
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Malam seperti biasa Abi melakukan kegiatan makan malamnya sambil berchattingan dengan sang istri, bedanya saat ini ada Juna yang ikut makan malam bersamanya di kamar.
"Harus lo ikut nimbrung di sini?" Salak Abi kesal melihat Juna yang cuek saja menikmati makan malamnya.
"Katanya elo minta petuah gue supaya si Barbie enggak takut lagi sama elo..!" Sahut Juna tanpa menoleh ke arah Kakaknya.
"Lo bisa bantu gue?" Tanya Abi bersemangat.
"Yaa gue enggak tau sih bakal berhasil apa enggak, tapi kita coba aja dulu!" Jawab Juna.
"Emang apa ide elo?" Tanya Abi lagi penasaran.
"Elo harus sering-sering berada di sekitaran Hana dan pastikan Hana juga ngelihat keberadaan lo!" Jawab Juna menatap pasti kepada Kakaknya.
"Gak mungkinlah, gila kali lo. Hana bisa histeris ntar, bisa panik dia!" Tolak Abi.
"Mungkin awalnya bakal begitu Mas, tapi dia harus mulai membiasakan diri dengan keberadaan elo. Kalo kalian begini terus kapan kalian dapet kemajuannya, kalian bakal tetep sebatas chattingan aja?" Sahut Juna.
"Mas, Hana harus mulai dilatih buat nerima elo, dia harus belajar buat ngeyakinin dirinya kalo keberadaan elo gak menakutkan dia lagi, dia harus mulai percaya kalo elo itu udah berubah dan bukan lagi sosok yang mengerikan buat dia. Dia harus pelan-pelan mengikis rasa takutnya mas, apalagi gue lihat dia juga pengen banget berdekatan sama elo. Kalian itu lagi sama-sama tersiksa dengan situasi kalian saat ini dan kalian harus berani ngambil keputusan buat mengakhiri siksaan ini!" Melihat Kakaknya terdiam, Juna terus menyakinkan sang Kakak bahwa dia harus berani mencoba cara yang dia usulkan.
"Tapi, gimana kalo Hana justru malah kambuh?" Abi terlihat masih ragu dengan ide sang adik.
"Nara juga lagi ngejelasin sama persis dengan apa yang gue omongin ke elo ini, jadi Hana juga bisa mempersiapkan dirinya!" Ucap Juna bersemangat.
"Tapi gue tetep masih gak yakin, video call an aja waktu itu dia langsung panik, ketakutan!" Keluh Abi.
__ADS_1
"Ya lo harus tega Mas, gue yakin semakin lama dia terbiasa dengan keberadaan lo, dia bakal semakin cepet mengikis ketakutannya!" Sahut Juna kembali menyakinkan Kakaknya tersebut.
"Gimana gue mengawalinya?" Tanya Abi.
"Dengan sering muncul di hadapan dia!" Jawab Juna pasti.
"Tapi__" Abi masih saja merasa ragu dengan usulan Adiknya itu, dia benar-benar tak sanggup melihat sang istri diserang kepanikan jika berhadapan dengan dirinya.
"Udah sih Mas, jangan ragu lagi kenapa, percaya sama gue. Gue juga gak mungkin kan ngejerumusin kalian, lagian emang elo mau stuck begini-begini aja terus gak ada kemajuan apa-apa? Lo gak kangen meluk dia, nyium dia, ngelonin dia, ikhtiar bersama bikin ponakan buat gue sama Nara gitu?" Goda Juna dengan tawa yang mengesalkan membuat Abi langsung menoyor dahi sang adik, tetapi sesaat kemudian sama-sama tergelak.
"Kangenlah..!" Sahut Abi dengan wajah memerah.
"Iyalah udah hampir setahun kan ya?" Ucap Juna mengingatkan membuat wajah sang Kakak kembali sendu.
"Udah yang lalu biarlah berlalu, jangan diinget-inget lagi. Sekarang saatnya buat memperjuangkan masa depan kalian buat kembali bersama lagi!" Tahu jika Sang Kakak teringat tentang malam mengerikan itu, Juna mencoba untuk menghibur dan menyemangatinya.
Abi hanya menanggapi ucapan sang adik dengan senyuman, ia tahu sudah saatnya ia melepas belenggu masa lalu yang menyakitkan itu, sudah saatnya ia memperjuangkan kembali istrinya.
"By the way, gue mau tanya ke elo Mas. Elo kan udah mau setahun kan nih ya gak nyentuh si Barbie, itu kalo si perkasa kangen sama hunian nya gimana Mas?" Ledek Juna sambil terpingkal-pingkal.
"Nyewa jal*ng?" Jawab Juna asal yang langsung dilempar mentimun sisa makan malam Abi.
"Gue bukan cassanova yang gampang gonta ganti perempuan, selama hidup gue cuma Hana dan perempuan laknat itu yang nafkahin batinnya!" Sahut Abi malas.
"Dan cuma Hana yang bakal selamanya jadi tempat gue pulang!" Lanjutnya lagi dengan tersenyum yakin.
"Tapi sekarang kan lagi gak bisa pulang, gimana dong tuh kalo kangen?" Goda Juna lagi karena tak ingin membuat Kakaknya terlalu melankolis.
"Gimana lagi, solo karier lah. You know what i means very well, right?" Sahut Abi membuat tawa Juna langsung meledak.
***
__ADS_1
Dan benar saja pagi ini, sesuai rencana mereka berempat. Kini mereka mulai berlatih untuk Hana dan Abi berhadap-hadapan.
Dan saat ini, Hana tengah duduk di meja makan bersama anggota keluarga untuk menikmati sarapannya, sedangkan Abi meskipun duduk di meja terpisah namun masih di ruangan yang sama seorang diri menghadap ke arah istrinya.
Hana terlihat gelisah, sesekali ia menatap ke arah suaminya dengan tatapan takut, panik, tapi juga terkadang dengan tatapan iba melihat suaminya hanya duduk seorang diri.
Beberapa kali bahkan Hana menjatuhkan garpu atau pun sendoknya dan tentu makanannya ketika tatapannya bertemu dengan Abi.
Sedang Abi yang melihat kegelisahan dan kepanikan istrinya mulai merasa tak tega, saat memutuskan untuk beranjak dari mejanya, ia harus mengurungkan niatnya karena Juna memberi peringatan agar dirinya tetap di tempat.
Dan hal yang tak diinginkan oleh Abi dan juga anggota keluarganya yang lain terjadi, Hana mulai menangis dengan suara tangisan yang cukup pilu ketika kebiasaannya saat ia harus berhadapan dengan suaminya terjadi.
"Maaf, aku.. aku ngotorin kursi makannya dengan, dengan pipisku. Aku, aku gak sengaja!" Isak Hana dengan suara tercekat dan terbata-bata.
Hati Abi begitu perih melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini, pemandangan yang cukup memilukan. Ia pun lantas menatap Juna penuh amarah yang ditanggapi Juna santai sambil berucap tanpa suara "sabar".
"It's okay sweet heart, it's okay!" Ucap Qirani mencoba menenangkan Hana.
"Nanti dibersihkan Sayang, gak apa-apa!" Lanjut Qirani mengusap-usap punggung Hana yang tengah menenggelamkan wajahnya di perut sang nenek sambil terus terisak.
"Hana malu..!" Ucap Hana dengan suara tercekat.
"Gak apa-apa sayang, kita semua ngerti. Hana yang sabar ya!" Sahut Qirani untuk kemudian meminta salah satu maid mengambilkan jubah mandi milik Hana dan juga menyuruh semua yang berada di ruang makan untuk keluar meninggalkan Hana dan dirinya.
Setelah maid itu datang membawakan jubah mandi milik Hana, dengan sangat sabar Qirani melepaskan dress Hana yang telah basah dengan air seninya tanpa jijik sama sekali.
Masih dengan tangisan yang sesegukan Hana mengikuti semua perintah yang diucapkan oleh Qirani.
"Sekarang Hana pakai jubahnya dulu ya, nanti ikut Omma ke kamar Omma aja. Omma bantu Hana mandi ya Sayang!" Ucap Qirani penuh Kasih yang diangguki oleh Hana.
"Maaf Hana mengacaukan sarapan pagi ini!" Sesal Hana.
__ADS_1
"Enggak apa-apa Sayang, kita semua juga udah selesai kok sarapannya!" Sahut Qirani untuk kemudian menggandeng Hana menuju kamar sang Omma.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=