My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Dilema


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Abi masih asyik mengarungi dunia mimpinya. Di kamar lain Raya sudah bersiap untuk pulang ke apartemennya. Sebelum pulang dia menyempatkan diri membuatkan sarapan untuk Abi. Semalam Raya sudah memikirkan tiap ucapan Abi, dan memang apa yang dikatakan kekasihnya benar. Dia pun bertekad untuk mulai menahan diri yang terpenting Abi tidak akan berpaling darinya.


Selesai membuatkan sarapan dan menyajikannya di meja makan, Raya naik ke lantai dua untuk membangunkan kekasihnya. Saat ingin langsung membuka pintu kamar Abi ternyata Abi menguncinya dari dalam.


"Bener-bener niat banget kamu ya Bi jaga jarak sama aku", batinnya berucap, miris memang tapi Raya harus menerimanya.


Raya pun mengetuk pintu Abi beberapa kali sambil memanggil-manggil namanya.


"Abi sayang, bangun udah pagi. Kamu bilang hari ini padet banget jadwal kamu. Aku udah buatin kamu sarapan, cepet bangun nanti kalo dingin gak enak lho", teriak Raya dari balik pintu sambil terus menerus mengetuk-ngetuk pintu kamar Abi.


" Iya aku udah bangun, kamu tunggu aja di bawah aku cuci muka dulu", sahut Abi dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Raya pun mengiyakan kemudian kembali turun ke bawah. Saat tiba di bawah Raya dikejutkan dengan kehadiran Daniel. Ya, Raya dan Daniel sama-sama mengetahui kode akses masuk apartemen Abi.


"Lho .. lo nginep di sini Ray?", tanya Daniel yang sama terkejutnya.


"Iya, kenapa? Lo ada masalah emangnya kalo gw nginep di tempat cowok gw sendiri hah?", jawabnya ketus.


"Jutek amat sih jawabnya lo! Ya gak salah sih, yang salah status kalian yang belum halal, dilarang tinggal satu atap!", sindir Daniel yang memang tidak suka dengan Raya.


"Sok alim lo ah, kaya enggak tau aja lo sebrengsek apa?", balas Raya lebih pedas.


"Gw mah emang brengsek Ray, sering gontai ganti pacar. Tapi enggak ada tuh mantan-mantan gw yang gw rusak. Untung aja mantan-mantan gw bisa jaga harga diri mereka, jadi gak gampang dimainin cowok", sindir Daniel membuat telinga Raya panas.


"Maksud lo apa? Gw enggak punya harga diri gitu? Oohh.. jangan-jangan lo ya yang ngeracunin Abi buat jaga jarak sama gw".


"Jadi Abi ngedengerin omongan gw, bagusla!", ucap Daniel dalam hatinya senang. Ia pun tersenyum penuh arti ke arah Raya.


"Brengsek lo ya ....", belum sempat Raya melanjukan umpatannya Abi datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ada apa nih pagi-pagi udah ribut?", gertak Abi.


"Manajer kamu itu gak ada sopannya sama aku. Kamu bisa enggak sih cari manajer yang profesional, bukannya yang macam dia yang selalu ikut campur urusan pribadi artisnya", keluh Raya kesal.


"Dia bukan sekedar manajer aku, dia sahabat aku. Kamu tau itu kan?", sahut Abi santai membuat Daniel tersenyum penuh kemenangan.


"Terserah..", ucap Raya kesal kemudian meninggalkan mereka berdua menuju meja makan. Abi pun mengikuti Raya dari belakang bersama dengan Daniel yang tak berhenti tersenyum melihat kekesalan Raya.


Mereka pun duduk bersama untuk menikmati sarapan yang dibuat Raya. Yaa Raya sudah membuatkan sandwich isi telur dan segelas susu hangat untuk Abi. Daniel yang sudah sarapan sebelum datang ke apartemen Abi hanya meminum jus jeruk yang ada di atas meja.


"Lo gak sarapan?", tanya Abi ke Daniel.


"Enggak usah aku cuma bikin buat kita berdua, kalo dia mau suruh buat sendiri", sahut Raya ketus.


"Enggak usah bro, gw udah sarapan tadi sebelum ke sini. Oh iya, tadi pagi-pagi banget Tante Kinan nelpon gw, katanya gw disuruh atur jadwal pembuatan iklan lo sama Hana".


"Udah kali, buktinya Tante Kinan minta gw ngatur jadwal syuting iklan kalian", jawab Daniel.


"Jadi kamu enggak nolak Bi?", tanya Raya kecewa.


"Maaf aku enggak bisa nolak permintaan Mamah, percaya Ray sama aku, aku gak bakal ada apa-apa sama Hana. Aku cuma mau bantu dia aja, kasihan dia Ray, Ibunya sakit kanker, dia gak punya sanak saudara. Aku sama Mamah cuma kasihan aja sama kehidupan dia. Ini rencana Mamah buat buka jalan dia masuk dunia entertain, supaya dia ada pekerjaan jika sewaktu-waktu Ibunya Hana umurnya gak panjang", jawab Abi menjelaskan.


"Kamu tau Bi rasa itu justru bisa tumbuh karena kasihan awalnya", ucap Raya lirih.


"Kamu enggak percaya ya sama perasaan aku ke kamu?", tanya Abi mulai memperlihatkan kekesalannya.


"Bukan begitu, aku cuma takut kamu bakal berpaling dari aku", sahutnya lirih.


"Terserah ya Ray, aku udah berusaha ngejelasin semua ke kamu. Kalo kamu masih tetep dengan pemikiran kamu itu aku udah enggak bisa apa-apa lagi. Kalo emang kamu sebegitu takutnya aku berpaling ke perempuan lain, yaa ayo kamu mau aku nikahi!" tegas Abi.

__ADS_1


"Nikah, nikah, nikah lagi.. itu aja terus yang kamu bahas, bosen aku dengernya Bi. Kamu itu beneran gak ngerti atau pura-pura enggak ngerti sih Bi hah? Sebelum apa yang aku impikan terwujud aku enggak akan menikah, aku enggak akan pernah mau punya anak!", gertak Raya jengkel.


"Aku atau kamu yang egois hah? Kalo emang kamu masih mau ngejar impian kamu, silahkan aku enggak ngelarang. Tapi jangan pernah mengatur pekerjaan aku dan dengan siapa aku akan bekerja!", balas Abi lebih garang.


"Selama ini aku enggak pernah ngelarang kamu kerja sama siapa pun, cuma kali ini aku enggak bisa Bi ngebiarin kamu kerja bareng sama perempuan itu!".


"Hana maksud kamu hah? Apa yang salah sama Hana? Kenapa kamu ngerasa terancam sama Hana? Kamu tau alesan aku mau kerja bareng dia, aku udah cukup ngejelasinnya ke kamu tapi kamu tetep ketakutan dengan pikiran kamu sendiri tanpa alesan!", ucap Abi.


"Bukan tanpa alesan Bi, tapi Mamah kamu lebih welcome ke perempuan sialan itu dibanding ke aku", sahut Raya lirih bersamaan dengan jatuhnya air matanya.


"Ray ..!", ucap Abi, hatinya terenyuh melihat Raya saat ini.


"Yaa mungkin aku kekanak-kanakan, aku egois selama ini Bi. Tapi perasaan aku ke kamu tulus Bi, aku hanya butuh waktu sedikit lagi sebelum aku benar-benar mau membina rumah tangga sama kamu. Aku juga tau Bi keluarga kamu belum sepenuhnya menerima aku dan saat aku sedang berusaha mengambil hati keluarga kamu, perempuan itu datang dan langsung bisa meluluhkan hati keluarga kamu dengan kisah sedih kehidupannya. Salahkah aku Bi jika merasa terancam dengan kehadirannya?", sahut Raya dengan air mata yang tak mampu lagi dibendungnya.


"Sayang maaf, aku janji sama kamu ini yang terakhir. Aku bener-bener cuma iba sama perempuan itu gak lebih. Tolong kamu ngertiin aku".


"Entahlah Bi, aku bener-bener enggak suka sama perempuan itu. Aku permisi..", ucap Raya kemudian meinggalkan Abi dan Daniel.


Abi benar-benar dibuat dilema dengan posisinya. Ia mengusap wajahnya kasar, menjambak rambutnya sendiri. Rasanya ia benar-benar frustasi, beberapa kali terdengar helaan nafas berat dari mulutnya. Abi pun menatap Daniel seakan meminta pendapatnya apa yang harus ia lakukan.


"Lo udah bener Bi, lanjut aja terus. Toh lo udah ngejelasin ke Raya. Dia butuh waktu mencerna alesan lo, dan dia juga butuh waktu buat yakin kalo lo tuh tulus cinta sama dia dan gak bakal mudah berpaling ke perempuan lain. Dia cuma lagi ragu", ucap Daniel yang mengerti kalo sahabatnya sekarang ini membutuhkan dukungan.


"Entahlah Niel, gw pusing. Ngeliat Raya begitu tadi perih rasanya hati gw, tapi gw juga kasihan sama Hana", sahutnya putus asa.


"Udah lah jangan badmood gitu, ntar kebawa syuting lagi mood lo yang jelek ini, bisa kacau nanti. Udah sana mandi, siap-siap abis itu jalan kita", perintah Daniel. Abi pun beranjak untuk mempersiapkan diri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih untuk terus menikmati karya aku, dukung terus yaa aku dengan like, komen, vote dan hadiah kalian 🤗🤗 biar aku tetep semangat nulisnya 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2