My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Perubahan


__ADS_3

Wajah Hana masih saja tidak tidak bersahabat pada suaminya, dirinya benar-benar dibuat kesal oleh sang suami yang seenaknya saja memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuan dirinya.


Setibanya ia di apartemen, tak lama Angga pun datang. Awalnya ia menyambut gembira kedatangan sahabat sekaligus manajernya itu, namun saat Angga menjelaskan tentang re schedule kegiatannya karena dalam dua minggu ke depan Hana di off kan dari semua kegiatannya.


"Siapa yang suruh aku ngosongin jadwal selama dua minggu sih?" Protes Hana saat mereka bertiga tengah berada di meja makan.


"Suami kamu Dek, lagian Mas juga setuju sama suami kamu. Kamu butuh waktu buat istirahat!" Jawab Angga yang memang menganggap Hana seperti adiknya sendiri.


"Ya tapi gak sampe dua minggu dong, kelamaan tau!" Protes Hana lagi yang kini tengah menatap tajam suaminya, sedang sang suami tetap asyik melahap makan siangnya.


"Ya gak masalah, biar kamu full rest. Sekalian kan kita juga mau jadwalin konseling dan terapi kamu ke psikiater, biar fokus! Lagian dengan tangan yang masih diperban gitu, apa gak bakal ganggu kegiatan kamu. Udah kamu nurut aja sama suami!" Ucap Abi yang mengerti jika sang istri tengah merajuk, menuntut penjelasan atas keputusannya.


"Tapi kan..?" Hana tetap ingin protes dengan keputusan sepihak suaminya.


"Tetep mau protes? Pokoknya aku gak mau dibantah, kamu harus nurut sama aku mulai sekarang. Oke?" Tegas Abi membuat Hana mencebik tak suka.


Sedang Angga lebih memilih untuk diam saja dan fokus dengan makan siangnya, ia tahu jika Hana tipe gadis keras kepala dan ia yakin sekali kalo perdebatan antara suami istri di depannya akan sangat panjang dan lama.


Benar saja, sepanjang acara makan siang berlangsung Hana dengan sengaja menghentak-hentakan sendok dan garpunya dengan keras hingga berbunyi nyaring saat beradu dengan piring.


Abi hanya terkekeh melihat tingkah istri manjanya itu, sedang Angga dibuat cukup ketar ketir dan tidak nyaman karena terus saja dilihat oleh Hana dengan tatapan menghunus.


Selesi makan siang, Angga memilih berpamitan pulang. Sedang kini Hana tengah berada di kamarnya bersamaan dengan sang suami yang tengah merapikan obat-ibat Hana di atas nakas.


"Masih marah?" Tanya Abi yang melihat Hana terus saja mengerucutkan bibirnya.


"Menurut Kak Abi?" Ucap Hana balik bertanya dengan nada ketus dan kesal.


"Ya ampun Hana, ini juga buat kebaikan kamu sayang!" Desah Abi menanggapi kekesalan istrinya.


"Yaaa tapi gak sampe dua minggu dong Kak, kelamaan. Mau apa aku selama dua minggu coba?" Protes Hana mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Kan aku juga libur kerja, bakal nemenin kamu kok!" Sahut Abi.


"Iya, tiga hari doang. Sisanya? Aku bisa bosen Kak di rumah tanpa kegiatan!" Ucap Hana lagi tetap pada pendiriannya.


"Kita kan mau konsul ke psikiater Hana, paling gak selama kamu off kamu bisa konsen sama pengobatan kamu! Pokoknya aku gak mau ada perdebatan lagi, kamu harus ikutin tiap aturan yang aku buat, oke!" Tegas Abi.


Hana yang mendengar perintah Abi dengan gerakan cepat langsung tidur membelakangi suaminya, ia begitu kesal dan merasa di kekang dengan keputusan sang suami, namun tak mampu untuk menolak ketika dengan tegas Abi tak mau dibantah.


"Nih, minum obatnya dulu abis itu baru tidur!" Ucap Abi menyodorkan obat di genggaman tangannya.


Dan dengan tanpa protes Hana langsung bangun menerima obat yang diberikan suaminya kemudian meminumnya.


***


Empat bulan sudah semenjak kejadian itu, mereka melalui hari-hari seperti biasa. Abi yang semakin sibuk dengan pekerjaan kantornya, bahkan kini namanya sudah berjajar di top ten pengusaha sukses berusia muda di asia, serta pertama di Indonesia membuatnya makin disegani di dunia bisnis.


Sedang Hana selain masih sibuk syuting dan kegiatan lainnya menyelesaikan sisa kontrak kerjanya sebelum benar-benar berhenti dari dunia hiburan sesuai perintah sang suami, kini juga disibukan dengan terapi dan pengobatan kejiwaannya untuk menghilangkan trauma masa kecilnya.


Ia ingin menjadi Hana seperti yang orang-orang ia sayangi inginkan, bukan Hana yang terbelenggu dengan masa lalu hingga membuat dirinya berkali-kali terpuruk hingga membuat orang-orang yang menyayanginya ikut sedih.


Terbukti selama empat bulan menjalani pengobatan kejiwaannya Hana menjadi sosok yang bahagia, ceria bahkan ia mulai tak takut dengan apapun yang berhubungan dengan dunia medis, meskipun belum sepenuhnya.


Secara fisik pun banyak perubahan pada tubuh Hana yang kini lebih berisi dari sebelumnya, membuat Abi semakin jatuh cinta pada perubahan sang istri.


"Kakak rese ihh!" Gerutu Hana saat ia baru saja ditaklukan oleh suaminya di sofa ruangan kantor sang suami.


Hana memang sengaja mampir ke kantor sang suami disaat menjelang sang suami pulang kerja. Namun tak disangka, ia justru diajak berpetualang di ruangan sang suami tanpa bisa menolak sama sekali, as always.


"Sorry, abis kangen!" Sahut Abi sambil kembali memakai pakaiannya kembali, begitu pula Hana sibuk merapikan dirinya yang benar-benar berantakan.


"Kangen sih kangen, tapi gak di sini juga kali Kak kalo ketahuan bawahan kamu nanti gimana? Malu tau!" Protes Hana.

__ADS_1


"Gak mungkin ketahuan lah, ini kan udah jam pulang. Lagian gak bakal ada yang berani masuk tanpa seizin aku!" Elak Abi membela diri.


"Kamu mah emang gak terbantahkan ya!" Sindir Hana mengerucutkan bibirnya kesal.


"Tapi seru kan, sensasinya mantap bercinta di kantor!" Seloroh Abi tak tahu malu, membuat Hana langsung melemparkan bantal sofa ke arah suaminya yang justru disambut gelak tawa Abi.


"Udah mau jam sembilan, ayo pulang Kak!" Ajak Hana, beruntung mereka telah melaksanakan kewajiban mereka sebelum ide gila Abi untuk melepas hasrat di ruang kerjanya.


"Enggak mau makan malam di luar dulu?" Tawar Abi.


"Enggak ah, aku mau langsung pulang. Mau mandi di apartemen, badan aku gak nyaman!" Hana dan Abi memang hanya berwudhu sebelum mandi wajib mensucikan diri setelah melakukan hal yang menyenangkan.


Sebenarnya ruangan Abi memiliki toilet yang cukup lengkap, tapi Hana enggan membersihkan diri di sana terlebih ia tak membawa pakaian ganti membuatnya memutuskan untuk mandi di apartemennya.


"Besok aku bakal sediain beberapa pakaian kamu di kantor, jadi kalo kita selesai tempur kita bisa langsung membersihkan diri tanpa pulang ke apartemen!" Ucap Abi.


"Kakak masih mau main di sini? Ishhh..!" Hana benar-benar tak habis fikir dengan isi otak suaminya.


"Jaga-jaga sayang, jaga-jaga!" Seloroh Abi membuat Hana mendelikan matanya.


"Aku gak mau ke sini lagi deh kalo gitu!" Ancam Hana.


"Enggak bisa gitu dong, enak aja gak ke sini lagi. Harus ke sini lah, aku seneng kalo kamu sering-sering ke kantor. Otak aku langsung fresh kalo kamu dateng pas kerjaan aku banyak, tega amat kamu!" Rajuk Abi.


Melihat sang suami merajuk seperti anak kecil membuat Hana tertawa gemas.


"Gimana aku gak semakin cinta coba sama kamu Kak, gemesin banget!" Ucap Hana mencubit cuping hidung mancung suaminya yang tengah menekuk wajahnya.


Namun tanpa diduga Abi justru kembali menyerang bibir ranum istrinya. Tak mau terbawa arus yang melenakan Hana dengan cepat mengakhiri ciuman mereka lalu bangkit dari belitan tangan kekar suaminya.


"Ayo pulang, jangan macem-macem!".

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2