
Hana tak menyangka kedatangannya begitu disambut antusian seluruh keluarganya, terlihat wajah orang-orang yang disayangi dan menyayanginya tersenyum hangat.
"Assalamualaikum..!" Ucap Hana lirih penuh haru.
"Wa'alaikumsalam, cantik!" Sahut semua serempak membuat Hana tersipu.
Meski tak selincah biasanya Hana tetap menghampiri satu per satu anggota keluarganya dan menciumi punggung tangan mereka, disusul Abi.
"Kok semua pada kumpul?" Hana sedikit heran, dihari sibuk justru semua berkumpul menyambutnya.
"Abi bilang kamu ke mansion jadi kita semua sengaja kumpul mau menyambut kedatangan calon bunda paling cantik di Indonesia!" Seloroh Kinan membuat Hana tersipu malu juga salah tingkah.
"Apaan sih Mah, berlebihan deh!" Kilahnya dengan rona merah yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
Hana berjongkok di depan Ibunya yang duduk di kursi rodanya, semenjak operasi terakhir kini Irma mau tak mau menggunakan kursi roda.
"Udah sehat? Maaf ya Ibu gak bisa banyak bantu ngurusin kamu sama dede!" Irma menatap sendu wajah cantik putrinya.
"Bantu doain Hana dan Dedek terus aja ya Bu, itu lebih dari cukup. Ibu juga harus sehat terus sampe Dedek lahir, Dedek sekolah, Dedek kuliah, Dedek kerja, Dedek nikah, Dedek punya anak..!" Pinta Hana dengan mata berkaca-kaca membuat Irma tersenyum simpul.
"Waduh berat dong itu, sampe Ibu punya cicit gitu?" Tanya Irma terkekeh lucu.
"Kenapa? Pokoknya Hana mau Ibu panjang umur, bisa nemenin Hana terus!" Rengek Hana.
"Iya, iya.. Aaminn!" Akhirnya Irma lebih memilih untuk mengalah, mengamini permintaan putrinya yang jelas tak bisa ia sanggupi mengingat kondisi dirinya sendiri.
"Hana sayang, sekarang kamu istirahat dulu ya di kamar. Baru pulang dari rumah sakit kan? Nanti jam makan siang Mamah panggil, hari ini Mamah mau masak gudeg dan temen-temennya lho. Abi bilang Hana pernah pengen nyobain gudeg buatan Mamah kan?" Usul Kinan sambil membantu menantunya untuk berdiri.
"Wahh, makasih ya Mah. Jadi gak sabar mau makan!" Sahut Hana bersemangat.
"Ya udah sekarang istirahat dulu ya, baru keluar dari rumah sakit jangan capek-capek dulu!" Ucap Kinan yang diangguki oleh Hana.
***
Di dalam kamar Hana langsung merebahkan diri di atas ranjangnya, disusul oleh Abi berbaring di sisinya.
Abi terus memandangi wajah istrinya yang tak sepucat kemarin-kemarin. Rona merah di pipi istrinya mulai terlihat lagi menandakan jika Hana sudah membaik dan tak merasakan sakit.
"Kenapa sih ngeliatin aku begitu, bikin grogi aja. Iya aku salah udah ngerjain Kaka, aku cuma mau ngasih hukuman buat Kaka kok! Imbang kan?" Gerutu Hana.
Bukan menjawab kekesalan istrinya Abi justru mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri, memangkas jarak antara mereka, kemudian mulai mencium lembut bibir Hana.
Abi melihat tak ada penolakan pun mulai mel*mat bibir istrinya. Mereka saling mel*mat, menyesap penuh kelembutan.
"Sehat terus yaa, aku sedih kalo kamu sakit!" Ucap Abi saat melepas ciumannya, Hana hanya mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Abi mendudukan dirinya dan meminta Hana untuk duduk di atas pangkuannya, Hana dengan senang hati menuruti permintaan suaminya itu.
Ia langsung duduk di atas pangkuan suaminya, melingkarkan tangannya di leher sang suami, memeluk erat dan menghirup aroma tubuh suaminya yang sudah menjadi candunya.
"Geli Hana!" Keluh Abi saat Hana terus menerus menghirup sela leher suaminya.
"Bau kamu enak, aku suka!" Sahut Hana masih terus menghirup dengan rakus aroma maskulin suaminya membuat Abi terkekeh geli.
"Kamu ngusik ketenangan perkasa, Hana!" Ucapan Abi seketika membuat Hana menghentikan kegiatannya.
Hana pun bisa merasakan milik suaminya yang mulai mengeras. Hana yang masih gugup langsung ingin beranjak dari atas pangkuan sang suami, namun pergerakan Hana terhenti saat kedua tangan Abi menahan pinggang Hana.
"Hayoo tanggung jawab!" Goda Abi membuat Hana menatap gugup suaminya.
Melihat Hana yang hanya diam menatapnya, Abi langsung melancarkan kecupan-kecupan ke seluruh wajah istrinya.
Tak puas dengan kecupan, Abi juga langsung mencium bibir Hana, menyesap dan juga mulai mel*matnya lagi dengan sangat lembut hingga akhirnya Hana terbuai dengan perlakuan suaminya.
Tanpa melepaskan ciumannya sama sekali, Abi membuka kancing kemeja bermotif bunga istrinya dan melepaskannya.
Ciuman Abi mulai turun ke rahang dan sela leher istrinya, menggigit kecil dan meninggalkan jejak kepemilikannya di sana.
Tangan Abi terus bergerilya di atas dada Hana yang menurutnya semakin menantang saja. Meraba, meremas tanpa melepas sesapan di sela leher istrinya.
Tanpa membuka kaitan bra istrinya, Abi mengeluarkan dua benda favoritnya yang selama ini ia rindukan, menyesapnya, mengul*umnya dan memilinnya bergantian membuat Hana semakin menjambak kencang rambut suaminya untuk menyalurkan rasa nikmat yang juga ia rindukan.
Abi menatap wajah istrinya yang saat ini sama-sama tengah tersengal-sengal akibat perbuatan mengasyikan mereka.
Saling menatap dengan tatapan sayu membuat Abi sadar jika kondisi istrinya belum sehat untuk melakukan lebih, terlihat dari wajah yang mulai kembali pucat dan keringat yang keluar berlebihan kepala dan tubuh istrianya, bahkam membuat rambut Hana lepek karena terlalu banyak.
Abi mengecup sekilas bibir istrinya kemudian tersenyum sambil memasukan kembali dada istrinya ke dalam kain pelindungnya membuat Hana mengernyitkan dahi bingung dengan tingkah suaminya.
"Tunggu kamu bener-bener pulih dulu ya, aku gak mau kamu drop lagi!" Ucap Abi dengan suara serak, Hana hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Abi mengambil kembali kemeja istrinya untuk dipasangkan ke tubuh istrinya, namun Hana menolak. Hana ingin menggantinya dengan pakaian rumahan yang lebih nyaman.
Ia kemudian bangkit dari pangkuan suaminya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena merasa tubuhnya masih mengeluarkan bau rumah sakit yang sangat kuat membuatnya tak nyaman.
Selesai merapikan dirinya, Hana kembali ke atas ranjang disambut dengan senyuman Abi.
"Maaf ya Ka!" Ucap Hana dalam dekapan Abi.
"Untuk?" Tanya Abi tak mengerti.
"Kondisi aku yang belum bisa diajak kerja sama!" Jawabnya malu-malu, Abi hanya menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Berarti kalo udah bisa diajak kerja sama double rounde yaa!" Hana langsung mencapit pinggang suaminya saat mendengar selorohan sang suami.
Abi menatap penuh sayang pada Hana sebelum mengecup bibir istrinya lagi.
"Cantik!" Pujinya.
"Idihh pinter ngegombal sekarang!" Cibir Hana membuat Abi tergelak.
"Kamu istirahat ya, aku mau mandi. Mau siap-siap Jum'at an!" Ucap Abi sebelum beranjak dari atas ranjangnya.
"Ahhh, makin cinta deh sama suami aku yang mulai soleh!" Puji Hana, Abi yang mendengar celotehan istrinya hanya mengedipkan sebelah matanya genit.
***
"Tidur?" Tanya Irma saat memasuki kamar puterinya yang sedang merebahkan diri di atas ranjang.
"Ibu? Hana baru bangun kok! Kok Ibu bisa naik?" Hana langsung mendudukan dirinya untuk menyambut kedatangan sang Ibu.
"Diantar Mbak perawat nih, tadi pakai lift. Mbak boleh keluar dulu, nanti saya panggil lagi kalo saya udah selesai ngobrol sama anak saya. Makasih ya Mbak!" Perawat bernama Tiara itu pun mengangguk sopan lalu permisi keluar.
"Ibu kangen, mau ngobrol sama kamu. Boleh kan?" Pinta Irma membuat Hana tertawa lucu.
"Boleh lah Bu, kita ngobrol di balkon aja yuk. Udara sama anginnya lagi enak nih Bu!" Ajak Hana, kemudian hendak mendorong kursi roda Ibunya.
"Enggak usah didorong sayang, ini elektrik kok!" Cegah Irma.
Hana membawa tas minimarket berisi camilan-camilan yang tadi dibelinya sebelum ke mansion.
"Udah gak eneg lagi sekarang?" Tanya Irma saat melihat anaknya dengan lahap memakan camilan biskutnya.
"Kadang Bu, tapi kata Dokter Riana tetep harus dipaksa makan biar sedikit-sedikit juga. Ibu mau?" Tawar Hana.
"Enggak sayang, makan biar Dedek makin kuat di dalam sana!" Tolak Irma.
"Enak lho Bu, mau ya!" Pinta Hana lagi sedikit memaksa, Irma pun tak kuasa menolak ia mengambil 1 keping biskuit kelapa yang tengah dinikmati anaknya itu.
"Ada yang mau kamu ceritain sama Ibu?" Tanya Irma, Hana hanya terdiam bingung memandang lekat wajah Ibunya.
"Tentang kehamilan kamu?" Lanjutnya lagi.
"Hana takut Bu!" Jawab Hana lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Irma bahkan Abi yang berdiri di balik pintu balkon baru saja pulang sholat Jum'at dari masjid juga masih bisa mendengarnya.
"Kenapa?" Tanya Irma memegang erat tangan puterinya seakan ingin menyalurkan kekuatan untuk sang puteri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1