My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Sang Pemilik Hati


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


Abi terus melangkah mendekati ketiga wanita kesayangannya yang terduduk di lantai dengan tatapan nanar, terlebih melihat sang istri yang sudah tak sadarkan diri.


"Baringkan Hana di atas tempat tidurnya Nak Abi, tapi__!" Pinta Irma, namun karena ragu ia tak melanjutkan kata-katanya.


"Sepertinya karena terlalu takut sama kamu, Hana sampai buang air kecil di tempat. Jadi pakaiannya basah, apa tidak apa-apa kamu menyentuh Hana dengan keadaan berantakan seperti in?" Tanya Kinan melanjutkan ucapan Irma.


"Tidak apa-apa Mah-Bu, tidak apa-apa. Akan saya bersihkan Hana!" Jawab Abi tanpa ragu kemudian membopong istrinya untuk dipindahkan ke atas tempat tidur.


Hati Abi semakin terasa sakit menyadari jika kini dirinya menjadi sosok yang menakutkan untuk Hana, hingga membuat sang istri tanpa sadar buang air kecil di tempat karena terlalu takut kepadanya.


"Apa Mas Abi membutuhkan bantuan perawat untuk membersihkan Hana?" Tanya Leomard.


"Tidak perlu Dok, terima kasih. Saya sendiri yang akan membersihkan istri saya!" Jawab Abi yakin.


"Baik kalau begitu, kami semua akan keluar selama Mas Abi membersihkan Hana!" Pamit Leonard yang diangguki oleh Abi, mereka pun langsung keluar meninggalkan Abi dan Hana berdua.


Abi langsung mendekap tubuh kecil istrinya bersamaan dengan tangisan yang sudah tak mampu ia bendung lagi.


"Maafin aku sayang, maafin aku..!" Ucap Abi disela isakkannya serta berkali-kali menciumi wajah cantik yang terlihat pucat dan sembab.

__ADS_1


Abi mengingat semua perkataan yang keluar dari mulut istrinya, amarah, ketakutan, kekecawaan dan kebencian yang Hana perlihatkan tadi benar-benar membuat hati seorang Abimanyu hancur.


Bukan tak senang ingatan akan Hana yang telah mengingat dirinya, namun ternyata Abi tidak sama sekali siap menerima kemarahan dan kebencian sang istri padanya.


Dengan masih terisak, Abi melepaskan dekapannya dari tubuh istrinya untuk mempersiapkan apapun yang dibutuhkan untuk membersihkan tubuh Hana, juga menyiapkan pakaian ganti istrinya.


Ia begitu telaten dan penuh kasih sayang mulai membersihkan tubuh sang istri, mulai dari melucuti pakaian sang istri yang basah sampai membasuh lembut tubuh istrinya. Selama dia membersihkan tubuh Hana, ia terus terngiang-ngiang dengan segala ucapan dan umpatan yang Hana tujukan untuk dirinya.


"Aku benci sama Kak Abi..!"


"Tubuh aku seperti dijilati api, panas, perih, sakit sekali!".


"Lihat, Mamah bisa percaya sama aku, kenapa kamu enggak hah?".


"Aku enggak mau hidup bersama laki-laki yang tak percaya dengan istrinya, aku mau cerai!".


"Aku harus apa Sayang? Aku bener-bener gak siap menerima kebencian dan amarah kamu, tapi aku juga enggak bisa melepaskan kamu! Maafin aku Hana, maafin aku..!" Isak Abi semakin menjadi.


Ia kembali memeluk tubuh istrinya serta menghujani kecupan-kecupan di seluruh wajah sang istri, karena ia yakin ia sudah tak memiliki kesempatan seperti ini lagi jika Hana dalam keadaan sadar dan entah kapan Hana akan dengan suka rela menerima sentuhan darinya lagi.


Meskipun belum puas, Abi terpaksa melepaskan dekapan serta berhenti menciumi Hana mengingat semua orang tengah menunggu dirinya juga Leonard yang akan memeriksa kondisi istrinya.


Abi merapikan semua alat yang tadi ia gunakan untuk membersihkan tubuh istrinya, bahkan ia sendiri yang membersih air seni istrinya yang berceceran di lantai.


Selesai dengan semua kegiatannya, ia kemudian keluar dari kamar Hana untuk menemui semua orang yang sedang menunggu.

__ADS_1


"Mamah kemana Bu? Tanya Abi yang mendapati hanya Kinan lah yang tak ada.


"Sedang menelfon orang di mansion agar membawakan pakaian ganti untuk kami, karena kami juga basah karena__!" Abi yang mengerti menganggukkan kepalanya membuat Irma tersenyum karena tak perlu melanjutkan kata-kata yang membuatnya sedih.


"Kalo begitu saya izin untuk memeriksa Hana ya Mas Abi, nanti saya akan berbicara dengan Mas Abi setelahnya!" Izin Leonard yang diangguki oleh Abi dan langsung mempersilahkan Leonard dan dua perawat masuk ke ruangan istrinya, sedangkan ia memilih menunggu di luar bersama sang Ibu mertua.


"Ternyata aku gak siap sama sekali Bu menghadapi kemarahan dan kebencian Hana..!" Ucap Abi yang sudah duduk di kursi sebelah kursi roda Irma.


"Bersabarlah Nak, Ibu pun tak bisa menjanjikan apapun ke kamu tapi Ibu harap kamu jangan patah semangat dan terus mau berjuang agar Hana bisa melalui ini semua sampai kelak Hana mau kembali padamu lagi!" Sahut Irma menatap sendu wajah sembab menantunya.


"Apa bisa Bu? Aku gak yakin?" Tanya Abi ragu-ragu.


"Berdoalah pada Sang Pemilik Hati Nak, karena Dia-lah yang mampu membolak balikan hati manusia dan Ibu yakin ketulusan kamu pada puteri Ibu akan meluluhkan hati puteri Ibu, terlebih Hana seorang perempuan pemaaf dan juga dari dasar hatinya yang terdalam ia begitu mencintai kamu. Ia hanya butuh waktu untuk menyembuhkan sakit hatinya, menyembuhkan ketakutannya. Doa Ibu akan selalu menemani perjuangan kamu Nak dan Ibu berharap kamu mau menemani perjuangan puteri Ibu!" Jawab Irma begitu bijak.


"Kenapa Ibu begitu mudah memaafkanku yang sudah membuat Hana dalam kondisi seperti saat ini?" Tanya Abi menatap lekat wajah sang Ibu mertua.


"Apa yang kamu lakukan terhadap Hana memang teramat sangat keterlaluan, tapi Ibu juga tak menutup mata melihat penyesalan yang kamu rasakan dan juga bagaimana kamu memperlakukan Hana selama sakit, Ibu bisa melihat ketulusan kamu Nak. Ibu juga yakin jika perempuan jahat itu tak menjebak kamu, kita tak akan pernah ada di sini karena Ibu percaya kamu bahkan sedang membahagiakan puteri Ibu saat ini..!" Jawab Irma tersenyum hangat pada menantunya.


"Aku berjanji Bu gak akan pernah aku menyakiti Hana lagi, akan kuberikan hanya kebahagiaan untuknya seumur hidupku! Tolong Bu doakan aku agar aku mampu mambawa kembali Hana ke sisi aku, agar aku Hana mau memberikanku maaf dan kesempatan untuk menebus kesalahanku!" Ucap Abi mulai kembali terisak, hatinya begitu sesak dengan semua yang sedang terjadi.


Ia benar-benar tak tahu harus mulai dari mana untuk mulai meluruhkan kebencian Hana terhadap dirinya melihat betapa sang istri begitu marah dan terluka.


"Kami semua mendoakan kalian, Nak. Berjuanglah..!" Sahut Irma menepuk bahu sang menantu.


Dalam ketidak pastian yang berkecamuk di dalam hati dan fikiran Abi saat ini, paling tidak doa dan suntikan semangat dari Ibu mertua serta keluarganya menjadi suntikan penyemangat untuk dirinya memperjuangkan kembali sang istri.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2