
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
"Mau jalan kemana dulu?" tawar Abi usai mereka memeriksakan kandungan sang istri.
"Aku mau ke pemakaman sebentar, habis itu pulang ke mansion. Kakak mau antar dulu?".
"Siap sayang, kemanapun kamu mau pasti aku anter!" sahut Abi kemudian mulai menyalakan mobilnya.
Sesampainya di pemakaman, Hana langsung duduk di kursi yang menghadap arah ketiga makam anggota keluarganya setelah menaburkan bunga di atas pemakaman.
"Assalamualaikum Ayah, Ibu, Hani!" sapa Hana dengan senyum manisnya, namun tidak dengan matanya yang begitu mengisyaratkan kesedihan dan rasa kehilangan yang teramat sangat.
Hana lalu menghembuskan nafasnya berat dan lama, untuk kemudian kembali berucap menceritakan tentang kehamilan dan calon anak kembarnya dan sang suami dengan penuh suka cita.
Abi sendiri hanya ikut duduk di samping Hana dan terus menggenggam erat tangan mungil sang istri, sesekali dirinya juga mengusap-usap lembut punggung sang istri ketika mulai terlihat akan menangis.
Kurang lebih dua puluh menit mereka di sana dan setelah keduanya selesai memanjatkan doa untuk ketiganya, mereka pun memutuskan untuk segera pulang ke mansion.
"Makasih ya Kak udah mau anterin aku, Kak Abi pasti telat banget ke kantornya!" ucap Hana tak enak hati.
"Kamu lupa aku ini pimpinan di sana, bebas dong aku mau dateng jam berapa juga!" sahut Abi pongah sambil terus berkonsentrasi dengan kemudinya.
Mendengar ucapan sang suami yang berlebihan, Hana langsung mencibir kesal, "Pemimpin tuh harusnya jadi contoh yang baik buat bawahannya, bukan seenaknya begitu!".
"Iya sayang aku ngerti, lagian kan aku enggak sering-sering juga kok terlambat ke kantor".
"Iya, terlambat pulang yang sering!" sindir Hana yang entah mengapa moodnya sedikit menyebalkan kali ini.
"Kerjaan aku emang lagi bener-bener banyak banget sayang, aku sebenernya juga pengen pulang tepat waktu, tapi susah banget. Maaf ya!" ucap Abi memilih untuk bersabar menghadapi sikap ketus Hana.
Melihat sekilas ke arah sang istri yang terdiam, Abi memilih mengalihkan pembicaraan mereka. Dia pun teringat bagaimana pagi tadi Hana begitu mengungkapkan kebahagiaannya andai saja mereka dikarunia anak kembar laki-laki dan perempuan, tapi ternyata mereka justru dikaruniai dua jagoan.
"Kamu seneng anak kita dua-duanya jagoan?".
"Seneng lah, seneng banget!" jawab Hana dengan penuh semangat dan rasa bahagia yang tak bisa ditutupi.
"Aku kira kamu bakal sedikit kecewa pas tau anak kita dua-duanya jagoan?" selidik Abi hati-hati.
Hana langsung menatap penuh kebingungan ke arah suaminya, "kenapa harus kecewa?".
__ADS_1
"Ya kan pagi tadi kamu bilang kalo kamu berharap banget punya anak kembar sepasang, tapi ternyata apa yang kamu harapkan enggak sesuai".
"Oohh, itu kan cuma angan-angan aja Kak. Aku pun sama halnya kayak kamu, apapun jenis kelamin anak-anak kita aku bakal bersyukur banget yang terpenting semuanya sehat dan juga diberi kelancaran dan keselamatan pas lahiran nanti!".
Setibanya di mansion, Abi memilih hanya menurunkan istrinya, sedangkan dirinya langsung melajukan kembali mobilnya ke kantor.
"Assalamualaikum!!" sapa Hana ceria, biasanya Hana akan berlari-lari kecil memasuki mandion, akan tetapi karena kini perutnya sudah sangat besar membuatnya kesulitan melakukan kebiasaannya.
Hafidz yang sedang berada di ruang tengah langsung menghampiri cucu menantu kesayangannya tersebut setelah mendengar salam dari Hana.
"Wa'alayikumsalam cantiknya Kakek, apa kabar Nak?" tanya Hafidz langsung menggandeng lembut tangan Hana.
"Baik dong Kek, Alhamdulillah. Kakek sendiri apa kabar?".
"Baik juga, kalo cicit-cicit Kakek apa kabarnya?" Hafidz begitu bersemangat menanyakan kedua calon cicitnya.
"Baik banget Kek, makin aktif mereka di dalam!" jawab Hana tak kalah bersemangat.
Hana langsung menelisik setiap sudut mansion yang dilewatinya untuk mencari sosok Ibu mertuanya, "Mamah kemana Kek?".
"Ada di dapur lagi masak, Papa kamu katanya mau makan siang di rumah jadi minta dimasakkin ikan bumbu kuning. Kayaknya semenjak kamu hamil, justru Papa kamu deh yang ngidam!" seloroh Hafidz membuat Hana tergelak.
"Emang sering apa Kek Papa minta macem-macem?" tanya Hana penasaran.
Sesampainya di dapur, Hana langsung menghampiri Kinan yang sibuk mengaduk ikan bumbu kuning yang aromanya begitu menggugah selera.
"Mamah..!" sapa Hana merangkul lengan sang Mamah mertua.
"Sekarang senang bikin kejutan ya, datang enggak pernah ngabarin dulu. Kalo ngabarin dulu kan Mamah bisa masakin makanan kesukaan kamu, sayang!" sahut Kinan yang langsung menghentikan kegiatannya untuk menciumi wajah menantu cantiknya tersebut.
"Ini juga mendadak Mah, dari hotel aku ke rumah sakit buat check up bulanan si kembar. Terus ke pemakaman sebentar abis itu langsung deh ke sini, soalnya ada yang mau aku kasih tau ke semuanya!" Hana bergitu bersemangat ingin memberitahukan jenis kelamin si kembar.
Akan tetapi fokus Kinan justru pada kata hotel yang diucapkan menantunya, membuatnya bertanya-tanya darimana kah anak dan menantunya hingga berada di sebuah hotel.
"Hotel? Emang perusahaan lagi ada acara di hotel hari ini?".
"Bukan mah, aku sama Kak Abi abis nginep di hotel seberang kantor!" jawab Hana polos membuat Kinan makin kebingungan, untuk apa mereka sampai harus menginap di hotel.
"Kalian ngapain sampai harus nginep di hotel seberang kantor? Ada masalah emang di rumah kalian?" cecar Kinan membuat Hana tersadar jika dirinya baru saja keceplosan.
"Ehh, itu.. emhh..!" Hana tak berani menatap ke arah Kinan maupun Hafidz.
Melihat wajah sang menantu yang memerah, Kinan pun mengerti dan mencoba mencari jawaban sendiri agar tak membuat sang menantu merasa canggung, "si kembar pengen nginep di hotel ya?".
__ADS_1
Hana hanya tersenyum dengan semburat merah di wajahnya yang tak bisa dia tutupi.
Hana yang benar-benar merasa teramat sangat malu mencoba mengalihkannya dengan membantu Kinan mengaduk gantian ikan yang tengah dimasak.
"Itu udah Mateng sayang, tinggal disajikan aja!" ucap Kinan merasa lucu dengan tingkah malu-malu menantunya.
"Kalo gitu Hana bantu sajikan ya Mah?" sahut Hana yang terlihat gugup, sedang Kinan hanya mengangguk sambil terus mengulum senyuman.
Hana dikejutkan oleh rengkuhan hangat dari belakang tubuhnya serta sapuan bibir lembut di pipinya ketika dia tengah menata makanan di atas meja makan.
"Rajinnya istriku" ucap Abi mengusap-usap penuh kelembutan perut buncit Hana.
"Kak Abi kok balik lagi, enggak jadi ke kantor?" tanya Hana membalikkan tubuhnya untuk melihat sang suami.
"Tadi Papa telpon suruh aku balik ke mansion buat makan siang dulu, alhasil aku puter balik deh ke sini lagi!" jawab Abi yang sempat memanggut lembut bibir istrinya.
Hana mengangguk mendengar jawaban sang suami, dia pun langsung membelai rambut sang suami.
"Kamu udah kasih tau tentang si kembar?" tanya Abi yang sudah mendudukan dirinya di kursi makan untuk kemudian mencumi perut sang istri.
"Belum, nanti aja selesai makan siang pas semua pada kumpul!" jawab Hana yang tak bosan-bosannya terus membelai kepala sang suami.
"Aku mah penasaran sama Kakek reaksinya bakal kayak apa, yakin deh kalo Beliau tau pasti ada aja yang dikasih buat si kembar dan pastinya pemberian Kakek enggak kaleng-kaleng!".
Hana yang mendengar ucapan sang suami langsung dibuat gugup, sungguh rasanya ia tak enak hati untuk terus-menerus menerima hadiah dari sang kakek.
Bayangkan sejak Hafidz mengetahui jika Hana mengandung, setiap bulan ada saja hadiah yang diberikan olehnya.
Tak hanya membangun mini zoo dan taman bermain di sebelahnya, Hafidz juga membangun kolam renang khusus anak-anak dengan segala permainan air di sekitarnya saat usai acara empat bulanannya.
"Apa aku gak usah kasih tau aja ya jenis kelamin si kembar? Biarin aja jadi kejutan pas lahir nanti, jadi Kakek enggak ngasih macem-macem lagi!".
Sayang seribu sayang, ucapan yang baru saja Hana lontarkan berbarengan dengan kedatangan seluruh anggota keluarga yang bisa dipastikan mendengar perkataan Hana.
"Jadi kalian udah tau jenis kelamin cicit-cicit Kakek?" sontak suara sang Kakek membuat Hana terhenyak.
Alexander Abimanyu Raffan \= Pietro Boselli
Hana Almaira Puteri \= Dasha Taran
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=