak terlalu ramai, Abi meminta Hana untuk duduk di sebelahnya.
"Kok lo gak bilang kalo nyokap lo masuk rumah sakit? Gw kan jadi enggak enak marah-marahin lo tadi di lokasi syuting. Berasa jahat banget gw" ucap Abi mengawali pembicaraan mereka.
"Jadi Ka Abi ngerasa bersalah sama Hana sekarang?" sindir Hana besar kepala.
"Ya iyalah, paling enggak kalo gw tau nyokap lo lagi sakit kan gw kurangin kadar omelan gw Han" ucap Abi membuat Hana tersenyum karena ini pertama kalinya Abi berbicara santai dengannya.
"Gak apa-apa Ka, gak semua orang kan harus tau keadaan kita. Lagian Ka Abi bener kok, aku harus ptofesional, gak boleh mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan. Makasih ya Ka.." sahut Hana tersenyum. Abi yang baru melihat Hana sedekat sekarang cukup terpesona dengan senyuman Hana, ia pun secara reflek membalas senyum Hana.
"Masa sih?" tanya Abi mengerutkan dahinya.
"Iya, tapi aku ngerti kok Ka Abi takut kan sama Mbak Raya kalo Ka Abi bersikap baik sama aku?" ucap Hana balik bertanya.
"Enggak juga.." sahut Abi salah tingkah.
"Ka Abi ngajak aku ke sini cuma mau ngomong ini doang? Kalo ngomong ini aja sih bisa sambil jalan tadi kan?".
"Ada lagi kok. Emhh.. Jadi gini Han, Kakek masuk rumah sakit kan gara-gara gw sebenernya", ucap Abi sedikit ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Lho kok bisa Ka? kenapa emangnya?" tanya Hana heran.
__ADS_1
"Jadi sebelum Kakek jantungnya kambuh, gw sempet bersitegang sama Kakek juga nyokap-bokap gw Han. Pasalnya mereka semua minta gw buat nikah sama lo. Gw udah bilang sama mereka kalo lo belum tentu mau dinikahin sama gw meskipun lo itu mengidolakan gw" jawab Abi terus terang.
"Kata siapa aku gak mau?" ucap Hana balik bertanya. Abi yang mendapat pertanyaan Hana yang seperti itu mengerenyitkan dahinya bingung.
"Sini deh Ka.." pinta Hana mendekatkan dirinya dengan Abi kemudian menunjukan ponselnya ke Abi. Abi hanya menuruti tiap ucapan Hana.
"Nih Ka lihat Grup Chattingan aku 'Abimanyu Lover', mereka yang tergabung di grup ini tuh rata-rata pada memimpikan nikah sama Kaka, begitu juga aku. Cuma masalahnya nih Ka, aku masih sekolah dan aku juga gak tau Ibu merestui aku apa gak buat nikah muda", ucap Hana membuat Abi ternganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Hana. Ia benar-benar takjub dengan kepolosan gadis di depannya itu.
"Jadi kalo nyokap lo ngerestuin lo buat nikah sama gw, lo mau?" tanya Abi, Hana pun menangguk mengiyakan dengan bersemangat.
"Kalo gitu gw bakal lamar lo, gw akan nikahin lo. Tapi ada yang harus lo tau Han, pernikahan kita cuma buat sementara aja. Maksud gw, jujur Han gw masih cinta sama Raya, masih berharap suatu saat nanti gw sama Raya masih bisa sama-sama lagi. Jadi sampai saat itu tiba, gw mau lo kerjasama sama gw Han buat menuhin permintaan Kakek supaya kita nikah. Gw harap lo gak salah faham Han, gw janji bakal kasih lo kompensasi sebesar apapun yang lo mau dan gw yang akan cari alasan kelak saat kita cerai" ucap Abi ragu-ragu. Ia takut akan menyinggung Hana, karena memang Hana sudah terlihat tersinggung dari raut wajahnya.
"Maaf Ka, Kaka tau gak arti pernikahan? Ka Abi lebih dewasa dari aku, lebih tau segalanya ditimbang aku. Pernikahan itu sesuatu yang amat sakral Ka, bukan buat main-main dan jujur aku cinta sama Ka Abi, bukan karena Ka Abi idola aku tapi memang karena aku beneran suka sama Ka abi. Tapi kalo untuk ngikutin skenario Ka Abi, maaf Hana gak bisa, Hana gak mau. Lebih baik Ka Abi minta Kakek dan keluarga Ka Abi buat cari perempuan lain, Hana gak mau", sahut Hana kesal kemudian beranjak meninggalkan Abi.
Abi cukup kaget ketika Hana dengan gamblang menyatakan perasaannya. Ini pertama kalinya Abi bertemu dengan gadis yang benar-benar apa adanya. Di saat Abi melamun, Hana sudah berdiri di hadapannya lagi. Abi pun mendongak, wajahnya mengisyaratkan pertanyaan untuk apa gadis itu kembali lagi, apakah untuk menamparnya.
"Hana kan mau jenguk Kakek Hafidz, tapi kan Hana gak tau kamar Kakek dimana kalo gak bareng sama Ka Abi. Jadi kalo Ka Abi masih bersedia nganter Hana ke sana, ayo kita ke sana" ucap Hana. Abi pun tersenyum lucu dengan tingkah Hana, ia kemudian berdiri dan berjalan di depan Hana, Hana pun mengekori Abi di belakang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ini karya pertamaku, maaf kalau belum sempurna dan mungkin banyak typo, aku sedang belajar menjadi penulis . Semoga kalian suka dengan novel pertamaku ini.
Jangan lupa vote, komen dan like nya yaaa biar aku tambah semangat nulisnya .
Terima kasih 🙏🙏😘😘
__ADS_1