
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Kini Abi berada di ruangan Leonard karena setelah selesai memeriksa Hana, Leonard langsung meminta Abi untuk ikut dengannya.
"Menurut saya ingatan Hana yang telah kembali justru membuat Hana tertekan secara kejiwaan, saya sudah menghubungi psikiater Hana dan Beliau sedang di perjalanan. Beliau yang lebih tau tentang keadaan Hana saat ini, kita bisa sama-sama mencari tau penanganan terbaik untuk Hana saat ini!" Ucap Leonard mengawali obrolan mereka.
"Tertekan secara kejiwaan, maksudnya Dok?" Tanya Abi bingung.
"Hana kemungkinan mengalami gangguan jiwa, dan kalo perkiraan saya benar Hana akan dipindahkan ke rumah sakit jiwa agar mendapatkan penanganan yang tepat!" Jawab Leonard dengan nada sedih.
"Ya Allah ..!" Abi benar-benar terkejut dengan apa yang baru ia dengar tentang istrinya.
"Ini semua perkiraan dari saya saja Mas Abi, untuk lebih jelasnya psikiater Hana yang lebih faham dan lebih berhak mendiagnosa kondisi kejiwaan Hana!" Ucap Leonard mencoba menenangkan Abi.
Abi tetap terlihat gusar meskipun Leonard mencoba berkali-kali menenangkan dirinya, ia benar-benar semakin dibuat jatuh dalam lautan penyesalan yang paling dalam karena akibat perbuatan dirinya lah Hana harus mengalami kondisi yang begitu memilukan.
Tak lama pintu diketuk oleh seseorang dan langsung diminta untuk masuk ke dalam karena yakin jika tamu tersebut adalah psikiater yang selama ini menangani Hana.
"Selamat sore..!" Sapa psikiater cantik itu yang diperkirakan seusia dengan Kinan, keduanya pun membalas sapaan psikiater bernama Dokter Diana.
"Apa kabar Dokter Leonard? Apa kabar Mas Abi?" Tanyan Diana menyalami keduanya. Setelah mendapatkan jawaban dari kedua laki-laki tersebut Diana pun mendudukan diri di kursi sebelah Abi.
"Saya sudah mendengar sedikit penjelasan tentang kondisi Hana dari Dokter Leonard, hanya saja saya ingin mendengar lebih jelas awal mula Hana mulai mengingat Anda?" Tanya Diana langsung ke pokoknya.
__ADS_1
"Entahlah Dok, saya tak tau moment mana yang membuat Hana tiba-tiba bisa mengingat saya__!" Abi menghela nafasnya berat sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
"Yang jelas sekembalinya saya dari kantor, Hana masih seperti biasa, masih ramah menyambut kedatangan saya. Dia juga begitu bersemangat dengan oleh-oleh yang saya bawakan untuk dia berupa cheesse cake__!" Abi sempat kembali terdiam, seperti kembali mencob mengingat-ingat apa saja yang ia lakukan sampai sebelum kembalinya Hana mengingat dirinya.
"Dan setelah saya memberikan cheesse cake untuknya, dia pun mulai menikmati cheese cakennya. Dan __ Ohh saat saya hendak mengganti pakaian kerja saya ke toilet, tiba-tiba ponsel saya berdering. Terpaksa saya mengurungkan niat saya berganti pakaian di toilet dan lebih memilih berganti pakaian di kamar, di hadapan Hana sambil terus berbicara dengan sekretaris saya!" Abi kembali terdiam.
"Saya ingat, ketika saya hendak membuka ikat pinggang saya Hana terus memperhatikan gerakan saya membuka ikat pinggang saya dan__ tiba-tiba Hana berteriak jika ia sudah mengingat saya sepenuhnya, dia kemudian mulai histeris dan sulit untuk ditenangkan..!" Lanjut Abi menejelaskan.
"Kalau saya tangkap dari cerita Anda kemungkinan ketika Hana memperhatikan Anda membuka ikat pinggang Andalah moment kembalinya ingatan Hana tentang Anda. Bukankah Hana menerima kekerasan fisik dari Anda dengan cara mencambukinya dengan ikat pinggang Anda, iya kan?" Penjelasan Diana jelas sangat masuk akal, membuat Abi hanya mampu terdiam menyesali segalanya.
"Gimana perubahan emosi selama Hana histeris? Maksud saya apa terjadi perubahan secara tiba-tiba dari histeris ke terdiam atau mungkin dari menangis ke tertawa?" Tanya Diana lagi setelah cukup lama mereka terdiam.
"Ya tadi sempat saya perhatikan Hana seperti itu, berteriak-teriak kemudian berbicara lemah, sempat menggebu-gebu tapi beberapa saat kemudian tertawa!" Jawaban Abi membuat Diana menghela nafasnya berat.
"Baik Mas Abi, terima kasih untuk informasinya. Akan saya pastikan lagi ketika saya memeriksa langsung Hana dan kemungkinan saya akan tetap di sini sampai Hana bangun nanti!" Ucap Diana mengakhiri obrolannya.
"Apa artinya ada sesuatu yang sangat serius tentang keadaan istri saya Dokter?".
"Saya belum berani memberi jawaban pasti tentang kondisi Hana, harap Mas Abi bersabar sampai Hana sadar dan saya periksa secara langsung!" Jawab Diana menjelaskan.
"Baik Dokter Diana, terima kasih. Saya mohon lakukan yang terbaik untuk istri saya!" Pinta Abi sungguh-sungguh.
"Pasti Mas Abi, pasti kami akan lakukan sebaik mungkin semampu kami!" Sahut Diana.
***
Pukul 10 malam, Hana mulai tersadar. Karena takut jika Hana akan histeris jika melihatnya, Abi memutuskan untuk menunggu Hana di luar sambil terus memperhatikan sang istri dari kaca di pintu masuk kamar perawatan Hana yang kini tengah ditemani oleh Kinan.
__ADS_1
Melihat Hana tengah dibantu sang Mamah untuk duduk, Abi langsung menghubungi Diana untuk membertahukan jika Hana sudah sadar.
Tak perlu menunggu lama, Diana pun sudah sampai di depan pintu ruang rawat Hana.
"Sudah dari tadi Mas Abi, Hana sadarnya?" Tanya Diana sedikit membuat Abi terkejut karena ia tengah fokus memperhatikan istrinya dari balik pintu.
"Belum terlalu lama Dok, sekarang sedang dibantu Mamah buat sholat!" Jawab Abi.
"Kalau begitu saya permisi masuk dulu ke dalam ya Mas Abi..!" Pamit Diana kemudian membuka pintu secara perlahan agar tak mengejutkan Hana yang sedang beribadah.
"Selamat malam Hana cantik, sudah sholatnya? Hana cantik apa kabarnya malam ini?" Sapa Diana penuh kelembutan.
"Ibu Dokter ke sini malam-malam, ada apa?" Bukan menjawab pertanyaan yang diajukan Diana, Hana justru heran dengan kedatangan Diana pada malam hari.
"Ada apa ya?? Emh.. Kayaknya Ibu Dokter kangen berat nih sama pasien cantiknya Ibu Dokter!" Jawab Diana jenaka membuat Hana tersenyum malu-malu, termasuk Kinan.
"Mamah Kinan boleh enggak Ibu Dokter curhat-curhatan berdua aja sama Hana yang malam ini cantik banget Ibu Dokter lihat!" Izin Diana yang langsung diangguki oleh Kinan.
"Kalo gitu Mamah keluar dulu yaa Sayang, Hana sama Ibu Dokter dulu. Mamah mau ngopi-ngopi dulu di cafetaria ya!" Pamit Kinan mengecup dahi menantunya.
"Nanti kalo Ibu Dokter pulang gimana Mah? Hana sendirian dong? Hana takut Mah..!" Rengek Hana.
"Tenang Cantiknya Ibu Dokter, nanti sebelum Ibu Dokter pulang, Ibu Dokter tunggu Mamah Kinan ke sini dulu ya!" Sahut Diana yang langsung diangguki setuju oleh Hana.
Setelah Kinan keluar dari kamar perawatan Hana, Diana pun duduk di atas ranjang yang disambut senyuman oleh Hana.
"Hari ini Hana cantik apa kabar? Ibu Dokter dengar, Hana Cantik udah ingat sama Kak Abi ya?" Pertanyaan Diana sontak langsung membuat Hana berubah tegang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=