
Hana menatap benci selang infus yang akhirnya terpasang lagi di tangannya, sesekali ia juga memelototi Abi yang setia menunggu di samping brankarnya.
"Aku udah bilang, aku gak mau dirawat, Aku gak mau diinfus-infus lagi!" Hana begitu kesal setiap melihat ke arah suaminya yang menurutnya tak mau memperdulikan keinginannya.
"Kamu di rumah pingsan tadi, kita semua panik makanya langsung bawa kamu ke sini. Dan bener kan kondisi kamu tuh lagi drop banget, butuh tindakan dari rumah sakit!" Ucap Abi dengan nada lembut agar tak menambah suasana kesal di hati istrinya.
"Tapi aku gak mau, aku gak suka bau rumah sakit, aku gak suka diinfus. Kamu ngerti gak sih? Kepala aku tuh tambah sakit kalo di sini, nafas aku sesak. Aku takut!" Keluh Hana dengan derai air mata.
"Sabar sayang sabar!" Abi sudah tak tau lagi bagaimana menenangkan istrinya, ia hanya terus memeluk tubuh ringkih sang istri, meski pun terus ditolak.
"Eehh kenapa Bunda cantik, kok nangis? Nanti Dedeknya ikut sedih lho!" Sapa Riana saat mendapati Hana tengah menangis di dalam pelukan Abi saat baru masuk ke kamar rawat Hana bersama dengan Kinan di belakangnya
"Emang aku harus sering diinfus Dok? Aku takut..!" Entah ini infusan yang ke berapa kali selama beberapa minggu terakhir.
"Gak apa-apa cantik, gak usah takut. Dedek di dalam kan juga butuh asupan ya sayang, kalo Bundanya lagi gak bisa makan-minum kasihan dong Dedeknya juga, nanti lapar. Emang Bunda cantik tega kalo Dedeknya kelaperan!" Jawab Riana penuh kelembutan, bahkan ia terus menerus mengelus perut rata Hana dengan kasih sayang.
Hana menggeleng, tentu saja ia tak akan tega jika tau anak di dalam kandungannya ikut menderita karena keadaannya saat ini.
"Makanya sementara di infus dulu ya Bunda, buat kebaikan Dedek dan Bunda cantik. Juga nih kalo emang harus ke rumah sakit Bundanya gak usah tegang, gak usah takut kalo ada tindakan semua buat kebaikan Dedek dan Bunda cantik kok!" Ucap Riana lagi, kali ini Hana mengangguk pelan tanda setuju.
Melihat Hana mau mendengarkan Riana, Abi dan Kinan bisa bernafas lega. Meskipun mereka masih bisa melihat ketidaknyamanan Hana berada di rumah sakit, tapi setidaknya saat ini dia lebih tenang setelah mendengar ucapan Riana.
Riana saat ini dengan teleliti memeriksa kondisi Hana, bahkan ia sengaja mengajak Hana untuk terus terlibat dalam obrolannya agar bisa meng-sugesti Hana untuk melawan ketakutannya.
***
Tiga hari sudah Hana dirawat di rumah sakit dan saat ini kondisinya mulai membaik, ia pun sudah mulai mau makan meskipun belum banyak.
"Setelah ini kita pulang ya, sekarang diabisin dulu makannya!" Ucap Abi sambil menyuapi bubur ayam permintaan istrinya untuk sarapan.
"Aku udah kenyang, udah gak bisa makan lagi. Takut muntah!" Seperti biasa ia hanya mampu menghabiskan setengah porsinya saja.
Abi pun tak memaksa, ia mengerti betul kondisi Hana. Ia kemudian memberikan Hana air untuk diminumnya. Setelah merapikan posisi istrinya, Abi menghabiskan sisa bubur yang tak dihabiskan oleh istrinya. Meski pun dia sendiri tak begitu menyukai bubur ayam.
__ADS_1
"Mau pulang ke Mansion? Tidur sama Ibu?" Tawar Abi setelah menghabiskan bubur istrinya.
"Boleh Ka?" Tanya Hana dengan mata berbinar.
"Boleh dong, udah lama kan gak ketemu Ibu?".
"Iya aku mau ke Mansion!" Hana begitu bersemangat.
Abi begitu senang melihat kondisi istrinya yang semakin membaik, wajah Hana pun sudah tak pucat seperti biasanya.
"Tinggal nunggu Dokter Riana buat periksa sekali lagi ya, habis itu kita pulang!" Ucap Abi sambil merapikan beberapa barang milik istrinya ke dalam koper.
Hana terus memperhatikan suaminya yang tengah sibuk merapikan barang-barangnya. Ada rasa syukur melihat kesabaran yang ditunjukan Abi untuknya akhir-akhir ini dalam menghadapi kondisinya dan tentu moodnya yang naik turun, menyebalkan.
Tak lama, Dokter Riana dan seorang perawat masuk dengan senyum ramahnya, seperti biasa. Membuat Hana secara otomatis ikut mengembangkan senyumnya.
"Wahhh, cantik banget pagi ini! Semangat mau pulang ya? Gimana, udah sarapan belum? Ada muntah pagi ini?" Tanya Dokter Riana sambil memperhatikan perawat yang sedang memeriksa tekanan darah Hana.
"Aku baru selesai sarapan bubur ayam, tapi gak habis. Masih belum bisa makan banyak. Muntah masih ada subuh tadi Dokter!" Jawab Hana jujur.
"Tekanan darahnya 90/60 mmHg Dok, masih normal!" Ucap sang perawat memberitahukan, yang disahuti oleh Riana.
"Dokter, boleh saya tanya sesuatu?" Tanya Abi menghampiri brankar istrinya.
"Silahkan, boleh Pak tentu saja" jawab Riana.
"Itu, emhh.. Emang bener Dok, kami bisa berhubungan emmh, Dokter tau kan. Emhh.. hubungan suami istri setelah kandungan istri saya usai 4 bulan?" Tanya Abi malu-malu, sedang Hana langsung membelalakan matanya. Tamat sudah riwayatnya kali ini jika suaminya tahu dirinya telah mengerjai suaminya.
"Siapa bilang Pak? Hubungan suami istri masih boleh kok dilakukan, hanya saja intensitasnya dikurangi dan usahakan dengan lembut ya Pak mengingat kondisi janin yang masih rentan. Dan juga jika dirasa istrinya kurang sehat, sebisa mungkin ditahan!" Jawan Riana lugas.
"Mampus gue!" Batin Hana, bahkan ia hanya memejamkan matanya tak berani menatap ke arah suaminya yang saat ini memandangnya penuh kesal.
"Jangan terlalu capek yaa Bunda cantik, makan makanan yang bergizi, gak banyak-banyak gak apa-apa tapi sering aja. Bahagia terus yaa, biar Dedeknya juga bahagia!" Nasehat Riana sebelum mengakhiri pemeriksaannya.
__ADS_1
"Ada yang mau dijelasin?" Tanya Abi penuh penekanan seusai Riana dan perawat keluar kamar rawat istrinya.
"Jelasin apa? Udah ah aku mau pulang, mau ketemu Ibu!" Jawab Hana salah tingkah.
"Mau makan sesuatu? Atau mau mampir sebentar kemana gitu?" Tanya Abi saat sudah melajukan mobilnya.
"Nanti mampir aja ke minimarket sebentar. Aku mau beli cokies, wafer, crackers sama susu kotak. Buat ngemil di jalan!" Jawab Hana yang diangguki oleh suaminya.
Abi membelokan mobilnya ke sebuah minimarket, sebelum memasuki jalan tol.
"Kamu tunggu di sini aja ya, biar aku yang beli. Ada lagi yang mau dibeli gak? Biar sekalian?" Tanya Abi, ia mulai memakai masker dan topi hitamnya.
"Gak ada, itu aja! Makasih ya Ka!" Mendengar jawaban istrinya, Abi langsung keluar untuk memasuki minimarket berlogo lebah di pintunya itu.
Hana terus memperhatikan gerak-gerik suaminya dari dalam mobil. Postur tubuh Abi yang tinggi membuatnya mudah memantau pergerakan suaminya itu.
Seulas senyum mengembang di bibir Hana saat menyadari bagaimana orang-orang di dalam minimarket itu begitu memperhatikan penuh kagum pada suaminya, padahal sang suami menggunakan masker dan hanya berpakaian biasa saja namun auranya memang tak dipungkiri. Selalu menyedot perhatian sekitar.
Hana terus menerus memperhatikan suaminya, bahkan saat sang suami membayar belanjaannya di kasir. Seorang kasir berjilbab biru sesuai dengan seragamnya terlihat terus menerus mencuri pandang ke arah suaminya, entah apa yang ada di fikiran sang kasir batin Hana.
"Yups, ini semua pesenannya Tuan Putri. Silahkan dinikmati, tadi aku juga beliin jus kotak sama air mineral dan beberapa snack lagi. Enjoy baby!" Ucap Abi menyerahkan tas belanja warna hijau yang terisi penuh camilan.
"Aku gak ngebayangin deh Ka, kalo kamu buka masker kamu di dalem tadi. Kamu pake masker aja pada masih curi-curi pandang ke kamu, apalagi kasirnya dari tadi tiap mau scan barang ngelirikin kamu terus!" Goda Hana membuat Abi tergelak.
"Emang kelihatan?" Tanya Abi, melirik sekilas ke istrinya yang mulai asyik memakan crackersnya.
"Kelihatan lah!" Jawab Hana.
"Cemburu ya?" Goda Abi.
"Enggak, biasa aja sih!" Jawab Hana kemudian menyesap susu kotaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Chapter kali ini maaf kalo B aja ya, lagi kurang bersemangat nulis aku tuh, moga tetep menikmati yaa.. Jangan lupa jejaknya ditunggu..