
Abi menatap wajah cantik istrinya yang kelelahan tertidur setelah kembali melakukan pertempuran.
Selesai makan siang tadi Hana mengajak suaminya untuk bersama melakukan sholat dzuhur dan sejenak untuk beristirahat di kamar mereka.
Saat hendak mengganti seragam dengan pakaian rumah agar lebih nyaman beristirahat, Abi melarangnya. Dia justru meminta Hana agar merealisasikan keinginannya untuk bercinta dengannya saat masih mengenakan seragam.
Awalnya Hana menolak keinginan aneh suaminya, namun ia tak kuasa setelah suaminya terus menerus merengek agar Hana mengabulkan keinginannya karena di mata Abi, Hana begitu terlihat cantik dan menggoda disaat mengenakan seragamnya.
Merasa bosan karena tak kunjung menyusul istrinya ke alam mimpi Abi memilih untuk keluar kamarnya, namun sebelumnya ia merapikan pakaiannya dan pakaian istrinya yang berserakan di lantai akibat ulahnya.
Memakai kaos santai dan celana jins selutut Abi menuruni tangga untuk sekedar mencari kegiatan selama menunggu istrinya terbangun dari tidur cantiknya.
"Bi..!" Panggil Kinan saat Abi melewati ruang keluarga.
"Iya Mah..!" Abi pun menghampiri Kinan yang tengah asyik duduk bersantai di sofa sambil membaca majalah bisnis seperti biasanya.
"Hana mana?" Tanya Kinan saat Abi sudah duduk di sebelahnya.
"Tidur di kamar Mah, kenapa?".
"Enggak apa-apa cuma tanya aja. Gimana hubungan kamu dengan Hana?" Tanya Kinan meletakan majalah yang dibacanya.
"Ya seperti Mamah lihat, semua baik-baik aja kan. Aku dan Hana udah seperti suami istri lainnya!" Jawab Abi sambil terus memencet tombol remot tv untuk mencari tontonan yang menarik.
"Kamu ke Paris buat nemuin Raya kan?" Kinan sungguh ingin tahu mengapa anaknya masih saja menghubungi mantan kekasihnya itu.
"Iya..!" Jawab Abi singkat tanpa menoleh ke arah Kinan.
"Kenapa Bi? Buat apa kamu masih menemui perempuan itu? Kamu gak kasihan sama Hana Bi?" Cecar Kinan tidak suka.
"Hana tau kok Mah, aku nemuin dia. Aku udah izin sama dia dan dia ngizinin, toh aku di sana gak macem-macem kok Mah. Mamah pasti tau kan aku ke sana karena apa? Aku gak mau Mah dihantui rasa bersalah kalo andai aja sesuatu yang buruk terjadi sama Raya dikarenakan gara-gara aku!" Jawab Abi panjang lebar.
"Yakin kamu, hampir 3 mingguan kamu di sana gak terjadi apa-apa antara kamu sama perempuan itu?" Selidik Kinan.
__ADS_1
"Ya Allah Mah enggak, aku selama di Paris juga tinggal di apartemen temenku kok bukan di apartemen Raya. Lagian juga sebelum balik ke Indonesia aku udah ngomong sama dia, udah negasin ke dia kalo semua antara aku dan dia udah harus berakhir. Aku udah jatuh cinta sama Hana dan aku bertekad serius sama rumah tangga aku. Aku juga minta dia buat gak gangguin aku dan Hana lagi!" Sahut Abi.
"Perempuan itu nerima keputusan kamu?" Tanya Kinan menatap tajam puteranya yang saat ini juga menatapnya.
"Enggak kan? Mamah ingetin ke kamu ya Bi, perempuan itu pasti bakal berulah lagi dan Mamah harap kamu udah bisa mengantisipasi kelakuan perempuan itu kelak. Mamah gak mau kalo sampe kamu atau pun perempuan itu menyakiti Hana!" Gertak Kinan kemudian meninggalkan Abi.
Abi terus menerus memikirkan semua ucapan Kinan, bahkan ucapan Hafidz juga. Hingga tanpa ia sadari ia tertidur di sofa hingga pukul tiga sore.
"Udah bangun, enak ya tidurnya?" Sapa perempuan cantik menyambutnya saat ia baru saja membuka matanya.
"Udah cantik aja istri aku!" Goda Abi saat ia mendudukkan posisinya.
"Aku udah bangun dari tadi, kaget pas bangun gak ada Kaka. Aku kira kemana, ehh malah tidur di sini!" Sahut Hana disela keasyikannya mengunyah salad.
"Makan terus perasaan?" Abi sedikit aneh dengan nafsu makan istrinya yang sepertinya sedang naik.
Karena sebelum pergi ke mansion Hana sempat memintanya berhenti ke minimarket untuk membeli susu coklat kemasan juga beberapa crakers yang langsung habis di sepanjang perjalanan.
"Biasa aja ah, ini tadi Mamah bikinin khusus buat aku makanya langsung aku makan. Aku tuh paling suka salad bikinan Mamah, enak seger!" Sahut Hana dengan masih terus menikmati saladnya.
"Jam 3, mandi sana terus sholat. Abis itu kita pulang ke apartemen ya Ka, aku belum belajar buat besok soalnya!" Perintah Hana.
Sebelum beranjak Abi meminta agar Hana mau menyuapi salad ke mulutnya, kemudian beranjak ke kamarnya untuk melaksanakan perintah istrinya.
"Mah, makasih saladnya ya. Enak banget, Hana suka!" Ucap Hana pada Kinan saat mengembalikan mangkuk ke dapur yang telah dihabiskan isinya.
"Sama-sama sayang, seneng deh kalo kamu suka sama salad buatan Mamah. Kamu makan malem di sini kan?".
"Enggak Mah, aku sama Ka Abi mau pulang aja. Aku belum belajar buat ujian besok, lagian Bi Imah udah masak katanya. Sayang kalo gak dimakan!".
"Ya udah kalo gitu, itu ada salad sama kue-kue bikinan Ibu katanya kamu pengen pastel sama lemper isi ayam. Tadi waktu kamu tidur, Ibu sama Mamah sempetin bikin buat kamu!" Tunjuk Kinan ke atas meja dapur yang terdapat box isi kue-kue dan salad.
"Makasih ya Mah, Bu udah mau direpotin sama aku. Hehehe..!" Cengir Hana membuat Kinan dan Irma terkekeh dengan tingkahnya.
__ADS_1
"Aku ke atas yaa Bu, Mah. Mau sholat sekalian mau siap-siap pulang!" Pamit Hana yang diangguki oleh kedua Ibunya.
"Kayaknya udah ada calon cucu kita di rahim Hana ya Irma?" Duga Kinan saat Hana sudah tak bersama mereka.
"Aaminn, sepertinya begitu Mbak. Belum sadar aja mereka!" Sahut Irma yang diangguki oleh Kinan dengan senyum penuh harap.
Di dalam kamar, saat bersiap untuk kembali ke apartemen mereka berdua justru terlibat pertengkaran dikarenakan Abi mengatakan jika besok ia akan syuting di Jogja selama seminggu.
"Ka Abi kan baru aja dateng, masa harus pergi lagi sih. Gak bisa apa 2-3 hari lagi. Tega amat!" Kesal Hana.
"Gak bisa Hana, syuting ini udah ketunda masa aku minta nunda lagi yang ada aku kena marah nanti. Cuma seminggu doang kok, gak lama!" Sahut Abi berusaha tenang.
"Seminggu sih seminggu, aku juga belum seharian sama kamu udah mau ditinggal lagi!" Keluh Hana dengan sedikit berteriak.
"Habis gimana sayang kan udah kewajiban aku ngelarin kerjaan yang aku udah tandatangani, aku juga maunya sama kamu terus, masih kangen sama kamu. Tapi kerjaan ini kan udah pernah aku tunda, gak mungkin aku minta tunda lagi!" Abi mencoba tetap tenang menghadapi kekesalan istrinya.
"Iya aku ngerti, tapi aku juga belum sehari lho Ka ketemu kamunya kok setega itu ninggalin aku lagi. Aku nungguin kamu lama banget, pulang cuma bisa sama-sama sebentar ehh pergi lagi buat waktu yang lama!" Hana terus saja menggerutu, bahkan sekarang lelehan air matanya sudah membasahi pipinya.
"Cuma seminggu sayang, gak lama!" Sahut Abi.
"Buat kamu emang gak lama, tapi gak buat aku! Gak ngerti apa kalo aku tuh masih kangen sama kamu, masih pengen ngabisin waktu yang lama sama kamu!" Hana semakin terisak membuat Abi bertambah frustasi.
"Kok kamu jadi ribet gini sih, hah? Yang gak ngerti itu aku apa kamu? Ini udah kerjaan aku Hana, aku gak bisa mangkir gitu aja lagi. Kamu itu kayak gak ngerti aja posisi aku, kemarin-kemarin kamu ok-ok aja aku tinggalin buat kerja, kenapa sekarang kamu bikin ribet gini sih?" Gertak Abi.
"Iya emang aku ribet, aku gak ngertiin kamu. Aku mau pulang!" Teriak Hana sambil menangis, ia pun langsung pergi meninggalkan Abi. Hana sengaja membanting keras pintu kamar saat keluar.
Hana menghapus air matanya saat menghampiri kedua Ibunya dan Kakek mertuanya untuk berpamitan pulang. Meski berusaha terlihat biasa, namun semua masih bisa menebak jika Hana habis menangis.
"Aku pamit ya Bu, Mah, Kakek. Maaf kalo ngerepotin ya!" Hana menyalimi satu per satu tangan orang-orang yang ia sayangi.
"Enggak ngerepotin kok sayang, kamu sering-sering main ke sini ya!" Sahut Kinan, Hana pun mengangguk. Ia kemudian membawa box berisi makanan yang dipersiapkan untuk dirinya.
Sepanjang perjalanan, tak ada satu pun yang membuka suara. Abi memilih fokus mengemudikan mobilnya, sedang Hana lebih memilih menikmati pastel buatan sang Ibu sambil memandangi pemandangan yang mereka lewati.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=