My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Maunya Nyonya Abimanyu


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


Waktu terus berjalan, tanpa terasa kini kandungan Hana telah berusia empat bulan. Acara syukuran empat bulanan pun dirayakan besar-besaran oleh keluarga, meski sempat diprotes oleh Hana yang sebenarnya hanya menginginkan acara sederhana tetapi dengan berbagai alasan yang dilontarkan oleh anggota keluarga terlebih Hafidz, pada akhirnya Hana hanya mampu mengalah dan mengikuti keinginan keluarga besarnya.


Selama perjalanan kehamilannya sampai ke empat bulan Hana pun mengalami kondisi yang naik turun, tapi karena Hana jauh lebih siap menghadapi kehamilannya kali ini semua bisa dilalui dengan lebih mudah daripada kehamilannya yang sebelumnya.


Abi sendiri meskipun makin disibukkan dengan pekerjaannya, tetapi seakan jiwa kebapakannya telah terbentuk ia tetap menjadi suami siaga yang selalu siap memenuhi kebutuhan sang istri juga menuruti semua yang istrinya mau disaat ngidam.


"Kakek mah bener-bener ya!" gerutu Hana malam seusai acara empat bulanan digelar.


"Kenapa sih emang?" tanya Abi sambil mencubit pipi Hana yang semakin berisi saja, memang Hana lebih berisi sekarang terlebih karena dia mengandung bayi kembar membuat perutnya lebih besar dari usia kandungan empat bulan.


"Semuanya tuh harus serba wahh tau enggak sih, aku kan jadi enggak enak hati Kak!" keluh Hana.


"Nyantai aja sih, namanya juga menyambut cucu dan cicit pertama keluarga Raffan jadi mereka mau semuanya yang terbaik buat anak-anak kita!" jawab Abi yang tak henti-hentinya mengusap perut buncit Hana.


"Iya aku ngerti Kak, tapi lebay enggak sih? Aku aja masih syok sama ulah Kakek yang diem-diem bikin taman bermain di samping mini zoo!".


Karena memang saat kebun binatang mini yang Hana inginkan telah selesai, Hana langsung diajak oleh Abi untuk kembali ke rumah mereka untuk beberapa hari.


Dan saat kembali lagi ke Mansion Hana dikejutkan dengan taman bermain yang lengkap dengan berbagai arena dan wahana permainan sudah rapi.


"Namanya juga buat bayi-bayi Sultan, gitu deh!" sahut Abi kemudian berjongkok untuk menciumi perut Hana.


"Dua hari lagi mungkin aku berangkat lagi ke Bali, buat visit terakhir sekalian peresmian hotel, cottage, resort, villa dan beberapa cafe, restauran, club dan bar yang akan mulai dibuka. GrandPa juga bakal hadir di sana, mumpung dia di Indonesia!".

__ADS_1


"Aku boleh ikut enggak sih? Kan udah empat bulan, pasti aku sama anak-anak udah kuat naik pesawat?" pinta Hana penuh harap.


"Enggak bisa Sayang, kan Dokter Riana bilang kamu enggak bisa ikut penerbangan dulu karena riwayat keguguran yang pernah kamu alami!" ucap Abi selembut mungkin karena memang setiap Hana merengek ingin ikut keluar kota dan tak diiyakan oleh suaminya dipastikan Hana akan menangis.


Dan benar saja, penolakan Abi langsung membuat mata indah Hana berkaca-kaca dan Abi pun sudah menduganya.


"Berapa lama Kakak di sana?" tanya Hana dengan suara tercekat.


"dua sampe tiga mingguan, mungkin bisa sampe sebulan juga karena Grandpa minta aku ngawasin sementara perkembangan di sana!" jawab Abi ragu-ragu.


"Lama banget sih?" salak Hana kesal dengan mata melotot.


"Habis gimana Sayang, kan banyak yang aku kerjain bukan satu tempat aja. Sebulan itu udah waktu yang aku buat secepat mungkin lho, supaya aku bisa balik ke Jakartanya juga cepat. Aku enggak mau ninggalin kamu lama-lama dan juga pekerjaan di sini!" Abi mencoba memberi pengertian istrinya yang mulai diliputi kemarahan.


"Secepat mungkin kok sebulan, itu tuh lama tau! Udah ahh, aku mau ganti baju. Mau tidur!" ketus Hana kemudian meninggalkan Abi begitu saja yang masih berjongkok di depannya.


"Langsung tidur? Enggak jadi ditengokin anak-anak? Katanya minta ditengokin?" teriak Abi menggoda sang istri yang sudah masuk ke dalam walking in closet.


Akan tetapi Abi adalah Abi, dia akan selalu berhasil membuat sang istri pada akhirnya tunduk di bawahnya.


Dengan masih mengatur nafasnya, Abi langsung menarik tubuh polos yang semakin berisi ke dalam pelukannya. Begitu pula Hana yang langsung mencari posisi ternyaman di dalam dekapan suaminya.


"Kamu sampai kapan sih bolak-balik Jakarta Bali?" tanya Hana lebih ke menggerutu.


"Ini yang terakhir aku ke sana, sesudahnya anak-anak di Bali yang ngurus semuanya!" jawab Abi mengusap dahi Hana yang masih berkeringat.


"Pokoknya lahiran nanti aku mau ditemenin Kakak, Kakak enggak boleh kemana-mana kalo mendekati lahiran!" perintah Hana tegas, untuk kemudian memejamkan matanya.


***

__ADS_1


Sebulan setelah dari Bali, Abi memang sudah kembali ke Jakarta. Akan tetapi bukan berarti kesibukannya berkurang, ia justru dibuat semakin sibuk bahkan sering sekali lembur.


Hana yang sebenarnya kesal tetap mencoba untuk mengerti, karena toh apa yang suaminya lakukan juga demi untuk dirinya dan calon anak-anak mereka.


Dan dikarenakan kesibukan sang suami yang tak ada jedanya sama sekali, Hana memutuskan untuk tinggal di Mansion agar tidak merasa kesepian, dia juga meminta kedua asisten rumah kesayangannya Imah dan Dewi untuk ikut sementara waktu kembali ke Mansion.


Dan Sabtu pagi ini Hana kembali bersungut setelah suaminya mengatakan harus ke kantor juga karena ada beberapa hal yang mesti dikerjakannya. Padahal dua hari yang lalu sang suami berjanji jika weekend ini akan mengajaknya kemana pun dirinya inginkan.


Berkali-kali Abi mencoba meminta maaf dan merayu Hana dengan beberapa hal, tetapi ternyata tak berhasil sama sekali. Hana yang sudah terlanjur marah dan kesal bahkan enggan mengantarkan suaminya ke pintu utama untuk melepaskan keberangkatan sang suami seperti biasanya.


"Mah..!" sapa Hana saat melihat Kinan sibuk di dapur.


"Mau makan sekarang Sayang?" tawar Kinan langsung karena memang pagi tadi Hana melewatkan sarapannya.


"Masak apa?" tanya Hana yang sudah kelaparan.


"Ayam bakar madu, tumis kangkung, ada tahu-tempe bacem sama sambal terasi. Sesuai request an kamu semalam!" Kinan tersenyum melihat wajah Hana yang terlihat tergoda dengan makanan yang didiktekannya tadi.


"Makan lesehan di taman belakang yuk Mah, pasti seru!" ajak Hana tiba-tiba.


Melihat senyuman penuh harap dari menantu kesayangannya, Kinan tak sampai hati untuk menolaknya. Meskipun di luar sangat panas, beruntung Hafidz sempat membuat ruangan terbuka, namun beratap yang cukup luas di tengah taman.


Dengan semangat Hana mengajak beberapa asistennya untuk membantunya menggelar tikar di sana.


"Kayaknya kita harus pesen makanan kayak gini lagi dari restauran, Nyonya Kinan!" bisik Imah yang tau betul jika majikan kecilnya ingin makan lesehan pasti mengajak semua pekerja di mansion untuk ikut makan bersama.


Karena memang Kinan hanya memasak makanan yang diperuntukan untuk keluarganya saja, sedangkan para pegawai yang bekerja di mansion sudah ada bagian dapur yang memasakkannya sesuai jadwal yang sudah dibuat, karena tak mungkin Kinan memasak untuk seluruh penghuni mansion.


"Kalo begitu, bilang bagian dapur untuk memesan makanan yang sama dari beberapa restauran. Makan siang kali ini kita ikuti maunya Nyonya Abimanyu!" sahut Kinan jenaka yang disambut beberapa asisten yang berada di sana dengan tawa.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2