My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Foto


__ADS_3

"Selamat ulang tahun suamiku sayang, panjang umur, sehat selalu, murah rezeki dan tambah sayang sama aku!" Tepat pukul 12 malam Hana menelfon suaminya untuk mengucapkan selamat hari kelahiran sang suami. Saat ini mereka masih berjauhan sehingga mau tak mau Hana mengucapkannya melalui sambungan video call, meski dirinya ingin sekali menghabiskan moment ulang tahun suami bersama-sama.


Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, Hana sempat menginap di mansion sehari semalam tetapi kemudian ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya karena ia merasa kesepian di bangunan besar milik keluarga suaminya itu.


Saat ingin tetap tinggal di rumah sakit pun, Kinan melarang keras mengingat kondisi Hana yang berbadan dua dan meminta untuk tinggal di mansion sementara Kinan mengurusi besannya di rumah sakit pasca operasi, bersyukur operasinya lancar hingga Hana tidak terlalu khawatir.


Namun kesibukan keluarga suaminya membuatnya kesepian tinggal di mansion dan memutuskan untuk kembali ke apartemennya, membuat Kinan tidak pernah pulang ke mansionnya dan memilih untuk kembali ke apartemen anaknya menemani Hana.


"Aamiinn, terima kasih istriku yang cantik doa dan ucapannya. Tinggal kadonya aja yaa yang belum" Sahut Abi, Hana bisa melihat wajah lelah suaminya.


"Kadonya udah ada dong, tinggal nunggu Kaka di sini aja!" Ucap Hana manja.


"Makin gak sabar pulang nih aku, kamu udah makan belum? Kok aku perhatiin tirusan pipi kamu?" Abi begitu khawatir, baru ditinggal beberapa hari saja Hana sudah terlihat berbeda.


"Udah kok, tiap hari Mamah selalu bikinin aku makanan sebelum ke rumah sakit. Aku jadi gak enak ngerepotin Mamah terus, Mamah pasti capek bolak balik ngurusin aku sama Ibu!" Hana benar-benar merasa tidak enak.


"Makanya jaga kesehatan, jangan capek-capek. Tapi tenang aja Mamah orangnya emang begitu kalo udah sayang sama peduli sama orang, sepenuh hati merhatiinnya. Untung aja ada Mamah, jadi aku di sini juga gak begitu khawatir juga!" Sahut Abi.


"Kaka besok jadi pulang kan?" Tanya Hana penuh harap.


"Insya Allah, siang aku udah sampe Jakarta. Kangen ya?" Goda Abi, Hana pun menganggukan kepalanya.


"Eh iya aku waktu di mansion, keinget kado yang dikasih Juna waktu itu jadi aku bawa ke apartemen. Aku browsing moment tepat pake lingere itu apa, ehh ditulisnya tiap mau nyenengin suami. Aku jadi kefikiran Kaka, Kaka suka aku pake warna apa?" Tanya Hana blak-blak an membuat Abi seketika gelisah karena sahabat kecilnya yang terbangun tiba-tiba saat bayangan istrinya mengenakan pakaian laknat itu.


"Allahu Akbar Hanaaaa..!!" Hana tak sadar jika ucapannya sangat mengganggu kedamaian hasrat kelakian Abi dengan fikiran-fikiran nakal yang saat ini mengitari otaknya.


"Kenapa Ka?" Tanya Hana khawatir melihat kegelisahan suaminya dari layar ponselnya.


"Gak apa-apa, udah malem kamu istirahat ya. Aku juga mau istirahat, capek banget!" Jawab Abi.

__ADS_1


"I.. Iya udah deh. Tapi Kaka yakin, Kaka gak apa-apa?" Tanya Hana sekali lagi.


"Gak apa-apa sayang, udah ya kamu istirahat sekarang. Wassalamualaikum..!" Jawab Abi kemudian langsung memutuskan sambungan video call an mereka.


"Bener-bener tuh bini!" Abi duduk di tepi ranjangnya dengan frustasi. Bayangan istrinya mengenakan pakaian minim akhlak itu, membuat fikiran serta adik kecilnya gelisah.


Hingga pada akhirnya, Abi memutuskan untuk mendinginkan kepalanya dengan mandi air dingin untuk meredam hasratnya saat ini.


Ia sudah tak peduli lagi dengan kondisinya esok hari yang bisa dipastikan akan terkena flu dan demam akibat nekat mandi dengan air dingin di tengah malam seperti saat ini.


Hana hanya menatap hampa layar ponsel yang saat ini langsung berubah dengan wallpaper foto pernikahannaya, hingga nomor Raya kembali terpampang di ponselnya mengiriminya sebuah pesan.


Dengan malas Hana membuka pesan gambar yang dikirimkan oleh mantan kekasihnya itu.


Hati Hana seketika itu juga sakit, perih dan sesak saat melihat foto yang menunjukan Abi sedang berciuman dengan Raya.


Hana tau foto itu bukan foto lama, foto itu diambil saat Raya masih di rumah sakit terlihat dari piyama bertuliskan salah satu rumah sakit di Paris, Perancis.


Dada Hana seakan seperti dihujami ribuan belati membaca pesan mantan kekasih suaminya itu, terlebih saat sekali lagi ia memperhatikan foto itu dimana Abi lah yang menahan tengkuk dan pinggang Raya yang seakan menunjukan bahwa Abi lah yang menginginkan ciuman itu.


"Ya Allah..!" Desah Hana lirih bersamaan dengan lelehan air mata dan luruh tubuhnya ke lantai. Ia benar-benar terguncang dengan kenyataan yang baru saja ia terima.


Sedang di seberangnya sang pengirim tertawa puas setelah yakin bahwa Hana telah membuka pesannya, bisa ia pastikan saat ini Hana merasakan rasa sakit hati yang luar biasa.


Rencana Raya berhasil saat itu ketika meminta Abi menciumnya namun ditolak, Raya yang tau betul bahwa Abi seorang yang tak tegaan dan memiliki perilaku impulsif (sikap ketika seseorang melakukan suatu tindakan tanpa memikirkan akibat dari apa yang dilakukannya) akan balik menciumnya saat Raya histeris.


Dan pada saat Abi menciumnya sesuai rencana Lina yang masuk ke dalam ruangan Raya dan diam-diam mengabadikan adegan tersebut.


"Gue gak bakal ngebiarin lo ngerasain kebahagiaan sedikit pun hidup sama Abi, kalo gue gak bisa miliki Abi begitu pun elo. Dan gue pastikan mulai saat ini semua akan semakin menyakitkan!" Ucap Raya dengan senyum jahatnya sambil mengoyang-goyangkan ponselnya.

__ADS_1


***


Pagi harinya seperti biasa saat Kinan masuk ke dalam kamar Hana, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Hana yang sedang mengalami morning sickness.


Hana berjongkok di depan closet sambil terus mencoba memuntahkan isi perutnya, karena desakan rasa mual yang hebat.


Kinan sungguh tak tega melihat tubuh kecil menantunya setiap pagi hari yang bergetar hebat dengan cucuran keringat membasahi wajah pucat Hana.


Hana akan selalu menangis setiap mengalami muntah-muntah, dia gadis yang sangat lemah dengan rasa sakit atau saat ia merasakan tidak nyaman pada tubuhnya.


Kinan kemudian memapah Hana ke tempat tidur saat dirasa tidak akan muntah lagi.


"Sabar ya, Mamah dulu setiap hamil juga kayak kamu Sayang, selalu muntah setiap pagi. Rasanya memang tidak nyaman, tapi sudah kodrat kita menjalani ini semua. Jangan nangis lagi ya, ini Mamah buatin minuman pereda mual buat kamu!" Kinan menyodorkam segelas hangat minuman yang akhir-akhir ini selalu sengaja ia buat untuk Hana agar mengurangi rasa mualnya.


Kinan menatap tajam wajah Hana yang saat ini sedang menyesap sedikit demi sedikit minumannya, ia melihat mata Hana bengkak seakan-akan Hana telah menangis dalam kurun waktu yang lama, meskipun Kinan biasa melihat Hana menangis namun baru kali ini Kinan melihat mata Hana yang bengkak.


"Hana...!" Panggilan Kinan langsung membuat Hana menoleh ke arah Kinan.


"Kamu nangis dari jam berapa? Kenapa mata kamu sampai sebengkak itu? Ada yang sakitkah? Atau ada sesuatu yang bikin kamu sedih? Atau jangan-jangan kamu habis berantem sama Abi ya?" Serentet pertanyaan bernadakan kekhawatiran keluar dari mulut Kinan yang semua dijawab Hana dengan gelengan kepala.


"Peluk Hana Mah..!" Pinta Hana, tangisannya pun pecah di dalam pelukan Kinan.


Kinan tak bertanya apa-apa lagi, ia terus menerus memeluk tubuh mungil menantunya yang saat ini menangis dengan kencang.


Setelah beberapa saat Hana sudah dapat menguasai dirinya sendiri, Kinan pun memaksa Hana menceritakan alasannya menangis.


"Hana cuma kangen sama Ka Abi, kangen banget!" Hana tetaplah Hana yang selalu menyimpan kegundahan hatinya sendiri, dia memilih berbohong kepada mertuanya karena ia tak mau mertuanya ikut kefikiran masalah rumah tangganya, cukup sudah Hana merepotkan mertuanya yang saat ini mengurusinya juga ibunya.


"Mungkin ini bawaan bayinya yang kangen sama Papanya, makanya kamu jadi cengeng. Sebentar ya Dedek, Papa hari ini pulang. Sabar sebentar lagi yaa jangan rewel!" Kinan mengelus perut rata Hana seakan sedang menasehati janin yang sedang tumbuh di dalam, hal tersebut membuat Hana mengulas senyumnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2