
Sepanjang perjalanan pulang Hana terus saja memikirkan permintaan Hafidz. Dia benar-benar merasa telah mengecewakan laki-laki yang sudah dia anggap seperti Kakeknya sendiri itu.
Ahh andai saja kekagumannya dibalas oleh Abi mungkin Hana akan dengan senang hati menerima permintaan Hafidz.
Angga dan Irma terus menerus memperhatikan Hana yang sering menghela nafasnya. Gadis yang biasa berisik itu semenjak dipanggil Hafidz ke kamarnya mulai menjadi pendiam.
"Kakek Hafidz ngomong apa sama kamu Han?", tanya Irma memecah kesunyian di dalam mobil yang dikendarai oleh Angga.
"Enggak ngomong apa-apa Bu, bukan sesuatu yang penting kok", jawab Hana menatap Ibunya yang duduk di kursi depan sebelah Angga yang terus fokus menatap jalanan malam.
"Kalo gak pinter bohong, enggak usah ngebohong", sindir Irma, Hana yang tersindir pun menyunggingkan senyumnya.
"Tadi Kakek Hafidz minta Hana buat nikah sama Ka Abi", jawab Hana sendu.
"Apa? Kok bisa Kakek kepikiran buat nikahin kalian berdua?", tanya Irma terkejut. Hana hanya menggelengkan kepalanya menandakan kalo dia sendiri pun tak tau alasan Kakek Hafidz ingin dia dan Abi menikah.
"Terus kamu ngejawab apa?", tanya Irma penasaran.
"Hana ngejawab apa yang harus Hana jawablah Bu", jawab Hana.
"Iya apa?", tanya Irma lagi dengan mimik kesalnya.
"Hana nolak permintaan Kakek, habis Hana takut kalo Ka Abi mikir Hana tuh aji mumpung sama sikon dia saat ini".
"Jadi kalo semua gak kayak sekarang kamu mau mengabulkan permintaan Kakek Hafidz?", tanya Irma penuh selidik.
"Ya maulah Bu, siapa juga yang gak mau nikah sama idolanya? Tau gak Bu di Grup Chattingan Abimanyu lover, semua penggemar dia tuh rata-rata pada ngehaluin nikah sama Kak Abi. Kalo aku nikah sama Ka Abi berarti gak sia-sia dong aku ngehaluin dia selama ini", jawab Hana menerawang ke atas dan tersenyum penuh arti. Irma dan Angga yang mendengar jawaban Hana hanya menggelengkan kepala mereka.
"Tapi Hana sedih Bu sebenernya, ngelihat Kakek yang bener-bener berharap Hana buat jadi cucu mantunya harus Hana tolak. Wajah beliau yang awalnya penuh harapan, tiba-tiba harus sedih denger penolakan Hana", ucap Hana sedih.
"Lagian kamu juga masih kelas dua belas masa iya mau nikah? Toh karier kamu sedang bagus-bagusnya saat ini, gimana coba kamu buat nanganin nya? Pekerjaan, karier, sekolah?", selidik Irma lagi.
"Menurut Ibu gimana? Aku udah bener nolak permintaan Kakek?", tanya Hana memajukan duduknya agar dapat mendekati kursi Ibunya.
__ADS_1
"Iya, kali ini kamu pinter. Beda cerita kalo Abi yang dateng meminta kamu langsung baru Ibu pikirkan lagi, karena itu artinya Abi siap bertanggung jawab semua tentang kamu", jawab Irma.
***
Keesokan harinya Abi terbangun saat pukul delapan pagi. Hari ini memang Abi tidak ada jadwal syuting apapun. Semalam dia baru bisa tertidur pukul tiga pagi. Beberapa kali Raya menghubungi ponsel Abi, namun ia tak hiraukan.
"Pagi sayang, gimana tidur kamu?", tanya Kinan saat Abi sudah bergabung di meja makan untuk sarapan pagi.
"Lumayan Mah. Kakek mana? Kok belum gabung sarapan?", tanya Abi ketika menyadari sosok Kakeknya tidak hadir di meja makan.
"Kakek kurang enak badan, dari semalem. Tadi bangun shalat subuh doang, habis itu masuk ke kamar lagi, belum keluar-keluar. Habis sarapan nanti biar Mamah antar sarapan ke Kakek", jawab Kinan, kemudian memberikan sandwich telur untuk Abi.
"Biar Abi aja yang kasih ke Kakek Mah, sarapannya", ucap Abi kemudian memakan sarapannya.
"Baiklah kalo begitu..", sahut Kinan. Mereka pun menikmati sarapan pagi itu dengan tenang. Rendra terlihat belum mau berbicara dengan Abi, mungkin dia masih marah dengan kelakuan Abi semalam yang memang keterlaluan.
Selesai sarapan Rendra langsung berpamitan berangkat ke kantor, sedangkan Kinan menyiapkan sarapan Hafidz di nampan agar dibawa oleh Abi.
Abi pun menerima nampan yang diberikan Kinan, kemudian beranjak ke kamar sang kakek. Sesampainya di kamar Hafidz, Abi mengetuk pintunya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang nampan. Mendengar sang Kakek memintanya masuk, Abi pun membuka pintu kemudian masuk ke dalam kamar.
"Aku bawa sarapan buat Kakek..", ucap Abi menghampiri sang Kakek yang sedang asyik membaca buku di sofa ujung dekat jendela.
Abi pun meletakkan nampan di meja, duduk mengahadap sang Kakek. Ia masih melihat guratan kesedihan di wajah kakeknya.
"Makan Kek, Abi temani Kakek makan yaa..", ucap Abi, Hafidz mengangguk kemudian mulai memakan sarapannya pelan-pelan.
Ada rasa sedih di hati Abi saat memperhatikan Kakeknya makan, dia sadar betul betapa ia sudah menorehkan luka di hati keluarganya, menoreh kekecewaan dengan perilakunya selama ini.
"Maafin Abi Kek..", ucap Abi lirih. Hafidz pun menghentikan kegiatan makannya, menatap sendu cucu di hadapannya.
"Bagaimana dengan kalian? Apa ada pembicaraan lagi setelah tadi malam?", tanya Hafidz kemudian mengelap mulutnya dengan tisu. Ia pun menatap dalam cucunya, ingin mendengar semua yang akan Abi utarakan.
"Tidak ada Kek, aku udah ngelepas dia sesuai mau dia. Maaf kalo selama ini aku udah ngebuat Kakek sedih dengan kelakuanku, ngebuat Kakek kecewa", jawab Abi tertunduk.
__ADS_1
"Apa berat rasanya melepaskan wanita itu?", tanya Hafidz lagi membuat Abi mendongak dan menatap wajah sang kakek.
"Aku sayang Kek sama Raya, bohong kalo perpisahan antara aku sama dia gak berat. Tapi aku udah gak mau ngebuat keluarga ini lebih kecewa lagi, aku tau aku salah, cara yang aku dan Raya ambil salah karena hidup tanpa ikatan pernikahan. Maaf Kek..".
"Mungkin untuk Raya hidup yang kalian jalani itu biasa karena dia dibesarkan di luar negeri, sedangkan untukmu harusnya kamu tau selama ini bagaimana Kakek dan orang tua mu membesarkan kamu dan adik-adikmu. Bahkan meskipun saat ini adik-adikmu kuliah di luar negeri Kakek sama sekali tidak lepas untuk mengawasi mereka. Abimanyu semua orang melakukan kesalahan, tapi Kakek harap kamu tidak lagi melakukan kesalahan yang sama", ucap Hafidz menasehati.
"Aku akan berusaha menjadi lebih baik Kek..", sahut Abi.
"Menikahlah..!", pinta Kakek tiba-tiba.
"Apa?", tanya Abi terkejut dengan apa yang baru saja Hafidz ucapkan.
"Yaa, menikahlah.. Kakek sudah memilihkan perempuan baik-baik untukmu", ucap Hafidz lagi.
"Tapi Kek..". Belum sempat Abi melanjutkan kata-katanya Hafidz memotong kata-kata yang ingin Abi ucapkan, "apa kamu masih mengharapkan Raya?".
Abi terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Memang ia masih berharap Raya akan datang, ia akan mau untuk dinikahinya. Tetapi ia juga penasaran dengan siapa kakeknya ingin menjodohkannya.
"Kalo kamu bertanya-tanya siapa perempuan yang ingin Kakek jodohkan denganmu dia adalah Hana", ucap Kakek seakan mengerti apa yang sedang Abi fikirkan.
"Hana?", tanya Abi tidak yakin dengan nama yang diucapkan oleh Hafidz.
"Iya Hana, gadis yang menjadi teman Mamahmu itu. Kakek yakin ia bisa merubahmu menjadi orang yang lebih baik lagi, dia anak yang baik", jawab Kakek membuat Abi terdiam menatap sang Kakek.
"Dia masih kecil Kek, SMA aja belum lulus masa iya dia sih Kek? Kakek bercandanya gak lucu.. Hahaha..", ucap Abi memaksakan tawanya.
Hafidz yang melihat kesamaan antara Abi dan Hana dalam menanggapi permintaannya hanya tersenyum. Hal itu membuatnya yakin bahwa Abi dan Hana akan menjadi pasangan yang cocok.
"Pikirkan baik-baik, jangan kecewakan kami lagi. Anggap saja ini permintaan terakhir Kakek!", ucap Kakek tegas.
"Kakek selau membawa-bawa permintaan terakhir, bikin aku terbebani aja", keluh Abi, kemudian berdiri, "ya nanti Abi coba fikirkan, tapi aku gak janji. Aku permisi dulu ya Kek, mau mandi!".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1