
Tiga minggu sudah hari-hari berjalan seperti biasa, sesuai nasehat Kinan Abi menjaga Hana, ia hanya mengambil pekerjaan yang tak memakan waktu lama dan tak perlu keluar kota yang mengharuskannya meninggalkan Hana.
Meskipun ia juga harus mengeluarkan uang pinalti yang cukup besar karena melakukan pembatalan kontrak kerjasama yang pernah ia tandatangani karena memilih untuk menjaga istrinya.
Sedang kondisi Hana selama ini masih sering naik turun yang mengharuskan Abi untuk siap siaga selalu.
Seperti dua hari terakhir ini kondisi Hana kembali drop, tak ada makanan yang benar-benar masuk ke tubuhnya. Karena setiap ada makanan yang masuk ke dalam perutnya tak berapa lama kembali ia muntahkan, bahkan minum pun juga memancing rasa mualnya.
Selama 2 hari ini Hana terus-menerus menangis setiap rasa tak nyaman menghampiri tubuhnya, mual yang tak berkesudahan dan juga pusing yang teramat hebat membuat Abi semakin khawatir.
"Kita ke rumah sakit ya!" Ajak Abi sambil memeluk tubuh lemah istrinya seusai muntah-muntah tadi, namun seperti biasa ajakan suaminya hanya ia sahuti dengan gelengan kepala.
"Mau sampe kapan kamu gini terus sih? Kalo kita ke rumah sakit kan nanti kamu diperiksa, terus dikasih obat yang tepat!" Rayu Abi lagi.
"Aku gak mau Ka, please deh jangan maksa. Aku tuh takut di rumah sakit, gak nyaman!" Gertak Hana.
"Kan ada aku..!" Abi begitu sabar menghadapi emosi istrinya beberapa waktu terkahir ini.
"Bisa apa kamu di sana, hah? Emang kamu yang bakal diperiksa pake alat-alat medis? Emang kamu yang bakal diinfus nantinya?" Salak Hana ketus.
"Semua bakal baik-baik aja Hana, gak ada yang perlu kamu takutin. Kalo cuma dibiarin begini aja kita gak tau penangan yang tepat buat kamu apa biar kamu baikan! Lagian belum tentu juga kamu diinfus kok!" Abi tahu betul kebencian Hana dengan infus juga suasana rumah sakit.
"Kalo gak mau ya gak mau, maksa amat sih? Kamu mendingan keluar deh Ka, aku males lihat kamu. Maksa-maksa terus, bikin tambah pusing aja. Sana, sana keluar!" Bentak Hana sambil terus mendorong tubuh suaminya agar keluar dari kamar.
Abi sudah tak kaget lagi menghadapi mood Hana yang sering berubah-ubah, meskipun terkadang ia hampir saja terbawa emosi namun nasehat Kinan tentang kondisi Hana mampu meredam emosinya.
__ADS_1
Ia pun memilih untuk keluar kamar dan duduk-duduk di ruang tengah. Antara kasihan, tak tega, kesal menjadi satu dalam menghadapi istrinya itu.
"Bi, ngapain kamu di sini? Hana mana? Udah mendingan belum dia?" Serentet pertanyaan Kinan langsung menyerang Abi saat baru saja tiba di apartemen.
"Ada di kamar Mah, aku diusir sama dia. Hufth..!" Jengah Abi dengan wajah memelas.
"Masih muntah-muntah?" Tanya Kinan lagi.
"Masih Mah, gak ada makanan yang masuk sama sekali, biskuit-biskuit, buah-buahan juga dimuntahin. Dikasih susu juga eneg katanya. Bahaya gak sih Mah?" Abi begitu khawatir dengan kondisi istrinya.
"Kamu udah ajak dia periksa ke rumah sakit?" Kinan pun sama khawatirnya dengan sang anak.
"Udah Mah, makanya aku diusir dia dari kamar gara-gara ngajakin dia periksa ke rumah sakit!" Keluh Abi, ia terus menerus memijat pangkal hidungnya yang pening menghadapi Hana.
"Kamu yang sabar. Kalo gitu Mamah ke atas dulu ya, coba Mamah suapin, tadi pagi Hana sempet kirim WA ke Mamah minta dibuatin gado-gado bumbu kacang mede tentunya, bukan kacang tanah!" Kinan tertawa lucu setiap mengingat ada saja menu makanan yang diinginkan menantunya itu,
Di kamar, Kinan melihat tubuh Hana yang sedang meringkuk memeluk kaos Abi.
Hana yang sebenarnya selalu merasa nyaman mencium aroma tubuh suaminya selalu tak bisa jauh dari sang suami, bahkan saat ia enggan bertatap muka dengan Abi karena terlalu kesal tetap membutuhkan aroma tubuh maskulin suaminya, jadi seperti inilah caranya untuk tetap mendapatkan kenyamanannya dengan terus memeluk dan menghirup aroma suaminya dari pakaian sang suami yang sengaja ia tak letakan di keranjang pakaian kotor.
"Cantik, Mamah bawa pesenan kamu nih gado-gado bumbu kacang mede. Makan yuk, Mamah suapin!" Kinan mencoba menggoyangkan tubuh Hana agar terusik dari tidurnya.
Namun betapa terkejutnya Kinan saat menyentuh tubuh Hana yang sudah basah dengan keringat dingin, ia pun mencoba berkali-kali untuk membangunkan menantunya itu, tapi tak ada respon sama sekali.
"Abimanyu naik, Hana pingsan!" Panik, Kinan langsung keluar berteriak memanggil-manggil Abi.
__ADS_1
Abi yang baru saja akan makan langsung berlari ke atas untuk menghampiri Hana.
Ia langsung naik ke atas tempat tidur dan mencoba membangunkan istrinya, namun tak berhasil. Tubuh Hana lemas, terasa dingin, wajahnya pun sangat pucat. Kinan dan Abi begitu khawatir melihatnya.
"Bawa ke rumah sakit Bi!" Perintah Kinan.
Abi pun langsung membopong tubuh Hana, disusul dengan Kinan di belakangnya.
"Biar Mamah yang bawa mobilnya, kamu jaga Hana di belakang!" Perintah Kinan, Abi pun menurutinya.
Kinan membawa mereka ke RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak) Cinta Bunda, yang dimana Dokter Riana sedang bertugas di sana.
Sesampainya di rumah sakit, Hana langsung dibawa ke ruang UGD dan langsung dipasangkan selang oksigen karena terlihat Hana kesulitan bernafas.
Dokter Riana yang sebelumnya sudah ditelfon oleh Abi langsung memeriksa kondisi Hana, dengan teliti Riana memeriksa Hana yang saat belum juga sadar. Ia meminta perawat untuk memaskan infus pada Hana karena kondisi Hana yang kekurangan cairan.
Selesai memeriksa Hana dianjurkan untuk di rawat di rumah sakit lagi, Riana pun meminta Abi dan Kinan untuk berbicara dengannya selagi Hana dipindahkan di ruang perawatan.
Di dalam ruangan Riana..
"Darah rendah, malnutrisi, dan kadar gula yang rendah. Kondisi Hana benar-benar mengkhawatirkan. Apa Hana masih kesulitan makan? Apa mualnya sangat parah beberapa hari terakhir ini?" Tanya Riana dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran.
Abi pun menceritakan secara detail kondisi Hana yang naik turun, dan juga kondisi dua hari terakhir ini yang benar-benar drop. Riana mendengarkan dengan seksama cerita Abi, bahkan juga kegelisahan Hana tentang dirinya yang harus berhubungan dengan rumah sakit lagi sejak hamil memicu stress dan tekanan sendiri pada mental Hana.
"Kondisi Nyonya Hana jauh lebih mengkhawatirkan dari yang saya perkirakan. Perjalanan kehamilan Nyonya Hana masih panjang dan dilihat dari kondisi dia yang sering sekali drop mau tak mau dia harus berulang kali kembali ke rumah sakit, kembali berhubungan dengan hal yang justru membuat dia makin tertekan. Kami akan coba berkonsultasi dengan psikiater tentang kondisi Nyonya Hana. Sementara ini saya minta agar keluarga tidak pernah lelah untuk terus mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tak perlu ada yang ditakutkan lagi dengan apapun. Jika pun ia harus menerima perawatan dan tindakan dari rumah sakit, jelaskan padanya bahwa semua itu yang terbaik dan tak perlu ditakutkan!" Jelas Riana.
__ADS_1
Abi dan Kinan hanya mampu menghela nafas berat mendengar penjelasan Riana. Entahlah apa mereka mampu menghilangkan ketakutan Hana dengan semua yang berhubungan dengan dunia medis, trauma masa kecil Hana benar-benar membekas pada diri Hana dan itu akan sangat sulit.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=