My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Hamil


__ADS_3

Dua bulan sudah Hana bergelut di dunia barunya. Semenjak iklan pertamanya Hana cukup menarik perhatian beberapa pemilik produk untuk menjadikannya bintang iklan di produk mereka. Meskipun masih dibatasi dikarenakan Hana masih harus membagi waktu dengan sekolahnya tapi sudah beberapa produk kecantikan dia bintangi, boleh dibilang Hana sedang naik daun saat ini.


Irma juga masih rajin melakukan kemoterapi, dan Angga kini merangkap menjadi manajer Hana. Irma lebih tenang jika Hana diurus orang yang sudah lama mereka kenal. Sedang Hanum, sebagai sahabat ia sangat senang dengan apa yang Hana dapatkan saat ini.


Hana pun tidak melupakan janji pada Ibunya intuk terus menomor satu kan sekolahnya, ia tetap rajin dan serius dalam belajar.


Perubahan kehidupan Anak Ibu itu membuat mereka tidak lagi bergantung pada Kinan, namun mereka tetap menunjukkan rasa terima kasihnya pada Kinan dan tidak sedikit pun melupakan jasa-jasa yang telah Kinan berikan. Kinan pun demikian rencananya ternyata berhasil, ia turut senang dengan apa yang telah didapatkan Hana.


***


Pagi hari di apartemen Raya, Raya merasa tidak enak badan. Sudah beberapa hari ini tubuhnya lemas dan selalu muntah setiap pagi. Tak ada nafsu makan sama sekali, bahkan minum air pun bisa langsung memancing mual perutnya.


"Mending lo periksa ke dokter deh Ray!", usul Lina manajer Raya.


"Enggak ah.. paling masuk angin biasa. Gw kecapekan juga kayaknya", sahut Raya menyandarkan kepalanya di headboard ranjangnya.


"Lo udah datang bulan belum Ray?", tanya Lina hati-hati.


"Emhhhhh.. seinget gw udah lama juga gw gak datang bulan, mungkin sekitar kurang lebih dua bulan an yang lalu. Apa ini ya yang bikin badan gw gak enak?".


"Terakhir lo ketemu Abi kapan?", tanya Lina lagi mulai cemas.


"Ketemu mah, baru-baru ini gw juga ketemu", jawab Raya sambil terus memijit pangkal hidungnya.


"Tiap ketemu lo ml..?", tanya Lina lagi, kini Raya mulai melihat ke arah manajernya itu, ia mulai bingung apa yang sebenarnya ingin manajer dia katakan.


"Sebenernya lo mau ngomong apa sih?", tanya Raya menatap tajam ke arah Lina.

__ADS_1


"Menurut gw lo bukan sakit Ray, tapi lo hamil", jawab Lina membuat Raya terkejut.


"Hamil? Gak mungkinlah, terakhir gw ml sama Abi 2 bulanan yang lalu dan ... ... !", Raya terdiam tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Memori Raya kembali membawanya ke kejadian terakhir dirinya bercinta dengan Abi, yaa Raya mulai ingat bahwa pada saat itu dia atau pun Abi sama-sama tidak menggunakan pengaman.


Seketika wajah Raya memucat, keringat dingin mulai bercucuran, bibir dan tubuhnya bergetar hebat. Lina yang melihat Raya seperti itu langsung menghampirinya, menyentuh wajah Raya, tangisnya mulai meledak saat itu juga.


"Lo tenang dulu Ray, mungkin kecurigaan gw salah. Lo jangan histeris gini dong!", ucap Lina berusaha menenangkan Raya yang mulai histeris.


"Gimana kalo gw beneran hamil Lin? Waktu itu gw sama Abi sama-sama lupa, gw.. gw.. enggak minum pil pencegah kehamilan gw dan.. dan.. Abi juga gak pake pengaman. Kalo beneran hamil gw harus gimana Lin?".


"Ya udah kita pastiin dulu aja lo beneran hamil apa enggak", ucap Lina, terus memeluk artisnya itu.


"Caranya?", tanya Raya.


"Lo tunggu di sini dulu yaa, gw ke minimarket di bawah. Gw beliin pregnancy test dulu", ucap Lina kemudian bergegas untuk ke bawah membeli pregnancy test.


"Nah lo tampung dulu Ray urine lo, di situ ada wadahnya!", ucap Lina, Raya pun menurut. Ia ke kamar kecil untuk menampung sedikir urine nya, kemudian membawanya kembali ke dalam kamar.


Lina dan Raya membaca petunjuk penggunaannya, setelah faham ia menetes kan sedikit urin ke alat penguji kehamilan itu. Menunggu beberapa saat, alat itu mulai menunjukkan dua garis merah.


Lina pun kemudian membaca lagi bungkusan yang bertuliskan petunjuk cara penggunaan dan cara membaca hasilnya.


Lina terdiam menatap dalam wajah Raya, ia benar-benar tak percaya jika kecurigaannya benar adanya.


"Kenapa? Apa maksud garis dua ini Lin?", tanya Hana penasaran.


"Lo... emhh.. lo positif hamil Ray", jawab Lina lirih dan penuh keragu-raguan.

__ADS_1


"Gak mungkin, bercanda lo gak lucu tau gak Lin. Sini biar gw baca sendiri!", ucap Raya merebut bungkusan yang dipegang Lina dan membacanya ulang.


Melihat tulisan yang tertera kini Raya percaya dengan apa yang dikatakan manajernya, ia menatap sendu ke arah manajernya itu. Air matanya mulai jatuh ke pipinya, Raya benar-benar shock dengan kenyataan yang dia hadapi saat ini. Lina menghampiri Raya, memeluknya berusaha untuk membuat Raya sedikit lebih tenang.


"Lo tenang dulu ya, kita hubungi Abi. Kita sama-sama cari jalan keluarnya!", usul Lina.


Mendengar nama Abi, Raya langsung melepaskan pelukan Lina, ia menatap tajam ke arah Lina.


"Enggak, Abi enggak boleh tau kalo gw hamil anak dia. Gw gak mau dia tau, kalo dia sampe tau gw hamil anaknya dia bakal gak ngizinin gw buat gugurin anak ini!", gertak Raya.


"Maksud lo apa Ray? Lo mau gugurin anak lo sendiri? Ya ampun Raya jangan begitu, lo jahat amat sih dia tuh anak lo sendiri, darah daging lo sendiri. Masa lo tega sih gugurin dia", sahut Lina tak kalah kencang.


"Pokoknya dia gak boleh tau kalo gw hamil, pokoknya gw tetep akan gugurin anak ini. Gw gak peduli, gw gak mau ada sesuatu apapun yang bakal ngehancurin karier gw, mimpi gw sebentar lagi bakal terwujud. Gw gak akan ngebiarin anak ini jadi penghalang mimpi-mimpi gw. Lo harus janji sama gw gak bakal kasih tau Abi tentang kehamilan gw sampe kapan pun atau kalo enggak lo bakal nanggung akibatnya, faham!", ancam Raya kemudian beranjak meninggal Lina menuju toilet.


Di dalam toiler Raya menangis sekencang-kencangnya, merutuki kebodohannya dan beberapa kali memukul-mukul perutnya, memaki-maki makhluk yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.


Lina yang mendengar suara keributan yang dibuat Raya tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya merasa iba pada janin yang berada dalam kandungan Raya saat ini.


Setelah puas melampiaskan kekesalannya di dalam toilet, Raya pun keluar dengan keadaan yang berantakan, wajahnya begitu pucat dengan sisa-sisa air mata di pipinya.


"Lin, tolong kosongkan jadwal gw selama sebulan penuh. Terserah lo mau buat alasan apa sama klien yang udah teken kontrak sama gw, lo bilang aja gw sakit dan minta supaya jadwalnya diundur jangan dibatalin. Gw bakal balik lagi setelah gw nyelesaiin masalah satu ini. Dan malam ini gw akan ke apartemen Abi, gw mau ketemu dia!", titah Raya.


Lina yang tau watak Raya yang keras tak mau lagi membujuk Raya untuk tetap mempertahankan kandungannya, ia hanya mengangguk mendengar perintah yang diberikan oleh Raya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa like, **comment**, sama vote nya. biar aku terus semangat nulisnya. Gak bosen juga aku buat minta maaf kalau masih banyak kekurangannya, maklum masih belajar menulis. Semoga syukaaaas yaaaa.. 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2