
"Kamu tumben pagi ini enggak muntah-muntah? Udah enakan perutnya?", tanya Abi ketika bangun mendapati Raya sedang bersandar sambil memainkan ponselnya.
"Muntah. Kamu tidurnya nyenyak banget jadi mungkin enggak denger", jawab Raya tanpa melihat ke arah Abi dan tetap fokus pada ponselnya.
"Chattingan sama siapa sih? Serius amat kayaknya?", tanya Abi ikut duduk di sebelah Raya.
"Sama Lina, aku mau minta besok siap-siap ikut aku sama Nico ke Bandung", jawab Raya melirik sekilas ke arah Abi.
"Ke Bandung? Mau ngapain?", tanya Abi lagi penasaran.
"Ada pemotretan, Nico nawarin aku jadi modelnya. Bolehkan?".
"Boleh, kenapa emang gak boleh?".
"Hari ini kamu gak syuting atau apa?", tanya Raya sadar kalo pagi ini Abi lebih santai daripada biasanya.
"Enggak, aku free. Emmhhh.. gimana kalo hari ini kita habisin waktu sama-sama, aku temenin kamu kemana pun kamu mau. Itung-itung permintaan maafku sama kamu karena semalem udah bikin kamu sedih. Kamu mau kemana?".
Raya menatap senang ke arah Abi, setelah cukup tenang semalam Abi berjanji padanya tidak akan pernah mengungkit tentang kehamilan atau pun pernikahan.
Raya kemudian bangkit dari duduknya dan duduk di pangkuan Abi. Memeluk erat kekasihnya, mencium pipi kanan dan kiri Abi bergantian.
"Aku mau ke nirwana,", bisik Raya dengan suara yang dibuat sesensual mungkin. Abi yang mendengar suara Raya tak ayal membangkitkan gairahnya, ia manangkup wajah Raya menatapanya begitu dalam kemudian mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di seluruh wajah Raya terutama bibirnya.
Pagi itu mereka benar-benar menghabiskan waktu bergulat panas di tempat tidur, entah berapa kali mereka mengulanginya. Rasanya gairah mereka tak pernah padam.
Abi menghentikan gempurannya ketika sadar Raya terlihat pucat, meski Raya tak mengatakan apapun Abi tau Raya merasakan ketidaknyamanan.
__ADS_1
"Ada yang sakit?", tanya Abi khawatir, namun Raya hanya menggeleng. "Capek?", tanya Abi lagi kali ini Raya mengangguk. "Maaf..", ucap Abi kemudian menyingkir dari atas tubuh Raya, ia pun mengambil selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka berdua.
"Sayang, bentar lagi waktu yang diberikan keluarga kamu tentang keputusan hubungan kita berdua mau tiba. Apa rencana kamu?", tanya Raya yang kini sudah menyandarkan kepalanya di dada bidang Abi.
"Aku belum ada rencana apa-apa, aku gak tau, bingung. Kamu gak apa-apa kita ngebahas pernikahan?", ucap Abi balik bertanya.
"Enggak apa-apa. Kan cuma ngobrol, kamu kan gak maksa buat nikahin aku jadi yaa gak apa-apa. Toh kita ngebahas tentang jawaban apa yang harus kita kasih ke keluarga kamu nanti", sahut Raya.
"Sayang.. Andai kata kita bilang kita belum mau menikah, tapi keluarga aku maksa aku tetep menikah meskipun bukan kamu orangnya, emhh.. dalam arti lain mereka menyiapkan wanita lain untuk kunikahi, tanggepan kamu apa?", tanya Abi sedikit ragu.
"Asalkan kamu tetep setia sama aku, gak apa-apa kok. Aku akan bertahan, aku akan tetep nunggu kamu. Toh yang keluarga kamu mau kan keturunan dari kamu, aku gak apa-apa kok. Asalkan setelah keturunan kamu lahir kamu harus menceraikannya atau kalo enggak pas aku siap kamu nikahi kamu harus akhiri pernikahan kamu sama perempuan itu dan kamu menikahiku", jawab Raya.
"Kedengeran egois gak sih Ray?", tanya Abi dengan nada kecewa.
"Egois gimana maksud kamu? Di sini aku lho yang ngorbanin perasaan Bi, aku ngelihat kamu bersanding sama perempuan lain, ngelihat kamu punya anak dari perempuan lain. Bisa kamu rasain gak sakitnya yang bakal aku rasain nanti?", jawab Raya mulai kesal.
"Jadi kamu pikir aku bakal menikmati semuanya, kamu pikir juga dong pernikahan yang terpaksa gimana rasanya? Saat aku berharap kamu yang berdiri bersanding denganku justru perempuan lain, atau saat aku bener-bener berharap kamu lah satu-satunya wanita dari anak-anakku kelak, tapi justru perempuan lain. Ray.... Ahhh udah lah aku tau ujung-ujungnya kita pasti bakal ribut. Aku mau mandi, habis itu cari makan", ucap Abi kemudian bangkit dari tempat tidurnya menunju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
"Bu hari ini Hana mau ketemuan sama Tante Kinan ya jadi mungkin Hana pulangnya agak terlambat", izin Hana sebelum berangkat syuting iklan terbarunya.
"Pulang jam berapa kira-kira Han?", tanya Irma memastikan.
"Mungkin agak malem Bu, pulang syuting Hana langsung ketemuan sama Tante Kinan, Tante ngajakin ke rumahnya kata Tante Kinan Kakek kangen sama Hana", sahut Hana.
"Anak Ibu emang ngangenin, yang penting pulang dari rumah Tante Kinan, kamu langsung pulang ke rumah. Jangan mampir kemana-mana lagi, gak baik malem-malem anak perempuan masih keliaran", nasehat Irma.
__ADS_1
"Siap Nyonya Besar, laksanakan", goda Hana membuat Ibunya tergelak.
Saat mereka asyik berbincang Angga masuk dan ikut bergabung.
"Ibu sehat?", sapa Angga.
"Alhamdulillah sehat Ngga, kamu apa kabar? Hana ngerepotin banget ya? Nurut gak sama kamu?", sahut Irma langsung mencecar pertanyaan tentang putrinya.
"Alhamdulillah sehat juga Bu. Hana nurut kok, gak mgerepotin sama sekali, kadang", ucap Angga menggoda Hana.
"Ihhh.. emang gak ngerepotin kok aku Mas, nurut terus", sahut Hana menekuk wajahnya.
"Iyaa.. iya.. Oh ya liburan semester ini kamu bakal main film sama Abi dan aku dapet info katanya pemeran utama perempuannya itu si Raya, tapi masih nunggu konfirmasi dari pihaknya Raya. Kamu gak apa-apa kan?", tanya Angga memastikan. Yaa Angga tau cerita perselisihan antara Hana dan Raya, karena Hana memang menceritakan semuanya.
"Enggak apa-apa Mas, emang kenapa?".
"Good, kalo begitu yuk berangkat takut telat ke lokasi. Bu kami berangakat dulu ya", pamit Angga mencium punggung tangan Irma, begitu pula dengan Hana.
"Titip Hana ya Angga, jewer aja kalo gak nurut", pesan Irma membuat Hana mencemberutkan wajahnya.
"Ihh Ibu.. Dibilang Hana nurut kok sama Mas Angga" sahut Hana.
"Iya, iya Ibu percaya sama kamu. Pokoknya selama kamu kerja harus nurut sama Mas Angga, dia kakak kamu jadi Ibu kasih kuasa penuh buat ngatur kamu, hukum kamu kalo kamu bantah dia", ancam Irma membuat Hana semakin mencebikkan wajahnya.
Angga yang merasa di gadang-gadang memasang wajah bangga di depan Hana membuat Hana semakin sebal.
"Tuh denger kata Ibu, nurut sama Mas Angga. Aku ini Kakak kamu jadi nurut jangan bantah!".
__ADS_1
"Berasa anak tiri aku ya", keluh Hana membuat Angga dan Irma tertawa. Mereka pun kemudian mengucapkan salam dan beranjak pergi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=