
Pagi hari Abi mendengar samar-samar seperti seseorang sedang muntah, ia yang menyadari bahwa tubuh yang semalaman dia peluk sudah tak berada di sebelahnya Abi pun mulai membuka matanya, mencari-cari keberadaan Raya.
Suara seseorang yang sedang muntah kembali terdengar dari dalam toilet, ia yakin suara itu adalah suara Raya.
"Sayang.. kamu kenapa?", teriak Abi. Karena tidak ada jawaban dari Raya, Abi pun bangkit dari tempat tidurnya untuk menghampiri Raya.
"Kamu kenapa?", tanya Abi lagi kali ini ia membantu memijit pelan tengkuk Raya. Raya tak mampu menjawab pertanyaan Abi, ia terus berusaha memuntahkan sesuatu yang membuatnya mual.
Setelah beberapa saat, Raya mulai bisa menguasai dirinya. Wajahnya terlihat pucat dengan bulir-bulir keringat yang membasahi.
"Kamu sakit?", tanya Abi dengan nada khawatir.
"Emmhh.. enggak, kayaknya aku salah makan. Perut aku gak enak banget rasanya", jawab Raya.
"Mau aku anter ke dokter?", ajak Abi.
"Gak usah, nanti aku sama Lina aja. Lagian kamu ada syuting kan hari ini", sahut Raya, Abi kemudian mengangguk.
"Kamu mau sarapan apa? aku bikinin..", tawar Abi.
"Enggak usah perut aku masih enggak enak. Tapi klo ada jus terong belanda mau aku. Pasti seger, asem-asem gak bikin eneg", ucap Raya tanpa sadar dengan ngidamnya.
"Kamu hamil?", selidik Abi.
"Haa..hhaamilll..??? Ngaco kamu, gimana bisa aku hamil?", sahut Raya gugup dengan senyum yang dipaksakan.
"Aku inget terkhir kita kebablasan gak pake pengaman!", ucap Abi masih dengan mimik curiga.
"Ya gak mungkinlah, sejak kejadian itu siklus haid aku normal kok, 2 hari yang lalu juga aku baru selesai haid", sahut Raya bohong.
"Emang kalo hamil, perempuan gak haid?", tanya Abi.
"Ya enggak lah sayang, yang pernah temenku bilang sih tanda orang hamil itu yaa gak haid", jawab Raya. Raya memang sempat browsing tentang tanda-tanda kehamilan sesaat setelah mengetahui hasil tes kehamilannya.
"Oohh.. yaudah kalo gitu aku mau mandi, mau siap-siap dulu. Kamu udah mandi?".
__ADS_1
"Belum, kamu aja dulu. Aku mau istirahat sebentar badanku masih gemeteran".
***
"Hari ini lo ada syuting gak Han?", tanya Hanum ketika mereka berdua sedang istirahat di kantin sekolah.
"Kayaknya enggak deh Num, emang kenapa?" .
"Gw main ya ke rumah lo, gw kangen sama Ibu", pinta Hanum.
"Main aja, Ibu juga sering nanyain lo kok. Kangen juga kayaknya Ibu sm lo", sahut Hana kemudian menyuapkan potongan bakso ke mulutnya.
"Emang gw ngangenin", puji Hanum pada dirinya sendiri yang membuat Hana berdecik sebal. Mereka pun kembali menikmati bakso favorit mereka.
"Ohh ya Han, lo gak ada niatan main satu frame sama Abi lagi? Iklan atau mungkin drama?", tanya Hanum.
"Emmhh.. kata Mas Angga sih emang ada project film buat gw, Mas Angga bilang pemeran utamanya Ka Abi!", jawab Hana kemudian menyeruput es tehnya.
"Lo jadi pemeran utama ceweknya Han?", tanya Hanum lagi bersemangat.
"Iya deh iyaaaa, pokoknya semangat yaa Han!! Gw selalu berdoa supaya karier lo makin bersinar, job lo makin banyak dan pastinya gw makin sering ditraktir sama lo", ucap Hanum mendoakan.
"Aamiinn Ya Allah Amiinn", sahut Hana kemudian mengusap kedua tangannya ke wajahnya.
Bel tanda berakhirnya jam istirahat sudah berbunyi, Hana dan Hanum yang sudah membayarkan pesanan mereka pun beranjak meninggalkan kantin menuju ke kelasnya.
***
Raya saat ini sedang berada di rumah sakit yang cukup ternama di Jakarta. Ia sudah membuat janji dengan Dokter obgin rumah sakit tersebut untuk memerikaskan kandungannya dan berharap agar ia dapat melakukan aborsi.
Raya masuk ke ruangan Dokter, ia melepas masker dan kacamata hitam yang dari tadi ia kenakan agar tak seorang pun mengenalinya. Di dalam ruangan periksa pun Raya meminta sang dokter dan seorang perawat untuk merahasiakan kedatangannya.
"Jadi ada yang bisa saya bantu Ibu Soraya?", tanya Dokter tersebut setelah mereka sama-sama duduk berhadapan.
"Jadi begini Dok, emhhh.. kemarin pagi saya coba tespek dan hasilnya dua garis. Emhh.. apa kalo hasilnya dua garis sudah bisa diartikan kalo saya positif hamil Dok?".
__ADS_1
"Apa ada gejala-gejala lainnya Bu yang Ibu rasakan, misalnya mual-mual, muntah, pusing, lebih sensitif dengan bau-bauan atau emosi yang naik turun?", tanya Dokter bernama Elsa itu.
"Semua saya alami Dok, mual dan muntah setiap pagi saya alami!", jawab Raya mulai khawatir.
"Kalo boleh tau, sudah berapa lama Ibu Soraya mengalami ini semua?", tanya Dokter Elsa lagi.
"Saya tidak ingat pasti Dok, emgh mungkin satu sampai dua bulan terakhir ini. Hanya saja beberapa hari terakhir saya lebih sering mual-mual dan muntah-mutah dan itu terjadi setiap pagi saya bangun tidur", jawab Raya menjelaskan.
"Baik Bu Soraya, silahkan berbaring dulu, saya mau coba usg kira-kira berapa usia kandungan Ibu", titah Dokter Elsa. Raya pun beranjak menuju ke tempat tidur pasien dibantu oleh perawat.
Raya sudah berbaring di atas tempat tidur, ia melihat monitor di sebelahnya. Suster itu meminta izin untuk menaikan baju yang dikenakan Raya dan menurunkan jins nya hingga ke pinggul Raya, kemudian suster itu mengoleskan gel yang terasa dingin di atas perut Raya.
Dokter Elsa mulai menggerakan alat transducer di atas perut Raya, mencari-cari si janin. Ia juga terus fokus ke arah monitor. Di rasa cukup, Dokter Elsa meminta perawat untuk membersihkan sisa-sisa gel yang berada di atas perut Raya, Raya pun diminta untuk kembali duduk.
"Ibu Soraya memang hamil, dari yang saya lihat besar ukuran janin yang saat ini ada di dalam kandungan Ibu berusia empat mingguan. Dan kondisi janin Ibu tergolong sehat juga tumbuh dengan semestinya, tidak ada masalah apapun. Untuk masalah mual dan muntah yang Ibu alami.......", belum sempat Dokter Elsa menjelaskan lebih rinci lagi, Raya memotong penjelasan itu.
"Dok, apa bisa saya menggugurkan anak ini?".
Dokter Elsa dan perawat yang berada di ruangan itu membelalakan matanya bersamaan, mereka sama-sama terkejut dengan permintaan Raya. Dokter Elsa menatap ke dalam manik mata Raya seakan mencari kesungguhan atas ucapan Raya.
"Maaf Ibu Soraya, bisa Ibu ulangi sekali lagi!", tanya Dokter Elsa memperjelas.
"Saya tidak menginginkan bayi ini Dok, saya benar-benar sedang tidak mengharapkan kehadirannya. Saya tidak siap dengan kehadiran bayi ini dalam hidup saya. Saya mohon Dok, bantu saya untuk menggugurkan bayi ini!", jawab Raya dengan yakin. Dokter Elsa terdiam mendengar ucapan Raya, menghela nafas cukup dalam. Sekali lagi ia menatap Raya yang masih dengan wajah memohonnya.
"Maaf Ibu Soraya, apa yang Ibu minta sangat melanggar kode etik kami, kami tidak bisa melakukannya. Dilihat dari kondisi Ibu serta janin Ibu, kalian sama-sama dalam kondisi sehat dan dalam kondisi baik yang tidak mengharuskan untuk melakukan aborsi. Jika boleh saya bertanya, apa kehamilan Ibu hasil dari pemerkosaan?", tanya Dokter Elsa. Ia bertanya demikian karena tau bahwa Raya belum menikah dan sejauh ini belum pernah mendengar kabar kalo model dihadapannya itu sedang menjalin suatu hubungan.
"Apa? Pemerkosaan? Bukan Dok, ini murni kesalahan saya dan kekasih saya yang lupa memakai pencegahan. Kami... emhh.. kami benar-benar belum siap Dok dengan kehadiran bayi ini!", jawab Raya sedikit gugup.
"Sekali lagi saya memohon maaf Bu, saya tidak bisa melakukan apa yang Ibu minta. Saya tidak mau melanggar kode etik sebagai Dokter kandungan, melanggar sumpah saya. Lebih baik Ibu dan kekasih Ibu membicarakan ini sekali lagi, bersama-sama mencari solusi yang baik yang tidak merugikan janin juga Ibu Soraya dan kekasih Ibu sendiri. Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan obat anti mual untuk Ibu, semoga Ibu mengkonsumsinya sampai pada saat Ibu sudah mengambil keputusan", ucap Dokter Elsa, kemudian Dokter Elsa mencatatkan resep obatnya.
Raya tak lagi bisa memaksa Dokter Elsa untuk melakukan keinginannya, tetapi ia juga bertekad untuk tetap menggugurkan kandungannya. Ia mulai harus mencari jalan keluar lainnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa like, comment sama vote nya. biar aku terus semangat nulisnya. Gak bosen juga aku buat minta maaf kalau masih banyak kekurangannya, maklum masih belajar menulis. Semoga syukaaaas yaaaa.. 🙏🙏😘😘
__ADS_1