My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Ratusan "M"


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, kini tujuan Abi adalah kantor Rendra. Sebelum menuju ke sana Abi sempat menanyakan pada Rendra apakah dirinya masih ada di kantor, setelah tahu bahwa sang Papa masih di kantor ia pun bergegas ke sana.


Sesampainya di kantor, ternyata ada sang Kakek juga yang tengah berbincang dengan Rendra yang sengaja memang datang ke kantor untuk menemui cucunya.


"Jadi apa yang mau kamu jelaskan tentang masalah-masalah yang kamu hadapi sekarang ini?" Tanya Rendra yang sebelumnya sudah memesankan kopi untuk Abi pada sekretarisnya.


"Abi batalin kontrak kerja Abi pada beberapa pihak masih ada beberapa pihak lagi yang belum beres, Pa. Abi mau fokus bekerja di kantor Papa!" Jawab Abi.


Jawaban Abi membuat Rendra dan juga Hafidz begitu senang.


"Kapan kamu mau mulai?" Tanya Hafidz to the point.


"Setelah masalah Abi selesai Kek, Abi bakal langsung mulai belajar kerja di kantor ini!" Jawab Abi mantap.


"Kamu butuh bantuan apa dari kami?" Rendra tahu betul kesulitan yang saat ini anaknya hadapi, Abi pun tersenyum kikuk mendapat pertanyaan dari Papanya.


"Beberapa pihak nuntut Abi Pa, beberapa lagi Abi gak bisa nyelesain uang pinalti. Emh.. Abi udah kuras tabungan Abi, sejauh ini Abi udah bayar ke beberapa pihak yang nominalnya menghabiskan ratusan M. Tinggal puluhan M lagi kalo Abi mau menyelesaikan semuanya, termasuk juga yang bawa Abi ke jalur hukum!" Ucap Abi ragu-ragu.


"Oke kalo begitu, mulai Senin depan mulailah belajar di sini, untuk sisa masalah kamu biar Papa bentuk tim khusus buat nyelesain beberapa masalah kamu yang belum selesai itu. Kamu tenang aja, panggil Daniel dan pengacara kamu besok ke kantor supaya bisa buat rencana sama tim yang Papa buat, case clear okay!" Sahut Rendra.


Meski pun malu karena harus melibatkan orang tuanya dalam masalahnya, namun Abi merasa lega bisa terbantu. Toh saat ini memang dia sangat membutuhkan bantuan orang-orang di sekitarnya.


"Makasih ya Pa, Kek! Kalo begitu Abi pamit sholat Maghrib dulu terus langsung pulang, kasihan Hana pasti khawatir ngelihat pemberitaan tentang Abi!" Pamit Abi, ia sempat menenggak habis kopi yang mulai dingin itu kemudian menyalami kedua lelaki kesayangannya itu sebelum beranjak pergi ke tujuannya.


"Hana benar-benar membawa perubahan besar pada hidup Abimanyu, tak salah aku memaksa mereka menikah!" Ucap Hafidz haru setelah Abi menghilang dari pandangan mereka.


"Iya Pi, Hana memang luar biasa. Bisa menjinakkan anak liar itu!" Seloroh Rendra membuat keduanya tergelak.


***


Hana yang saat ini berdiri di balkon kamarnya, begitu senang ketika melihat mobil sang suami datang. Ia pun dengan penuh semangat berlari menuruni anak tangga untuk menyambut kepulangan suaminya.

__ADS_1


Beberapa hari tak pernah jauh dari sang suami membuat Hana begitu merindukan laki-laki kesayangannya itu, hingga saat Abi sudah memasuki mansion Hana langsung berlari menubruk tubuh tegap suaminya.


Dan tanpa malu-malu Hana mengangkat tubuhnya agar Abi menggendongnya bak koala supaya ia dengan mudah menciumi wajah lelah suaminya.


Pemandangan tersebut membuat beberapa asisten rumah tangga mereka tersipu malu sendiri, begitu pula Kinan dan juga Irma yang memperhatikan mereka dari ruang tengah.


"Kangen..!" Ucap Hana tulus menangkupkan telapak tangan mungilnya di sisi kanan kiri wajah kokoh suaminya.


"Masa sih?" Tanya Abi tanpa melepas gendongannya, tangan kekarnya begitu kuat menahan tubuh istrinya sambil terus berjalan menuju kamar mereka.


"Kaka pergi lama banget, seharian penuh. Pagi juga aku gak sempet lihat Kaka!" Sahut Hana yang kini menyandarkan dagunya di bahu suaminya.


"Maaf ya, tadi kamu pules banget tidurnya. Aku gak tega bangunin kamunya, lagian siang tadi kan sempet video call an!" Ucap Abi mulai menaiki anak tangga satu per satu.


Sesampainya di kamar, Abi langsung meletakan tubuh istrinya di sisi ranjang. Dengan sedikit menunduk Abi menatap lekat mata indah istrinya, tangan kekarnya bertumpu di atas ranjang, berada di sisi kanan dan kiri untuk mengunci tubuh mungil istrinya yang saat ini tengah duduk memandanginya.


Abi langsung mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri, memanggut lembut bibir merah muda yang selalu ia rindukan. Panggutan itu lama-lama berubah menjadi ciuman yang begitu dalam.


Hana pun menyambut tiap ciuman yang suaminya berikan, bahkan kini tangan mungilnya berada di pipi suaminya untuk memperdalam ciuman mereka.


Sedang Hana dengan penuh kasih sayang menyusuri wajah tampan suaminya, ia meraba mulai dari alis, hidung, pipi, bibir dan rahang suaminya.


Abi begitu menikmati sentuhan sang istri, yang entah saat ini ia merasa Hana begitu manja dan menggemaskan.


"Aku mandi dulu yaa, badan aku rasanya lengket semua. Setelah itu kita turun makan malem, udah jam makan malem juga sebentar lagi!" Ucap Abi di sela-sela ia menikmati sentuhan tangan istrinya di wajahnya.


"Padahal aku mau denger cerita Kaka, seharian ini ngapain aja!" Gerutu Hana menghentikan sentuhannya.


"Setelah makan malem ya, kita cerita-cerita. Sekarang aku mandi dulu ya!" Sebelum berdiri Abi sekilas mencium bibir istrinya, kemudian beranjak ke kamar mandi.


***

__ADS_1


Seperti biasa, sebelum pergi tidur Abi dan Hana akan saling berpelukan dan saling bercerita. Kegiatan sederhana namun begitu berarti.


"Tadi seharian ngapain aja?" Tanya Abi sambil membelai dan menciumi puncak kepala istrinya.


"Tadi Mamah sama Ibu bikinin aku kue kastengel, aku bantu-bantu sedikit. Mamah sama Ibu bikinnya banyak banget, katanya biar buat camilan aku biar badan aku gemukan. Emang aku kurus banget ya Ka? Kemaren Bi Imah, sekarang Mamah sama Ibu!" Seperti biasa Hana akan memainkan kancing piyama suaminya selama bercerita.


"Iya, tapi tetep cantik. Pokoknya mau kamu gemuk, mau kamu kurus kamu paling cantik!" Goda Abi.


"Idih gombal!" Mendengar godaan suaminya, Hana memukul dada Abi.


"Besok Kaka bawa ya kuenya satu toples, buat ngemil di jalan. Enak banget lho, mau aku ambilin gak? Kaka belum nyobain kan?" Tawar Hana kemudian beranjak dari tempat tidur menuju meja hias dimana ia meletakan beberapa toples kue yang ia buat tadi di sana.


Dengan senang hati, Abi menerima toples itu kemudian mencicipinya. Satu, dua, tiga entah sudah berapa banyak kue yang ia santap membuat Hana tersenyum senang.


"Enak kan?" Tanya Hana yang kini duduk berhadapan dengan suaminya.


"Banget.. Kayaknya ini juga bakal jadi favorit aku deh, aku gak begitu suka kue-kue tapi ini enak. Keju banget!" Jawab Abi masih menikmati kastengelnya.


"Dasar lidah bule, ngeju banget!" Seloroh Hana membuat Abi tergelak.


"Sekarang Kaka ceritain dong seharian ini ngapain aja, aku worried banget ngelihat berita di tv tadi siang. Gak pernah nyangka kalo Kaka harus ngadepin masalah sepelik ini!" Ucap Hana dengan mimik sedih dan khawatir.


Setelah menutup toples yang saat ini hanya tersisa setengahnya saja, Abi mulai menceritakan semua yang ia lakukan seharian ini.


Bahkan saat Abi memberitahukan nominal uang yang sudah ia keluarkan untuk membayar pinalti kontrak kerja yang ia langgar, membuat Hana ternganga tak percaya.


"Ratusan M, itu uang semua? Dan masih belum selesai belum semua? Sebanyak apa uang Kaka sih? Kenapa gak diselesaiin dulu aja?" Tanya Hana, Abi hanya tertawa mendengar pertanyaan-pertanyaan istrinya.


"Kamu gak usah khawatir, Papa sama Kakek mau bantu aku. Senin nanti aku udah mulai kerja di kantor Papa, sekalian belajar. Pokoknya kalo Papa sama Kakek udah turun tangan, masalah bakal beres!" Jawab Abi menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Tidur yuk, jangan malem-malem tidurnya biar cepet sembuh!" Ajak Abi saat ia melepaskan ciumanan panas mereka, Hana pun mengangguk menuruti ucapan suaminya.

__ADS_1


Ia kemudian memposisikan diri berbaring, mendekap erat tubuh lelaki yang begitu ia cintai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2