
Sesampainya Hana dan Tante Kinan di kamar rawat Ibu Irma, ternyata Angga sudah ada di ruangan. Yaa .. saat ini memang sudah jam jenguk.
Hana yang melihat Angga tersenyum menyapanya dengan semangat.
"Mas Angga kapan nyampe?".
"Belum lama, tadi Mas coba buat nelpon kamu tapi ponsel kamu gak aktif", sahut Angga.
Hana pun mengambil ponselnya yang ternyata mati karena dia belum sempat mengisi daya batrainya seharian ini. Dia pun menunjukkan ponselnya yang mati kepada Angga, Angga pun mengangguk mengerti.
"Oh ya Mas, kenalin ini Tante Kinan, Tante Kinan ini yang nolongin Hana sama Ibu. Tante.. kenalin ini Mas Angga, teman Hana dari kecil", ucap Hana memperkenal mereka satu sama lain.
"Angga Tante.. Saya masih ingat kok Tante ini langganan catering Ibu Irma kan?", sapa Angga mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tante Kinan pun menyambut uluran tangan Angga dengan senyum ramah.
"Panggil saja saya Tante Kinan. Iya saya masih ingat kamu kok. Beberapa kali kamu yang antar pesanan saya ke kantor. Kamu apa kabar? Masih belum dapat kerja juga?", sahut Tante Kinan ramah.
Saat mengantarkan pesanan Tante Kinan, memang Tante Kinan sempat bertanya apa Angga adalah pegawai Ibu Irma, namun Angga bercerita bahwa dia hanya membantu Ibu Irma sambil menunggu panggilan kerja.
__ADS_1
"Tante masih inget aja, hehee.. Belum Tante, tadi saya sempat interview di salah satu perusahan, semoga aja saya diterima, saya masih disuruh menunggu lagi", ucap Angga sedikit malu karena ternyata Tante Kinan ingat padanya.
Angga pun beralih pada Hana, dia menanyakan bagaimana Ibu Irma bisa sampai dibawa rumah sakit, Hana pun menceritakannya dari awal bagaimana Ibunya sampai di rawat. Angga mendengarkan dengan seksama semua cerita Hana, dia pun bertanya kondisi Hana selama di rumah sakit, Angga tau perihal trauma Hana karena memang mereka berteman dari kecil.
Angga menawarkan diri untuk menjaga Ibu Irma di rumah sakit menggantikan Hana, karena dia tau Hana tidak nyaman jika harus berada di rumah sakit, tetapi Hana menolak, dia tidak ingin meninggalkan Ibunya dan lagipula Hana merasa tidak enak jika harus merepotkan Angga.
Tante Kinan yang melihat perdebatan mereka pun ikut bersuara untuk menengahi perdebatan mereka.
"Benar kata Angga Hana, lebih baik kalian bergantian menjaga Ibu Irma. Biarkan Angga malam ini menjaga Ibu kamu, kamu ikut Tante saja ke rumah Tante, besok kan kamu ambil rapor sekolah kamu sama Tante, jadi berangkatnya langsung dari rumah Tante saja selesai ambil rapor kamu kita langsung ke rumah sakit, bagaimana?", usul Tante Kinan pada Hana.
"Emhh.. apa tidak apa-apa Tante Hana nginep di rumah? Apa enggak merepotkan Tante? Hana benar-benar enggak enak Tante seharian ini Hana udah menyusahkan Tante Kinan", jawab Hana ragu.
"Ya udah kalo gitu Hana mau nginep di rumah Tante, maaf ya Tan, kalo Hana merepotkan nanti", ucap Hana.
Tak lama kemudian Ibu Irma terbangun dari tidurnya, Angga pun menyapanya. Mereka sejenak terlibat perbincangan ringan, sampai tiba saatnya adzan maghrib berkumandang mereka pun bergantian melaksanakan shalat maghrib, begitu pula dengan Ibu Irma, ia pun melaksanakan kewajibanya sebagai seorang muslimah meskipun hanya melakukannya di atas tempat tidur.
Selang berapa lama Dokter masuk ke kamar, dia pun kembali memeriksa keadaan Ibu Irma. Dokter pun menanyakan tiap keluhan yang dirasakan Ibu Irma akhir-akhir ini. Kemudian Dokter meminta suster yang menemani sang Dokter untuk kembali mengambil darah dan ditambah urine untuk dilakukan pengecekan di laboratrium.
__ADS_1
Setelah memeriksa Ibu Irma Dokter mengatakan belum bisa memastikan apapun sakit yang diderita Ibu Irma. Dokter masih memerlukan beberapa tes agar bisa memastikan penyakit Ibu Irma. Meskipun Dokter sudah ada kecurigaan bahwa Ibu Irma menderita suatu pemyakit, namun Dokter masih belum mau memeberitaukan sebelum hasil tes membuktikan kecurigaannya.
Hana terlihat khawatir dengan apa yang diucapkan Dokter, namun ia berusaha menyembunyikan rasa khawatirnya dari orang-orang yang berada diruangan itu terlebih dari Ibunya.
Setelah berbicara pada Hana, Dokter dan beberapa suster yang mengikutinya pun permisi untuk keluar ruangan, hanya tinggal dua orang perawat yang bertugas untuk mengambil darah Ibu Irma. Selesai mengambil sample darah Bu Irma, seorang suster menghampiri Hana memberikan wadah kecil. Suster itu memberitaukan agar saat buang air kecil Ibu Irma harus menampungnya di wadah tersebut kemudian memberikan ke suster jaga, Hana pun mengangguk tanda mengerti. Setelah selesai melakukan tugasnya kedua suster itu pun keluar.
"Bu nanti kalo mau pipis, pipisnya taro sini ya", ucap Hana saat menghampiri Ibunya di ranjang.
"Kebetulan Nak, Ibu mau buang air kecil. Bisa tolong Ibu", pintu Ibu Irma. Saat Hana hendak mengambilkan pispot, Ibu Irma menolaknya, dia ingin buang air kecil di toilet saja karena menurutnya dia cukup kuat jika hanya ke toilet saja.
Hana pun memapah Ibunya ke toilet, di dalam toilet Hana membantu Ibunya untuk menampung urine di wadah yang diberikan suster tadi. Selesai buang air kecil dan sedikit membersihkan diri, Hana kembali memapah Ibunya menuju ranjang.
Setelah membenarkan posisi sang Ibu, Hana meminta izin untuk menginap di rumah Tante Kinan, dia menjelaskan akan kembali lagi ke rumah sakit setelah mengambil rapor di sekolahannya besok, dia juga bilang bahwa Angga sudah setuju akan menjaga Ibu Irma malam ini. Ibu Irma pun mengiyakan permintaan Hana, menurutnya akan lebih baik jika Hana tidak terlalu lama di rumah sakit.
Setelah mendapat izin, Hana dan Tante Kinan pun berpamitan pulang. Hana pun membawa sample urine untuk sekalian dia berikan kepada suster jaga.
"Nak Angga, kami pulang dulu. Nanti kalo ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi saya atau pun Hana yaa. Titip Ibu Irma ya Nak Angga!", ucap Tante Kinan sembari memberikan kartu namanya agar Angga menyimpan nomor ponsel Tante Kinan.
__ADS_1
Hana pun mencium tangan serta wajah Ibunya, dia sebenarnya berat meninggalkan Ibunya di rumah sakit tanpa kehadirannya. Tapi apa yang Tante Kinan ucapkan benar, akan lebih mudah jika esok berangkat dari rumah Tante Kinan untuk mengambil rapor hasil belajarnya.