My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Kesadaran Hana


__ADS_3

Waktu terus berajalan, hingga tanpa dirasa empat bulan sudah Hana dalam keadaan koma.


Abi sempat melayangkan protes pada pihak rumah sakit yang terus memberi pernyataan jika Hana keseluruhan sudah baik-baik saja, tetapi mengapa jika sang istri sudah membaik Hana belum juga bangun dari komanya.


Hingga, ia dan keluarga besarnya merencanakan untuk membawa Hana ke Singapura, berharap di rumah sakit yang lebih baik akan ada perkembangan yang seperti diharapkan olehnya dan seluruh keluarga.


Abi pun sudah menjadwalkan keberangkatan istrinya, bahkan ia juga sudah mempersiapkan jet pribadi sang Kakek dengan perlengkapan medis yang dibutuhkan Hana selama di perjalanan.


Lusa adalah jadwal rencana keberangkatan Hana ke salah satu rumah baik terbesar dan terbaik di Singapura, maka sore ini hampir seluruh keluarga Hana tengah berkumpul di rumah sakit, terkecuali Abi yang tengah ada pertemuan penting dengan beberapa klien.


Rendra dan Hafidz sedang berada di ruang Dokter yang selama ini merawat Hana untuk membicarakan mekanisme pemindahan Hana.


Sedang Irma dan Kinan berada di kamar perawatan Hana. Irma tengah melantunkan ayat suci di sisi ranjang sang puteri, sedangkan Kinan membantu Imah dan Dewi mencicil merapikan barang-barang yang akan dibawa ke Singapura atau pun akan dibawa pulang ke mansion.


Saat semua tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing tak ada yang menyadari jika Hana tengah mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya di kamarnya.


Dan ketika jari-jemari Hana bergerak-gerak lebih aktif dari biasanya membuat Irma akhirnya mengalihkan perhatiannya ke arah sang puteri.


Betapa terkejutnya Irma ketika melihat sang puteri membuka matanya dan menatap langit-langit kamar.


"Masya Allah, Hana sayang.." ucap Irma refleks membuat semua yang berada di kamar tersebut mengalihkan perhatiannya ke arah Irma dan Hana.


Sama halnya dengan Irma, Kinan, Imah dan Dewi juga terkejut melihat Hana tela bangun. Mereka pun langsung menghampiri Hana dan Irma dengan mata berkaca-kaca.


"Hana Sayang, bisa dengar suara Ibu Nak?" Tanya Irma dengan suara bergetar, namun Hana tetap bergeming. Ia masih terus mengerjap-ngerjapkan matanya.

__ADS_1


Kinan langsung berinisiatif menelfon suaminya yang masih berada di ruangan Dokter Leonard untuk memberitahukan jika Hana sudah sadar dari komanya dan meminta suaminya untuk memberitahu Dokter Reynald.


Tanpa menunggu lama, ketiganya sudah tiba di ruang perawatan Hana. Seperti yang terjadi pada keempatnya, Rendra, Hafidz juga Dokter Leonard pun menyambut Hana dengan mata berkaca-kaca.


"Sebentar saya periksa Hana dulu ya Bu!" Izin Leonard pada Irma yang berada di sisi paling dekat dengan Hana.


Setelah memeriksa Hana, Leonard pun mencoba melakukan beberapa tes pada Hana.


"Hana bisa dengar suara saya? Kalau bisa Hana kedipkan mata sebanyak dua kali ya!" Semua bisa bernafas lega ketika Hana mengedipkan matanya dua kali.


"Hana bisa lihat dengan jelas? Kalau bisa coba Hana kedipkan mata Hana sebanyak dua kali juga ya!" Dan lagi Hana mengedipkan kedua matanya sebanyak dua kali membuat semua yang menyaksikan diliputi rasa bahagia dan syukur yang begitu dalam.


"Pendengaran dan penglihatan Hana masih berfungsi dengan baik, semoga tak ada masalah dengan fungsi bicaranya. Hanya mungkin untuk saat ini kita belum memastikan karena Hana yang benar-benar baru sadar membuat beberapa sarafnya harus dilatih lagi, termasuk sarafnya untuk berbicara" ucap Leonard membuat semua menganggukan kepalanya mengerti.


Setelah memberikan sedikit penjelasan, Leonard pun permisi undur diri untuk mempersiapkan langkah-langkah perawatan Hana pasca koma.


"Ya Allah aku sampai lupa, sebentar saya telfon dia dulu!" Sahut Kinan kemudian beranjak keluar dari kamar Hana.


Sedang Abi yang sedang menjadi pembicara di rapat pentingnya langsung menghentikan pembicaraannya ketika ponsel yang dikhususkan untuk keluarga dan teman-temannya dekatnya berdering.


"Maaf saya angkat panggilan ini dulu!" Izin Abi tanpa ragu, meskipun harus menghentikan rapatnya karena ia tak ingin sedikit pun lengah tentang kondisi istrinya.


"Halo Mah..!" Sapa Abi tanpa beranjak dari ruang rapat.


"Halo Abimanyu. Bi, Hana Bi__!" Sahut Kinan dengan suara bergetar seketika membuat perasaan Abi tak tenang.

__ADS_1


"Kenapa Hana, Mah?" Tanya Abi tanpa bisa menutupi kekhawatirannya.


"Hana sudah, Hana sudah__!" Jawab Kinan terbata-bata dan mulai terisak membuat Abi semakin ketakutan.


"Hana sudah apa Mah? Kenapa sama Hana Mah?" Tanya Abi gelisah.


"Hana, Hana .. Hana sudah bangun Bi. Hana sudah sadar dari komanya!" Jawab Kinan.


"Apa?" Tanya Abi sekali lagi untuk memastikan jika dirinya tak salah dengar.


"Iya Bi, Hana sudah bangun. Sudah sadar!" Jawab Kinan sekali lagi penuh haru.


"Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah. Akhirnya Sayang kamu bangun juga..!" Ucap Abi penuh syukur dengan air mata bahagia yang langsung luruh.


Daniel yang mendengar ucapan rasa syukur yang keluar dari mulut sahabatnya, ikut merasa sangat bahagia. Ia bisa membayangkan, beban yang selama ini dipikul Abi atas keadaan sang istri pasti langsung menguap entah kemana karena ia menyaksikan sendiri bagaimana terpuruknya Abi dengan kondisi Hana.


"Maaf saya tidak bisa melanjutkan rapat ini, saya harus permisi..!" Ucap Abi saat ketika sudah memutus panggilan telfon Kinan, ia ingin langsung ke rumah sakit untuk melihat sendri kondisi sang istri.


"Tapi Pak Abimanyu, rapat ini belum menemukan keputusan yang akan diambil antara semua pihak!" Protes salah satu peserta rapat, namun Abi tak memperdulikannya dan tetap melangkahkan kaki keluar dari ruang rapat.


Sedang Daniel langsung memberikan kode dengan tangannya ketika melihat seorang peserta memanggil-manggil nama atasan sekaligus sahabatnya itu.


"Rapat ini tetap kita lanjutkan, saya akan menggantikan posisi Bapak Abimanyu!" Ucap Daniel tegas.


"Tapi Pak rapat ini harus mengambil keputusan bersama dari masing-masing pimpinan perusahaan!" Sahut salah seorang peserta rapat.

__ADS_1


"Saya tangan kanan Bapak Abimanyu dan saya sudah mengetahui keputusan yang akan beliau ambil, jadi lebih baik sekarang kita lanjutkan rapat ini dan satukan suara untuk keputusan akhirnya!" Daniel begitu tegas dan percaya diri menghadapi para peserta rapat yang tengah kecewa, karena ia sadar sekali inilah waktu yang ditunggu, tunggu sahabatnya hampir empat bulan ini, yaitu kesadaran Hana sang istri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2