
Hari sudah menjelang malam, beberapa pemain dan tim-timnya sudah pulang. Hana baru menyelesaikan adegan terakhirnya hari ini. Ia pun sibuk mengemasi barang-barang bawaannya, sedangkan timnya sudah ia izinkan untuk pulang duluan.
Awalnya Abi ingin menemaninya, tetapi Hana menolak dengan alasan tidak ingin menyusahkan. Meskipun Abi memaksa namun dia tak berhasil membujuk Hana untuk kembali ke rumah sakit bersama.
Sedangkan Daniel, karena kesal ia langsung pulang semenjak obrolan antara Abi dan Daniel terakhir.
"Kok sendirian?" tanya asisten sutradara menghampiri Hana di ruangannya. Hanya tinggal beberapa kru yang masih sibuk merapikan perlengkapan dan properti syuting termasuk asisten sutradara itu.
"Iya Bang tim aku udah aku suruh pulang duluan tadi. Abang belum pulang?" Hana pun sedikit berbasa basi.
"Iya masih ada yang dikerjain. Hana gw boleh minta tolong gak?" tanya asisten sutradara bernama Andi itu.
"Apa Bang? Kalo Hana bisa, pasti Hana tolongin" jawab Hana tulus.
"Jadi di ruang properti masih sedikit berantakan, kalo dikerjain sendiri tetep bakal makan waktu lama. Sebenernya udah ada kru cewek di sana lagi ngerapiin, niatnya gw mau bantuin dia tapi enggak enak kalo cowok sama cewek berduaan di ruangan, jadi maksud gw lo ikut aja ke sana buat nemenin kita" pinta Andi.
Hana yang memang senang membantu pun mengiyakan permintaan Andi, apalagi Andi yang waktu itu mengusulkan Hana untuk menggantikan peran yang ditinggalkan Raya, jadi dia merasa sungkan jika harus menolak permintaan tolong Andi.
"Ya udah ayo Bang Andi, Hana juga udah selesai beberesnya" sahut Hana ramah.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke ruang properti yang berada di ujung. Seorang kru sempat melihat mereka berdua berjalan ke sana, sempat merasa aneh karena ruangan itu berada di lorong paling ujung dan terbilang sudah sepi. Namun orang tersebut tak ambil pusing dan terus melanjutkan perkerjaannya.
***
Sesampainya mereka di ruangan itu, Andi mempersilahkan Hana untuk masuk terlebih dahulu. Tanpa curiga, Hana pun langsung masuk disusul oleh Andi. Terdengar pintu dikunci membuat Hana menengok, di sini ia mulai merasa curiga dan takut.
"Kok dikunci Bang?" tanya Hana dengan mimik yang sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Gak apa-apa tenang aja, gak usah takut" jawab Andi dengan seringai yang mencurigakan, tetapi Hana masih tetap berusaha berfikir positif.
"Kru yang tadi Abang bilang dimana?" tanya Hana lagi.
"Ada di dalem, lo ke sana aja!" jawab Andi. Hana pun mengangguk, kemudian berjalan semakin masuk ke dalam. Namun di ruangan itu tidak ada seorang pun.
Hana mulai ketakutan, ia menengok ke belakang dan saat sudah menghadap ke belakang Andi berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan yang menakutkan.
"Abang mau apa?" tanya Hana ketakutan, Andi kemudian mencengkram bahu Hana kuat membuatnya kesakitan dan semakin ketakuan.
"Mau minta ucapan makasih dari lo" jawab Andi.
"Maksud Abang?" tanya Hana lagi tak mengerti.
"Lo gak ngerti apa pura-pura gak ngerti hah?" gertak Andi membuat Hana semakin takut.
"Abang mau apa?" tanya Hana lagi mulai menangis.
Hana pun tak tinggal diam, ia berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari cengkraman Andi. Dan satu-satunya yang terbesit di fikiran Hana adalah menendang pas di tengah ************ Andi.
Hal itu pun berhasil, di saat Andi meringis kesakitan Hana pun tak mau kehilangan kesempatan ia kemudian lari hendak keluar dari ruangan itu. Namun naas tendangan yang diberikan Hana tak begitu kencang hingga setelah beberapa saat merasa kesakitan Andi mampu mengejar Hana yang belum sampai ke pintu keluar.
Andi kemudian menarik tangan Hana hingga Hana tersungkur ke lantai. Hana merasakan sakit di belakang tubuhnya karena terjatuh, saat ingin bangun Andi dengan cepat menindih tubuh Hana, menampar keras pipinya kemudian menyeret Hana ke tengah ruangan tadi. Hana terus berteriak minta tolong namun rasanya sia-sia karena ruangan tersebut berada di ujung membuat siapapun tak bisa mendengar teriakannya.
Andi kemudian mengangkat tubuh Hana, membaringkannya di atas meja besar di tengah ruangan itu, ia mencengkram kuat pipi Hana yang terus berusaha memberontak.
"Udah berhenti berontak, nikmatin aja. Lo harus nurut sama gw biar gak ngerasa sakit, kita nikmatin aja biar sama-sama enak!" ucap Andi dengan tatapan penuh nafsu.
__ADS_1
Hana yang merasa jijik mendengar kata-kata Andi reflek meludahi muka Andi. Perbuatan Hana memancing kemarahan Andi, ia sekali lagi menampar pipi Hana lebih keras hingga sudut bibir Hana mengeluarkan darah.
Saat sedang kesakitan, Hana merasakan tangan Andi sudah merobek dress yang ia kenakan. Dengan sekali tarik, bagian atas dress itu langsung robek memperlihatkan pay*dara putih Hana yang masih terlindungi oleh bra yang ia kenakan.
Melihat pemandangan tersebut, Andi semakin bernafsu untuk memperkosa Hana, ia meremas dada Hana, meskipun berusaha membrontak tubuh Hana yang terbilang mungil tak sebanding dengan tubuh Andi yang besar dan lebih kuat tenaganya dibanding dirinya.
Hana terus menerus berteriak meminta tolong, tangisnya terdengar sangat pilu, tubuhnya sudah gemetar. Serasa tak ada harapan lagi ia sudah membayangkan akan seperti apa hidupnya setelah ini.
Namun ternyata Tuhan masih menyanyanginya, saat Andi sedang asyik mengecup leher hingga dada Hana seseorang menarik Andi hingga Andi terjengkang ke belakang, kesempatan itu Hana langsung gunakan untuk berlari menuju sudut ruangan.
Hana memegang dressnya yang sudah robek untuk menutupi bagian dadanya, tubuhnya gemetar hebat. Di sudut ruangan Hana menekuk kakinya, memeluk kakinya. Ia melihat seseorang yang menolongnya adalah Abi, Abi terus menerus mengumpat kata-kata kasar sambil terus menghajar Andi. Wajahnya dipenuhi kemarahan.
Menerima pukulan dan tendangan bertubi-tubi Andi pun tersungkur tak sadarkan diri. Abi masih sedikit sadar hingga tak membunuh Andi, jika sampai itu terjadi dipastikan akan menjadi masalah untuknya. Meskipun Abi terlihat belum puas menghajar Andi, ia harus menghentikannya.
Abi kemudian menghampiri Hana yang duduk menundukkan wajahnya sambil terus memeluk kakinya. Saat tiba dihadapan Hana, Hana terlihat ketakutan.
"Jangan, tolong jangan sentuh aku. Aku mohon" rintih Hana pilu, ia benar-benar ketakutan hingga tak menyadari yang mendekatinya adalah Abi.
"Hana, ini gw Abi. Jangan takut lagi ya!" sahut Abi kemudian melepaskan jaket yang ia kenakan untuk dipakaikan ke tubuh Hana. Hana yang mendengar suara Abi mengangkat wajahnya, ia langsung menghambur ke pelukan Abi, menangis sekencangnya di pelukan Abi.
Abi pun membalas pelukan Hana berharap agar Hana tidak ketakutan lagi, ia membiarkan Hana untuk menangis. Abi benar-benar merasa kasihan dengan apa yang baru saja Hana alami. Ia berharap pelukannya akan membuat Hana merasa aman.
"Gak apa-apa semua udah berlalu, lo udah aman sekarang ada gw, jadi jangan takut lagi" ucap Abi berusaha menenangkan Hana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ini karya pertamaku, maaf kalau belum sempurna dan mungkin banyak typo, aku sedang belajar menjadi penulis . Semoga kalian suka dengan novel pertamaku ini.
__ADS_1
Jangan lupa vote, komen dan like nya yaaa biar aku tambah semangat nulisnya .
Terima kasih 🙏🙏😘😘