
Sore itu Hana sedang menikmati kebersamaannya bersama sang Ibu. Irma begitu bahagia melihat Hana yang sekarang, Hana yang mulai meniti mimpi-mimpinya, Hana yang selangkah demi selangkah akan meraih kesuksesannya. Meskipun dibidang yang selama ini Irma tidak pernah bayangkan akan putrinya jalani, namun di sinilah ia menemukan kelegaan setidaknya jika memang umurnya tak lagi panjang, Hana sudah mampu menopang hidupnya sendiri.
"Kamu seneng Han?", tanya Irma memandang sayang putrinya.
"Hana selalu seneng kok deket Ibu", jawab Hana apa adanya.
"Maksud Ibu, Hana seneng sama kerjaan Hana? Atau kamu ngerasa terpaksa ngejalanin pekerjaan kamu sekarang?", tanya Irma mengulanginya lagi.
"Ahhh.. itu toh, seneng lah Bu Hana, saldo atm Hana nol nya banyak Bu gimana gak seneng?", jawab Hana tersenyum lebar.
"Nol doang?", ledek Irma menggoda putrinya.
"Ya enggaklah Bu ada nominalnya juga. Hahaaha..", sahut Hana tertawa.
"Kamu seneng karena sekarang kamu udah banyak uang?", tanya Irma lagi.
"Hana gak mau munafik Bu, yaa Hana seneng sekarang udah punya uang sendiri banyak lagi. Hana seneng bisa membiayai pengobatan Ibu, Hana seneng Ibu udah gak perlu kerja keras lagi, Hana seneng saat Hana atau pun Ibu ingin sesuatu bisa langsung kesampean, Hana seneng bisa bantu orang lain tanpa ragu. Bahkan beberapa kebaikan pun butuh uang Bu, iya kan?", jawab Hana.
"Tapi jangan terlena sama uang ya sayang, gunakan uang itu justru untuk membantu orang lain yang membutuhkan", nasehat Irma. Hana mengangguk setuju, ia begitu mengagumi Ibunya yang tak pernah lelah menasehatinya, mengarahkannya menjadi orang baik.
"Ibu itu panutan Hana, Hana janji semua nasehat Ibu pasti Hana patuhi. Hana mau jadi anak yang nurut buat Ibu, gak mau ngecewain Ibu, gak mau bikin Ibu sedih. Hana pengen jadi anak yang membanggakan buat Ibu!", ucap Hana penuh haru.
"Alhamdulillah, Ibu percaya sama kamu Nak", sahut Irma kemudian memeluk Hana penuh dengan kasih.
__ADS_1
Rasanya Irma ingin sekali mencurahkan kasih sayangnya pada Hana selama mungkin, tapi sakitnya menyadarkannya bahwa waktunya tidak akan lama lagi, Irma benar-benar ingin meminta pada Tuhan, berharap jika boleh biar kan sakit ini datang di saat ia benar-benar sudah tua.
Melepas pelukannya Hana melihat sang Ibu menitikkan air matanya, meski sudah mencoba secepat mungkin menghapusnya tapi sisa-sisa air mata masih tertinggal di pelupuk mata dan di pipinya.
"Ibu nangis?", tanya Hana khawatir.
"Enggak sayang, Ibu nangis bukan karena sedih. Ibu nangis karena Ibu bahagia banget Allah udah mau nitipin putri secantik dan sebaik kamu. Biarpun kamu suka ngeselin, tapi Ibu bener-bener bersyukur bahwa Ibu dipilih Allah untuk menjadi Ibu dari anak sepertimu. Doa Ibu supaya kamu senantiasa bahagia, senantiasa dalam lindunganNya, selalu melangkahkan kaki di jalan yang di ridhoiNya. Dan satu hal lagi, jangan biarkan seorang pun menyakiti kamu, karena jika kamu tersakiti maka Ibu juga akan merasakan sakitnya", jawab Ibu.
Hana yang mendengar untaian doa, nasehat dan semua ucapan Ibunya kini bergantian menitikan air matanya. Rasanya dia yang justru sangat beruntung memiliki Ibu semengagumkan Ibunya.
"Iya Bu, Hana janji Hana enggak akan mengecewakan Ibu. Hana juga akan menjaga diri Hana, enggak akan membiarkan seorang pun menyakiti Hana", ucap Hana kemudian memeluk Irma lebih erat lagi.
***
"Kamu pulang jam berapa?", tanya Raya ketika ia sendiri baru tiba di apartemen Abi.
"Enggak pulang? Awas aja kalo sampe beneran gak pulang. Aku lagi di apartemen kamu. Pokoknya aku mau nunggu kamu pulang sekarang, aku enggak mau tau pokoknya kamu harus secepetnya pulang!", gertak Raya membuat Abi menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Lho gak bisa gitu dong Sayang, aku lagi kerja ini. Mana boleh seenaknya!", sahut Abi kesal.
"Pokoknya aku enggak mau tau kamu harus usahain pulang secepetnya. Aku tuh butuh kamu Bi sekarang, masa kamu tega sih ngebiarin aku sendirian?", ucap Raya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Kamu nangis? Hufthhh... ya udah deh aku usahain pulang cepet, tapi inget aku gak janji yaa. Udah kamu jangan nangis lagi, kamu mau dibawain apa?", tanya Abi mencoba untuk mengembalikan mood Hana.
__ADS_1
"Emhhh.. aku lagi pengen makanan korea sayang, cariin ya!", jawab Raya dengan suara berubah riang.
"Makanan Korea?? Aku gak faham makanan begituan Ray, yang lain aja ya!", keluh Abi.
"Gak mau, pokoknya aku maunya makanan Korea. Nanti kamu ke restauran Korea aja, aku kirim wa menunya!", pinta Raya memaksa.
"Ribet Ray, kamu pesan online aja deh. Lagian pulangku larut banget, takutnya udah gak ada yang buka. Tolong ngerti ya kali ini! Kalo bisa kamu jangan banyak makan makanan yang aneh-aneh, Dokter bilang kan perut kamu lagi bermasalah. Mending makan makanan yang biasa kamu makan aja", ucap Abi.
"Iya deh iya, bawel. Tapi inget ya kamu harus usahain pulangnya cepat ya Sayang, aku kangen", sahut Raya menggoda.
"Kangen apanya?", pancing Abi genit.
"Isshhhh.. udah ah aku mau pesen online dulu, aku udah laper banget", sahut Raya kemudian mematikan sambungan teleponnya. Ia pun langsung asyik berselancar di ponselnya, mencari restauran korea yang klik di hatinya. Setelah dapat ia pun kemudian memilih-milih menunya dan memesan beberapa menu yang ingin dia makan.
"Sebuah pesan masuk ke ponselnya, tertulis nama Nico di layar.
"Jangan lupa, lusa kita berangkat. Gw udah buat janji ketemu sama Dokternya, dia ada waktu buat ketemu kita. Persiapkan diri lo supaya gak ada masalah nanti pas lo ngejalanin prosedurnya".
Sebelum membalas pesan tersebut Raya menghela nafas berat. Ada rasa khawatir, tapi juga kelegaan di hatinya. Ia khawatir akan terjadi sesuatu yang salah, lega karena ia merasa telah menemukan jalan keluar dari masalahnya, yaitu si janin. Egois bukan?
"Iya gw ngerti, makasih yaaa. Gw akan minta Lina buat siap-siap ikut kita lusa. Sekali lagi makasih ya Nic..". balas Raya.
Ia berdiri di depan cermin besar menatap dirinya, tatapannya beralih ke perutnya yang masih rata. Ia mengelus-elus perutnya seraya minta maaf harus berbuat sedemikian kejamnya. Tapi inilah Raya, seorang gadis yang keras akan kemauannya. Ia tak mudah luluh dengan apapun, bahkan dengan janin darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
"Maaf gw enggak bisa mempertahankan lo, mimpi gw terlalu berharga dan gw gak mau perjuangan gw selama ini sia-sia karena kehadiran lo. Semoga lo lebih bahagia hidup di syurga sana, sekali lagi maafin gw!", batin Raya sambil terus mengelus-elus perutnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=