My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Malaikat Penolong


__ADS_3

Sore menjelang, Hana dan Hanum berpamitan untuk pulang setelah Angga datang untuk bergantian menjaga sang Ibu. Sebelum pulang Hana sempat menceritakan kondisi sang Ibu pada Angga serta penyakit Ibunya. Angga yang mendengarnya hanya bisa memberikan semangat pada Ibu dan Hana, mendoakan kesembuhan untuk Irma.


Tiba di rumah Hanum, mereka bergegas membersihkan diri mereka masing-masing. Selesai dengan ritual membersihkan diri, mereka pun bersantai di kamar Hanum. Hana masih terlihat sangat sedih dengan apa yang menimpa sang Ibu, meski terkadang dia berusaha tersenyum dan tegar tetapi masih terlihat jelas guratan kesedihan dan ketakutan dari matanya.


"Lo gak boleh kelihatan lemah Han, lo harus tegar. Gw tau ini pasti berat buat lo atau pun Ibu, tapi akan lebih baik sekarang lo gak berlarut-larut dalam kesedihan. Ibu butuh lo, dia lagi berjuang buat sembuh dan lo harus yakin kalo Ibu lo bisa sembuh, bisa ngelawan penyakitnya. Jadi semangat yaa!", hibur Hanum. Hana pun mengangguk tersenyum dengan usaha sahabatnya untuk mengembalikan semangatnya.


"Oh iya gw penasaran Han, kok gw perhatiin lo tadi gak heboh sih ketemu Abi, malah lo kayaknya gelisah deket-deket Abi gak biasa-biasanya dah", tanya Hanum.


Mengela nafas panjang Hana balik bertanya pada sahabatnya, " mau tau aja apa mau tau banget nih?".


"Ihhh apaan sih lo? Ayo dong cerita cepet penasaran gw!".


"Jadi kemaren sehabis nganter Ibu ke rumah sakit, gw diajak nginep di rumahnya Tante Kinan. Gw juga baru tau kalo ternyata Tante Kinan tuh Mamahnya Ka Abi, dan gw juga baru tau ternyata Ka Abi tuh udah punya cewek", ucap Hana dengan mimik sedih yang dibuat-buat.


"Wahhh patah hati dong lo?", ledek Hanum.


"He.eh Num, patah hati gw!", sahut Hana menyandarkan dahinya ke pundak sababatnya itu.


"Lebay lo ahhh, pantesan lo kaya orang gelisah gitu gw perhatiin deket-deket sama Abi", ucap Hanum kemudian meneguk minuman sodanya.


"Bukan itu yang bikin gw gelisah, tapi tadi malem tuh gw baku hantam sama ceweknya Ka Abi", sahut Hana menutupi wajahnya, sedangkan Hanum reflek menyemburkan soda yang sedang diminumnya.


"Lah busyet barbar banget lo Han. Gak begitu juga kali lo meluapkan kecemburuan lo ke ceweknya Abi, apalagi di rumahnya Abi sendiri. Parah lo, untung Tante Kinan gak nendang lo keluar dari rumahnya sahabis lo kdrt ke calon mantunya. Parah sihh parah!", ucap Hanum tak percaya dengan apa yang baru saja sahabatnya ceritakan.

__ADS_1


"Sotoy lo ahhh!! Gw begitu juga bukan karena cemburu kali, gila kali gw? Segila-gilanya gw ya Num, gw masih bisa kali menempatkan diri gw!", gerutu Hana kesal.


"Jadi gimana? Cerita lah!".


Hana pun menceritakan semua yang terjadi antara dia dan Raya, menceritakan tentang permintaan Kinan agar Hana membantunya membuat iklan produk shamponya dan menjadikan Abi sebagai pasangannya di iklan tersebut yang menurut Hana hal ini lah yang membuat Raya menyerangnya.


"Kok mau sih Abi pacaran sama cewek kekanak-kanakan gitu, jelek pula sifatnya", omel Hanum kesal entah kepada siapa.


"Anggap aja dia apes enggak lebih dulu ketemu sama gw malah ketemu sama cewek kunti itu", sahut Hana membanggakan diri.


"Terus kalo ketemu lo duluan, Abinya mau gitu sama lo?", tanya Hanum meledek.


"Yee mau kali, siapa tau pas ketemu gw lagi sawan dianya jadi mau sama gw", jawab Hana tertawa begitu pula Hanum.


"Iya sih sama kunti aja dia kecantol bisa jadi sama sundel bolong bisa jadi7 juga mau dia!", ledek Hanum tertawa lepas.


"Jadi lo mau batuin Tante Kinan?", tanya Hanum lagi mulai menguasai dirinya setelah puas tertawa.


"Gw sih mau, tanpa Ka Abi pun gw tetep mau. Tante Kinan udah baik banget sama gw dan Ibu jadi sebisa mungkin gw gak bakal ngebuat Tante Kinan kecewa


tapi sayangnya Ibu belum ngebolehin".


"Jadi Ibu gak ngizinin?", tanya Hanum.

__ADS_1


"Belum ngasih izin sih tepatnya, masih dipikirin sama Ibu. Lo tau kan Ibu kaya gimana!?", jawab Hana mendapat anggukan dari Hanum.


***


Sore ini di rumah sakit Kinan kembali menjenguk Irma, di kamar tersebut kini ada mereka bertiga. Selesai berbincang ringan dengan Angga, Angga meminta izin untuk ke kafetaria rumah sakit. Irma dan Kinan pun mengizinkan.


"Ibu gimana kabarnya?", tanya Kinan.


"Baik Bu Kinan, Alhamdulillah saya ngerasa enakan. Terima kasih yaa Bu", jawab Irma.


"Iya bu sama-sama. Anak-anak udah pulang kah Bu?", tanya Kinan lagi saat melihat Irma hanya berdua dengan Angga.


"Sudah Bu, Hana dan Hanum sudah pulang ke rumah Hanum ada yang mau mereka mau selesaikan urusan perpisahan anak kelas 12 katanya. Oh ya Bu Kinan, apa tawaran Ibu untuk Hana masih berlaku?".


"Tentu saja Bu Irma, apa Ibu mengizinkan Hana membantu saya?", tanya Kinan bersemangat.


"Iya Bu saya mohon bantuan dari Ibu Kinan sekali lagi. Izinkan anak saya bekerja dengan Ibu, saya percayakan Hana pada Ibu Kinan. Setelah saya fikir alangkah baiknya jika Hana memiliki sebuah pekerjaan sebelum saya meninggalkannya. Saya tau penyakit saya bukanlah penyakit biasa Bu, kemungkinan terburuk pasti bisa terjadi. Meskipun begitu saya tetap akan berusaha melawannya. Hanya saja saya juga harus mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan paling buruknya. Setidaknya kelak jika memang saya tidak mampu melawan sakit saya lagi, saya akan tenang meninggalkan Hana sendirian pada orang yang tepat, Ibu Kinan orang yang tepat untuk saya menitipkan Hana. Saya mohon Bu didiklah anak saya hingga kelak dia bisa mandiri, Hana bukan anak yang menyusahkan Bu, Hana anak yang baik sangat baik jadi saya sangat memohon pada Ibu untuk menjaga dia menggantikan saya mendidiknya jika memang Allah tidak memberi saya umur panjang", pinta Kinan memohon, ia pun tak mampu lagi menahan laju air matanya, tangannya menggenggam erat tangan Kinan.


"Saya berjanji Bu saya akan menjaga Hana, mendidik dia hingga kelak dia mampu berdiri dengan kemampuannya sendiri. Bahkan jika kelak Ibu sembuh kita akan sama-sama menjaga dan mendidik Hana", ucap Kinan memeluk tubuh Irma. Irma pun melepas tangisnya.


Dia benar-benar merasa beruntung bertemu dengan Kinan, Allah benar-benar Maha Baik telah mempertemukan mereka. Seakan Allah sudah mempersiapkan Kinan untuk menjaga putrinya jika memang kelak Allah memanggilnya untuk kembali kepada Sang Pemilik.


"Terima kasih Bu Kinan, sekali lagi terima kasih telah begitu baik dengan kami. Bagi kami Ibu seperti malaikat. Saya mungkin tidak bisa membalas kebaikan Ibu Kinan dengan apapun tetapi saya akan selalu berdoa agar Allah senantias membalaskan semua kebaikan Ibu dengan kebaikan yang lebih lagi. Sekali lagi terima kasi Bu", ucap Irma tulus dengan derai air mata yang tak bisa ia hentikan, Kinan pun memeluk erat tulus memberikan keyakinan bahwa dia akan selalu ada untuk Hana dan Irma.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih untuk terus menikmati karyaku, dukung aku terus dengan like, komen, vote nya ya biar aku makin semangat lanjut nulisnya. 🙏🙏😘😘


__ADS_2