
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Tapi ternyata keputusan Abi untuk tidur seranjang dengan istrinya justru membuatnya tak bisa memejamkan matanya karena ia terus saja terjaga untuk menatap sang istri lekat-lekat dan juga mengawasi tidur Hana takut-takut jika sang istri terbangun dan menyadari kehadirannya.
Hingga saat ia benar-benar sudah tak sanggup lagi menahan kantuknya, ia yang dalam posisi telentang mulai memejamkan matanya, akan tetapi sentuhan kulit lembut dari tangan mungil istrinya saat mendekap lengannya membuatnya terkejut dan kembali terjaga, terlebih saat sang istri memanggil namanya dengan suara lirih dan parau.
"Kak?" Sontak Abi langsung menunduk menatap Hana yang baru saja memanggil namanya, jantungnya seakan ingin melompat keluar mendengar panggilan dari istrinya.
Akan tetapi ia bisa bernafas lega karena Hana hanya sedang menginggaukan dirinya dan tetap lelap sambil merangkul lengan kekarnya.
***
Pukul delapan pagi, Hana baru membuka matanya. Ia langsung mengambil ponselnya, takut jika mungkin ada pesan atau panggilan yang tak terjawab dari suaminya.
Namun wajahnya langsung membrengut kesal ketika dia tak mendapati satu pun panggilan dan telfon dari suaminya.
"Dari kemarin enggak ada kabar-kabarnya sama sekali, udah kecantol bule jangan-jangan kali ya?" Gerutu Hana bangkit dari tempat tidurnya sambil terus bersungut.
Akan tetapi wajahnya langsung berubah bingung ketika mendapati beberapa paperbag bertuliskan nama toko dari Bali di atas meja riasnya, ia pun langsung menghampiri meja rias dan membuka satu per satu paperbag tersebut.
Hana terus menerus ternganga setiap membuka paperbagnya, terlebih ketika Hana membuka satu paperbag berisikan pie susu pesanannya pada sang suami tempo hari.
"Jangan-jangan Kak Abi udah pulang?" Terka Hana, ia pun langsung mendial nomor suaminya.
"Kakak dimana?" Tanya Hana langsung saja ketika panggilan mereka tersambung.
"Di kantor, kenapa?".
"Kantor yang di Jakarta?" Tanya Hana lagi.
"Iya sayang, kenapa sih emangnya?".
"Kapan Kakak pulang dari Bali emangnya, kok aku enggak tau?" Sembur Hana.
"Tadi malem, maaf ya enggak ngasih tau. Kalo aku ngasih tau kamu, semaleman aku gak bisa ngelonin kamu dong" goda Abi.
__ADS_1
"Apa?" Pekik Hana dengan suara keras, membuat Abi refleks menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Kak Abi serius?" Tanya Hana.
"Serius Sayang, ngapain sih aku bohong. Kalo enggak percaya coba deh cium bantal yang enggak kamu pake, aroma ku masih di sana!" Benar saja Hana langsung beranjak ke ranjangnya untuk mencium bantal yang pasti digunakan oleh suaminya.
"Iya bener, ada aroma kamu!" Ucap Hana polos membuat Abi terkekeh mendengarnya.
"Pie susunya dimakan ya, aku juga bawa beberapa baju, tas, sandal sama sepatu. Itu semua hasil karya anak muda asli Bali, waktu aku jalan aku gak sengaja ngeliat mereka, dan apa yang mereka buat bagus-bagus banget makanya aku bawain buat kamu, bahan-bahannya juga mereka pake bahan terbaik jadi pasti nyaman di pakenya!" Sahut Abi yang saat ini justru terbayang wajah bingung istrinya.
"Ini Kakak serius semalem tidur sama aku?" Hana sama sekali tak berminat menanggapi ucapan suaminya, karena sungguh ia masih tak percaya jika sang suami dan dirinya tidur seranjang.
"Apa kamu mulai panik? Mulai ketakutan tau kalo semalem kita tidur bersama?" Tanya Abi khawatir.
"Enggak kok, karena aku gak sadar jadi aku gak ngerasa panik atau pun ngerasa ketakutan!" Jawab Hana membuat Abi bernafas lega.
"Ya udah ya Sayang, aku ada meeting soalinya. Nanti selesai meeting aku telfon kamu ya!" Izin Abi.
Setelah mengucapkan salam, Abi memutus panggilan telfonnya, tetapi ia langsung mengirimi foto yang semalam sengaja dia ambil ketika Hana memeluk lengannya.
Abi : "Sebagai bukti kalo semalem emang kita udah kelonan".
***
Tanpa menjawab pertanyaan sang sahabat, Abi langsung menunjukkan ponselnya untuk memamerkan foto ketika tidur bersama dengan istrinya.
"Udah buka puasa lo?" Sindir Daniel tersenyum lebar.
"Boro-boro, yang ada malah gue enggak bisa tidur takut dia kebangun histeris lagi ngeliat gue di sebelahnya" Keluh Abi memancing gelak tawa Daniel.
"Jadi elo ngelonin Hana diem-diem?".
"Iyalah, kalo gak diem-diem mana bisa. Tapi lumayanlah obat kangen!" Sahut Abi sumringah.
"Ngenes amat lu!" Ledek Daniel dengan tawa menyebalkan.
"Irene mana sih, gue suruh bikin kopi lama amat. Ngantuk gue nihh sebenernya!" Gerutu Abi menatap pintu ruang kantornya berharap melihat kemunculan sekretarisnya.
Tak berapa lama, Abi langsung menyembur sekretarisnya yang membawakan dua cangkir kopi hitam pesanannya karena telah membuatnya lama menunggu.
__ADS_1
"Lama banget sih bikin kopi dua aja?".
"Dihh, sabar dong. Kerjaan gue bukan cuma bikinin kopi lu doang, noh dokumen-dokumen rapat gue beresin dulu entar ada yang kelewat ngomel lagi lu!" Salak Irene kesal, bagaimana tidak dokumen yang harusnya diperiksa oleh Abi sendiri justru dilimpahkan padanya untuk di cek ulang.
"Harusnya lo bangga, berarti gue percaya sama elo!" Sindir Abi dengan tawa penuh kemenangan.
Benar saja seharian ini Abi benar-benar disibukan dengan pekerjaan dan beberapa rapat membuatnya sama sekali tak punya kesempatan untuk beristirahat, bahkan makan siangnya pun baru bisa ia lakukan pada saat akan pulang kantor.
"Mau dibawain apa?" Tanya Abi melalui sambungan telfon sebelum pulang ke mansionnya.
"Kakak baru mau pulang?" Ucap Hana balik bertanya, karena jam sudah menunjukan pukul delapan malam dan Abi baru akan kembali pulang.
"Iya, baru kelar kerjaan aku. Maaf tadi aku gak sempet nelfon kamu, tumben seharian ini kerjaan aku banyak banget!" Sahut Abi penuh sesal.
"Iya, aku ngerti. Gak usah dibawain apa-apa, kamu pulangnya hati-hati. Kalo emang bener-bener capek istirahat dulu aja di kantor!" Nasehat Hana penuh kekhawatiran.
"Enggak apa-apa, aku pengen langsung balik aja. Besok mungkin aku ambil cuti dua hari, istirahatin badan sama otak. Coba aja kamu udah berani ketemu aku, pengen banget tiap banyak kerjaan gini didatengin kamu ke kantor, buat isi ulang booster aku!" Goda Abi yang hanya dibalas tawa lirih istrinya.
"Ya udah aku jalan pulang ya Sayang, Wassalamualaikum..!" Pamit Abi.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya Kak nyetirnya!" Sahut Hana berpesan.
Abi memang lebih nyaman membawa mobil sendiri, ia jarang sekali menggunakan jasa drivernya, kecuali memang sangat diperlukan.
Namun sepertinya keputusan dia untuk membawa mobilnya sendiri dalam keadaan lelah menjadi keputusan yang salah.
Rasa lelah yang teramat sangat setelah tak sama sekali beristirahat dari kemarin membuat konsentrasi mengemudinya terganggu.
Hingga tanpa sadar ia menutup mata ketika mengendarai mobilnya membuat mobilnya tak terarah dan oleng ke bahu jalan.
BRAKKKHHHH ..
Ia pun tak bisa lagi mengendalikan kemudinya membuatnya menabrak bahu jalan, bahkan sempat membuat mobilnya terbalik satu kali sebelum pada akhirnya berhenti di tengah jalan dengan posisi lawan arah.
Kecelakaan tunggal pun dialami oleh Abi, beruntung air bag mobilnya berfungsi dengan baik dan juga ia mengendarai mobilnya tidak dalam kecepatan tinggi.
Meskipun begitu Abi tetap mengalami luka-luka, bahkan saat ini ia sudah dalam keadaan tak sadarkan diri. Beberapa orang pun agak kesulitan mengeluarkan Abi dari dalam mobil yang beberapa bagian sudah rusak parah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1