
Hari ke hari berlalu seperti biasanya, hingga tak terasa sebentar lagi akan libur panjang kenaikan kelas. Ibu Irma masih asik dengan bisnis kecil-kecilannya yang mampu membuatnya dan Hana bertahan.
Hana sendiri setelah berjuangan dengan ujian kenaikan kelasnya kini bersantai menunggu penerimaan rapor hasil ujian kenaikan kelasnya.
Saat ini Hana sedang membantu Ibu nya di dapur. Hana memperhatikan sesuatu yang berbeda dari wajah Ibunya yang semakin hari semakin memucat.
"Ibu sakit?", tanya Hana memperhatikan wajah Ibunya.
"Enggak kok, Ibu baik-baik saja. Emang kenapa?".
"Beneran Bu? Hana perhatiin beberapa hari ini kayanya wajah Ibu pucat deh. Kalo Ibu sakit kita periksa dulu ya Bu ke Dokter!", ajak Hana mengkhawatirkan kondisi Sang Ibu.
"Aahhh enggak kok, Ibu enggak apa-apa mungkin Ibu kecapek an aja kali makanya kelihatan pucat. Nanti kalo habis istirahat juga enggak pucat lagi. Kamu tau sendirikan Ibu akhir-akhir ini sering nerima pesenan jadi jam istirahat Ibu cuma sedikit", tolak Ibu Irma menjelaskan panjang lebar untuk membuat Hana tidak mngkhawatirkannya.
"Kalo begitu jangan nerima pesenan lagi, nanti kalo Ibu kecapekan terus sakit gimana? Hana enggak mau Ibu sakit", sahut Hana dengan wajah sedih.
"Enggak bisa gitu dong sayang, kamu udah mau kelas 12, kebutuhan bakal makin banyak. Kita tuh harusnya mensyukuri dengan banyaknya pesenan kita bakal tercukupi. Makanya Ibu minta sama kamu, belajarlah yang giat, kelak jika kamu jadi orang berhasil Ibu akan menagih janji kamu waktu itu yang akan membuat Ibu jadi Nyonya Besar. Ingat kan?", goda Ibu Irma yang membuat mereka tertawa kecil bersamaan.
"Jadi kapan pengambilan rapot di sekolah kamu?", Tanya Ibu Irma mengalihkan kekhawatiran sang anak.
"Lusa Bu", jawab Hana sambil terus merapikan kue-kue ke dalam box nya.
"Ya sudah Lusa nanti Ibu libur jualan, selain ambil rapot kamu sekalian Ibu istirahat dulu biar gak kecapekan", sahut Ibu tersenyum.
"Oh iya Bu Hana mau izin sama Ibu kalo hari ini mungkin Hana bakal pulang telat soalnya Tante Kinan ngajakin Hana ketemuan sepulang sekolah. Boleh enggak Bu?", tanya Hana meminta izin kepada sang Ibu.
__ADS_1
"Boleh, tapi jangan malam-malam ya pulangnya. Habis ketemu Tante Hana langsung pulang jangan mampir kemana-mana lagi. Gak baik anak gadis sering keluyuran di luar rumah", jawab Ibu Irma menasehati putri semata wayangnya.
"Siap Nyonya!", sahut Hana sambil membuat gerakan tangan hormat di ujung alisnya. Mereka pun tertawa. Sesederhana itu kebahagian antara Ibu dan anak yang mereka jalani.
Semenjak mengantarkan pesanan Tante Kinan, hubungan Hana dan Tante Kinan memang menjadi semakin dekat. Tante Kinan meminta nomor Hana ke Ibu Irma, mereka sering sekali berbalas pesan, bertemu untuk sekedar makan bersama, jalan-jalan atau pun menemani berbelanja.
Namun selama Hana menjalin pertemanan dengan wanita berbeda generasi itu, Hana sama sekali belum tau jika temannya itu adalah Ibu idolanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di sekolah Hana tampak berjalan lesu, meskipun sang Ibu menjelaskan bahwa beliau baik-baik saja tetap guratan kekhawatiran ada di hati Hana.
Secapek apapun sang Ibu Hana belum pernah melihat wajah sang Ibu yang semakin hari semakin memucat seperti akhir-akhir ini.
"Woyyyy", teriak seseorang dari belakang sambil memukul punggung Hana yang membuatnya terkejut.
"Gw Hanum bukan setan!", celetuk Hanum kesal.
"Lagian lo ngapain sih ngagetin gw, mana sakit lagi ditepak belakang gw?", sahut Hana tak kalah kesalnya.
"Yeeee.. lagian elo dipanggilin dari tadi gak nengok-nengok", ucap Hanum.
"Tapi gak usah pake nepak kali, sakit nih", gerutu Hana.
"Lagian ngapain sih lo bengong aja jalannya? Kesurupan lo nanti".
__ADS_1
"Mana bisa gw kesurupan, yang ada setan yang melambaikan tangan kalo gw lewat. Tau sendiri jalan hidup gw lebih horror dibanding setan-setan yang berkeliaran".
"Hushhh.. sembarangan lo kalo ngomong. Ya udah curhat sini sama gw!" tawar Hanum kepada sang sahabat.
Setelah tiba di kantin dan duduk di tempat favorit mereka, di bangku paling pojok. Hana mulai bercerita.
"Gw tuh lagi kepikiran sama Ibu, akhir-akhir ini Ibu tuh pucet banget. Gw takut kenapa-kenapa sama Ibu Num. Gw ajak Ibu periksa ke Dokter tapi Ibu gak mau, Ibu cuma bilang cuma karena kecapekan aja. Tapi hati gw tuh enggak tenang Num. Beneran deh perasaan gw enggak enak. Gw harus gimana dong?", cerita Hana meminta pendapat sang sahabat.
"Paksa Han, bilang aja Lo gak tenang kalo belum memastikan kondisi Ibu yang sebenernya. Daripada lo kepikiran terus. Lagian kalo ada apa-apa juga kan biar cepet dapat penanganan yang tepat sebelum terlambat", sahut Hanum dengan nada yang juga tak kalah khawatir.
"Ibu tuh keras kepala Num, kalo udah bilang enggak yaa enggak. Emmmhhh.. atau gini aja nanti lo bantu gw bujuk Ibu ya Num! Siapa tau kalo sama lo Ibu mau nurut. Ibu kan paling enggak bisa nolak permintaan lo Num", pinta Hana pada sahabatnya itu.
"Yau udah pulang sekolah nanti gw bantu bujukin Ibu biar mau dibawa ke Dokter", sahut Hanum.
"Jangan nanti Num, hari ini pulang sekolah gw ada janji sama Tante Kinan mau makan siang sama-sama. Tadi gw juga udah izin sama Ibu juga".
"Kayanya gw perhatiin lo makin deket yaa sama Tante Kinan itu?", selidik Hanum.
"Iya .. Tante Kinan tuh sering ngajakin gw ketemuan sekedar makan, jalan-jalan atau nemenin dia belanja. Katanya dia tuh kesepian, suaminya sibuk di kantor, anaknya sibuk sama karirnya. Dia juga pernah cerita dia punya anak lagi 2 tapi sekarang lagi kuliah di Amerika. Gw jadi mikir Num kekayaan tuh gak selamanya bisa bikin kita bahagia yaa, justru sering kesepian", sahut Hana memainkan sedotan di es jeruknya.
"Yaa gitu deh.. Btw lo tau anaknya yang di sini, yang sibuk berkarier? Siapa?", tanya Hana lagi.
"Enggak tau. Tante Kinan gak pernah cerita siapa anaknya. Pernah gw tanya sekali dia jawabnya 'nanti juga kamu tau', gitu. Udah yuk ahh kita masuk ke kelas, bosen gw di sini!", ajak Hana kemudian menghabiskan es jeruknya dan beranjak menuju ke kelas diikuti Hanum di sebelahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Alur ceritanya masih datar2 aja ya, sabar yaaa.. nanti tetep bakal ada konfliknya kok. Tetep setia baca karya ku yaa, maaf kalo masih banyak kekurangan. Dukung terus karyaku dengan rajin like komen dan juga vote nya. 🙏🙏😘😘