My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Keluarga Yang Utuh


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


Jam menunjukkan pukul 10 malam saat Abi baru saja pulang ke Mansionnya, ia langsung beranjak menuju kamarnya. Rasanya tubuh Abi dan pikirannya begitu lelah akibat pekerjaannya seharian ini.


Sesampainya di kamar, Abi langsung disajikan wajah pulas sang istri membuatnya tersenyum gemas.


"Tumben udah tidur, enggak nungguin pulang suaminya dulu!" cibir Abi terkekeh sendiri.


Tak ingin mengganggu tidur pulas istrinya, Abi memilih untuk beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Abi sempat melihat beberapa obat di atas nakas sebelah Hana, membuatnya bingung apakah sang istri tengah sakit? Ia pun kemudian menyentuh dahi Hana pelan untuk memastikan suhu tubuh sang istri.


"Enggak panas? Kok dia enggak bilang kalo hari ini ke rumah sakit?" tanya Abi pada diri sendiri.


Abi memutuskan akan menanyakan perihal obat pada istrinya esok hari karena saat ini ia juga sangat membutuhkan waktu untuk segera mengistirahatkan tubuhnya.


***


Esoknya usai melaksanakan shalat subuh bersama, Abi kembali ke atas ranjangnya membuat Hana kebingungan. Karena biasanya sang suami akan segera bersiap-siap merapikan diri untuk pergi ke kantor.


"Kok Kakak tidur lagi?".


"Hari ini aku mau libur dulu, otak sama badan aku rasanya capek banget!" Abi menarik selimut sampai ke lehernya.


Saat akan kembali terpejam, Abi langsung teringat obat yang semalam menyita perhatiannya.


"Kamu kemarin ke rumah sakit? Emang kamu sakit? Kok enggak bilang sama aku?" tanya Abi beruntun.


"Hah?" Hana yang kebingungan dengan serentetan pertanyaan sang suami malah menatap suami heran.


"Itu, obat di atas nakas kamu!" tunjuk Abi dengan telunjuknya.


"Oohh, itu vitamin dari Dokter Riana. Kemarin aku ngelep.. maksud aku meriksa IUD aku!" jawab Hana berbohong, ia tahu jika ia mengatakan yang sebenarnya, suaminya akan sangat marah.


"Semuanya baik-baik aja kan?".

__ADS_1


"Baik kok Kak" Hana tersenyum menjawab pertanyaan suaminya.


"Kalo gitu aku turun dulu ya, mau bantu Mamah. Pasti Mamah udah di dapur buat bikin sarapan, kamu lanjut tidur aja!" izin Hana yang diangguki oleh Abi.


***


"Abi belum bangun juga?" tanya Kinan saat mereka tengah menyiapkan makan siang.


"Belum Mah, capek banget kayaknya" jawab Hana yang tengah memotong-motong wortel.


"Nanti pas makan siang, tolong bangunin ya Sayang. Takut sakit, dia udah melewatkan sarapannya soalnya. Tau sendiri kan Abi itu kalo udah doyan tidur, susah banget dibangunnya!" cibir Kinan yang diangguki setuju oleh Hana sambil tertawa.


"Hobi amat ghibahin aku!" sindir Abi yang langsung mendudukkan dirinya di cafe chair dapur mereka.


"Kenyataan kok!" sahut Kinan.


"Masak apa Mah?" tanya Abi pada Kinan, akan tetapi tatapannya intens ke sosok istrinya.


"Hari ini Papa mau makan siang di rumah, kayanya si Daniel juga mau mampir deh. Jadi Mamah masakin kesukaan Papa aja, sop iga, bakwan jagung sama iga bakar madu!".


"Nyambel lah Mah, sambel bikinan Hana the best pokoknya!" request Abi mengerlingkan mata ke arah istrinya.


Hana sungguh sangat bersyukur, meskipun dirinya seorang yatim piatu dan sebatang kara karena tak memiliki seorang saudara pun, tetapi dia tetap bisa merasakan kasih sayang dari keluarga yang utuh.


"Terima kasih Bu, ternyata keputusan Ibu benar menerima pinangan keluarga Kak Abi. Mereka sungguh baik dan tulus menyayangi Hana, maaf karena Hana sempet marah sama Ibu!" batin Hana berucap, akan tetapi matanya terlihat mulai berkaca-kaca.


"Lho, kamu kenapa Sayang? Kok kayak mau nangis gitu?" Kinan langsung mendekap tubuh mungil menantu kesayangannya itu.


"Enggak apa-apa kok Mah, Hana cuma mau bilang makasih keluarga di sini begitu sayang sama Hana, menerima Hana dengan banyak kekurangan yang Hana punya--!" Hana sempat menjeda ucapannya untuk menyusut air matanya.


"Hana enggak pernah ngerasa kalo Hana ini sebenernya sebatang kara, di sini Hana merasakan kasih sayang dari keluarga yang utuh ditambah suami yang begitu baik!" lanjut Hana mulai terisak.


Mendengar dirinya disebut sebagai seorang suami yang baik, hati Abi sedikit tercubit. Lupakah Hana dengan hal buruk yang pernah dia lakukan?


"Karena kami benar-benar menyayangi kamu Sayang!" ucap Kinan mencoba menenangkan menantu cantiknya.


Abi hanya tersenyum melihat pemandangan di hadapannya saat ini, hatinya begitu hangat dengan kedekatan antara istri dan mamahnya.


"Lanjut masak yuukkk!" ajak Kinan penuh semangat yang diangguki oleh Hana sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


***


Ternyata tak hanya Daniel yang datang, ada Irene juga yang ikut makan siang bersama. Ini kali pertama Hana dan Irene benar-benar bertemu muka seintens ini karena pertemuan mereka awal dulu adalah saat Irene datang untuk berbela sungkawa atas kematian Irma, hingga mereka tak banyak bicara satu sama lain.


"Apa kabar Hana?" tanya Irena ramah.


"Alhamdulillah, baik Kak. Kak Irene apa kabarnya?" Hana cukup terpesona dengan sosok anggun yang begitu mirip dengan Ibu mertuanya ini.


"Aku juga baik kok, panggil Irene aja biar lebih akrab!" pinta Irene tersenyum ramah.


Mereka kini menikmati makan siang mereka dengan penuh suka cita, diselingi obrolan serta candaan hingga suasana kekeluargaan begitu terasa membuat Hana begitu senang dengan makan siang hari ini yang begitu ramai.


"Sambelnya enak, pas banget sama iga bakarnya!" puji Irene dengan mimik kepedasan yang tak bisa ditutupi.


"Jelas dong, kenalin nih master of sambal's maker keluarga kami. Hana!" puji Abi berlebihan membuat Hana memukul lengan suaminya kesal karena malu dengan kelakuan lebay sang suami.


"Beneran Hana, kamu yang buat? Emang kamu bisa masak?" tanya Irene terkagum.


"Bisalah, jago malahan. Emangnya elo bisanya makan doang, enggak bisa bedain mana jahe mana lengkuas. Kasihan gue sama suami calon suami Lo nanti, enggak pernah dimanjain lidahnya sama masakan istri!" cibir Abi membuat Irene langsung melemparkan mentimun ke arah laki-laki tampan yang tengah terkekeh itu.


Mereka akhirnya saling melempar ejekkan satu sama lain, membuat Hana baru menyadari bahwa sang suami juga sepupunya itu mempunyai sikap kekanakan-kanakan, tapi tidak dengan anggota keluarga yang lain dan juga Daniel yang sudah sangat faham betul jika kedua saudara sepupu itu memang tak pernah bisa akur dari kecil.


"Minggu depan Papa memberikan libur kamu selama dua Minggu untuk cuti, ajak Hana berlibur yaa bisa dibilang bulan madu kedua kalian!" ucap Rendra tiba-tiba membuat Abi dan Hana terkejut.


"Kok mendadak Pa?" tanya Abi tak bisa menutupi kebingunganannya.


"Kenapa? Enggak mau?" tekan Rendra.


"Maulah, tapi kenapa tiba-tiba. Biasanya kalo kerjaan kantor lagi banyak Papa paling anti ngasih libur ke aku".


"Kerjaan di sini bisa di handle oleh Irene dan Daniel, mereka cukup bisa diandalkan. Lagian Papa rasa Hana butuh waktu untuk refreshing, iya kan Sayang?" tanya Rendra ke arah sang menantu.


"Enggak apa-apa kok Pa, kalo Kak Abi masih sibuk gak usah liburan dulu. Lagian Hana juga senang di sini, Mamah kan selalu nemenin Hana!" Hana mencoba menolak sesopan mungkin.


"Enggak apa-apa Sayang, Papa udah minta Daniel menyiapkan penerbangan ke Turki. Ini hadiah dari kami untuk kalian berdua yang sudah kembali bersama lagi, semoga kalian berdua menikmati liburan kalian ya!" Rendra tersenyum tulus membuat Hana begitu tersentuh.


Ia pun langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Ayah mertuanya untuk memeluk seraya mengucapkan terima kasih.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2