
Tidak biasanya Hana terbangun menjelang jam subuh usai, ia yang baru saja membuka matanya langsung melihat jam yang sudah menunjukkan pukul lima lewat.
"Ya Allah jam lima lewat..." Batin Hana.
"Akh.. Aduhh..!" Hana memegang kepalanya yang terasa pening, pandangannya pun sempat mangabur saat langung mendudukan diri dari posisi tidurnya.
Sejenak Hana tetap setia dalam duduknya untuk mengurangi rasa pening di kepalanya juga mengembalikan pandangan mata yang sempat mengabur.
Dirasa lebih baik, Hana kemudian beranjak ke kamar mandi untuk cepat-cepat mandi dan berwudhu dan melaksanakan kewajibannya. Tak sampai 15 menit Hana sudah keluar dengan jubah mandinya. Ia buru-buru mengenakan pakaian dalamnya dan langsung memakai mukenahnya untuk segera melaksanakan kewajibannya.
Selesai melaksanakan sholatnya, Hana langsung bersiap diri. Memakai seragam dan sedikit memoles make up untuk menutupi wajah pucatnya, dan lagi disaat Hana beres dengan kegiatan hendak mengambil ransel dan ponselnya tiba-tiba perutnya terasa mual, ia pun langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Saat muntahnya berhenti Hana langsung menjatuhkan mendudukan tubuhnya di atas lantai kamar mandi, tubuhnya gemetar hebat bahkan keringat dingin sudah membasahi pakaiannya.
Wajah yang tadinya sudah ia poles make up kembali terlihat pucat dengan bulir-bulir keringat yang terus keluar dari dahinya.
"Jangan sakit, jangan sakit. Hari terakhir ujian. Kuat, kuat..!" Hana bermonolog menyemangati dirinya sendiri.
Setelah merasa lebih baik dan sudah merapikan dirinya sendiri lagi Hana bergegas ke ruang makan untuk sarapan dengan langkah gontai.
"Mau sarapan Non? Semalem Non Hana juga makannya sedikit, sekarang sarapan yang banyak ya!" Bi Imah langsung menawari Hana yang telah duduk di kursinya.
Bau menyengat dari uap nasi goreng kembali memancing rasa mual di perut Hana, ia pun buru-buru lari ke wastafel memuntahkan isi perutnya yang kosong dan hanya keluar cairan berwarna kekuning-kuningan.
Bi Imah yang khawatir langsung menghampiri Nona mudanya, membantu memijat tengkuk istri majikannya itu.
"Non Hana sakit?" Tanya Imah khawatir.
"Maaf Bi aroma nasi gorengnya kuat banget, kepala Hana pusing, perut Hana juga jadi mual. Hana mau sarapan roti aja deh Bi, gak mau nasi goreng!" Rintih Hana yang terduduk di atas lantai dapur saat mulai mengusai dirinya, meski lelehan air mata juga sudah membajiri pipi mulusnya.
Imah bergegas menyingkirkan nasi goreng dari atas meja kemudian secepatnya menyiapkan apa yang Nona mudanya minta.
Roti tawar selai cokelat, serta cokelat hangat telah siap di atas meja. Hana yang sudah duduk di kursi dari tadi pun langsung menyantap sarapannya dengan bibir masih bergetar juga keringat yang masih membasahi dahinya.
Dan lagi, ia hanya mengabiskan setengah lapis rotinya juga sedikit cokelat hangatnya membuat Imah menghela nafas beratnya.
"Kok gak dihabisin Non?" Tanya Imah membelai lembut kepala Hana.
__ADS_1
"Kenyang Bi!" Jawab Hana.
"Dari kemarin Non makannya sedikit lho, nanti Non Hana sakit terus Den Abi marah sama Bibi. Dihabisin ya!" Rayu Imah, namun Hana tetap menggeleng.
"Hana mau berangkat ya Bi, takut kesiangan. Makasih buat sarapannya!" Ucap Hana kemudian mencium punggung tangan asisten rumah tangganya itu.
Sepanjang perjalanan menuju sekolahnya, seperti biasa jika Hana merasa tak enak badan ia akan terus memejamkan matanya.
"Non Hana, bangun Non udah sampe!" Hadi, supir Hana harus membangunkannya saat mobilnya telah sampai di sekolahannya.
"Eh, udah sampe ya. Maaf Pak aku ketiduran, makasih ya!" Hana pun keluar dari mobilnya setelah memberikan salam, berjalan dengan lesu karena tubuhnya memang lemas.
Jam istirahat, lagi-lagi Hana tak berminat untuk ikut Hanum dan beberapa temannya ke kantin. Ia memilih untuk tetap di kelas untuk sekedar memejamkan matanya sejenak sebelum lanjut dengan ujiannya yang terakhir.
"Hana, bangun. Lo sakit ya, tidur terus? Udah mau dimulai ujiannya!" Hanum menggoyang-goyang tubuh sahabatnya yang tengah terlelap itu.
"Kepala gue pusing Num, perut gue sakit!" Lirih Hana setelah membuka matanya.
"Mau gue izinin?" Usul Hanum yang langsung ditolak oleh Hana.
Merasa sahabatnya lebih baik, Hanum kemudian kembali ke kursinya. Saat ujian memang mereka tidak sebangku tetapi karena alfabet nama mereka bersebelahan, mereka tetap berada di satu kelas dan satu baris sesuai absensi.
Sorak-sorai menggema saat semua siswa telah menyelesaikan ujian terakhir mereka, mereka begitu merasa lega telah melalu masa-masa berat akhir sekolah mereka dan tinggal berharap semoga apa yang mereka kerjakan hasilnya akan baik.
Beruntung Hana masih dapat melaksanakan ujiannya dengan baik meski dengan menahan pening di kepalanya, bahkan Hanum juga ikut bernafas lega melihat sahabatnya tersenyum yang mengisyaratkan bahwa dia telah menyelesaikan ujiannya dengan baik.
"Temenin gue sebentar di kelas ya Num!" Pinta Hana saat Hanum menghampiri mejanya, Hanum yang hafal betul kebiasaan temannya saat sedang sakit langsung mengiyakan kemudian duduk di sebelah Hana.
Dibiarkannya sahabatnya itu tertidur dengan kepala berbantalkan tangan di atas meja.
Gemuruh di dalam maupun di luar kelas sama sekali tak mengganggu tidurnya Hana, ia tetap memejamkan matanya.
"Hana kenapa?" Tanya Nugie pada Hanum saat menghampiri mereka.
"Sakit..!" Jawab Hanum singkat.
"Kasihan!" Ucap Nugie yang melihat Hana memejamkan mata dengan wajah yang sangat pucat.
__ADS_1
Satu jam sudah Hana masih terlelap dalam tidurnya, sedang Hanum dan Nugie masih setia menungguinya sambil mengobrol. Hingga dering ponsel Hana yang beberapa kali berbunyi, membuat Hanum terpaksa membangunkan sahabatnya itu.
Hana mengerjapkan matanya, menyesuaikan penglihatannya saat Hanum berhasil memaksanya bangun.
"Hape lo bunyi terus tuh, angkat dulu siapa tau penting!" Pinta Hanum.
Selama ujian Hana memang menon aktifkan ponselnya, namun ia tak pernah lupa untuk langsung mengaktifkan ponselnya saat ujian telah usai, takut-takut jika ada panggilan penting, terlebih jika ia sedang berjauhan dengan suaminya.
Setelah merogoh ponselnya dari dalam tas, terlihat nama mertuanya memanggil. Buru-buru Hana mengangkat panggilan dari Mamah mertuanya itu.
"Assalamualaikum Mah!" Sapa Hana dengan suara serak.
"Wa'alaikumsalam, Sayang! Kamu dimana? Ujiannya udah selesai belum?" Tanya Kinan, terdengar nada khawatir dari suaranya.
"Udah Mah, tapi Hana masih di sekolah kok. Ada apa Mah?" Perasaan Hana langsung tak enak saat menangkap nada kekhawatiran dari suara mertuanya itu.
"Kamu jangan panik ya Sayang. Kamu sekarang bisa langsung ke rumah sakit gak? Kalo bisa kamu ke rumah sakit ya, tadi Ibu kamu pingsan, sekarang Dokter lagi menangani Ibu kamu!" Kinan agak takut memberitahukan kondisi besannya itu.
"Astaghfirullah!" Pekik Hana khawatir.
"Iya Mah, Hana ke sana sekarang. Wassalamualaikum!" Lanjut Hana panik.
"Kenapa Han?" Tanya Hanum dan Nugie bersamaan saat melihat Hana panik.
"Ibu gue pingsan, sekarang di rumah sakit!" Jawab Hana.
"Gue anter pake mobil gue aja ya!" Tawar Nugie, saat melihat Hana akan menghubungi supirnya agar menjemputnya. Hana memang meminta supirnya menjemputnya jika Hana sudah menghubunginya.
Hana mangangguk mengiyakan tawaran Nugie, karena menurutnya akan lebih cepat jika pergi dengan Nugie daripada harus menunggu supirnya lagi untuk menjemputnya.
"Gue ikut Han! Gie, lo jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya!" Hanum coba memperingari Nugie.
"Lah ini kan urgent Num!" Nugie sedikit bingung, disaat seperti ini bukankah lebih baik memacu mobilnya secepat mungkin, tetapi Hanum justru melarangnya.
"Hana gak bisa ngebut soalnya, dia phobia kecepatan!" Tukas Hanum langsung diangguki mengerti oleh Nugie.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1