
"Sana kamu bangunin Abi, semua udah siap kok, Sisanya biar Mamah sama mbak asisten yang selesaiin!" Perintah Kinan pada Hana saat mereka baru saja selesai menata meja makan untuk makan malam sekaligus menyambut kedatangan dua saudara Abi.
"Iya Mah, kalo gitu Hana ke atas dulu bangunin Ka Abi sama siap-siap" Hana kemudian beranjak meninggalkan ruang makan.
Saat hendak naik ke lantai dua Hana bertemu dengan Irma yang sudah rapi dengan gamis dan jilbab yang senada.
"Ibu cantik!" Puji Hana sambil bergelayut di tangan sang Ibu.
"Udah sana ke atas, jangan manja-manjaan terus sama Ibu!" Sahut Irma, Hana pun kemudian melanjutkan langkah kakinya ke kamar.
Sesampainya di kamar, Hana melihat Abi masih terlelap dalam tidurnya. Ia pun mendekati Abi yang tidur tengkurap, dilihatnya wajah yang begitu tampan dan damai membuat dirinya tersenyum.
"Laki gw..!" Ucapnya lirih sambil membelai wajah kokoh nan tampan Abi.
Sekian waktu terpesona oleh suaminya ia pun teringat tujuan utama datang ke kamar.
"Ka, Ka Abi bangun dong. Udah pada ditunggu di bawah tuh!" Hana terus menggoyang-goyangkan tubuh suaminya perlahan, tapi sedikitpun Abi tak terusik.
"KAAAAA ABIIIIII.. BANGUNNNN!" Teriak Hana tepat di telinga Abi. Namun Abi hanya menggeliat dan merubah posisi tidurnya saja membuat Hana kesal.
"Wahhhh bener-bener nih orang, ganteng-ganteng kebo!" Keluh Hana. Ia pun mencoba sekali lagi menggoyang tubuh suaminya sambil terus menerus memanggil namanya.
Setelah sepuluh menit akhirnya usaha Hana membuahkan hasil, Abi mulai membuka matanya. Abi tersenyum ketika melihat Hana dengan wajah kesal dan seperti ingin menangis.
"Kok sedih gitu tuh muka?" Tanya Abi yang sudah duduk menghadap istrinya.
"Kaka mah yaa kalo tidur susah banget dibanguninnya. Aku sampe capek, rasanya pengen nangis aja!" Jawab Hana dengan wajah kesal.
"Iya deh maaf, gw kalo kecapekan emang gini Han. Lo kudu strong yaaaa!" Ucap Abi kemudian beranjak dari ranjangnya menuju ke kamar mandi.
"Jangan lupa wudhu sekalian, shalat isya!" Perintah Hana membuat Abi menengok ke arah istrinya.
"Lo bener-bener pengen jadiin gw suami soleh yaa Han?" Tanya Abi.
"Kan sholat wajib Ka, Kaka harus biasain menjalankan kewajiban Ka Abi sekarang. Gak apa-apa terpaksa juga, lama-lama nanti sholat jadi kebutuhan Ka Abi" jawab Hana riang.
Abi kemudian menghampiri Hana, menarik tangannya agar berdiri. Hana dibuat bingung oleh apa yang dilakukan suaminya, terlebih saat tangan Abi berada di pinggang Hana untuk menahan tubuhnya agar tetap berada dalam posisi sangat dekat dengannya.
Hana harus mendongakkan kepalanya untuk melihat suaminya yang memang jauh lebih tinggi darinya, jantungnya berdegup sangat kencang saat manik matanya bertemu dengan manik mata Abi yang juga menatapnya intens.
"Kenapa?" Tanya Hana dengan suara lirih karena gugup.
__ADS_1
"Berarti lo juga harus belajar buat jadi istri yang baik mulai sekarang karena gw akan meminta hak gw sebagai suami lo. Lo ngerti kan?" Abi pun tersenyum setelah menyelesaikan ucapannya. Ia kemudian mengecup bibir Hana yang masih fokus menatapnya.
"Ka Abi rese ihh, main sosor aja!" Gerutu Hana kemudian mendorong tubuh Abi agar menjauh darinya.
"Hehehe.. Siapin baju santai aja jangan baju formal!" Perintahnya sebelum kembali ke kamar mandi.
Hana pun kemudian mengambil pakaian santai sesuai dengan yang diminta suaminya. Saat meletakan pakaian yang ia ambil dari walk in closet di ranjang. Ponsel Abi berbunyi nada pesan, terlihat di layar nama Raya yang mengirimkan pesan.
Ia pun mencoba untuk membuka pesan tersebut, tapi sayang ponsel Abi memakai password, Hana pun dibuat semakin kesal, " biasanya gak di password, cihhh istri yang baik?? Kelakuan kamu aja begini sok-sok nuntut hak!!" Ia pun kemudian meletakan ponsel Abi ke tempatnya semula.
Setelah setengah jam, Abi pun keluar dari dalam kamar mandi. Ia kemudian mengambil pakaian yang disiapkan oleh Hana dan memakainya.
"Muka lo kenapa ditekuk gitu? Masih marah sama gw gara-gara gw sosor tadi?" Tanya Abi ketika memperhatikan raut wajah Hana.
"Enggak, kenapa harus marah? Udah halal ini! Tapi tuh yang haram kayaknya minta disosor juga!" Kesal Hana dengan tatapan tajam.
"Apaan sih?" Tanya Abi bingung dengan ucapan Hana.
"Udahlah, ayo turun! Gak enak kalo yang lain nunggu kelamaan. Ohh ya Ka Abi gak perlu password hape Ka Abi buat ngelindungin dia, yang penting jangan pernah ngebiarin aku sama dia berada di satu tempat kalo gak mau aku rauk mukanya!" Ucap Hana saat melewati Abi.
Abi pun kemudian langsung mengambil ponselnya dan sesuai dugaannya bahwa Hana marah karena tau Raya mengiriminya pesan.
Mendengar suaminya ingin melaksanakan sholat, ia pun tak jadi keluar kamar dan memilih kembali duduk di sofa menunggu suaminya beribadah.
Setelah beberapa saat, Abi pun menyelesaikan sholatnya. Seperti biasa ia tak berdoa.
Melihat suaminya sudah selesai Hana pun beranjak dari duduknya, meninggalkan Abi yang masih melipat sarungnya.
Sadar ditinggal, Abi pun kemudian berlari untuk menghampiri Hana.
"Buru-buru amat sih?" Tegur Abi saat sudah berhasil berjalan di sebelah Hana.
"Gak enak, udah ditungguin yang lain di bawah!" Jawab Hana ketus.
"Jutek amat sih lo?" Kesal Abi.
"Itu kenapa sih hape Kaka pake di password segala, kemarin-kemarin enggak! Kesel aku tuh!" Sahut Hana, ia pun menghentikan langkahnya dan menatap suaminya tajam.
"Idihhh hape-hape gw, suka-suka gw dong!" Ledek Abi membuat Hana makin kesal.
"Tapi aku gak suka Ka" keluh Hana.
__ADS_1
"Lah itu sih masalah lo!" Lagi ucapan Abi membuat Hana semakin kesal.
"Ya udah kalo begitu hape Hana juga Hana pasaword!" Ancam Hana.
"Terserah..!" Sahut Abi kemudian meninggalkan Hana yang masih terdiam di tempatnya berdiri.
Hana pun kemudian berlari kecil mendahului Abi.
"Ngeselin..!" Umpatnya ketika berhasil melewati Abi. Abi yang mendengar umpatan sang istri hanya menyunggingkan senyumnya.
Hana menuruni tangga dengan kesal, karena tak hati-hati Hana tak sadar melewati satu anakan tangga yang membuat dirinya kehilangan keseimbangan. Beruntung Abi berada tepat di belakangnya dan langsung menahan perut Hana agar ia tak jadi jatuh ke bawah.
"HATI-HATI, TELEDOR BANGET SIH LO. UNTUNG GW PAS DI BELAKANG LO KALO GAK UDAH JATOH LO, TAU GAK!" Gertak Abi dengan sorot mata marah.
"Maaf..!" Sahut Hana lirih sambil menundukan kepalanya.
Abi tak menjawab ucapan Hana, ia hanya menggenggam pergelangan tangan Hana kemudian melanjutkan langkah mereka. Hana yang sadar sudah membuat kesalahan hanya terdiam dan mengikuti langkah Abi.
Sebelum memasuki ruang makan, Abi menghentikan langkahnya. Ia menghadapkan tubuh Hana ke tubuh nya. Hana pun mendongak an kepalanya untuk melihat suaminya.
Mata Hana terlihat memerah menahan tangis, ini pertama kalinya Hana mendengar bentakan yang begitu keras selama hidupnya membuat hatinya merasa sakit.
"Maaf ya gw udah bentak lo, gw panik tadi" ucap Abi memegang dagu Hana lembut, Hana pun hanya mengangguk.
"Ya udah kita masuk yuk, jangan sedih gitu mukanya entar gw diintrogasi sekeluarga apalagi Kakek, bisa-bisa gw dicoret dari daftar ahli waris kalo tau gw ngebentak cucu mantu kesayangannya" goda Abi yang tak ayal membuat Hana tertawa mendengarnya.
"Berarti Kaka jangan macem-macem sama Hana kalo masih mau aman posisinya. Kasih tau aku password hape Kaka apa ya, kalo gak aku aduin ke Kakek!" Sahut Hana.
"Lah dia password lagi yang dibahas!" Abi pun mencium pipi Hana untuk menggodanya.
"Ihhh Kaka mah ngelunjak, nyosor mulu kalo Hana gak ngeh!" Gerutu Hana memukul dada bidang Abi.
"Emang kalo lo ngeh, gw boleh cium lo?" Tanya Abi.
"Enggak lah" jawab Hana.
"Nah kan. Ya udah yukk masuk gak enak ditungguin" ajak Abi kemudian kembali menggandeng Hana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
...Yuhuuu, tinggalkan jejak kalian yaaa biar aku tetep semangat lanjutin ceritanya 😘😘...
__ADS_1