
Hana masih saja memasang wajah kesal sepanjang perjalanan mereka pulang dari mall.
Rasa kesal, marah, sakit hati menggelayuti hatinya, tak pernah menyangka jika suaminya tega membentaknya di hadapan banyak orang. Sungguh perasaan sensitifnya sedang terluka saat ini.
"Kita pulang ke apartemen!" Suara Abi memecahkan kesunyian diantara mereka.
"Enggak, aku mau ke mansion aja. Enak aja main balik ke apartemen tanpa pamit sama keluarga, gak sopan banget!" Cibir Hana kesal.
"Masih kesel sama aku?" Tanya Abi melirik sekilas istrinya yang masih memasang wajah garangnya.
"Fikir aja sendiri!" Ketus Hana.
"Sayang, maafin aku ya. Aku gak bermaksud ngebentak kamu tadi, aku tuh...!" Seperti biasa Abi harus rela kalimatnya menggantung di udara.
"Gak bermaksud gimana? Udah jelas banget kamu tadi neriakin aku di depan orang banyak, terlebih di depan mantan kamu tadi. Aku kesel tau gak sih, benci..!" Potong Hana dengan berapi-api meluapkan amarahnya.
"Aku cuma gak mau kamu terlibat masalah lagi kayak waktu itu Sayang, apalagi tadi kamu sempet nyiram Raya pake minuman yakin deh pasti besok bakal keluar diberita dan lambat laun image kamu jadi buruk!" Ucap Abi.
"Aku tuh jadi ngerasa gak boleh seneng sedikit, gak boleh bahagia sedikit tau gak. Pasti kalo aku ngerasa seneng sedikit dan bahagia sedikit gak lama bakal ngerasa sedih, susah, sakit hati! Ada aja hal yang gak ngenakin yang bakal terjadi ke aku, sampe aku tuh takut buat ngerasa seneng!" Dada Hana begitu sesak ketika mengungkapkan isi hatinya.
Tangis Hana pun langsung pecah saat itu juga membuatnya berkali-kali menyusut air matanya dengan punggung tangannya.
"Enggak begitulah Sayang, kamu terlalu sensitive deh. Mungkin hari ini kita lagi sial aja ketemu sama Raya, kamu kan faham sendiri suasana pasti berubah enggak enak tiap ketemu sama dia" hibur Abi sambil menyerahkan beberapa lembar tisu pada istrinya.
"Ditambah lagi kamu ngebentakin aku tadi, makin apes aja nasib aku kan?" Sindir Hana telak.
Abi yang tau suasana hati istrinya sedang tak bagus memilih diam tak menimpali sindiran istrinya.
***
Sampai di mansion seperti biasa Hana pasti meninggalkan suaminya di belakang. Jangankan saat suasana hati yang sedang marah seperti saat ini, saat senang pun Hana sering meninggalkan suaminya.
"Assalamualaikum..!" Sapa Hana saat melihat Papa mertua dan Kakek mertuanya tengah asyik berbicara di ruang tengah.
"Wa'alaikumsalam, baru pulang Sayang?" Sahut Rendra menyambut tangan anak menantunya yang hendak bersalim dengannya, begitu pula Hafidz. Tak lama Abi pun datang dan langsung menyalami kedua lelaki yang sangat ia hormati itu.
__ADS_1
"Yang lain kemana kok sepi Pa?" Tanya Hana.
"Udah masuk ke dalam kamar masing-masing Sayang, sekarang kan udah mau jam 10 malam!" Jawab Rendra menunjuk jam besar yang berada di ruang tengah tersebut.
"Hah? Udah malem banget aku belum shalat Isya, kalo begitu Hana pamit ke kamar ya Pa, Kek!" Ucap Hana panik, setelah mendapat anggukan dari keduanya pun Hana langsung berjalan ke lantai dua.
"Papa pinjam suami kamu dulu ya Han?" Izin Rendra sebelum Hana semakin menjauh.
"Hehehe.. Iya Pa, ambil aja!" Jawab Hana dengan cengir khasnya.
Dikamar, Hana langsung membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya. Setelah selesai ia pun berganti pakaian untuk siap-siap tidur. Namun sayang, fikirannya terus saja pada ancaman-ancaman yang Raya lontarkan tadi membuat sudut hatinya ketakutan.
Ia menyayangi suaminya, sangat-sangat mencintai suaminya, tak mau sekali pun ia melepaskan suaminya pada perempuan lain, namun ia tak tahu bagaimana caranya menjaga apa yang dimilikinya.
Otaknya belum terlalu mengerti cara menghadapi perempuan macam Raya agar tak mengganggu miliknya lagi.
Hingga lambat laun segala fikiran-fikirannya membuatnya terlelap sambil memeluk guling, posisi favorirnya as always.
Entah sudah berapa lama ia terlelap hingga pelukan seseorang dari belakang tubuhnya mengganggu tidurnya, bahkan nafas hangat ditengkuknya membuatnya langsung terjaga, menguapkan rasa kantuknya entah kemana.
"Still mad at me? ( Masih marah sama aku?)" Tanya Abi masih asyik menghirup tengkuk sang istri.
Hana tak berminat sedikit pun menjawab pertanyaan suaminya, ia terus menerus berusaha menolak rengkuhan suaminya.
"Kamu udah shalat Isya?" Tanya Abi lagi, Hana hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Berarti bisa lanjut dong nih..!" Seloroh Abi tanpa mau sedikit pun melonggarkan rengkuhannya.
"Lanjut apa nih maksudnya?" Salak Hana membalikan tubuhnya dan menatap tajam ke arah suaminya, Abi yang mendapati reaksi Hana seperti itu hanya terkekeh geli kemudian langsung menarik tubuh mungil istrinya ke dalam pelukannya.
"Maaf ya bikin kamu kecewa lagi!" Ucap Abi tulus.
"Nyadar kamu ngecewain aku lagi?" Sindir Hana ketus.
"Nyadar banget, maafin aku ya!" Ucap Abi sekali lagi sambil mebgecupi puncak kepala istrinya.
__ADS_1
"Kakak bisa gak sih gak ngebentak aku di depan orang, malu tau. Dengerin dulu penjelasan aku, jangan langsung bentak-bentak aku kayak tadi kesannya tuh aku yang salah!" Geram Hana, saat ia mendudukan dirinya menghadap sang suami.
"Kakak tau gak sih, Raya tuh tadi yang datengin aku, ngancem-ngancem aku mau ngerebut Kakak dari aku. Dia bilang, aku itu cuma dijadiin pelarian kamu aja karena kamu kecewa sama perselingkuhan dia. Tau gak Kak aku tuh sakit dengernya.. Hiks..!" Tangis Hana langsung tumpah saat itu juga.
"Kamu dateng bukannya bela aku malah ngebentakin aku, aku sakit hati tau gak? Aku tuh sayang sama Kakak, cinta sama Kakak, gak bisa pisah dari Kakak. Harusnya Kakak tuh belain aku depan perempuan jahat itu, bukannya malah bentakin aku jadi kesannya aku yang salah dimata orang!" Gertak Hana lagi dengan tangis yang semakin menjadi. Ia pun menutup wajahnya yang terisak, antara malu, marah, kecewa, takut. Perasaan sesak menjadi satu.
"Iya maafin aku ya..!" Ucap Abi tulus, ia menangkup wajah istrinya dan langsung menyusut air mata yang sudah membanjiri wajah cantik Hana.
"Kali ini aku maafin, lain kali kalo Kakak begini lagi gak akan dengan mudah aku maafin Kakak!" Gertak Hana, bukannya takut dengan ancaman istrinya Abi justru tergelak karena menurutnya wajah Hana terlihat semakin menggemaskan ketika marah.
Abi langsung menghujani wajah istrinya dengan ciuman-ciuman dan seperti biasa pesona suaminya selalu berhasil membawanya kembali mendayung ke nirwana, entah bagaimana mereka memulainya tadi.
Hana yang awalnya menolak sentuhan suaminya, justru saat ini tengah menikmati permainan yang disuguhkan suaminya. Karena memang seperti itu lah cara Abi meminta maaf pada kucing imutnya ketika berubah menjadi singa betina yang tak terbantahkan.
"Capek atau masih kuat satu ronde lagi?" Seloroh Abi yang langsung menghasilkan capitan panas di perutnya oleh sang istri.
"Jam 12 malem, aku capek!" Sahut Hana di dalam dekapan hangat dada bidang suaminya.
"Besok ada syuting?" Tanya Abi memainkan rambut serta punggung telanjang istrinya yang tak tertutup oleh sebagian selimut yang lebih melindungi bagian depan tubuhnya.
"Enggak..!" Jawab Hana.
"Besok kita balik ke apartemen ya?" Ajak Abi yang diangguki oleh Hana.
Setelah beberapa saat nafas Hana terlihat mulai teratur menandakan bahwa Hana sudah pulas dalam dekapan suaminya.
Abi langsung mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri, menatap dalam wajah cantik yang tengah terlelap itu.
Rona merah di pipi Hana masih begitu terlihat membuat Abi menarik sudut bibirnya tersenyum. Ia pun dengan gerakan lembut merapikan rambut Hana yang menutupi wajah Hana.
Jari Abi terus menyelusuri wajah mungil Hana yang terlihat kelelahan itu, terkadang mencium lembut agar si pemilik wajah cantik itu tak terganggu tidurnya.
"Makasih Hana selalu sabar menghadapi aku, tulus sayang, cinta sama aku. Kamu gak tau aja, kamu itu udah bener-bener nguasain aku. Aku sayang sama kamu, kamu jangan pernah takut aku berpaling dari kamu Sayang. Jangan nangis lagi yaa..!" Bisik Abi lembut kemudian membawa tubuh istrinya kembali ke dalam dekapannya, tak berapa lama ia pun menyusul sang istri ke alam mimpi yang di sana ia telah disambut rentangan tangan istrinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1