
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Hana dan Abi memutuskan untuk melewatkan makan malam mereka dan memilih langsung ke kamar mereka untuk membersihkan diri, melaksanakan sholat isya dan istirahat.
Akan tetapi dikarenakan Abi pulang lebih awal dari kantornya, ia tadi belum menyelesaikan beberapa pekerjaannya dan memutuskan untuk menyelesaikannya sekarang.
"Kak Abi mau ngerjain kerjaan kantor?" tanya Hana yang melihat Abi begitu sibuk menyetel laptopnya, serta ponsel juga iPad nya.
"Iya, sedikit ngecekin berkas-berkas. Tadi karena pulang cepet ada beberapa berkas yang belum aku cek ulang!" jawab Abi menatap sekilas wajah cantik istrinya yang tengah duduk di atas ranjang mereka.
"Kasih aja ke Kak Daniel atau nggak Kak Irene, biar mereka yang periksa berkas-berkasnya. Kakak kan boss mereka, ngapain pusing-pusing!" Abi langsung menatap bingung ke arah istrinya, tak biasanya Hana memprotes dan memintanya untuk melimpahkan setiap pekerjaan pada bawahannya. Abi juga menangkap nada protes serta dengusan kekesalan dari sang istri yang ia tak tahu alasannya apa.
"Kan semua ini yang ngerjain Danie dan Irene, aku tinggal ngeceknya aja. Kalo ada berkas yang harus direvisi baru deh nanti aku kasih ke mereka lagi buat ngerevisinya!".
Hana tak membalas perkataan suaminya sama sekali, ia memilih untuk turun dari atas ranjang kemudian berjalan menghampiri suaminya yang duduk di sofa panjang.
Bahkan Abi langsung dibuat tergagap ketika Hana langsung duduk di atas pangkuannya dan meletakkan dagunya di pundak Abi.
"Beberapa hari ini kamu nyuekin aku, enggak nyentuh aku sama sekali. Kamu enggak kangen emangnya?" bisik Hana dengan nada menggoda.
Abi sedikit dibuat bingung dengan tingkah Hana yang sangat berbeda saat ini, hingga membuat Abi seakan-akan kehilangan kata-kata, dan hanya mampu mengucapkan kata "Hah?".
Hana langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah Abi dengan tatapan dan senyum menggoda, bahkan tangan mungil Hana tanpa permisi membelai rambut dan wajah sang suami dengan gerakan sensual, "Kakak enggak mau nengokkin anak-anak?".
Sontak pertanyaan pancingan Hana membuat Abi faham betul arah pembicaraan Hana, Abi kemudian membalas senyuman menggoda istrinya dengan senyuman tak kalah menggoda dari bibirnya.
Terlebih ketika Hana dengan gerakan sensual membuka kaos yang dikenakan Abi dengan tanpa memutus pandangan mereka sama sekali, saat kaos sudah terlepas Hana tanpa malu-malu meraba perut six pack Abi sambil memanggut lembut bibir sang suami.
Abi yang mulai terpancing gairahnya langsung menangkup kedua pipi Hana dengan tangan lebarnya dan mulai membalas ciuman Hana semakin dalam dan panas.
__ADS_1
"Emang boleh?" tanya Abi saat dirinya melepaskan ciumannya dengan keduanya kini tengah mengambil pasokan oksigen yang seakan menipis akibat ciuman panas mereka.
"Tadi Ibu Dokter kan bilang boleh asal pelan-pelan!" jawab Hana dengan nafas terengah-engah.
Mendapat lampu hijau dari sang istri, Abi langsung menggendong istrinya bak koala dan membaringkannya di atas ranjang.
Abi kembali melenakan istrinya dengan sentuhan-sentuhan dan ciuman di seluruh wajah, bibir dan tubuh Hana.
Dirasa siap, Abi kemudian melakukan penyatuan dengan begitu hati-hati dan penuh kelembutan. Begitu pula dengan gerakan yang ia buat.
Abi menciumi wajah istrinya sesaat setelah mereka sama-sama melenguh menikmati pelepasan mereka.
"Sakit?" tanya Abi menatap lekat-lekat istrinya yang tangan mengatur nafasnya dan Abi bisa bernafas lega ketika Hana menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala serta senyuman.
Abi mencium sekilas bibir Hana untuk kemudian bangkit dari atas tubuh istrinya, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos sang istri, sedangkan dirinya kembali mengenakan celananya.
"Tidur ya, aku mau ngerjain kerjaan aku dulu. Nanti kalo udah selesai aku nyusul!" titah Abi yang diangguki oleh Hana.
***
"Hari ini aku pulang telat, ada rapat penting. Mungkin sebelum balik ke sini, mampir dulu ke rumah. Ada beberapa barang dan berkas yang harus aku ambil!" ucap Abi saat diantar sang istri sampai di depan mobilnya.
"Jangan telat makan, jangan capek-capek ya. Titip anak-anak!" lanjut Abi membelai lembut perut Hana, sedang Hana hanya mengangguk sambil tertawa melihat tingkah suaminya yang saat ini menunduk mensejajarkan kepalanya dengan perutnya.
"Kalian di dalam baik-baik ya, jangan nakal, jangan susahin Bunda. Atau kalo enggak nanti malem enggak Ayah tengokin lagi kalian!" ancam Abi jenaka yang langsung dihadiahi pukulan dari tangan mungil istrinya.
Abi langsung menegakkan tubuhnya dan sedikit menundukkan kepalanya untuk menghujani wajah Hana dengan ciuman.
"Hati-hati bawa mobilnya, kamu juga jangan telat makan, jangan lupa sholat juga ya Kak!".
Setelah mencium punggung tangan suaminya, Hana yang sudah melihat mobil sang suami keluar gerbang Mansion langsung kembali masuk ke dalam kamar untuk menemui Hafidz.
Karena saat sarapan tadi Hafidz meminta Hana untuk meminta menemuinya di ruang baca.
__ADS_1
"Kakek!" sapa Hana memasuki ruang baca dimana sang Kakek menyambutnya dengan senyuman.
"Sini Sayang!".
"Abimanyu pernah cerita sama Kakek, katanya Hana pinter ngedisain?" tanya Hafidz saat Hana sudah duduk di sampingnya.
"Enggak pinter Kek, tapi bisalah. Kak Abi mah lebay!" jawab Hana sedikit mencibir suaminya membuat Hafidz tersenyum.
"Mau ngedisain mini zoo yang mau Kakek buatkan untuk kamu dan anak-anak, enggak?".
Hana langsung membelalakkan matanya mendengarkan perkataan Hafidz, "Kakek serius mau buat mini zoo? Biayanya mahal Kek, lagian aku juga cuma bercanda kok!".
"Kakek enggak peduli sama biayanya, yang penting cucu Kakek yang cantik ini juga calon cicit-cicit Kakek bahagia. Mau ya bantu Kakek ngedisain mini zoo nya?" sekali lagi Hafidz meminta bantuan cucu menantunya tersebut.
Sebenarnya Hana memang ingin sekali memiliki kebun binatang mini yang hanya diisi binatang-binatang lucu dan menggemaskan, tetapi tentu Hana tak mungkin menerima usulan sang Kakek yang sudah dipastikan akan menelan banyak biaya.
"Enggak Kek, beneran deh aku cuma bercanda. Lagian ngapain juga bikin-bikin mini zoo kalo di Jakarta aja ada kebun binatang kok, mahal Kek bikin-bikin begituan!" sekali lagi Hana mencoba menolak usulan sang Kakek.
"Tanah di belakang Mansion masih lebar sekali, cukuplah kalo cuma untuk bikin mini zoo, atau kamu mau Kakek buatkan juga mini zoo di belakang rumah kamu?" tawaran nyeleneh sang Kakek otomatis membuat mata Hana semakin membola.
"Enggak Kek, enggak usah!" tolak Hana mentah-mentah.
"Ya udah kalo gitu buat mini zoo di Mansion aja, jadi nanti kamu sama anak-anak sering-sering dateng ke sini. Kakek yakin kalo ada mini zoo, kelak anak-anak pasti betah di sini!" tegas Hafidz sekali lagi dengan mata berbinar-binar memancarkan kebahagiaan.
"Tapi Kek--!" sungguh Hana merasa tak enak hati dengan akibat celetukannya semalam.
"Ya udah enggak apa-apa kalo kamu enggak mau bantu ngedisain ya, nanti biar Kakek cari orang yang ahli dibidang__!" ucapan Hafidz langsung terpotong ketika Hana dengan cepat menyelaknya.
"Iya aku mau ngedisainnya!" Hana terpaksa menuruti kemauan sang Kakek, mengingat jika menggunakan orang lain pasti akan membutuhkan biaya lebih lagi.
"Kalo gitu ayo kita ke belakang Mansion biar kamu lihat tanahnya terus kamu bisa bikin pemetaannya, mau gimana model yang kamu mau ya!" ajak Hafidz bersemangat kemudian menggandeng tangan cucu menantu kesayangannya tersebut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1