
Pagi hari Hana yang memang terbiasa terbangun subuh, sudah terlihat rapi dengan baju rumahannya. Dia melihat suaminya yang masih terlelap, ada perasaan lega saat Abi memaafkannya dan kembali bersifat lembut padanya.
"Maaf Ka..!" Lirih Hana membelai lembut rambut dan wajah Abi, ia kemudian mengecup bibir suaminya sekilas.
"Ka, bangun sholat gih!" Ucap Hana berkali-kali sambil menggoyang-goyang tubuh suaminya. Seperti biasa butuh waktu dan perjuangan yang ekstra membangunkan suaminya.
"Mau apa sih Hann, ngantuk gue tuh!" Keluh Abi, masih tetap dalam posisi tidur.
"Sholat Ka!" Sahut Hana membelai rambut Abi agar terus terjaga.
"Off dulu yaa, pala gue puyeng!" Abi tetap memejamkan matanya.
"Ayo dong Ka, gak boleh gitu! Bangun, sebentar doang kok!" Rayu Hana.
"Please Hana..!" Abi pun membalikkan tubuhnya memunggungi Hana.
Hana hanya menghela nafas beratnya, ia tak mau memaksa suaminya lagi. Hana memutuskan untuk turun ke bawah, menemui Ibunya yang pasti sudah bangun.
"Bie..!" Panggil Juna ketika Hana akan membuka pintu kamar Ibunya.
"Kamu udah bangun?" Tanya Hana ketika menengok ke arah si pemanggil.
"Kebangun, haus!" Jawab Juna mangangkat air putih di botol yang ia ambil dari lemari pendingin.
"Pagi hari itu gak baik minum air dingin, bagus air anget. Emang kamu gak ngilu apa pagi-pagi minum dari kulkas?" Hana menghampiri Juna dan mengambil botol tersebut. Ia kemudian menggandeng tangan Juna menggiringnya ke ruang makan dan menyuruhnya duduk di salah satu kursi.
"Bentar ya aku buatin air anget!" Ucap Hana penuh kehangatan.
"Beruntung banget sih lo Mas dapetin Hana, coba kalo Raya mana mau dia ngurusin adek-adek lo!" Juna bermonolog sendiri.
"Nih minum! Jangan dibiasain minum air kulkas pagi-pagi!" Hana menyerahkan segelas air hangat yang dia buat di dapur tadi, kemudian duduk di sebelah Juna yang langsung menenggak habis air putih hangat buatan Kaka iparnya.
"Tadi malem kamu jalan sama Ka Abi ya Jun?" Tanya Hana memastikan.
"Iya..!" Jawab Juna.
"Kemana?" Bukan tidak percaya dengan ucapan suaminya, ia hanya ingin lebih merasa lega saja jika mendengar langsung dari Juna.
"Night club Bie, kita gak kemana-mana langsung balik ke sini kok. Lo gak lagi mikir yang enggak-enggak kan Bie?".
"Enggak kok, aku cuma iseng aja nanya!" Jawab Hana tanpa mau melihat mata Juna.
"Semalem lo diapain sama Mas Abi?" Lagi jiwa kepo Juna tak bisa dibendung.
Hana hanya diam.
"Mas Abi udah cerita sama gue, kalo dia kesel banget sama lo. Dia juga cerita alesan yang bikin dia kesel sama lo!" Lanjut Juna, melihat sepertinya sang Kaka ipar ragu untuk bercerita.
"Aku gak tau kenapa Ka Abi semarah itu? Emhh.. Aku bener-bener gak maksud ngerjain dia, aku juga bener-bener lupa tanggal bulanan aku. Padahal aku udah siap lahir batin buat itu, malah kacau!" Jelasnya sedih.
"Lo gak diapa-apain kan? Gue tau banget Mas Abi kalo marah gak pandang bulu dia, pasti kasar. Gue tau banget tempramen dia!" Bukan tanpa alasan Juna mempertanyakan ini, karena ia melihat pergelangan tangan Hana sedikit memar. Juna pun menyentuh pergelangang tangan Hana membuat Hana sedikit terkejut.
__ADS_1
"Oohh ini, emhh.. iya Ka Abi kesel tangannya aku tahan pas dia mau pergi, jadi dia narik pergelangan tangan aku kenceng, gak sadar dia juga namanya lagi marah!" Jawab Hana jujur.
"Kalo dia maen tangan lawan aja Bie, atau lo aduin ke Mamah Papah kalo perlu ke Kakek. Tempramen Mas Abi tuh jelek dari dulu, enggak ke siapa juga pasti kasar. Dia tuh ..!" Belum sempat Juna menyelesaikan wejangan-wejangannya, rambut tebalnya dijambak seseorang dari belakang.
"Jangan ngajarin bini gue jadi bini durhaka lo ye!" Suara Abi lumayan memekakkan telinga saat menjambak rambut adiknya.
"Aduhh, aw.. aw.. Sakit Mas,, lepas napa!" Rintih Juna berusaha melepaskan jambakan di rambutnya, Abi pun kemudian melepasakannya dan duduk di sebelah Juna, kini Juna diapit oleh sepasang suami itu.
"Gue gak ngajarin bini lo buat durhaka, gue cuma ngajarin dia buat ngelindungin diri dari lo yang suka semena-mena!" Ucap Juna sambil menunjuk pergelangan tangan Hana dengan dagunya.
"Udah ah, gue mau tidur lagi. Ngantuk!" Ia pun berdiri meninggalkan sepasang suami istri itu.
Abi menarik pergelangan tangan kanan Hana yang memang terlihat memar. Ia ingat saat menarik tangan istrinya dan mendorongnya secara kasar semalam.
"Sakit?" Tanya Abi menyesal, Hana hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan bohong!" Abi sedikit mendelik melihat Hana menggelengkan kepalanya.
"Iya sakit, tapi gak sesakit semalem!" Jawabnya jujur dengan suara lirih.
"Maaf ya!" Ucap Abi tulus, Hana pun mengangguk. Abi kemudian membawa Hana ke dalam dekapannya. Ia benar-benar menyesal dan mengutuk perbuatannya sendiri.
"Han, tempramen gue emang buruk banget. Gue suka lepas kontrol kalo emosi, gue sendiri gak tau kenapa? Lo pasti takut banget semalem ya? Maaf ya sayang!" Lanjut Abi masih terus membelai rambut Hana yang seperti biasa ia selalu kuncir kuda. Hana hanya menganggukan kepalanya di dalam dekapan sang suami.
Jujur kejadian semalam memang sangat membekas di hati dan fikiran Hana. Hana yang terbiasa dididik oleh kelembutan sedari kecil begitu syok menerima perlakuan Abi semalam.
Bentakan dan teriakan bahkan tidak pernah ia dengar selama hidup bersama Ibunya dan juga selama ia hidup bersama Ayahnya. Mereka mendidik Hana benar-benar dengan kelembutan, jika Hana salah mereka lebih memilih menasehati Hana atau paling fatal mendiami Hana hingga Hana sadar kesalahannya.
"Jangan Hana, jangan nangis lagi!" Perintah Abi lembut, tapi Hana ya Hana gadis yang mudah menangis, bukannya diam dia semakin kencang menangis dalam pelukan suaminya.
Abi melepas menjauhkan tubuh Hana dan menangkup wajah Hana, melihat wajah istrinya, mengusap air mata istrinya kemudian memberi beberapa kecupan-kecupan di wajah sang istri.
"Ke taman belakang yuk, pagi-pagi gini di taman belakang hawanya sejuk. Lo pasti seneng!" Ajak Abi, lalu menggandeng tangan Hana dan membawanya ke taman belakang yang memang tempat favorit seorang Hana di mansion tersebut.
Mereka tak sadar, selama mereka berdua mengobrol ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka.
Juna yang awalnya ingin kembali tidur memilih mengintip mereka berdua, Kinan dan Irma yang awalnya ingin ke dapur seperti di pagi-pagi hari sebelumnya lebih memilih melihat Hana dan Abi diam-diam.
"Bye.. bye Raya. Sepertinya sebentar lagi lo bakal jadi mantan!" Ucap Juna bahagia sebahagia-bahagianya.
Sedang dua orang wanita berumur yang masih terlihat cantik hanya saling melemparkan senyum.
"Aku yakin Ir, Hana akan merubah hidup Abi. Dia sudah jatuh cinta dengan menantuku!" Ucap Kinan haru, sedang Irma hanya tersenyum tak kalah bahagianya.
***
"Dingin..!" Ucap Hana saat mereka sudah duduk di gazebo taman belakang, tempat favorit Hana.
"Coba lihat tangan lo!" Abi meraih tangan kanan Hana yang terlihat memar.
"Aku gak apa-apa kok, udah gak terlalu sakit!" Hana mengerti jika suaminya menyesali perbuatannya, terlihat ketika Abi meniup-niup memar pergelangan tangan istrinya.
__ADS_1
"Pasti sakit banget ya? Lo pasti ketakutan banget pas semalem gue kasarin!" Ucap Abi penuh sesal.
"Takut banget, terlebih lagi pas Kaka ngancem mau main sama j*lang di luar. Hana jauh lebih takut lagi" sahut Hana jujur.
Abi hanya tersenyum miris mendengar penuturan istrinya. Bagaimana bisa Hana masih memikirkan ketakutan dirinya benar bermain dengan j*lang di luar, sedang tubuh dan hati Hana sendiri sedang kesakitan akibat perbuatan kasarnya.
"Maaf..!" Sekali lagi ucapan tulus terucap dari mulut Abi, ia pun kemudian menghujani kecupan-kecupan di wajah Hana.
"Kaka kok bangun?" Tanya Hana ketika suaminya sudah berhenti menciumi wajahnya.
"Tadi pas lo keluar, gue gak bisa tidur lagi! Gue nyusul lo aja ke bawah!" Jawab Abi memeluk tubuh Hana.
Abi selalu merasa damai dan tenang setiap memeluk tubuh istrinya, merasa nyaman ketika ia menghirup aroma tubuh Hana yang harum tanpa semprotan parfum mahal.
Sedang Hana, ia sudah terbiasa dengan kebiasaan suaminya itu, malah ia tak memungkiri jika ia menikmati tiap sentuhan suaminya. Mungkin karena ia sungguh menyayangi Abi.
"Masuk yuk Ka, Hana kedinginan!" Pinta Hana.
"Ayo, kita ke kamar aja ya siapin hadiah Nara sama Juna yang kemaren kita beli. Gue juga mau mandi!" Abi menggandeng tangan Hana untuk kembali ke kamar mereka.
***
"Hiks.. hiks.. hiks.. aku pasti kangen sama kalian. Aku udah biasa sama-sama kalian!" Isak Hana ketika berada di bandara untuk mengantarkan kedua adik iparnya kembali ke Amerika.
"Sama Ka, hiks.. aku pasti kangen banget sama Kaka!" Nara tak kalah terisak di dalam pelukan Kaka iparnya.
"Kalo udah gak sibuk, ajak Mas Abi honeymoon ke Amerika aja Bie!" Celetuk Juna saat memeluk erat Kaka iparnya bergantian dengan Nara. Juna melepas pelukannya, ia pun menghujani ciuman di wajah sang Kaka ipar membuat Abi langsung reflek menjambak rambut Juna kasar.
"Jangan ngelunjak lo ya, maen sosor aja ada lakinya!" Geram Abi membuat semua yang mengantarkan keberangkatan kaka beradik itu tertawa, sedang Juna sendiri meringis kesakitan.
"Elahh Mas, biasa aja kali!" Keluh Juna memegangi rambutnya yang berantakan akibat ulah sang Kaka.
Bukannya kapok, Juna langsung menarik Hanum yang memang juga ikut mengantar mereka untuk ia peluk.
"Gue tunggu di Amerika yaa, belajar yang rajin biar lulus dan bisa masuk ke kampus gue juga!" Ucap Juna kemudian menciumi wajah Hanum juga, malah bukan hanya wajah ia pun mengecup bibir Hanum singkat membuat si pemilik bibir hanya ternganga tak percaya.
"Aw.. aw.. sakit, sakit. Lepas dong!" Ringisan kembali terdengar dari mulut Juna ketika rambutnya kembali ditarik seseorang yang kali ini adalah Kinan pelakunya.
"Kamu itu yaa main sosor aja anak orang. Tuh lihat Hanum jadi syok begitu gara-gara kelakuan frontal kamu!" Gertak Kinan kesal.
Wajah Hanum begitu memerah gara-gara ulah Juna yang sebenarnya adalah sah telah menjadi pacarnya semenjak dua minggu lalu.
"Kenapa sih emang Mah? Orang sama pacar sendiri juga, sah-sah ajalah!" Cicit Juna tanpa rasa bersalah.
"APA?" Semua yang ada di sana makin terkejut dengan pengakuannya pun serempak berteriak.
Sedang Hanum jangan ditanya lagi, ia seakan ingin menghilang saat itu juga terlebih ketika mendapat tatapan tajam dari Hana.
Ya, Hanum dan Juna memang merahasiakan hubungan mereka dari semua orang mengingat bahwa sebenarnya mereka akan melakukan long distance relationship, jadi menurut mereka tak penting untuk memberitahu kan hubungan mereka saat ini.
Namun gara-gara ulah sang kekasih yang selalu lepas kendali membuat Hanum harus bersiap-siap disidang sahabatnya, Hana.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=