My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Rumah Sakit Jiwa


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


Setelah situasi terkendali, Kinan yang duduk di sebelah Abi yang sedang diobati lukanya seakan sedang berusaha menenangkan dirinya.


Semua begitu mengejutkan hari ini, tak pernah menyangka Hana sang menantu begitu tertekan jiwanya dan Kinan tak sama sekali mengalihkan perhatiannya kepada Hana yang saat ini juga sedang mendapatkan penangan pada luka ditangannya.


"Mamah enggak nyangka kalo menantu Mamah setertekan ini Bi, Mamah kangen Hana yang ceria, Hana yang manis, Hana yang selalu manja pada Mamah pada siapapun!" Isak Kinan makin menjadi membuat Abi berinisiatif membawa tubuh Kinan ke dalam dekapannya.


"Maafin aku Mah, semua ini kesalahan aku..!" Ucap Abi penuh sesal.


Tangis Kinan semakin menjadi ketika menyaksikan seorang perawat mengikat kedua pergelangan tangan dan kedua pergelangan kaki Hana.


"Ya Allah..!".


"Kenapa harus diikat Dok?" Tanya Abi terselip protes pada Diana.


"Maafkan kami sebelumnya Mas Abi, kami terpaksa mengikat Hana untuk menghindari kemungkinan jika Hana akan meyakiti dirinya sendiri dan menyerang orang lain. Kita sama sekali tak bisa menerka apa yang sedang difikirkan Hana saat ini, yang jelas kami melakukan hal ini untuk megurangi resiko buruk jika mood Hana masih belum membaik!" Jelas Diana membuat hati Abi juga Kinan berdenyut nyeri.


Abi bahkan mengusap wajahnya kasar mendengar kenyataan tentang istrinya.


"Dan melihat apa yang terjadi hari ini, saya dan Dokter Leonard pun sudah sama-sama mendiskusikan tentang penanganan terbaik untuk Hana adalah dengan berat hati kami sepakat untuk memindahkan Hana ke rumah sakit jiwa" ucap Diana berat hati langsung disambut isak tangis yang lebih pilu dari Kinan, serta helaan nafas berat dari Abi yang juga sudah meneteskan air matanya.


"Hana membutuhkan perawatan kejiwaannya lebih intensif dan hanya bisa dilakukan di rumah sakit jiwa karena Hana benar-benar tertekan mentalnya!" Lanjut Diana lagi yang mengerti kegundahan Abi dan Kinan.

__ADS_1


"Kapan Hana akan dipindahkan, Dokter?" Tanya Abi berat hati.


"Secepatnya setelah keluarga menyetujui pemindahan Hana dan menyelesaikan prosedur proses pemindahan Hana!" Jawab Diana.


"Baik Dok, akan kami diskusikan dengan seluruh keluarga dan akan kami beritahukan secepatnya keputusan kami. Terima kasih banyak Dok!" Sahut Abi.


"Kami tunggu keputusan keluarga ya Mas Abi, semakin cepat semakin baik agar kami segera menangani kondisi kejiwaan Hana sebaik mungkin!" Diana dan Leonard kemudian meminta izin untuk keluar ruangan setelah menyelesaikan tugas mereka, begitu pula para perawat.


"Kita harus mengumpulkan seluruh keluarga Bi, hubungi mereka untuk segera datang ke rumah sakit, termasuk Kakek!" Perintah Kinan yang langsung dilaksanakan oleh Abi.


***


Dan sore ini semua anggota keluarga telah berkumpul di salah satu meeting room yang mereka pinjam dari pihak rumah sakit. Sedang Irma yang datang lebih dahulu masih di ruangan puterinya, lebih memilih untuk menemani sang puteri yang masih belum sadarkan diri dan menyerahkan semua keputusan pada keluarga yang lain karena yakin keputusan yang akan mereka ambil adalah yang terbaik untuk puterinya.


Irma memandang nanar sang puteri, sekali lagi hatinya seakan dibuat hancur dengan keadaan Hana saat ini. Bahkan air matanya sama sekali tak berhenti sejak Abi menghubunginya dan memberitahukan apa yang sudah terjadi serta keadaan Hana saat ini. Juga ketika pertama kali melihat keadaan sang puteri dengan mata kepalanya sendiri membuat hati seorang Ibu begitu tersayat, perih.


Setelah hampir satu jam mereka melakukan pembicaraan, mereka kembali ke ruangan Hana untuk menemui Irma dan memberitahukan keputusan yang sama-sama mereka telah ambil.


"Iya Mbak..!" Sahut Irma.


"Bisa kita bicara sekarang?" Tanya Kinan.


"Bisa Mbak, bisa..!" Jawab Irma cepat.


"Irma, kami ingin sekali meminta persetujuan dari kamu terlebih dahulu. Kita semua setuju untuk memindahkan Hana ke rumah sakit jiwa dan aku tau kamu pun menyetujuinya__!" Kinan menjeda ucapannya sesaat, saat Irma mengangguk.


"Dan hal ini yang ingin kami mintai persetujuan dari kamu, karena menurut kami apa yang kami akan lakukan untuk Hana adalah yang terbaik untuk kesembuhannya__!" Irma mengernyitkan dahinya karena sama sekali belum mengerti arah pembicaraan Kinan.

__ADS_1


"Apa Mbak?".


"Maafkan kami sebelumnya, emh.. apakah kami boleh membawa Hana berobat ke Amerika?" Kinan sedikit ragu mengutarakan niatannya tersebut, terlebih melihat raut wajah terkejut dari sang besan.


"Apa harus Mbak?".


"Kami bukannya meragukan rumah sakit negara kita, hanya saja mungkin perbedaan suasana bisa mempercepat kepulihan mental Hana. Kami juga sudah membicarakannya pada orang tua saya, mereka siap menjaga dan merawat Hana dan jika kamu mau, kamu bisa ikut dengan Hana ke sana dan menjalani pengobatan kanker di sana!" Jawab Kinan mencoba menyakinkan.


"Tidak mbak, saya di sini saja. Jika memang keputusan itu baik untuk Hana, saya setuju-setuju saja. Saya hanya ingin melihat Hana cepat sembuh!" Ucap Irma ikhlas.


"Maafkan kami..!" Kinan langsung memeluk erat tubuh besannya tersebut, terselip rasa bersalah yang teramat sangat di hati Kinan akan keadaan saat ini. Karena ulah sang putera membuat Irma harus dipisahkan dari sang puteri, satu hal yang sama sekali Irma sangka dalam hidupnya.


"Ini semua gara-gara ulah bajingan satu ini, andai dia tak sebodoh itu mungkin saat ini Hana sedang hidup berbahagia, tanpa rasa takut dan kesakitan!" Geram Hafidz menatap tajam penuh amarah ke arah Abi.


Memang hanya Hafidz lah yang belum sama sekali memaafkan Abi, ia bahkan belum pernah mengucapkan satu kata pun sejak awal Hana mengalami peristiwa memilukan ulah sang cucu.


"Papi..!" Tegur Kinan mencoba untuk menenangkan emosi ayah mertuanya itu.


"Saya benar-benar enggak habis fikir, laki-laki secerdas dia bisa berkali-kali dibodohi oleh perempuan ular itu.." Hafidz seperti enggan berhenti menguliti Abi. Ia benar-benar meluapkan kemarahannya yang selama ini ia pendam.


"Saya hanya ingin tau, jika kelak mimpi buruk ini telah berakhir apakah dia akan tetap sebodoh ini berhadapan dengan Raya dan mengorbankan orang-orang yang peduli dengannya juga istri yang benar-benar mencintainya..?" Hafidz terus mencecar Abi yang hanya terdiam.


"Andai saja saya punya hak lebih atas diri Hana, saya tak akan pernah membiarkan bajingan ini mendekati Hana lagi. Cukup perlakuan keji yang dia lakukan selama ini pada Hana, bayangkan usia Hana masih sangat muda, masih 19 tahun tapi lihat kesakitan yang perempuan muda itu alami!" Telak, Hafidz benar-benar menyadarkan Abi melalui kata-kata yang begitu menampar telak dirinya.


Selama Hafidz meluapkan kemarahannya, tak seorang pun dari mereka yang berani mengintrupsinya. Ini kali pertama Hafidz dilanda kekecewaan dan kesedihan yang teramat sangat dalam. Ia pun merasa amat sangat bersalah karena dirinya lah yang memaksa Hana untuk mau menjadi pendamping cucu laki-lakinya.


Puas melampiaskan kemarahannya, Hafidz langsung keluar dari ruang perawatan Hana membuat semua yang masih berada di sana menatap iba pada Abi yang terdiam dengan raut wajah penuh sesal, bahkan air matanya sesekali lolos dari mata hazel itu.

__ADS_1


"Ibu akan berbicara dari hati ke hari dengan Kakek kamu, Nak. Ia hanya sedang kecewa dan merasa bersalah, tapi Ibu yakin ia juga akan mengerti bahwa kamu pun tak pernah menginginkan semua ini terjadi!" Ucap Irma bijak.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2