
"Mau makan apa?" Abi memecah keheningan di dalam mobilnya, karena tak biasanya sepanjang perjalanan Hana hanya diam.
"Kita langsung pulang aja ya Ka, aku capek banget. Kepala aku pusing!" Hana mencoba mencari alasan untuk menutupi kegelisahan hatinya akibat ucapan Raya tadi.
"Kamu sakit?" Tanya Abi khawatir.
"Enggak cuma kecapekan aja aku!" Jawab Hana tersenyum melihat kekhawatiran di wajah Abi.
"Mau ke mansion? Ketemu Ibu?" Tawaran dari Abi seketika merubah mood Hana, ia pun langsung mengangguk semangat
"Tapi lusa kan kita berangkat ke Bali?" Tiba-tiba Hana sedikit ragu, pasalnya setiap ke mansion Hana wajib menghabiskan waktu yang lama di sana.
"Kita berangkat dari mansion lah. Makanya sekarang kita ke apartemen dulu ya ngambil barang-barang yang mau dibawa, tapi boleh yaa kita cari restauran dulu aku laper banget ini!" Hana yang tega melihat Abi kelaparan pun mengiyakan ajakan suaminya.
***
"Assalamualaikummmm..!" Seperti biasa dengan ceria Hana mengucapkan salam ketika tiba di mansion.
"Wa'alaikumsalam..!" Sahut Irma yang kebetulan berada di ruang keluarga seorang diri.
"Ibu... Hana kangen!" Hana langsung menghambur ke pelukan sang Ibu dan menciumi wajah Ibunya.
"Udah, udah kayak gak ketemu berapa lama aja! Malu itu dilihatin suami kamu!" Irma berusaha menghentikan aksi anaknya yang terus menciuminya.
__ADS_1
Setelah berhenti, Abi langsung mengulurkan tangannya kepada sang mertua untuk mencium punggung tangan mertuanya.
"Sepi Bu, yang lain pada kemana?" Tanya Abi.
"Kakek kamu baru aja masuk kamar, habis ngobrol sama Ibu. Kalo Mamah sama Papah kamu lagi di kantor dari pagi, kata Mamah kamu ada yang sedang diurus!" Jawab Irma mengelus tangan menantunya masih saling berpegangan.
"Aku ke Kakek dulu ya Bu..!" Izin Abi.
"Hana ikut, kangen sama Kakek! Hana ke Kakek dulu ya Bu, nanti kita ngobrol-ngobrol!" Hana pun melingkarkan tangannya di lengan suaminya. Pemandangan tersebut menerbitkan seulas senyum di bibir Irma, dia yakin hubungan puteri semata wayangnya dan menantunya sudah berjalan dengan semestinya.
"Assalamualaikum, Kakek lagi apa?" Sapa Hana mendekati Hafidz kemudian mencium punggung tangan Hafidz dan memelukanya.
"Lagi santai aja, akhirnya kamu datang juga. Kakek kangen.." Hafidz menyambut pelukan cucu menantunya itu.
"Hana juga kangen, makanya Hana mau nginep di sini sebelum berangkat ke Bali!" Sahut Hana mendongakan wajahnya ke wajah Hafidz yang jauh lebih tinggi darinya.
"Apa Kabar kamu Bi?" Tanya Hafidz melepaskan pelukan Hana untuk menyambut pelukan cucunya itu.
"Baik Kek, Abi kira Abi transparan sampe pada gak ngeh keberadaan Abi!" Sindir Abi membuat Hana dan Hafidz tertawa. Mereka pun akhirnya terlibat obrolan ringan untuk melepaskan rindu.
***
"Hana boleh tidur sama Ibu gak Ka malam ini?" Pinta Hana ragu-ragu saat mereka sudah di kamar.
__ADS_1
"Yahh kok gitu? Tau bakal tidur sendirian mah aku gak usah aja ajak kamu ke sini!" Keluh Abi dengan wajah cemberut.
"Semalem aja Ka, boleh ya?" Kini Hana memasang wajah memelas ke arah suaminya berharap suaminya iba dan mengizinkannya.
"Jangan tidur sama Ibu lah Han, aku izinin kamu ngobrol sama Ibu tapi kalo udah puas ngobrol balik ke kamar ya. Aku udah biasa ngelonin kamu Han, masa dianggurin sih?" Gerutu Abi.
"Ya udah deh, kalo gitu aku nurut!" Akhirnya Hana pasrah mengikuti kemauan suaminya.
***
"Ibu lihat hubungan kalian makin mesra!" Ucap Irma, selesai makan malam bersama seluruh keluarga Hana langsung pergi ke kamar Ibunya.
"Kayak yang Ibu lihat, semua baik-baik aja. Aku bahagia banget Bu..!" Sahut Hana dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas dari matanya.
"Ibu ikut seneng dengernya, Ibu harap semakin hari hubungan kalian semakin baik!" Doa Irma tulus yang langsung disambut pelukan oleh puterinya.
"Tapi Hana takut Bu..!" Lirih Hana.
"Takut? Kenapa?" Tanya Irma penasaran menangkap ekspresi puterinya yang langsung berbeda. Hana pun menceritakan semuanya pada sang Ibu, bagaimana Abi menyatakan cinta padanya, perselingkuhan mantan kekasih suaminya yang berujung diputusnya Raya oleh Abi dan juga ancaman, teror serta hinaan dari Raya untuknya. Air mata Hana pun luruh saat menceritakan semuanya.
"Hana takut apa yang dibilang perempuan itu bener Bu, kalo Hana cuma sekedar pelarian Ka Abi aja, kalo Ka Abi cuma mau mainin Hana aja dan nanti kalo bosen Ka Abi bakal ninggalin Hana dan kembali ke perempuan itu. Hana takut, Hiks..!" Hana mengungkapkan semua kegelisahan hatinya yang ia pendam.
"Sayang denger Ibu, jangan pernah kamu berfikiran negatif terhadap suami kamu. Karena fikiran yang kamu sedang bangun itu lambat laun malah bisa menjadi kenyataan. Lihat suami kamu, Ibu bisa lihat bagaimana dia berusaha berubah, dia berusaha ingin menunjukan rasa sayang dia terhadap kamu, rasa peduli dia terhadap kamu. Ibu bisa lihat cinta dia untuk kamu dari matanya. Belajarlah untuk percaya pada suamimu, berikan ia kepercayaan bahwa saat ini hanya ada kamu di hatinya bukan perempuan lain. Berikan suami kamu kesempatan ya!" Irma yang mengerti kegelisahan puterinya berusaha memberi nasehat yang dapat dicerna sang anak. Irma faham sekali tidak mudah untuk Hana yang berusia belia menghadapi orang seperti Raya.
__ADS_1
Mendengar nasehat Ibunya, Hana menjadi jauh lebih tenang. Ia menyakinkan dirinya sendiri bahwa benar di hati Abi hanya ada dirinya saat ini, bukan Raya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=