
Jam menunjukan pukul 10 pagi, Abi terlihat menekuk wajahnya saat mengantarkan Hana ke tempat yang sama sekali belum ia ketahui.
Bukan lantaran kesal harus mengantarkan Hana, namun ia kesal karena saat ingin melanjutkan kegiatan suami istri mereka kemarin ternyata justru Hana datang bulan.
Berbanding terbalik dengan sang suami, Hana justru terlihat senang, sesenang-senangnya karena periode bulanannya menyelamatkannya dari tuntutan hak suaminya yang sebenarnya dia belum siap sama sekali untuk melepas mahkotanya.
"Ka kita mampir ke swalayan itu dulu yukkk!" Tunjuk Hana pada swalayan besar yang mereka akan lewati, tanpa mengucapkan apapun Abi membelokan mobilnya sesuai kemauan Hana.
"Abis dapet transferan, shoping teruss!" Sindir Abi sambil memarkirkan mobilnya.
"Kaka ikut yuk!" Ajak Hana saat hendak turun dari mobil.
"Gak ahh males gue, mending nunggu di sini sambil video call an sama Yayang" Sahut Abi membuat Hana kesal bukan main, ia pun kemudian membuka pintu mobil dan menutupnya sekencang mungkin saat sudah di luar.
Hana meninggalkan Abi dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakan untuk memperlihatkan kekesalannya. Sedangkan Abi jangan ditanya lagi, ia begitu menikmati kemarahan istri kecilnya.
Setengah jam sudah berlalu akhirnya Hana sudah keluar bersama dua orang pegawai yang mendorong dua troli penuh dengan barang belanjaan.
"Ka buka pintu belakang, biar Abang-Abang ini masukin belanjaan aku!" Pinta Hana riang.
Setelah membuka pintu belakang, Abi keluar dari mobilnya dan berdiri di sebelah Hana yang sedang asyik melihat pegawai-pegawai swalayan itu memasukan belanjaannya.
"Kemaren lo kan udah belanja semua bahan pokok, kok ini lo belanja lagi? Mana banyak banget lagi?" Tanya Abi bingung, Hana tidak menjawab ia hanya menyunggingkan senyumnya.
Selesai menata belanjaan di mobil, Hana memberikan uang tips kepada dua pegawai yang telah membantunya.
"Makasih yaa Bang udah bantuin aku, ini ada buat beli air mineral!" Ucap Hana sambil memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan.
"Sama-sama Ka, kita juga makasih! Emhh.. Boleh gak Ka kita minta foto bareng sama Ka Hana!" Pinta salah seorang pegawai malu-malu.
"Boleh, sini!" Ajak Hana meminta kedua pegawai itu mendekat. Mereka kemudian berfoto bersama dengan Hana diapit oleh kedua pegawai itu yang salah seorang mengarahkan kamera untuk menangkap gambar mereka bertiga.
Entah mengapa melihat Hana yang begitu akrab membuat hatinya kesal, ia seakan tak terima jika ada orang lain yang dekat dengan istrinya.
Abi langsung menarik tangan Hana ketika mereka akan kembali mengambil gambar, membuat para pegawai dan tentu juga Hana kaget. Namun mereka tak satu pun berani menegur sikap Abi yang terlihat kasar.
"Masuk!" Perintah Abi dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah. Hana hanya menurutinya tanpa berani bersuara.
__ADS_1
Setelah mendorong tubuh Hana untuk masuk ke dalam mobil, Abi pun memutari mobilnya, masuk dan mulai menjalankan mobil mewahnya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Hana yang ingin memulai pembicaraan urung ia lakukan melihat wajah Abi yang masih kesal.
"Ka, anter aku ke sini yaa!" Beberapa saat kemudian akhirnya Hana memberanikan diri berucap sambil menunjukan catatan sebuah alamat. Abi pun membaca dan mulai melajukan mobilnya ke tempat yang dimaksud tanpa berucap apapun.
Tidak butuh lama, mereka pun sampai di tempat yang Hana maksudkan. Sebuah rumah tua dengan perkarangan yang cukup luas. Banyak anak yang sedang bermain atau pun belajar di perkarangan yang terbilang asri itu.
"Panti asuhan?" Tanya Abi ketika membaca tulisan besar di gerbang masuk rumah itu. Hana pun mengangguk lembut dan tersenyum.
"Maaf ya Ka, Hana gak bilang terlebih dahulu kalo mau ke sini, Hana takut Kaka gak mau!" Ucap Hana.
Setelah mobil terparkir sempurna, beberapa anak menghampiri mereka juga beberapa pengurus.
Melihat Hana yang keluar dari mobil, betapa senangnya mereka. Mereka memanggil-manggil nama Hana dengan penuh suka cita, Hana pun mengucapkan salam seraya memeluk anak-anak yang mendekatinya.
"Ka Hana kemana aja? Udah lama banget gak main-main ke sini, kita semua kangen!" Ucap seorang anak perempuan dengan mata sendu menahan tangis.
"Maaf ya Sayang, Kaka sibuk belum sempat ke sini!" Jawab Hana lembut.
"Kita semua lihat acara nikahan Kaka lho dari tv, Kaka cantik banget!" Kali ini pujian datang dari anak laki-laki bertubuh gemuk.
Sebenarnya Hana mengundang seluruh penghuni panti namun Ummi, pimpinan panti tersebut enggan datang karena beralasan tak pernah menghadiri acara semegah itu. Dan mereka hanya datang saat pengajian di rumah Hana sebelum pernikahan.
Abi begitu takjub dengan apa yang ia saksikan hari ini. Kini dia sadar Hana tak hanya cantik secara fisik, tetapi hatinya pun cantik. Ia benar-benar mengagumi sosok gadis muda yang bergelar istrinya itu.
"Assalamualaikum Hana!" Sapa Ummi Marwa, pemilik panti asuhan tersebut.
"Wa'alaikumsalam Ummi. Ahh.. Ummi Hana kangen!" Sahut Hana kemudian menghampiri wanita dengan pakaian muslim tertutup itu dan memeluknya. Wajahnya begitu cantik dan teduh.
"Ummi juga kangen Sayang!" Ucap Marwa membalas pelukan Hana.
"Ummi kenalin ini suami Hana, Ka Abi!" Hana memperkenalkan suaminya. Abi pun mengatupkan tangannya sembari mengucapkan salam dan namanya, meski ia telah lama hidup di dalam hingar bingar duniawi, tetapi ia masih faham betul jika wanita seperti Ummi Marwa tak bisa bersentuhan dengan laki-laki asing.
"Kita masuk dulu yukk, duduk-duduk di kantor Ummi. Gak tau lagi deh kapan kamu bakal ke sini lagi!" Ajak Ummi Marwa menggandeng tangan Hana, sedang Abi mengekori mereka.
Sebelum pergi ke kantor Hana sudah berpesan kepada pengurus panti yang menghampirinya tadi untuk mengambil semua belanjaan yang dia letakan di bagasi belakang mobilnya, karena memang Hana membeli semuanya untuk Panti Asuhan ini.
__ADS_1
Di dalam kantor, mereka bertiga sudah duduk saling bersebelahan di sebuah sofa panjang. Hana duduk diapit oleh Ummi Marwa dan suaminya.
"Tadi malem, Ummi dapet laporan di m-banking Ummi kalo kamu sudah mentransfer uang sebesar 150 juta. Untuk apa Nak uang sebanyak itu?" Tanya Ummi penuh kelembutan.
"Itu sebagian besar uang suami Hana Ummi, uang tersebut untuk merenovasi beberapa bagian bangunan ini yang rusak. Hana berharap uang itu cukup ya Ummi, maaf kalo Hana belum bisa bantu lebih!" Jawab Hana penuh ketulusan.
"Uang tersebut lebih dari cukup Nak, Ummi malah bingung jika dan pasti uang tersebut akan ada lebihnya apakah harus Ummi kembalikan pada kamu?" Tanya Ummi Marwa lagi.
"Gak perlu Ummi, jika memang ada sisanya, belikan saja apa yang panti ini butuhkan. Hana dan suami ikhlas Ummi Insya Allah, ini adalah rezeki anak-anak yang dititipkan oleh Allah di kami!" Jawab Hana dengan senyum cantiknya semakin membuat Abi terkagum-kagum
"Oohh, jadi dia minta uang sebanyak itu tujuannya untuk panti ini ternyata. Luar biasa Hana, entah hal mengagumkan apalagi yang bakal gue lihat dari diri lo!" Batin Abi memuji istrinya.
Setelah mengobrol panjang lebar dan berkeliling panti untuk melihat bagian-bagian bangunan yang perlu diperbaiki, Abi dan Hana memutuskan untuk pamit pulang.
Diperjalanan pulang Hana terus saja tersenyum bahagia, ia begitu bersyukur bisa membantu panti asuhan itu setelah sekian lama hanya menjadi niatan saja.
"Makasih ya Ka, udah mau nganterin Hana ke sana!" Ucap Hana tulus.
"Lo udah lama jadi donatur di panti itu?" Tanya Abi menoleh sekilas ke wajah istrinya.
Hana pun menceritakan awal mula Hana tau panti tersebut, bagaimana dirinya, Ibu, Hanum dan Angga berusaha membantu kebutuhan panti tersebut meskipun tak bisa banyak karena ya, kondisi Hana dan Ibunya yang hanya cukup, Hanum yang hanya dapat jatah bulanan saja dan Angga yang lebih banyak menganggur daripada bekerja. Tapi dia juga bersyukur karena setelah dirinya menjadi artis ia bisa membantu lebih banyakan lagi.
"Jadi uang 100 juta yang lo minta ke gue itu, emang niatnya lo mau kasih ke panti itu?" Tanya Abi.
"Iya, maaf ya Ka kalo Hana ngambil kesempatan pas Kaka bilang mau kasih apapun yang Hana mau kalo Kaka suka makanan yang aku masak kemarin!" Jawab Hana tertunduk malu.
"Kenapa harus begitu?" Tanya Abi lebih ke menyidang istrinya.
"Awalnya Hana mau kumpulin uang Hana sendiri Ka, Hana gak mau minta-minta ke Kaka. Tapi menurut Hana kelamaan kalo Hana harus nunggu uang Hana sendiri terkumpul. Kaka tau sendiri kan, Hana harus membayar pengobat dan kemoterapi Ibu, bayar perawat pribadi Ibu, beli obat-obatan Ibu, ngegaji Mas Angga!" Hana menghela nafas dan terdiam sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.
"Waktu pengajian di rumah menjelang pernikahan kita, Ummi dan anak-anak panti dateng Ka. Terus aku lihat salah satu anak diperban kepalanya, pas aku tanya Ummi katanya kejatuhan dinding yang lapuk waktu anak itu lagi di kamar mandi. Tadi juga kan Kaka lihat sendiri bagaimana tua dan lapuknya bangunan panti tadi?" Abi terus menyimak cerita istrinya dengan seksama.
"Nah setelah aku fikir-fikir kalo aku nunggu uang aku kekumpul, itu bakal makan waktu lama dan pasti bakal ada korban-korban lainnya. Makanya pas Ka Abi nyanggupin permintaan aku, aku langsung minta uang sebesar 100 juta, terserah Ka Abi mau mikir tentang aku setelahnnya. Tapi saat itu yang aku fikirin cuma keselamatan anak-anak, dan penghuni panti lainnya".
"Dan lagi Hana, lo ngebuat gue semakin kagum sama lo. Pemikiran tulus lo benar-bener bikin gue mulai sayang sama lo!" Puji Abi dalam hati, namun bibirnya terus menyunggingkan senyum.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
...Baik yaaa Hana, Kaka Abi mulai kagum nihhh. Doakan semoga ia lekas sadar kalo udah jatuh cinta yaaa sama Dek Hana yaaaa 🤗🤗...
...Please like, commen and your vote 😘😘...