
"Apa sih Bi, masih malem udah nelfonin gue? Gagal unboxing bini lo lagi hah?" Tanya Daniel dengan suara serak khas seorang yang baru bangun tidur ketika menjawab telfon dari Abi.
"Cariin gue penerbangan ke Paris paling cepat dan urus keberangkatan gue sekarang!" Perintah Abi.
"Paris? Tiba-tiba gini? Ada apa?" Seketika rasa kantuk Daniel menguap mendengar perintah sahabatnya.
"Udah gak usah banyak tanya, lakuin apa yang gue perintah sekarang!" Abi enggan menjawab rasa penasaran manajernya dan langsung memutus panggilan telefonnya.
"Bi ini gue ngurus keberangkatan lo sendiri apa sama Hana?" Isi pesan Daniel.
"Sendiri" Balas Abi singkat.
"Aku gak ngizinin Kaka pergi, kenapa Ka Abi gak mau denger?" Geram Hana ketika Abi memilih untuk pergi.
"Sayang, aku gak akan macem-macem sama Raya lagi. Aku cuma mau memperbaiki keadaan, kalo nanti Raya udah membaik aku bakal bilang ke dia kalo aku harus mengakhiri hubungan kami. Hana dia kritis, dia nyoba bunuh diri gara-gara aku. Aku gak mau ngerasa bersalah andai mungkin nanti sesuatu yang paling buruk terjadi sama dia. Jadi tolong Hana, tolong kamu ngertiin posisi aku!" Abi terus menerus mencoba memberi pengertian pada istrinya, ia pun bergegas bersiap.
"Ini bukan salah Kaka, ini kesalahan dia sendiri. Kalo emang dia sayang sama Kaka harusnya dia setia, bukannya malah selingkuh sama lelaki lain!" Gertak Hana meski masih dalam posisi duduk di atas tempat tidurnya.
"Aku ngerti sayang, tapi sekarang situasinya berbeda. Dia keritis saat ini, Lina bilang cuma aku yang bisa bantu dia sembuh dari ketepurukannya!"Jawab Abi.
"Enggak, aku tetep gak ngizinin Kaka pergi. Hiks..!" Hana mulai terisak, entah mengapa perasaannya sangat tak ikhlas melepas kepergian suaminya.
"Kamu mau aku ngerasa bersalah seumur hidup aku kalo andai terjadi sesuatu yang buruk sama Raya hah?" Abi mulai tersulut amarahnya ketika Hana terus menerus melarangnya.
Ada penerbangan ke Paris tiga jam dari sekarang. Mendingan lo langsung ke Bandara Internasional Ngurah Rai, nanti gue urus semua persyaratan keberangkatan lo di sana! Gue langsung otewe sekarang!
Isi pesan Daniel, Abi pun. bergegas untuk berangkat tanpa memperdulikan isak tangis Hana.
__ADS_1
Melihat suaminya nekat untuk pergi sekuat tenaga Hana berdiri meski merasakan sakit di tubuh dan intinya.
"Arkh.. sakit!" Lirih Hana, membuat Abi berbalik menghampiri istrinya.
"Kamu istirahat aja, aku harus berangkat Hana!" Ucap Abi di depan Hana yang berdiri dengan berbalutkan selimut saja.
"Aku gak mau Kaka pergi, gak mau!" Teriak Hana sambil satu tangannya menahan lengan Abi.
"Cukup Hana, cukup! Aku bersumpah gak akan macem-macem, sekali ini aja Hana biar aku memperbaiki keadaan. Aku juga mau ngejalani hubungan kita dengan tenang, please!" Geram Abi.
"Kaka tega ninggalin aku?" Tanya Hana lirih dengan air mata yang sudah membajiri wajahnya.
"Aku gak akan ninggalin kamu, tolong ngertiin aku!" Ucap Abi dengan suara melemah, ia pun mencoba melepas tangan Hana yang menahan lengannya.
"Keadaan ini terlalu lucu tau gak Ka, di sana dia udah ada yang ngurus kenapa juga Kaka harus buru-buru? Kaka bisa kan gak pergi malem ini juga?" Tanya Hana diselingi tawa getir dari bibirnya.
"Sayang, kamu tau kan dia kritis saat ini. Aku harus secepatnya ke sana!" Lagi Abi mencoba memberi Hana pengertian.
"Hana kenapa kamu gak mau ngerti juga sih hah?" Abi seakan seperti diuji kesabarannya dengan semua permintaan istrinya.
"AKU GAK MAU KAKA PERGI MALAM INI, AKU GAK IKHLAS KAKA PERGI SETELAH APA YANG KITA LAKUKAN! AKU NGERASA SEPERTI WANITA SIMPANAN YANG HANYA JADI PELAMPIASAN NAFSU AJA SETELAH ITU DITINGGALIN GITU AJA, BUKAN .. BUKAN WANITA SIMPANAN, BAHKAN AKU NGERASA SEPERTI SEORANG PEL*CUR..!" Teriak Hana histeris namun terputus ketika..
PLAKKKKKK
Sebuah tamparan keras menghampiri pipinya.
"ARKHHH..!" Pekik Hana saa merasakan sakit, perih dan panas di pipinya. Ia pun menatap nanar ke arah suaminya yang saat ini sama terkejutnya dengan dirinya.
__ADS_1
Hana begitu tak menyangka bahwa ia akan menerima tamparan dari suaminya, sesak, kecewa, sakit hati kini ia rasakan di hatinya.
Sedang Abi ia juga tak menyangka bisa lepas kontrol hingga menampar wajah istrinya. Abi bisa melihat sorot mata Hana penuh kekecewaan dan rasa sakit.
"Sayang, maaf!" Abi mencoba mendekati Hana untuk memeluknya, namun Hana memundurkan tubuhnya. Abi yang tau Hana sedang shock dan marah pun membiarkannya, ia lantas pergi meninggalkan Hana tanpa mengucapkan kata-kata lagi.
Sepeninggalan Abi, tubuh Hana merosot ke lantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menangis sekencang-kencangnya dengan suara tangisan yang terdengar sangat pilu.
"Ibu..!" Lirih Hana memanggil Ibunya di sela isak tangisnya. Ia membutuhkan Ibunya, ia ingin memeluk Ibunya, mengadukan semua yang terjadi pada dirinya.
Bagaimana bisa malam yang seharusnya terasa indah harus berakhir semenyakitkan ini? Hana benar-benar rapuh.
Harapannya setelah melakukan apa yang menjadi kewajibannya akan memperkuat rumah tangganya, justru berakhir dengan kepergian suaminya yang memilih untuk berada dekat dengan mantan kekasih suaminya. Sedang dia ditinggal dalam keadaan tubuh yang sakit dan hati yang sakit.
"Apa Hana keterlaluan meminta waktu untuk tetap bersama kamu setelah apa yang sudah kita lakukan Ka? Hana hanya mau kalo Hana adalah prioritas Kaka, bukan perempuan lain. Hana hanya mau dihargai sebagai istri, bukannya ditinggalkan setelah dinikmati. Hana bukan pel*cur. Hiks..!" Rintih Hana dalam hati.
***
Sepanjang perjalan ke bandara Abi mencoba menelfon istrinya, mengirimi beberapa pesan permintaan maaf namun tak ada respon sama sekali.
Abi menghembuskan nafas kasarnya, ia benar-benar menyesali apa yang telah dilakukan dengan istrinya. Abi mengusap wajahnya kasar saat teringat sorot mata Hana yang penuh kekecewaan dan sakit hati.
"Maaf Sayang, sebentar aja. Tunggu aku akan perbaiki semua dan gak akan ada lagi orang yang berusaha mengganggu hubungan kita, aku janjikan itu!" Batin Abi.
Sedang di villa puas menangis, Hana memilih membersihkan dirinya. Meski menahan sakit dan perih di inti tubuhnya Hana dengan tertatih-tatih masuk ke dalam kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Hana langsung mengucurkan shower untuk membasuh tubuhnya. Air matanya kembali jatuh mengingat apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
"Kamu bener Ka, malem pertama yang Kaka berikan teramat sangat berkesan, tapi bukan kesan yang manis yang Kaka kasih, tapi kesan yang menyakitkan dan aku pastikan ini semua bakal aku inget-inget terus. Dasar jahat!" Ucap Hana dengan tawa getirnya di bawah guyuran air shower.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=