
Di ruangan keluarga Dewi dicecar berbagai pertanyaan oleh Rendra tentang perkelahian antara Hana dan Raya.
"Coba kamu ceritakan awal mula kejadian mereka bisa berkelahi tadi!", pinta Rendra. Kinan yang sudah duduk di sebelah Rendra pun sangat ingin tau kronologis pertengkaran yang terjadi tadi.
"Saya tidak tau Tuan sebenarnya. Tadi disaat saya sedang duduk menunggu Non Hana melaksanakan sholat, Non Raya datang dan langsung masuk ke dalam Mushola, saya tidak tau di dalam Non Raya dan Non Hana ngobrolin apa. Waktu saya lihat Non Hana keluar dari Mushola, Non Raya narik tangan Non Hana cukup kencang saya perhatikan. Mereka sempat adu mulut. Entah bagaimana tiba-tiba mereka saling pukul", jawab Dewi berusaha menceritakan apa adanya yang sebenarnya terjadi.
"Siapa yang memukul duluan Mbak?", Kinan gantian bertanya pada Dewi.
" Non Raya Nyonya yang menampar Non Hana duluan", jawab Dewi lirih.
"Kamu ingat enggak apa yang mereka ributkan sampai-sampai mereka terlibat perkelahian seperti tadi?", tanya Rendra lagi menyelidiki.
Dewi terdiam, dia agak ragu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan majikannya itu.Dia takut jika Raya atau pun Abi akan memarahi atau pun melakukan hal buruk jika dia menceritakan sebenarnya apa yang terjadi.
"Mbak gak perlu takut, saya jamin Mbak aman. Enggak ada satu pun yang akan memarahi kamu", rayu Kinan ketika melihat keraguan pada Dewi untuk menceritakan yang sebenarnya.
"Emmmhhh.. Tadi yang sempat saya tangkap sepertinya Nona Raya tidak menyukai Non Hana. Nona Raya meminta ke Non Hana supaya tidak lagi cari perhatian kepada Nyonya. Sepertinya Nona Raya cemburu dan mengira kalo Non Hana bakal merebut Den Abi dan .... saya juga dengar Non Raya meminta agar Non Hana menolak ajakan untuk buat iklan bersama Den Abi. Nona Hana sudah menjelaskan berkali-kali kalo dia tidak akan merebut Abi dan dia menuruti permintaan Nyonya adalah sebagai ucapan terima kasih karena Nyonya sudah banyak membantu Non Hana, tetapi sepertinya Non Raya tidak mau mengerti", jawab Dewi terus menunduk.
Mendengar jawaban dari asisten rumah tangganya, Rendra dan Kinan menghela nafas panjang. Mereka tak habis fikir bahwa calon menantu mereka bisa se kanak-kanakan seperti ini.
"Ya sudah kamu boleh pergi. Terima kasih sudah menceritakannya ya Mbak!" ucap Rendra, Dewi kemudian membungkuk mengucapkan terima kasih dan berlalu meninggalkan majikannya.
"Ya sudah Mah, Papa mau sholat di kamar saja. Papa mau langsung tidur capek banget hari ini. Kamu mau bareng enggak ke kamar?", tanya Rendra pada istrinya.
__ADS_1
"Papa duluan aja, Mamah mau lihat Hana dulu", jawab Kinan. Mereka pun meninggalkan ruangan keluarga menuju ke tempat tujuan masing-masing.
Sesampainya di depan pintu kamar Hana, Kinan mengetuknya memastikan jika Hana belum tidur. Tidak lama Hana pun membukakan pintu.
"Belum tidur Sayang?", tanya Kinan lembut. Dia juga membawa kotak obat ditangannya.
"Belum Tante, Hana baru selesai ganti baju habis mandi tadi. Masuk Tan!", sahut Hana mempersilahkan Kinan untuk masuk ke kamarnya. Mereka pun duduk di tepi ranjang.
"Sekali lagi Hana minta maaf Tante udah buat gaduh, udah nyerang calon menantu Tante. Hana bener-bener malu Tante, Hana bener-bener nyesel banget Tan", ucap Hana sekali lagi, Hana berusaha menutupi kejadian sebenarnya ia tidak mau dicap sebagai pengadu. Cukup kejadian tadi membuat imagenya tidak baik dimata keluarga ini.
"Tante yang harusnya minta maaf sama kamu, baru pertama kali datang udah dikasih sambutan seperti ini. Tante udah tau kok kejadiannya seperti apa sebenarnya. Tante benar-benar minta maaf atas nama Raya. Raya memang lebih dewasa dari kamu tetapi jalan fikirannya masih seperti anak-anak. Maaf ya Sayang", sahut Kinan tulus.
"Enggak apa-apa Tan, itu menandakan kalo Mbak Raya bener-bener sayang sama Ka Abi, enggak mau kehilangan Ka Abi. Mungkin kalo aku yang diposisi Mbak Raya, aku juga bakal ngelakuin hal yang sama seperti mbak Raya. Siapa sih Tan yang bisa menolak pesona Ka Abi?".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sedangkan di apartemen Raya, Raya masih saja diliputi kekesalan. Abi yang berusaha menenangkan cukup dibuat kualahan.
"Udah dong Sayang keselnya, kamu gak capek apa dari tadi uring-uringan terus. Kamu ngomel kaya apa juga tuh cewek gak bakal denger, lagian apa sih yang kamu ributin sama anak kecil itu?", ucap Abi bingung karena tidak biasanya kekasihnya ini bersikap sangat barbar.
"Gimana gak kesel, gak emosi coba tuh anak terang-terangan nantangin aku mau ngerebut kamu dari aku. Dia ngerasa besar kepala karena dia deket sama Mamah kamu. Mamah kamu nyadar gak sih dia tuh kaya lagi melihara anak macan, yang kalo udah gede tuh anak macan bisa aja nerkam dia sendiri. Pokoknya aku gak mau tau ya Bi, kamu harus bilang sama Mamah kamu kalo kamu gak mau dipasangin sama tuh bocah diproject iklan shampo dia, aku gak mau ya kamu deket-deket sama tuh anak. Aku gak akan ngebiarin kesempatan sekecil apapun yang ngebuat kamu bisa deket sama anak macan barbar itu!", sahut Raya penuh emosi.
"Oohhh jadi intinya lagi ada yang cemburu nihhh?? Tenang Sayang, aku tuh gak akan bisa oleng ke lain hati lagi lebih-lebih ke cewek abg itu gak mungkinlah. Hati aku tuh udah terikat sama kamu, gak bisa lepas lagi", rayu Abi dengan senyum nakalnya.
__ADS_1
"Gombal .. Kamu jangan sombong ya Bi, kalo kamu terus-terusan deket sama dia gak ada yang gak mungkin kalo sewaktu-waktu kamu bakal ada rasa sama dia. Apalagi kita bakal jarang ketemu, bakal jarang menghabiskan waktu bersama".
"Terus mau kamu gimana? aku enggak bisa nolak permintaan Mamah, apalagi kita tadi udah setuju beda cerita kalo dari awal kita tolak. Lagian ya Raya anggap aja dia kaya pasangan main ku yang lain, berhubungan cuma sebagai partner kerja. Apalagi ini cuma iklan gak ada adegan mesra-mesraannya. Enggak juga dalam jangka waktu panjang, jadi kamu gak perlu khawatir kalo aku bisa suka dia. Atau biar kamu tenang gimana kalo kita nikah aja jadi kamu gak terus-terusan parno begini, mau yaa?".
"Jangan mulai lagi ya Bi, aku lagi kesel mood aku lagi bener-bener jelek. Tolong jangan ngebahas hal yang bener-bener lagi enggak mau aku bahas! Jangan bikin mood aku tambah buruk, tolong", gertak Raya.
Abi yang mendengar ucapan Raya hanya mampu menghembuskan nafas berat, terlihat raut kekecewaan di wajahnya. Sadar sudah membuat kekasihnya kecewa, Raya mulai merangkulkan tangannya ke leher Abi dan mendaratkan kecupan dibibir Abi.
Abi yang tidak puas hanya dengan kecupan saja menahan tengkuk Raya untuk mencium bibir Raya lebih lama, dia mulai menggit kecil bibir Raya agar membuka mulutnya dan memainkan lidahnya di dalam mulut Raya. Cukup lama mereka berciuman membuat mereka bergairah.
"Aku menginginkannya", ucap Raya pada Abi, entah karena ingin melupakan kejadian tadi dengan melampiaskan ke penyatuan tubuh atau memang Abi yang selalu berhasil memantik gairah kekasihnya.
Abi pun tersenyum, ia kemudian menggendong Raya ala bridal style sambil terus berciuman. Sampai di ranjang Abi langsung menidurkan Raya tanpa melepas ciuman mereka.
Dengan agresif Raya membuka kaos yang dikenakan Abi menciumi dada bidang Abi, membuat beberapa jejak kepemilikannya di sana, Abi membiarkan kekasihnya menguasai permainan.
Hingga entah sejak kapan keduanya kini tanpa sehelai benang pun, gairah yang sudah memanas membuat keduanya segera melakukan panyatuan, mereka lupa untuk menggunakan alat pengaman. Raya pun lupa jika dia belum meminum pil untuk mencegah kehamilan. Gairah mereka benar-benar membuat mereka melupakan segalanya.
Desahan dan erangan dari mulut mereka memecah keheningan malam, panas gairah mereka mengalahkan dinginnya malam ini yang memang sedang hujan.
Hingga mereka sama-sama mereguk kenikmatan penyatuan tubuh mereka. Mereka pun terkulai lemas di atas tempat tidur, saling memandang dan memberi senyum kepuasan.
"Makasih yaa", ucap Abi kemudian mengecup bibir Raya. Ia kemudian merangkul tubuh Raya di dalam tubuhnya, mengeratkan pelukannya. Kegiatan mereka yang cukup menguras energi membuat mereka tak butuh lama untuk menapaki dunia mimpi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=