My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Kontraksi


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


Sepanjang malam, setiap satu sampai dua jam sekali Hana terus saja terbangun karena merasa ingin buang air besar, tetapi selalu tidak jadi.


Abi sendiri sebenarnya merasa khawatir dengan keadaan sang istri, terlebih saat tidur pun Hana terlihat gelisah.


"Masih sakit perutnya?" tanya Abi usai mereka melaksanakan sholat subuh bersama.


"Sekarang udah enggak, tadi sempet sakit sebentar. Aku kayaknya salah makan deh kemaren makanya enggak enak gini perut aku!" terka Hana sambil membuka mukenahnya, sedang Abi sendiri telah merapikan sendiri perlengkapan ibadahnya.


Dengan hati-hati Abi menggenggam tangan sang istri untuk membantunya berdiri dan membawanya ke atas ranjang.


"Apa karena semalem aku terlalu heboh ya, jadi anak-anak protes sekarang?" tebak Abi ngelantur.


"Masa sih? Biasanya enggak kok, kan semalem bukan pertama kalinya kamu minta nambah selama aku hamil?" Abi langsung tertawa mendengar pernyataan polos istrinya, namun kemudian kembali dilanda kekhawatiran saat Hana meringis lagi.


"Sakit lagi?".


"Iya, tapi pasti sampe toilet enggak keluar!" keluh Hana.


"Apa kamu lagi ngerasain kontraksi ya?" tebak Abi teringat perkataan Dokter Riana akhir-akhir ini yang menjelaskan tentang tanda-tanda akan melahirkan.


"Tapi enggak ada lendir atau pun darah yang keluar kayak yang dibilang Dokter Riana?" elak Hana, meskipun begitu terlihat guratan kekhawatiran di wajahnya.


"Tanya Mamah aja ya?" usul Abi, namun Hana langsung menggeleng tak setuju.


"Jangan dulu, nanti malah buat khawatir. Nanti kalo tanda-tanda lainnya muncul baru kita bilang ke Mamah. Lagian aku mau tidur lagi Kak, ngantuk banget!".


Abi pun setuju dengan apa yang diucapkan oleh sang istri, apalagi dia sendiri menyaksikan bagaimana semalam tidur sang istri begitu gelisah juga beberapa kali harus terbangun untuk ke toilet.


"Ya udah kamu tidur gih, nanti aku bangunin pas sarapan!".


Hana langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dalam posisi miring sesuai anjuran Dokter Riana, sedang sang suami juga ikut merebahkan dirinya untuk memeluk Hana dari belakang sambil tangannya mengusap-usap lembut perut buncit Hana.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Hana pun akhirnya sudah terlelap membuat Abi langsung beranjak dari atas ranjang untuk bersiap-siap ke kantor.


Selagi merapikan dirinya, Abi sesekali menatap ke arah sang istri yang masih meringis beberapa kali dan juga wajah yang terlihat pucat serta bulir keringat yang menghiasi wajah cantiknya padahal pendingin di dalam kamar cukup dingin.


Abi sempat mengecek beberapa dokumen sambil menunggu waktu untuk sarapan untuk membangunkan sang istri agar bisa ikut sarapan bersama.


Tepat pukul tujuh, Abi membangunkan Hana meskipun tak tega karena Hana terlihat sangat pulas.


"Sarapan dulu yuk, nanti lanjut lagi tidurnya!" ajak Abi saat Hana sudah terbangun.


"Perutku lagi enggak enak Kak, aku males sarapan!" tolak Hana.


"Kasihan anak-anak lapar nanti mereka, aku bawa ke kamar ya kita sarapan di kamar!" bujuk Abi, bersyukur Hana menyetujuinya.


Abi langsung bergegas ke ruang makan untuk mengambil sarapan untuk mereka berdua ke kamar.


"Lho Hana mana Bi?" tanya Kinan melihat Abi datang seorang diri.


"Dari malem dia ngeluh sakit perut Mah katanya kemarin salah makan, makanya bolak balik ke toilet tapi enggak keluar katanya!" jawab Abi sambil mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Kinan tiba di kamar Hana berbarengan dengan Hana yang juga keluar dari toilet sambil memegang perutnya.


"Abimanyu bilang dari semalem perut kamu sakit?" tanya Kinan membantu memapah menantu cantiknya.


"Iya Mah, mules tapi sampe toilet gak keluar! Barusan juga keluar lendir cuma enggak ada darahnya kayak yang dibilang Ibu Dokter!" jawab Hana.


"Tapi itu juga salah satu tanda kalo kamu mau melahirkan, sayang," sahut Kinan membelai lembut perut Hana yang terkadang terasa lebih kencang.


Hana sedikit terhenyak, dia bingung apakah dia akan bisa melahirkan anak kembar melalui persalinan normal, "apa bisa normal Mah kalo melahirkan anak kembar?".


"Sekarang kita ke rumah sakit dulu ya, nanti kita tanyakan Ibu dokter bagaimana baiknya!" ajak Kinan yang langsung diangguki oleh Hana.


"Kalo gitu Hana ganti baju dulu ya Mah!".


Saat menanti sang menantu berganti pakaiannya, Kinan yang sedangkan mempersiapkan apa-apa saja yang perlu di bawa ke rumah sakit tersenyum ketika melihat Abi masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan sarapan mereka.


"Hana mana Mah?" Abi mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya.

__ADS_1


"Lagi ganti baju. Kayaknya Hana sudah mau melahirkan!" Abi langsung membelalakkan matanya seraya berteriak tak percaya.


"MELAHIRKAANNN!!!".


"Iya, sepertinya sakit perut istri kamu itu bukan karena salah makan atau apalah, tapi karena sedang mengalami kontraksi" lanjut Kinan menjelaskan.


"Terus gimana Mah?" tanya Abi mulai panik.


"Gimana apanya? Ya bawa ke rumah sakit lah!" salak Kinan kesal melihat Abi yang seketika berubah bodoh ketika panik.


"Iya ke rumah sakit, tapi apa bisa melahirkan anak kembar dengan persalinan normal?" Abi benar-benar tak bisa menutupi kekhawatirannya.


"Itu nanti kita konsultasikan ke Dokter Riana bagaimana baiknya, yang terpenting Hana dibawa terlebih dahulu buat mengetahui kondisinya dan anak-anak kalian!".


Abi hanya terus menganggukan kepalanya, dia pun sesekali menatap pintu walk in closet berharap agar Hana segera keluar dari ruangan tersebut.


"Kamunya jangan panik, nanti yang ada Hana bakal ikutan panik. Saat ini Hana sedang sangat membutuhkan kamu, jadi kamu harus bisa diandalkan!" saran Kinan tegas, sedang Abi hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu sendiri enggak ada meeting penting kan? Bisa kan menemani Hana?" tanya Kinan memastikan.


"Bisa diwakilkan sama Daniel, Mah!" jawab Abi dan langsung menghubungi sahabatnya itu untuk memintanya menghandle pekerjaannya sementara waktu.


Hana terlihat cantik mengenakan dress baby doll berwarna biru muda, meskipun wajahnya mulai terlihat pucat.


Abi sendiri dengan sigap langsung menghampiri istrinya untuk menggandeng sang istri.


"Kita ke rumah sakit ya, kata Mamah kamu itu lagi kontraksi!" ucap Abi yang diangguki oleh Hana.


"Tapi sebentar ya, perut Hana mules lagi, pinggang belakangnya juga mulai kerasa panas dan pegal!" sahut Hana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Abi pun langsung mengelus dan memberikan pijatan lembut di area belakang pinggang Hana untuk mengurangi sedikit perasaan tidak nyaman yang sedang istrinya rasakan saat ini.


Setelah beberapa saat dirinya mulai bisa menguasai diri juga rasa sakit yang mereda, Hana langsung mengajak sang suami dan Ibu mertuanya untuk ke rumah sakit.


Rendra dan Hafidz ternyata juga sudah bersiap untuk mengantarkan perempuan mungil kesayangan mereka untuk pergi ke rumah sakit. Mereka begitu bersemangat untuk menyambut dua anggota keluarga baru yang akan segera lahir dari rahim Hana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2