
Kinan mengetuk kamar inap Irma ketika ia sudah sampai di depan pintunya. Pintu pun tak lama terbuka oleh Angga.
"Assalamualaikum Angga, Ibu Irma udah tidur ya?" sapa Kinan ramah.
"Tante Kinan, belum Tan. Masuk Tan, Ibu lagi nunggu Hana" sahut Angga mempersilahkan.
"Assalamualaikum Bu Irma" sapa Kinan mendekati Irma di tempat tidur.
"Wa'alaikumsalam Bu Kinan, apa kabar?", sahut Irma.
"Baik Bu, Alhamdulillah. Ibu sendiri apa kabar?".
"Baik juga Bu. Maaf saya tidak memberitaukan Ibu kalo saya sedang dirawat, saya gak mau merepotkan dan membuat Ibu khawatir. Kalo boleh tau Ibu ada di rumah sakit malam-malam begini, apa ada yang sakit Bu?" tanya Irma.
"Iya Bu, Papi saya sakit jantungnya kambuh. Sekarang Beliau sedang di ICU, masih belum sadar" jawab Kinan dengan raut wajah yang sedih.
"Ya Allah Tuan Hafidz, maaf Bu saya benar-benar gak tau" ucap Irma terkejut.
"Iya gak apa-apa Bu, Hana sedang berada di sana bersama Abi untuk melihat kondisi Papi. Emh, saya dengar Ibu akan melakukan operasi?" Tanya Kinan menggenggam tangan Irma, seakan ingin memberikan kekuatan padanya.
"Bu ada yang mau saya sampaikan, sebenarnya tadi siang saat Hana sedang syuting, Dokter Rama memberitau kan saya kalo kondisi saya buruk. Operasi pengangkatan yang akan saya lakukan tidak akan berpengaruh banyak. Bu Kinan, kesempatan untuk saya hidup tidak lama lagi dan Hana tidak mengetahui ini semua Bu. Saya tau, hidup dan mati adalah Allah yang mengaturnya dan saya tetap mencoba untuk tetap melawan penyakit ini, tapi saya pun juga pasrah. Bu Kinan selain Angga dan Hanum, Hana tak memiliki siapa-siapa lagi dan saya tak mungkin menitipkan dia pada mereka. Jika boleh, tolong titip Hana Bu, jaga dia hingga kelak dia bisa berdiri sendiri dengan kakinya. Saya tau permintaan saya sangat besar, tapi hanya Ibu dan Keluarga Ibu yang saya percayai dapat menyayangi Hana sepenuh hati" ucap Irma dengan air mata yang sudah tak bisa ia bendung lagi. Isak tangisnya terdengar sangat pilu bagi siapapun yang mendengarnya.
Kinan langsung memeluk Irma yang sedang terisak, walaupun ia sendiri pun juga menangis tetapi Kinan berusaha untuk memberi kekuatan dan semangat di tiap kata-kata yang ia ucapkan untuk Irma, Angga yang melihat itu pun juga turut meneteskan air mata.
"Ibu jangan khawatir, kami akan menjaga Hana selayaknya putri saya sendiri. Lawan lah sakit Ibu, berjuanglah untuk sembuh, percayakan Hana pada keluarga saya Bu", ucap Kinan masih memeluk Irma.
***
Di kamar Hafidz, Hana sudah tiba tetapi belum bisa masuk karena Rasya sedang memeriksa Hafidz. Hana bertemu Rendra yang sedang ada diluar kamar dan mencium punggung tangannya, Rendra mengatakan jika Hafidz sudah sadar dan Rasya sedang memeriksanya.
Tak berapa lama Rasya keluar dan memanggil semua untuk masuk, "Kalian bisa masuk ke dalam. Oh ya tadi Kakek juga sempat bilang ke saya ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Hana, siapa dia Om?" tanya Rasya.
__ADS_1
"Ah kebetulan, gadis ini yang bernama Hana. Kalo begitu apa dia juga boleh masuk menemui Kakek?" tanya Rendra.
Rasya mengulurkan tangannya pada Hana, untuk memperkenalkan diri. Hana pun menyambut ramah uluran tangan Rasya dan memperkenalkan dirinya. Mereka kemudian masuk.
Saat tiba di dalam, Hafidz begitu senang melihat Hana. Ia pun meminta Hana untuk mendekat padanya.
"Bi, ini sebenernya yang cucunya Kakek lo apa dia sih?" bisik Rasya menyindir.
"ya gw lah Mas" jawab Abi yang juga berbisik kesal.
"Tapi lihat tuh, masa lo dicuekin sih sedangkan tuh cewek, lihat deh gimana Kakek memperlakukan dia!" ucap Rasya lagi masih berbisik.
"Diem lo Mas!" gertak Abi sedikit berteriak membuat seisi ruangan langsung memusatkan perhatian pada mereka.
Rasya berdehem untuk mengurangi rasa canggungnya, ia kemudian mengatakan kalo Hafidz harus menajalankan operasi untuk pemasangan ring di jantungnya.
"Saya mau operasi, jika Abi mau menikahi Hana!" tegas Hafidz membuat semua orang terkejut, terlebih Rasya.
"Loh kok gitu Kek, Kakek harus mau operasi biar Kakek lebih sehat lagi" rayu Hana.
Semua yang ada di ruangan hanya mampu menghela nafasnya dengan sikap Hafidz. Ia seakan seperti anak yang sedang merajuk meminta mainan. Mereka pun saling memandang satu sama lain, bingung ingin bersikap seperti apa.
"Kek, gak bisa gitu dong. Kesehatan Kakek sama permintaan Kakek mana ada hubungannya?" ucap Hana.
"Ya adalah, Kakek sehat kan mau ngelihat kalian hidup bersama-sama", sahut Hafidz tak mau kalah.
"Oke, kalo aku sama Ka Abi hidup sama-sama nih misalnya, tapi hidup kami gak bahagia apa itu juga tujuan Kakek?" tanya Hana, semua yang ada di ruangan itu langsung menatap Hana serius, begitu pula Hafidz.
"Kek, hubungan yang dipaksakan gak akan berjalan bahagia. Mungkin menurut Kakek Hana baik, tapi belum tentu buat Ka Abi begitu. Menurut Kakek Hana menyenangkan, tapi belum tentu Ka Abi merasakan hal yang sama. Masa Kakek tega ngelihat kita hidup dalam keterpaksaan?" lanjut Hana coba untuk terus menyakinkan Hafidz.
"Apa kamu benar-benar gak mau memberi kesempatan pada Abi? Kakek hanya ingin melihat kalian bersama karena Kakek mempunyai keyakinan kamu satu-satunya perempuan yang mampu membuat Abi jadi manusia yang lebih baik" sahut Hafisz masih berharap.
__ADS_1
"Aku siap menikahi kamu Han, Kakek dan Papa akan melamar kamu secara resmi!" ucap Abi tiba-tiba membuat seisi ruangan terkejut, terlebih Hana.
"Dengar kan Nak Abi mau melamar kamu, Kakek juga yakin sebenarnya kamu punya perasaan sama cucu Kakek. Kakek harap kamu bersedia ya" pinta Hafidz bersemangat.
"Tapi Kek.." ucap Hana namun langsung dipotong oleh Abi, "udah gak ada tapi-tapian, udah malem biar Kakek istirahat. Ayo gw ajak balik ke ruangan nyokap lo" ucap Abi menarik tangan Hana meninggalkan semua yang ada di ruangan itu.
Setelah dirasa cukup jauh dari ruangan itu, Hana menghentikan langkahnya. Hana begitu kesal dengan Abi yang secara sepihak memutuskan sesuatu yang harusnya dibicarakan matang-matang terlebih dahulu.
"Kak Abi apa-apaan sih hah? Seenaknya begitu?", geram Hana kesal.
"Seenaknya gimana? Lo gak lihat semangat hidup Kakek tuh ada di kita berdua, lo tega ngebuat Kakek drop?" sahut Abi tak kalah kesal.
"Bukan aku tega Ka, justru aku gak tega kalo Kakek ngelihat kita berhubungan tapi dengan keterpaksaan" ucap Hana.
"Tenang itu urusan gw" sahut Abi enteng.
"Kok urusan Ka Abi?" tanya Hana bingung.
"Yaa, urusan gw lah. Kan di sini posisinya gw yang terpaksa nikahin lo padahal gw gak punya perasaan apa-apa, sedangkan lo kan tadi terang-terang bilang kalo lo tuh cinta sama gw. Harusnya lo seneng dong bisa nikah sama orang yang lo cintai" jawab Abi percaya diri.
"I.. iyaa, tap.. tapi kan gak begitu juga Ka. Aku juga gak mau kok ngejalin hubungan sama seseorang yang 'terpaksa', aku juga pengen dicintai sama suamiku, disayangin, dipeduliin tulus sama suami aku nantinya. Bukan status doang Ka" ucap Hana geram, membuat Abi terdiam.
"Tolong Hana bantu gw, demi Kakek.." pinta Abi memohon.
"Demi Kakek atau demi Ka Abi? Sampai kapan Ka aku harus bantu? Sampai saat Mbak Raya kembali? sampai Ka Abi ceraiin aku dan kembali lagi sama Mbak Raya? Terus nanti gimana perasaan Kakek saat kita bercerai? Atau bagaimana Hana setelah Ka Abi menceraikan Hana? Pernah mikir sampai ke situ gak Ka? Kaka egois tau enggak!" sahut Hana kesal kemudian meninggalkan Abi.
Abi hanya mampu terdiam, melihat Hana yang semakin jauh dari tempatnya terpaku. Yaa, dia sadar dia egois, tapi sebenarnya saat ini fokusnya adalah sang Kakek, bukan Raya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ini karya pertamaku, maaf kalau belum sempurna dan mungkin banyak typo, aku sedang belajar menjadi penulis . Semoga kalian suka dengan novel pertamaku ini.
__ADS_1
Jangan lupa vote, komen dan like nya yaaa biar aku tambah semangat nulisnya .
Terima kasih 🙏🙏😘😘