
Hana masih tetap pasrah ketika Abi terus saja menarik dirinya dengan kasar menuju ke mobil sang suami. Hanya tangisan kecewa yang terus menerus ia lakukan, rasa sesak di dada, sakit di hati serta kecewa benar-benar melingkupi diri Hana.
Bahkan semua rasa itu semakin bertambah ketika ia telah duduk di dalam mobilnya. Tercium jelas parfum wanita yang bukan miliknya dan Hana bukan wanita bodoh, ia tahu milik siapa aroma parfum itu.
Dengan gerakan kasar Abi yang dalam keadaan tertekan dan amarah yang membuncah masuk ke dalam mobilnya setelah memaksa Hana terlebih dahulu agar duduk di kursi penumpang.
Daniel yang menyaksikan kemelut antara mereka berdua hanya mampu terdiam menyaksikannya, ada rasa tak tega dihatinya ketika Hana menatapnya dengan pandangan penuh kesedihan dan kekecewaan yang teramat dalam.
Daniel tahu, Hana tengah hancur saat ini. Wajah bahagia dan ceria kemarin sudah tak bisa ia lihat dari Hana saat ini, begitu menyedihkan.
"Bi, omongin baik-baik. Jangan kebawa emosi, kasihan Hana!" Daniel mencoba menasehati sahabatnya itu sebelum Abi melajukan mobilnya, namun sayang Abi sama sekali tak mengindahkan ucapan sahabatnya tersebut.
Daniel yang senantiasa mengikuti Abi hingga ketika Abi memergoki Hana yang seakan sedang melakukan hal tak senonoh, tahu betul jika Abi tengah dilanda kemarahan yang sangat besar.
Namun Daniel yakin sekali, jika Hana tak mungkin melakukan hal serendah itu. Hana terlalu suci untuk bisa sampai bertindak sekotor itu.
Terlebih ketika mendapati pintu utama yang sengaja dibuka lebar, hal biasa yang Hana minta jika sedang berduaan dengan seseorang yang bukan suaminya menambah keyakinan Daniel jika Hana sama sekali tak berbuat hal 'itu'.
Saat Abi menarik Hana keluar Hana dari dalam apartemen Nugie, Daniel sempat membantu Nugie berdiri dan tanpa ditanya olehnya bahkan Nugie langsung menjelaskan jika ia tengah mengobati memar yang ada di bahu Hana sambil menunjukan salep yang masih dipegang oleh Nugie dan menunjukan wadah bekas mengkompres Hana.
***
Di dalam mobil, Abi mengendarainya dengan kecepatan sedang, Sedang Hana memilih membuka jendela mobil agar aroma parfum yang ditinggalkan Raya dapat berkurang, lalu menghilang.
Hana menyandarkan punggungnya di kursi sambil terus menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, terdengar tangisan yang sama sekali tak berhenti bahkan semakin terdengar pilu.
Meski dikuasai amarah, Abi yang juga merasa bersalah meneteskan air matanya terus menerus. Ia sadar telah melukai istrinya teramat dalam, menghancurkan perasaan sang istri begitu besar. Tetapi saat bayangan sang istri tengah bercumbu dengan Nugie menurut penglihatannya tadi, amarahnya tiba-tiba kembali bangkit.
Dengan suara menggelegar, Abi mengumpat kata-kata kasar membuat Hana sempat terperanjat kaget namun sesaat kemudian memilih duduk memunggungi suaminya dan tentu masih dengan tangisan yang begitu perih.
Setelah hampir setengah jam perjalanan menuju apartemen mereka yang dirasa sangat mencekam, mereka kini telah tiba di apartemen yang tadinya akan segera mereka tinggalkan untuk pindah ke rumah baru mereka.
Masih dengan gerakan kasar, Abi terus menarik pergelangan tangan Hana kini ia menarik pergelangan tangan kanan Hana yang bahunya terluka.
Meski Abi bisa mendengar suara Hana yang merintih kesakitan, Abi sama sekali tak memperdulikannya. Antara marah dan frustasi saat ini Abi hanya ingin mengurung istrinya, menjelaskan permasalahan sebenarnya serta memberi hukuman pada sang istri karena kecurigaannya telah melakukan perselingkuhan dengan Nugie.
Sesampainya di unit mereka, Abi terus menarik kasar tangan Hana disaksikan oleh Dewi yang saat itu tengah berdiri di bawah tangga.
__ADS_1
Dewi menatap iba pada Hana yang juga menatap dirinya dengan pandangan seakan-akan minta tolong padanya.
Dengan kasar Abi menghempaskan tubuh istrinya ke atas ranjang mereka, kemudian menutup pintu dengan dibanting sekencang mungkin membuat siapa pun yang berada di sana terlonjak kaget tak kecuali Imah yang langsung berlari dari arah dapur.
"Ada apa Wi?" Tanya Imah penuh kekhawatiran.
"Den Abi sama Non Hana kayaknya lagi bertengkar hebat Bi!" Jawab Dewi tak kalah khawatir.
Karena merasa di luar kuasa mereka, mereka hanya terdiam dan berharap tak terjadi sesuatu yang buruk pada kedua majikan mereka.
Di dalam kamar, Abi langsung mengungkung tubuh istrinya dengan penuh amarah. Ia mencengkram erat kedua pergelangan tangan Hana yang terus membrontak untuk melepaskan diri.
"Jadi ini cara lo hah menyelesaikan masalah, lo langsung cari mangsa buat balas dendam ke gue!!??" Gertak Abi menuduh.
"Terus apa masalahnya hah? Adilkan, kamu bisa bersenang-senang sama kekasih kamu, kenapa kamu kesal saat ngelihat aku bersenang-senang dengan laki-laki lain?" Hana tak menyadari jika ucapannya akan menjadi boomerang besar untuk dirinya sendiri.
PLAKK.. PLAKK...
"Brengsek lo Hana..!" Umpat Abi pada istrinya setelah menampar pipi kanan kiri istrinya dengan cukup keras.
"Dimana cowok sialan itu nyentuh lo hah??" Tanya Abi, ia yang benar-benar emosi langsung merobek dress yang dikenakan istrinya dengan kasar.
"Berhenti Kak, aku mohon. Sakit..!" Rintih Hana setelah lepas dari ciuman kasar suaminya yang kini bibir suaminya tengah menjelajahi rahang, leher lalu melum*at kasar puncak dada Hana membuat Hana semakin memekik kesakitan.
"Gue tanya sekali lagi Hana, dimana dia nyentuh elo, HAH!" Teriak Abi.
Kini tangannya tengah membuka celana strit serta kain segita tiga pelindung area pribadi sang istri. Dan tanpa rasa kasihan sedikit pun Abi langsung memasukan jari tengahnya ke dalam inti sang istri dengan sangat kasar membuat Hana semakin kesakitan di sela isak tangisnya.
"Dia udah ngebuat lo bener-bener basah hah? Sayangnya gue yang akan menuntaskannya Hana!" Ejek Abi saat mencabut jarinya dari inti sang istri.
"Jangan, jangan pernah berani nyentuh aku Kak Abi, aku gak akan rela kamu sentuh saat aroma perempuan sialan itu masih begitu melekat di tubuh kamu. Dan aku peringatkan kamu Kak, kalo sampe kamu nekat menyentuhku, aku bersumpah demi apapun aku gak akan maafin kamu hingga kelak aku terbujur kaku di liang lahatku!" Ancam Hana terbata-bata dengan mata sembab namun memancarkan kemarahan yang amat besar.
Abi langsung terdiam mendengar sumpah yang dilontarkan Hana, rasa sesak langsung menghunus ke dalam dadanya.
Melihat sang suami tertegun, Hana langsung menggigit bahu serta menendang ************ Abi agar terbebas dari kungkungan suaminya.. Yang Hana inginkan saat ini hanyalah berlari sejauh mungkin dari suaminya kemudian bersembunyi.
Hana tak lagi memperdulikan penampilannya yang mengenaskan saat ini, setelah bebas dari tubuh suaminya Hana langsung berlari hendak membuka pintu yang terkunci. Namun sayang, tenaga yang tak seberapa membuat Abi tak terlalu lama merasa kesakitan.
__ADS_1
Abi langsung berdiri menghampiri istrinya yang sudah berhasil membuka pintu kamar mereka dan hendak berlari. Dengan tingkat kemarahan yang semakin meninggi, Abi langsung menarik tangan Hana kemudian menghempaskan tubuh istrinya dengan keras hingga tersungkur di atas lantai.
Dewi dan Imah yang melihat tubuh majikan perempuannya ditarik kasar oleh majikan pria mereka hanya mampu ternganga, bahkan saat mereka mendengar pekikkan kesakitan Hana mereka hanya mampu beristighfar tanpa berani ke atas dan melerai pertengkaran majikan mereka.
Sedang Abi seperti telah ditutup mata hatinya, langsung menendang tubuh Hana yang baru saja akan terduduk, alhasil Hana kembali tersungkur di lantai.
Mata Hana menatap nanar ke arah suaminya yang kini sedang mendekatinya. Ketakutan luar biasa kini menghampiri Hana.
Dengan tanpa ampun, Abi langsung menjambak rambut panjang Hana hingga Hana dengan susah payah mendudukan dirinya yang dipaksa sejajar dengan Abi yang tengah berjongkok.
"Sekali lagi gue tanya Hana, dimana cowok sialan itu nyentuh tubuh lo. JAWAB HANA!!" Teriak Abi masih terus menarik kasar rambut istrinya.
"Dimana kamu menyentuh kekasihmu tadi, disitulah tubuh aku juga disentuh dia!" Jawab Hana menantang suaminya, ia sadar jawabannya akan membuat Abi semakin kalap.
"Jal*ng sialan!" Umpat Abi semakin menjambak rambut istrinya, bahkan ia memaksa Hana untuk berdiri lalu menghempaskan tubuh lemah istrinya kembali ke atas ranjang mereka.
"Bukankah karma seperti itu Kak, saat kau meniduri perempuan lain mungkin saja laki-laki lain juga meniduri istrimu. Terima saja!" Hana semakin membuat Abi gelap mata.
"Gue dijebak Hana, gue ngelakuin semua karena mereka telah ngejebak gue bukan karena keinginan gue sendiri!" Ucap Abi sambil terus membuka ikat pinggangnya.
"Sekarang gue tanya sama elo, apa lo bener-bener udah bercinta sama Nugie Hana?" Tekan Abi mencengkram rahang mungil Hana.
Hana tak menjawab, ia hanya tersenyum smirk yang semakin membuat Abi gelap mata karena mengartikan senyuman Hana adalah sebuah jawaban yang tak ingin sama sekali ia dengar.
Dengan membabi buta, Abi langsung mencambuki tubuh istrinya dengan sangat kencang. Hana yang menerima cambukan tersebut berteriak kesakitan, ia yang tak sanggup menerima rasa sakit tubuh depannya terus menerus dicambuki langsung menelungkupkan tubuhnya.
Bukannya iba mendengar jeritan kesakitan Hana yang kini dengan tubuh tengkurap, Abi justru semakin brutal mencambuki punggung istrinya. Teriakan, jeritan serta permohonan Hana agar Abi menghentikan cambukkannya sama sekali tak Abi indahkan.
Ctasssshhh... Ctasssshhhhh...
Entah berapa banyak Abi mencambuki Hana, bahkan dress berwarna pastel yang masih tergantung ditubuh Hana kini berwarna merah akibat dari darah Hana.
"Ampun Kak, udah. Berhenti Kak, sakit...!" Rintih Hana dari suara keras hingga tak terdengar lagi suaranya meski Hana masih sadar.
Imah yang sudah tak tahan mendengar jerit kesakitan Hana membernikan diri untuk menghampiri kamar majikannya meskipun sempat dihalangi oleh Dewi yang ketakutan.
Betapa terkejutnya Imah saat mendapati Abi masih mencambuki istrinya, dengan tekad kuat Imah langsung masuk ke dalam kamar majikannya.
__ADS_1
"Astaghfirullah Den Abi, berhenti Den. Udah.. udah, kasihan Non hana Den. Ya Allah..! Pekik Imah mendorong tubuh kekar Abi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=