
Saat ini Abi dan Irma sedang berada di ruangan Riana, sedang Kinan menunggui Hana yang belum juga sadar.
"Sekali lagi saya ucapkan turut berduka cita, semoga keluarga diberi keikhlasan..!" Ucap Dokter cantik itu tulus.
"Terima kasih Dok..!"Jawab Irma dan Abi bersamaan.
"Faktor keguguran di kehamilan dengan usia terlalu muda seperti Hana ini memang sering sekali terjadi, terlebih melihat background traumatis yang dialami Hana membuat perjuangan kehamilannya teramat berat. Ketakutannya terhadap semua yang berhubungan dengan dunia medis membuatnya semakin sulit menghadapi kehamilannya, fisik yang lemah serta mental yang rapuh benar-benar membuat Hana belum siap dengan sebuah kehamilan!" Terang Riana dengan berat hati.
"Beberapa hari terakhir ini saya lihat kondisi Hana semakin baik Dok, nafsu makannya juga mulai membaik meskipun masih ada mual dan muntah, saya sendiri gak pernah ngira kalo istri saya keguguran padahal keadaannya jauh lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya?" Ungkap Abi.
"Jika memang semua membaik, kemungkinan ada sesuatu yang memicu tekanan mental Hana drop mendadak. Mungkin Anda bisa mengingat suasana hati Hana sebelum kejadian?" Tanya Riana.
"Emhh.. Dari kemarin Hana sedikit rewel Dok minta ikut saya ke Bandung, tapi saya gak berani ajak karena kan dia memang harus bed rest. Apa masalah se simple itu bisa membuat Hana keguguran Dok?" Abi sebenarnya tak yakin dengan perkiraannya ini, tapi kondisi seperti inilah yang dijumpainya terakhir dengan Hana.
"Mungkin karena faktor kehamilannya membuat dia jauh lebih sensitif. Mungkin hal simple untuk kita, tapi tidak untuk Hana, kita tidak bisa mengabaikan hal sekecil apapun!" Jawab Riana.
"Apa Hana juga akan mengalami masalah yang sama jika suatu hari nanti dia hamil lagi Dok?" Kini Irma yang bertanya pada Riana.
"Saran saya untuk sementara Hana lebih baik menunda kehamilannya dulu hingga usianya bisa dibilang cukup siap, mungkin saat dia berusia 23 atau 24 tahun. Dan jika boleh saya sarankan juga, alangkah baiknya Hana menemui psikiater, melakukan terapi untuk mengatasi traumanya jadi saat suatu saat nanti dia hamil, dia jauh lebih siap dibanding sekarang!" Saran Riana yang diangguki oleh Abi dan Irma.
***
Abi menatap sendu wajah istrinya yang masih belum sadar juga, ia masih ingat betul rintihan Hana saat kesakitan.
"Ka, sakit Ka. Hana gak kuat!".
"Astaghfirullah, Allahu Akbar. Pulang Ka!".
__ADS_1
"Hana takut Ka, sakit banget perut Hana!".
"Pulang Ka, tolong Hana!".
Rintihan Hana dengan suaranya yang lirih dan tercekat masih sangat diingat oleh Abi, kata-kata yang terus berulang-ulang hingga akhirnya tak terdengar lagi masih berputar di otaknya, meninggalkan rasa perih dan penyesalan yang teramat dalam pada diri Abi.
Bagaimana tidak, ia yang seharusnya ada di sisi istrinya pada saat musibah itu terjadi justru tak bisa berbuat apa-apa dan hanya mampu memantau sang istri dari sebuah video di ponselnya.
"Maaf membiarkanmu berjuang sendiri menghadapi rasa sakit!" Ucap Abi tulus sambil terus membelai pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
Pelan tapi pasti, mata Hana mulai mengerjap dan terbuka sempurna. Meski masih dengan pandangan yang mengabur, Hana tetap mencoba menelisik tiap sudut kamar yang ditempatinya saat ini.
Abi yang melihat Hana sudah sadar langsung menekan bell untuk memanggil perawat, tak berapa lama 2 perawat datang menghampirinya.
"Ada apa Pak?" Tanya salah seorang perawat.
"Iya Pak sebentar sedang menuju ke sini!" Jawab perawat satunya lagi. Tak lama Riana pun datang dan langsung memeriksa kondisi Hana.
"Haus..!" Gumam Hana lirih, bahkan hanya Riana saja yang mampu mendengar gumaman Hana.
"Mau minum?" Tanya Riana ramah yang dijawab anggukan kepala oleh Hana.
"Kita angkat sedikit ya kepalanya..!" Pinta Riana sebelum menyodorkan gelas dengan sedotan untuk minum Hana.
"Pusing gak?" Tanya Riana lagi saat Hana selesai menuntaskan rasa hausnya.
"Pusing, Hana ngerasa lemes banget Dok!" Jawab Hana mulai terdengar suaranya meski masih pelan.
__ADS_1
"Istirahat ya, biar cepat pulih!" Perintah Riana lembut yang diangguki oleh Hana.
Terlihat Hana hanya menghembuskan nafas beratnya saat ia sadar kembali ke rumah sakit, ia terus menatap sekeliling kamar dengan raut wajah sedih yang seolah berkata, kanapa lagi?.
"Pelan-pelan saja memberitahukan Hana, ia belum sadar kalo sudah keguguran!" Bisik Riana pada Abi saat ingin keluar.
"Aku sakit lagi? Aku kenapa?" Tanya Hana pada suamimya yang saat ini sudah duduk di sisi ranjang.
"Ehh, Kaka udah dateng? Aku ..!" Tiba-tiba Hana terdiam saat ingatannya sedikit demi sedikit datang, mulai dari kepergian sang suami, kedatangan Raya dan rasa sakit kemudian darah membuat matanya mulai berkaca-kaca. Ada rasa takut saat memikirkan apakah semuanya tidak baik-baik saja, terlebih saat semua anggota keluarga bersamaan masuk ke dalam kamarnya.
"Dedek baik-baik aja kan?" Tanya Hana lirih sambil memegang perutnya, ia ingat sekali rasa sakit yang luar biasa lebih dari sebelumnya dan disusul dengan aliran darah yang keluar yang meluncur di sela kakinya.
Abi mulai terlihat bingung untuk menjelaskan kenyataan yang harus mereka terima, kenyataan pahit yang jelas-jelas akan lebih menyakitkan Hana. Ia pun menatap ke arah keluarganya berharap ada yang membantunya untuk menjelaskan pada Hana.
"Sayang, yang sabar ya. Dedek sekarang udah di syurga, dia udah jadi tabungan akhirat buat kamu dan suami kamu, ikhlaskan!" Ucap Irma yang mengerti Abi tengah kesulitan memberitahukan musibah yang mereka alami.
Hana hanya terdiam, namun air matanya sudah lolos begitu deras membasahi pipinya. Mulutnya terasa kaku, tak mampu berucap apapun. Ia pun memandangi wajah keluarganya dengan pandangan nanar.
"Semuanya akan baik-baik saja Sayang, kita masih punya banyak kesempatan untuk jadi orang tua. Sabar ya, aku tau ini menyakitkan sangat menyakitkan bahkan, tapi kita harus bisa ngelewatinnya!" Sahut Abi, ia terlihat sangat bingung bagaimana cara untuk menghibur istrinya.
"Innalillahi Wainalillahi Raji'un..!" Ucap Hana lirih dengan suara tercekat.
"Maafin Hana udah gagal mempertahankan Dedek, maafin Hana udah buat kecewa semuanya!" Lanjutnya masih dengan suara lirih dan tercekat.
"Gak ada seorang pun yang kecewa sama kamu Sayang, kita semua bangga sama perjuangan kamu buat Dedek. Kamu perempuan hebat dan pasti akan menjadi seorang Ibu yang hebat, kelak! Kamu udah berani melawan rasa takut kamu buat Dedek, bersabarlah Sayang. Kita semua bangga sama kamu!" Kinan memeluk tubuh lemah menantunya yang semakin terisak dengan tangisan paling pilu yang pernah ia dengar.
"Maafin Hana, Hana belum bisa bikin bahagia semua!" Ucap Hana sekali lagi di sela isakannya. Semua orang larut dalam kesedihan atas kehilangan yang menimpa Hana, kehilangan yang menimpa semuanya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=