
Jam satu dini hari Abi baru sampai di apartemennya. Saat ia masuk ia mendapati Raya yang pulas di sofa ruang tamunya, ia pun menghampiri kekasihnya. Berjongkok untuk melihat lebih seksama wajah kekasihnya itu, Abi melihat Raya sangat berbeda. Menurutnya Raya terlihat lebih cantik, kulitnya lebih bersinar dari biasanya.
"Kamu makin cantik aku perhatiin, makin bikin gemes, makin bikin kesel", ucap Abi lirih sambil membelai lembut pipi Raya.
Raya yang merasakan seseorang sedang menyentuh wajahnya pun membuka matanya, ia tersenyum saat tau orang itu adalah Abi kekasihnya yang saat ini juga sedang tersenyum padanya.
"Kok malem banget pulangnya, janjinya mau ngusahain pulang cepet?", keluh Raya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Ini aku udah usahain pulang sayang, tadi malah harusnya aku gak pulang, tapi demi janjiku padamu Abang pulang dengan selamat", goda Abi membuat Raya berdecih geli.
"Abang, Abang .. Abang tukang bakso??", ledek Raya geli mendengar kata Abang terucap dari bibir kekasihnya.
"Ehhh udah pinter ngeledek yaaa sekarang", goda Abi lagi kali ini ia juga duduk di sebelah Raya kemudian menggelitiki pinggang Raya, Raya pun berusaha menghentikan kelitikan yang dilakukan oleh Abi, tapi sial kaki Abi menendang perut Raya meski tidak terlalu keras namun cukup terasa sakit.
"Auchhh.. sakit. Hati-hati dong Bi bercandanya, kena perut aku jadinya kan. Tau aku lagi ...",gertak Raya hampir keceplosan.
"Aku lagi...? Kamu lagi apa?", tanya Abi berusaha menyelidiki, Ia pun menatap tajam penuh curiga.
"Aku lagi,,ehhh,, Ak,, akuuu.. akuu, lagi sakit perutnya karena salah makan. Emhh.. perut aku lagi sensitif semenjak salah makan", jawab Raya gugup tanpa mau melihat ke arah Abi.
"Kamu beneran gak lagi sembunyiin sesuatu dari aku kan? Aku tuh ngerasa akhir-akhir ini kamu nertingkah aneh, aku ngerasa kalo kamu tuh lagi hamil Ray!", tebak Abi.
Raya yang kembali mendengar Abi mengucapkan kata hamil, langsung tersulut emosinya. Entah mengapa, tapi setiap Abi mengucapkannya seakan seperti sebuah vonis yang menakutkan untuknya.
__ADS_1
"Hamil, hamil, hamil terus yang ada di otak kamu. Sok tau kamu Bi, berkali kali aku udah bilang aku enggak hamil, aku baru selesai haid, aku alergi makanan. Kenapa sih kamu maksa aku buat bilang aku tuh hamil? Sejauh mana kamu tau tentang kehamilan sampe kamu begitu percaya diri nuduh aku hamil terus. Denger aku ya Bi, sampe aku belum bisa ngewujudin mimpi-mimpi aku sampai saat itu aku enggak akan mau buat menikah atau pun hamil, camkan itu!!", geram Raya kemudian berdiri meninggalkan Abi yang duduk mematung mendengar gertakan Raya.
"Mau kemana kamu Ray?", tanya Abi ketika ia melihat Raya mengambil tas dan menuju pintu keluar.
"Mau keluar dari sini, muak aku sama kamu yang terus-terusan ngajakin aku berantem!", jawab Raya terus melangkahkan kakinya.
"Raya, ini udah malem. Berhenti dan masuk kamar sekarang, jangan paksa aku buat ngasarin kamu!", ancam Abi, namun sepertinya Raya tidak takut sama sekali dengan ancaman yang Abi lontarkan, ia tetap berjalan dan membuka daun pintu untuk keluar dari apartemen kekasihnya, namun belum sempat Raya keluar pintu Abi sudah mencekal tangannya, menariknya kembali masuk ke dalam apartemen dan mendorong tubuhnya yang semampai itu ke dinding.
Abi mencengkram pipi Raya dengan satu tangannya cukup kencang, menatap Raya dengan tatapan seakan ingin menghabisinya, kilatan amarah terlihat jelas dari sorotan matanya.
"Aku bilang ini udah malem Ray, masuk ke kamar. Tolong jangan buat aku kasar sama kamu!", ucap Abi penuh penekanan membuat Raya mulai ketakutan. Raya pun menuruti ucapan kekasihnya, setelah cengkraman Abi dilepas ia kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamar Abi. Abi mengusap kasar wajahnya, antara kesal dan kasihan melihat tingkah laku kekasihnya.
Abi tidak langsung menuju ke kamarnya, ia kembali duduk di sofa, menenangkan dirinya sendiri, berusaha meredam amarahnya. Ia tau saat ini Raya pasti takut padanya.
Abi teringat saat Raya makan ayam goreng tepungnya kemarin, Raya mengatakan bahwa ia mau memakan makanannya bersama Abi.
Hatinya seketika mencelos melihat kotak-kotak makanan itu, ia baru sadar bahwa kekasihnya belum memakan makanannya dan sengaja menunggunya untuk makan bersamanya.
Ia pun kemudian berinisiatif untuk menghangatkan makanan-makanan itu di microwave, membawanya ke kamar untuk bersama-sama dinikmati berdua dengan Raya.
Setelah selesai, Abi pun menyusunnya di nampan kemudian membawanya ke kamar. Saat Abi membuka pintu kamar, ia melihat Raya sudah meringkung di dalam selimutnya. Abi kemudian duduk memangku nampan itu.
"Aku tau kamu belum tidur, kita...", belum sempat Abi meneruskan kata-katanya Raya langsung bangun dan duduk, ia sama sekali tidak menatap Abi. Wajahnya terlihat ketakutan, ada sisa-sisa air mata di pipi tirus Raya. Hati Abi begitu perih melihat kondisi Raya yang takut padanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu belum makan makanan kamu? Kenapa kamu harus nunggu aku? Aku kan udah bilang aku pulangnya larut, perut kamu kan lagi sakit gak baik telat makan nanti bisa tambah sakit. Sekarang makan ya, aku udah angetin", ucap Abi pelan. Raya pun mengangguk tanpa melihat ke arah Abi.
Raya kemudian duduk bersila masih di atas ranjang, memangku gantian nampan yang diberikan Abi padanya. Selain memang ia sudah lapar, ia takut jika ia menolak apapun ucapan Abi, Abi akan kembali marah dan berbuat kasar padanya.
Ia pun mulai memasukkan makanannya satu per satu ke dalam mulutnya, meski tak sepenuhnya bisa menikmati rasa makanan itu karena Abi yang terus menerus menatapnya, ia tetap memakannya.
Abi melihat kedua sisi pipi Raya memerah karena cengkramannya tadi, reflek ingin menyentuh pipi Raya, namun pergerakan Abi yang tiba-tiba membuat Raya terkejut, ia reflek bergerak seakan ingin melindungi wajahnya. Gerakannya membuat ia menumpahkan makanan yang di pangkuannya.
Ia kemudian berdiri, menatap Abi sesaat kemudian menatap makanan yang jatuh berantakan di lantai. Raya pun berjongkok, memunguti kotak makanannya dan memasukkan makanan yang terjatuh dengan gugup.
"Maaf aku enggak sengaja, aakk, aakuu bersihin kok. kamu jangan marah", ucap Raya panik.
Abi yang melihat Raya ketakutan begitu merasakan sesak di dadanya. Raya yang selalu ceria bersamanya, Raya yang selalu menggemaskan dengan tingkah-tingkahnya, kini terlihat takut bersamanya.
Abi kemudian menunduk, membantu Raya memunguti makanan-makanan yang terjatuh.
Raya yang melihat Abi berjongkok makin membuatnya takut, ia menjatuhkan bokongnya, menggesernya mundur sejauh mungkin dari Abi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Suara tangisnya pecah, rasa takut benar-benar menguasai Raya saat ini.
"Aku takut Bi sama kamu, aku takut..", ucap Raya di sela-sela tangisnya membuat Abi begitu lara melihatnya. Ia pun menghampiri Raya, menariknya ke dalam pelukkannya, membelai lembut rambutnya. Abi benar-benar berusaha untuk menghilangkan perasaan takut Raya pada dirinya.
"Maaf sayang, maafin aku.. Aku janji gak akan kasar lagi, aku janji gak akan ngomongin masalah kehamilan lagi.. Maafin aku..!".
Raya tak bergeming, ia terus menangis. Namun ia sudah mau membalas pelukan Abi meskipun suara tangisannya semakin kencang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=