My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Tempramen


__ADS_3

Abi masih setia menunggu Hana untuk siuaman. Sedangkan Kinan dan Irma sudah berada di luar kamar. Sudah hampir 20 menit tetapi Hana belum juga sadar, membuat Abi khawatir.


"Bu, apa gak perlu dipanggil Dokter atau kalo gak kita bawa ke rumah sakit aja?" Tanya Abi ketika Irma kembali masuk ke dalam kamar.


"Gak perlu Nak Abi!" Jawab Irma mendekati sang putri dan kembali memberikan minyak aromaterapi.


"Saya bener-bener minta maaf udah ngebuat Hana jadi begini Bu, saya bener-bener lupa kalo Hana pernah kecelakaan!" Ucap Abi penuh sesal.


"Jadi kamu tau Hana pernah kecelakaan?" Tanya Irma, mereka pun kini duduk di sofa.


"Iya Bu, saya tau. Mamah pernah cerita, tapi bodohnya saya lupa!" Jawab Abi, Irma hanya mengangguk.


"Boleh Ibu tanya sesuatu Nak Abi? Kenapa kamu bawa mobil cepat tadi? Apa kamu sedang terburu-buru?" Tanya Irma hati-hati.


"Maaf Bu, saya tadi cuma agak kesal sama Hana. Saya cuma pengen nakutin Hana aja. Malah jadinya begini!" Sesal Abi.


"Apa tadi Hana histeris Nak waktu kamu ngebut?" Tanya Irma penasaran.


"Enggak Bu, tadi yang saya perhatiin dia cuma meremas-remas roknya dan gelisah aja".


"Oohh. Dulu setiap dia melihat kecelakaan atau berada di kendaraan yang melaju terlalu cepat dia bakal histeris, tapi sepertinya Hana sudah mulai bisa mengendalikan dirinya!" Cerita Irma.


"Bu.." panggil Hana dengan suara serak. Irma dan Abi pun buru-buru mendekatinya.


"Mau minum?" Tawar Irma, Hana pun mengangguk. Abi kemudian langsung mengambil air di atas nakas sebelah tempat tidur dan memberikannya kepada Hana, Hana pun duduk dan meminumnya.


"Laper? Mau makan?" Tawar Irma lagi, Hana pun mengangguk.


"Ya udah Ibu ambilin dulu yaa" Irma pun meninggalkan mereka berdua.


"Maafin gue ya Han" ucap Abi tulus.


"Kenapa?" Tanya Hana bingung, karena dia memang belum ingat dengan apa yang terjadi.


"Gue udah bikin lo ketakutan sampe pingsan, gue bener-bener lupa kalo lo..!"


Ucap Abi terputus.


"Ooh, Hana inget. Besok-besok aku gak mau sama Ka Abi lagi satu mobil, Hana takut!" Sahut Hana.


"Gue janji gak bakal bawa mobil ngebut-ngebut lagi. Tadi kan gue cuma kesel sama lo, cuma pengen nakut-nakutin lo doang!" Ucap Abi.


"Dan aku beneran ketakutan, semoga Ka Abi udah gak kesel lagi sekarang!" Sindir Hana, Abi hanya menelan salivanya berat mendengar kekesalan Hana.


Irma pun masuk membawa senampan makanan, ia meletakan di pangkuan Hana.


"Makasih ya Bu" ucap Hana, ia kemudian mencoba menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya tetapi sayang tangannya masih gemetar, seakan tak ada tenaga sedikit pun untuk memegang sendoknya.

__ADS_1


"Gue suapin ya!" Tawar Abi.


"Enggak, aku mau disuapin Ibu aja. Aku juga mau tidur sama Ibu aja mulai sekarang!" Sahut Hana masih dengan nada kesal.


Abi memilih diam menanggapi kekesalan istrinya, ia sadar ia memang sudah keterlaluan. Abi pun berinisiatif untuk keluar meninggalkan Hana, memberi kesempatan untuk istrinya menenangkan diri.


"Saya keluar dulu Bu, kalo butuh apa-apa jangan sungkan panggil saya!" Irma hanya mengangguk mengiyakan ucapan menantunya.


***


"Mamah mau bicara sama kamu Bi!" Panggil Kinan ketika melihat Abi keluar dari kamar Irma. Abi pun menghampiri Kinan, ia tau Kinan akan meluapkan kemarahannya.


Setelah duduk berhadapan dengan Kinan Abi pun siap mendengar omelan sang Mamah.


"Kamu gimana sih Bi? Bisa-bisanya bawa mobil ngebut lagi sama Hana, Mamah kan udah pernah cerita ke kamu. Lagian ngapain kamu bawa mobil kenceng-kenceng?" Geram Kinan sudah tak tertahankan lagi.


"Iya Mah, maaf Abi lupa!" Jawab Abi singkat membuat Kinan semakin kesal.


"Lupa-lupa. Hal sepenting itu kamu bisa lupa? Keterlaluan kamu Bi. Terus ngapain kamu bawa mobil ngebut hah" Gertak Kinan.


"Aku sama Hana sedikit ribut tadi di mobil, aku cuma bermaksud nakut-nakutin dia. Aku lupa kalo Hana pernah kecelakaan Mah!" Elak Abi penuh sesal.


"Lain kali sekesel apapun kamu, gak perlu kamu nakutin istri kamu dengan cara apapun. Kamu tau kan umur istri kamu tuh masih muda banget, kamu harusnya coba fahami dia Bi. Karena kamu jauh lebih dewasa dari istri kamu!" Nasehat Kinan.


"Iya Mah, Abi coba. Mamah tau sendiri Abi gimana kan? Abi gak bisa janji!" Sahut Abi.


"Belajar kontrol tempramen kamu Bi, Mamah mohon!" Pinta Kinan, ia tau sifat anaknya satu ini yang memang memiliki sifat keras dan mudah emosi.


***


"Hana udah selesai makannya Bu?" Tanya Abi ketika berpapasan dengan mertuanya.


"Udah, baru Ibu mau ke atas ngambil baju ganti istri kamu, ehh udah kamu bawain ternyata. Ya udah sana bantu istri kamu ganti pakaiannya!" Irma yang melihat Abi membawa baju ganti Hana pun langsung memintanya ke kamar.


"Apa?" Tanya Abi terkejut.


"Kenapa? Ibu minta kamu bantu istri kamu ganti pakaian kok kaget gitu?" Irma benar-benar heran dengan reaksi yang ditunjukan Abi.


"Bisa-bisa di gampar gue kalo harus bantuin dia ganti baju!" Abi membatin.


"Kok bengong?" Tanya Irma membuat Abi tersadar dari lamunannya.


"Ohh enggak Bu, kalo gitu saya ke Hana dulu ya Bu" sahut Abi kemudian berjalan meninggalkan mertuanya.


Betapa terkejutnya Abi saat membuka pintu kamar mertuanya ia mendapati pemandangan luar biasa indah. Istrinya membelakangi pintu masuk hanya memakai bra dan ****** ***** saja.


Hana memang mungil, tapi bentuk tubuhnya benar-benar bagus berisi, membuat Abi terperangah dengan kemolekan tubuh istrinya.

__ADS_1


"Makasih ya Bu udah mau ngambilin baju ganti buat Hana!" Ucap Hana yang belum sadar jika yang masuk tadi bukanlah Irma, tetapi Abi.


"ARGHHHH..!!!" Jerit Hana saat ia membalikan badannya ternyata Abi sedang memperhatikannya, sedangkan Abi semakin dibuat sesak melihat tubuh bagian depan istrinya.


Abi cepat-cepat menutup pintu kamar dan berlari menghampiri Hana, ia langsung menutup bibir mungil Hana yang berteriak memaki-maki dirinya.


"Ssttt... Jangan teriak-teriak, ntar dikira lo gue apa-apain!" Bisik Abi sambil membekap mulut istrinya.


Hana kemudian mendorong tubuh Abi, ia cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Ka Abi apa-apaan sih? Main masuk aja tanpa ketok pintu dulu!" Protes Hana kesal.


"Mana gue tau lo lagi setengah telanjang gitu, lagian lo juga yang salah lah buka baju tapi pintu gak dikunci. Untung gue laki lo yang masuk, kalo Juna apa yang lain yang masuk gimana?" Gertak Abi tak mau disalahkan.


"Aku yakin yang lain pada punya sopan santun, mereka bakal ketok pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang lain!" Balas Hana tak kalah garang.


"Tadi tuh gue papasan sama Ibu di luar. Mungkin kalo Ibu di dalem kamar gue juga ketok pintu dulu. Berhubung gue tau istri gue di kamar sendirian yaa gue maen masuk aja lah!" Elak Abi.


"Kaka mau ngapain ke sini?" Merasa tak akan menang jika berdebat dengan suaminya, Hana memilih tak menggubris penjelasan Abi.


"Tuh gue nganter baju ganti buat lo!" Tunjuk Abi ke arah pakaian Hana yang berserakan di lantai akibat ia lempar ke sembarang tempat saat ingin membekap mulut istrinya.


Hana pun memunguti satu per satu pakaiannya dengan masih memegang erat selimut yang ia sengaja gunakan untuk menutupi tubuhnya. Abi yang duduk di tepi ranjang terus menerus memperhatikan gerak gerik Hana.


"Ya udah Ka Abi keluar gih, aku mau ganti baju dulu. Makasih udah mau ngambilin ganti buat Hana!" Ucap Hana menghadap ke arah Abi.


"Ya ganti ajalah, kenapa gue harus keluar? Toh gue udah lihat badan semi telanjang lo" ledek Abi.


Hana tak mau menggubris ledekan suaminya, ia memilih pergi ke kamar mandi dan memakai bajunya di sana. Abi hanya tersenyum melihat tingkah lugu istrinya.


Selesai memakai bajunya, Hana pun keluar dari kamar mandi. Ia melihat Abi masih setia duduk di tepian ranjang Ibunya.Hana pun naik ke atas tempat tidur, meluruskan kakinya dan meletakan kepalanya di atas headboard ranjang.


Abi pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan istrinya.


"Maaf..!" Ucap Abi membuat Hana membuka kelopak matanya yang tertutup tadi.


"Untuk?" Tanya Hana pura-pura tak mengerti.


"Gue udah keterlaluan hari ini. Gue bener-bener lupa kalo lo punya trauma akibat kecelakaan sewaktu lo kecil, padahal Mamah udah pernah cerita ke gue tapi gue bener-bener lupa Han. Sekali lagi maaf!" Jawab Abi penuh sesal.


"Wajar sih kalo Kaka gak inget, aku kan bukan siapa-siapa Kaka. Semua yang pernah terjadi sama aku gak mungkin Kaka bisa inget. Meski pun Mamah pernah cerita ke Kaka, bukan berarti Kaka wajib buat ngingetnya karena aku bukan bagian penting di hidup Kaka, Jadi buat aku wajar lah!" Sindir Hana. Abi hanya bisa menghela nafasnya berat mendengar ocehan istrinya, sebisa mungkin dia ingin menghindari perdebatan dengan Hana.


"Malam ini lo beneran tidur sama Ibu?" Abi mencoba mengalihkan pembicaraan, Hana hanya berdehem menjawabnya.


"Iya mending lo tidur sama Ibu aja dulu, jangan sama gue!" Lanjut Abi.


"Lho kenapa emangnya?" Hana yang awalnya ingin buat Abi penasaran kenapa dirinya memilih tidur dengan Ibunya, malah sekarang dirinya sendiri yang penasaran karena Abi mengizinkannya.

__ADS_1


"Gue masih kebayang bentukan badan lo, gue takur khilaf!" Jawab Abi jujur.


"Mesum!" Kesal Hana melemparkan bantal ke wajah suaminya. Abi hanya dibuat tertawa dengan reaksi Hana.


__ADS_2