My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Kemungkinan Terburuk


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


Dan benar saja, tiga hari setelah di rawat di rumah sakit kondisi Irma semakin menurun bahkan saat ini Irma dinyatakan sudah tak sadarkan diri.


Hal tersebut membuat Hana begitu terpuruk, tangisannya tak juga berhenti meskipun semua sudah mencoba menenangkannya dan menyakinkannya jika sang Ibu akan baik-baik saja.


Abi yang melihat kondisi sang istri down sungguhlah ingin memeluk dan memberi semangat pada istrinya, tapi apalah daya Hana masih juga belum bisa didekati olehnya.


Abi : "Aku tau sayang ini sangat sulit untuk kamu, sulit untuk kita semua. Tapi udah ya jangan nangis terus, kita bantu Ibu dengan doa ya Sayang!".


Abi tak tinggal diam, meskipun Hana belum bisa didekati akan tetapi dia tak putus asa untuk mencoba memberikan ketenangan pada istrinya walaupun sebatas pesan.


Hana : "Aku takut Kak".


Abi : " Aku ngerti Sayang, tapi yang Ibu butuhkan saat ini doa dari kita semua. Kalo kamu nangis terus, kasihan Ibu. Aku pengen banget meluk kamu saat ini!".


Hana : "Masih belum berani Kak!".


***


Hari ke tujuh di pagi ini, saat Hana tengah bersiap pergi ke rumah sakit untuk menggantikan Kinan. Ia dikejutkan dengan kedatangan Abi ke kamarnya.


"Kak?" Tanya Hana terlonjak kaget mendapati suaminya di dalam kamarnya, Ia pun langsung terlihat gugup saat Abi mulai mendekatinya bahkan dirinya memundurkan langkahnya setiap Abi maju mendekatinya.


"Kamu masih lama?" Abi menghentikan langkahnya untuk semakin mendekati Hana.

__ADS_1


"Seb, sebentar lagi!" Jawab Hana gugup tanpa berani mengangkat kepalanya untuk menatap sang suami.


"Bisa lebih cepat lagi? Aku antar kamu ke rumah sakit" Perkataan Abi sontak membuat Hana menatap suaminya, ia tahu sesuatu hal tengah terjadi hingga membuat Abi nekat menemuinya secara langsung padahal Abi tahu bahwa dirinya belum sama sekali siap berhadapan satu sama lain.


"Ada apa?" Tanya Hana tanpa menutupi kekhawatirannya sama sekali, namun sayang Abi hanya terdiam.


"Ibu baik-baik aja kan Kak?" Tanya Hana lebih menuntut, rasa khawatir yang teramat sangat membuat Hana mulai berani menatap mata Abi.


"Kamu ke rumah sakit sama aku ya, kamu berani kan?" Tanya Abi ragu-ragu.


"Kakak belum jawab, Ibu baik-baik aja kan?" Tuntut Hana, bahkan saat ini air matanya sudah deras membasahi wajahnya.


"Ibu, Ibu saat ini kritis dan aku minta maaf banget Sayang kamu harus siap dengan kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi sama Ibu. Kamu harus kuat!" Jawab Abi begitu penuh kehati-hatian.


"Anter aku ke rumah sakit, sekarang!" Pinta Hana langsung mengambil hand bagnya kemudian berjalan cepat.


"Aku harus apa tanpa Ibu, aku gak mau sendirian hidup di dunia ini. Ibu harus kuat, Ibu harus bertahan demi Hana!" Hana terus- menerus mengucapkan kata-kata tersebut disela isakannya.


Sesampainya mereka di sana, Hana tanpa suaminya langsung berlari menuju ke ruangan perawatan Ibunya.


"Mah, Ibu gimana?" Hana langsung mencecar pertanyaan pada Kinan yang tengah berdiri tepat di depan pintu perawatan Irma.


"Kamu yang sabar Sayang, Ibu sedang ditangani oleh Doktar Rama.


"Tapi Hana pengen lihat Ibu, Hana pengen mastiin kalo Ibu enggak apa-apa!" Isak Hana memohon dengan begitu pilu.


"Sabar Sayang, sabar ya. Kita doakan Ibu ya, semoga Ibu bisa ngelewatin masa kritisnya!" Perintah Kinan lembut mendekap erat tubuh kecil menantunya yang tengah bergetar.


Abi yang tak lama tiba setelah Hana begitu merasakan ketakutan, kegelisahan dan kesedihan yang sekarang ini istrinya rasakan. Ia pun hanya mampu berdoa agar Ibu mertuanya mampu melewati masa keritisnya.

__ADS_1


Setelah menunggu dalam kegelisahan yang teramat sangat, saat ini bukan saja Hana, Kinan dan Abi saja tetapi juga ada Hafidz, Rendra, Angga dan juga Daniel yang datang beberapa saat setelah kedatangan Hana dan Abi langsung mengerubungi Dokter Rama yang baru saja keluar dari kamar perawatan Irma.


"Bagaimana Ibu, Pak Dokter?" Hana langsung mencecar Dokter Rama.


"Hana dan keluarga saya berharap bisa bersabar, kanker yang di derita Ibu Irma ternyata sudah menjalar ke organ vital lainnya membuat kondisi Beliau semakin menurun dan saya mohon maaf sekali kalau saya meminta agar keluarga bisa mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang terburuk karena kini yang bisa kita lakukan hanya mendoakan Ibu Irma!" Penjelasan Dokter Rama dengan berat hati.


"Kenapa Ibu enggak bisa disembuhkan? Ibu udah operasi beberapa kali dan Ibu juga rajin kemoterapi dan minum obatnya, kenapa Ibu masih bisa kritis?" Tanya Hana dengan tangisan yang begitu memilukan, namun tak seorang pun mampu menjawab pertanyaannya.


"Pak Dokter, tolong sembuhin Ibu! Aku enggak punya siapa-siapa lagi Pak Dokter di dunia, aku cuma punya Ibu aja. Ayah dan adik aku juga udah meninggal, jangan biarin Ibu juga ikut Ayah dan Hani sedangkan aku sendirian di dunia. Aku takut...!" Pinta Hana penuh permohonan.


"Sayang__!" Abi mencoba menghentikan perkataan istrinya yang terus mengiba.


"Aku harus kemana kalo kamu marah sama aku lagi kayak waktu itu? Kalo kamu kalap lagi, aku harus berlindung sama siapa kalo Ibu gak ada? Ibu harus sembuh Kak, Ibu harus jagain aku selamanya!" Hati Abi langsung tercubit mendengar penuturan istrinya.


"Ibu sedang berjuang Sayang, lebih baik kita doakan Beliau sekarang. Hana gak boleh mikir yang enggak-enggak dulu ya. Kita bantu Ibu dengan doa ya Cantik!" Ucap Kinan bijak, membuat Hana langsung mengangguk.


"Apa boleh Hana ketemu sama Ibu, Pak Dokter?" Tanya Hana meminta izin.


"Boleh Hana, boleh. Masuk aja temani Ibu ya, meskipun Ibu dalam keadaan tidak sadar tapi beliau pasti senang Hana ada di dekat beliau!" Jawab Rama mempersilahkan.


Hana langsung memasuki ruangan dimana sang Ibu tengah terbaring, hatinya begitu perih melihat kondisi sang Ibu yang dalam keadaan tak sadarkan diri serta dipenuhi oleh alat bantu penunjang kehidupan di seluruh tubuhnya.


Sedang Abi, setelah mendapat kode dari Kinan langsung mengikuti Hana dari belakang dan setelah sampai di ruangan ia hanya diam berdiri memperhatikan istrinya dari belakang.


"Apa sesakit ini saat Ibu nemenin Hana waktu Hana sakit dulu? Maafin Hana Ibu, yang selama ini menyusahkan Ibu, membuat sedih Ibu dengan keadaan Hana!" Ucap Hana meletakan kepalanya di atas dada sang Ibu.


"Hana masih dan akan selalu butuh Ibu, Ibu harus kuat, Ibu harus sembuh. Hana harus apa tanpa Ibu? Selama ini cuma Ibu alasan Hana tetap kuat sampe sekarang. Bangun Bu, sehat lagi, temenin Hana terus!" Hana semakin terisak membuat Abi pun meneteskan air matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2