
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
"Jadi apa jenis kelamin mereka?" tanya Hafidz penuh semangat, melihat binar bahagia sang Kakek juga anggota keluarga yang lain membuat Hana tak enak hati untuk menyembunyikannya.
"Emmmhhh, si kembar dua-duanya jagoan Kek!" jawab Hana tersenyum lebar, terlebih melihat mereka langsung mengucapkan rasa syukur dengan wajah dipenuhi kebahagiaan.
"Pas banget kalo gitu, bulan depan usia kandungan kamu tujuh bulan kan? Kita adain acara tujuh bulanan sekalian syukuran Karena kita udah tau kalo mereka ini jagoan-jagoan keluarga Raffan!" ucap Hafidz bersemangat.
"Tujuh bulanan? Kan udah empat bulanan Kek, masa harus ngadain acara tujuh bulanan lagi?" tanya Hana heran dengan keputusan sang Kakek.
"Enggak ada larangannya kan?" ujar sang Kakek membuat Hana hanya menghela nafasnya berat.
Dia tahu keputusan sang Kakek tak ada yang mampu mengganggu gugat, Hana pun hanya mampu pasrah dengan keinginan sang Kakek.
"Yaudah, ayo kita makan siang!" usul Kinan mempersilahkan semua untuk bersiap makan siang.
Mereka begitu menikmati makan siang kali ini, terlebih kabar yang dibawa oleh Hana membuat suasana semakin dipenuhi kebahagiaan dan suka cita.
"Kayaknya Kakek mau beli tanah kosong di belakang mansion deh!" ucap Hafidz di sela mengunyah makanannya.
"Lho emang mau buat apa Pi?" tanya Rendra.
"Kakek baru aja kepikiran ide buat melihara kuda, pasti kedua jagoan Kakek seneng ada kuda di area mansion!" jawab Hafidz membuat Hana langsung membolakan matanya lebar.
"Kakeeeeekkkkk..!" rengek Hana, sedang yang lainnya langsung terpingkal-pingkal.
***
"Kakek enggak mungkin serius kan Kak?" tanya Hana saat mengantar sang suami.
"Serius apa?".
__ADS_1
"Mau beli tanah sama kuda?" tanya Hana lebih memperjelas.
"Enggak tau juga, Kakek susah ditebak kan orangnya!" jawab Abi membuat Hana berdecih kesal.
"Kebangetan aja kalo sampe beneran mah, anak-anak belum pada meletek udah ada aja yang dikasih!" sahut Hana, sedang Abi hanya mengulum senyuman melihat kekesalan di wajah cantik istrinya.
"Entah kapan anak-anak ngerti sama semua yang dikasih sama Kakek!" lanjutnya lagi kepikiran segala apa yang telah Kakeknya persembahkan untuk cicit-cicit kesayangannya.
Abi hanya tertawa mendengar gerutuan sang istri, dia sendiri pun tak memungkiri sikap berlebihan sang Kakek akan tetapi dia juga menyadari kebahagiaan yang diberikan Hana melalui anak-anak dalam kandungannya benar-benar melebihi dari apapun.
Wajar jika sang Kakek berlebihan memberikan penyambutan atas calon penerus keluarga Raffan setelah apa yang mereka sudah lalui selama ini.
"Aku berangkat ya, kamu jangan capek-capek. Nanti malam mau nginep di sini?".
"Iya, aku pengen di sini dulu aja, masih kangen sama Mamah dan Kakek!" Hana terus mengulas senyum sambil menatap penuh cinta pada suaminya.
Abi kemudian berjongkok untuk menciumi perut buncit istrinya, "Jagoan-jagoan Ayah jangan nakal ya, jangan buat Bunda kesakitan. Nanti malem pulang kerja Ayah tengokin lagi!" sontak ucapan sang suami langsung dihadiahi jambakan oleh Hana pada rambut tebal Abi.
"Bisa enggak sih, enggak melulu menjurus kalo ngomong sama anak-anak?" cibir Hana kesal.
"Tapi suka kan?" ledek Abi yang lagi-lagi langsung dihadiahi capitan panas jari lentik istrinya.
***
Yang terlebih membuat Hana sedikit kesal adalah sang Kakek membeli kuda termahal yang pernah ada, kuda Thoroughbred adalah jenis kuda balap yang sangat terkenal dengan kecepatannya. Sang Kakek membeli sepasang kuda tersebut dengan harga yang sangat fantastis yaitu 426 juta rupiah untuk seekor kuda yang artinya Hafidz mengeluarkan uang sebanyak 852 juta untuk dua ekor kuda.
Belum lagi biaya yang lain-lainnya untuk membuat kuda-kuda tersebut sampai di kediaman keluarga Raffan, dan jangan lupa tanah yang harus dibeli pun juga sudah menguras biaya yang sangat besar.
Hana hanya menghela nafasnya berat ketika sang Kakek memamerkan kuda-kudanya serta arena menunggang kuda buatannya yang akan dipersembahkan untuk kedua cicitnya.
"Anak-anak juga enggak tau Kek kapan mereka ngerti beginian!" ucap Hana menggelengkan kepalanya.
"Makin lama Mereka juga tumbuh besar dan Kakek yakin deh pasti mereka suka sama semua yang Kakek persiapkan untuk mereka!" sahut Hafidz penuh semangat.
"Ini yang terakhir ya Kek, udah enggak ada lagi hadiah-hadiah Sultan macam begini!" ancam Hana tegas.
__ADS_1
"Kok gitu, emang kenapa?" tanya Hafidz mengernyitkan dahinya bingung.
"Aku pengen mendidik anak-anakku dengan kesederhanaan Kek, hadiah dari Kakek udah lebih dari cukup buat membahagiakan mereka. Kakek jangan marah ya sama apa yang aku bilang ini" jawab Hana tak enak hati.
Sedang Hafidz justru langsung menarik Hana ke dalam dekapannya dengan penuh kasih sayang, Ia pun membelai lembut surai panjang Hana, "Kakek enggak marah kok sayang, Kakek malah bangga sama kamu. Kakek malah mau minta maaf atas sikap Kakek yang berlebihan ini, tapi semua Kakek lakuin karena rasa bahagia dan syukur Kakek atas kehadiran kedua cicit Kakek!".
"Iya Hana ngerti kok Kek, tapi udah ya jangan lagi-lagi ngasih yang mahal-mahal kayak begini!" ujar Hana menyambut pelukan sang Kakek.
***
Benar yang dikatakan banyak orang, jika kandungan sudah memasuki usia tujuh bulan waktu dirasa semakin cepat berlalu.
Kini usia kandungan Hana sudah memasuk usia 38 Minggu, trimester terakhir. Mereka berdua pun memutuskan untuk sementara untuk tinggal di mansion hingga Hana melahirkan sampai beberapa waktu pasca melahirkan.
Malam ini usai mengarungi nirwana Abi kembali disibukkan dengan laptopnya, sedang Hana hanya menatap ke arah sang suami yang dirasa berkali-kali lipat lebih tampan saat sedang serius bekerja.
"Tidur sayang, udah malem. Apa mau ronde ketiga?" goda Abi pada sang istri yang terus saja memandangnya.
"Kamu mah istri perutnya gede gini bisa-bisanya minta tambah?" cibir Hana, tetapi kemudian tersenyum malu-malu.
"Abis gimana ya, kamu hamil malah makin menggigit!" sahut Abi dengan kerlingan menggoda.
Hana yang malas menimpali godaan mesum suaminya memilih membelakangi sang suami untuk tidur karena memang waktu yang sudah larut.
Baru dirasa sekitar setengah jam Hana terlelap, dia harus terpaksa bangun karena merasa perutnya mulas ingin buang air besar.
Dengan tertatih-tatih sambil melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya Hana berjalan menuju ke toilet, hal tersebut pun langsung menyita perhatian Abi.
Tak butuh waktu lama, Hana sudah kembali keluar dari toilet dan kembali ke ranjang untuk melanjutkan tidurnya.
"Kenapa?" tanya Abi khawatir melihat Hana masih saja meringis menahan sakit.
"Perut aku sakit, kayak mau pup tapi tadi gak keluar!" jawab Hana.
"Sekarang masih sakit?" tanya Abi lagi mendekati sang istri.
__ADS_1
"Udah enggak, Kak Abi tidur yuk jangan di depan laptop terus!" rengek Hana manja, sedang Abi langsung terkekeh akan tetapi tetap menuruti keinginan istrinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=