
Abi terus menatap istrinya yang saat ini tengah berdandan di depan cermin, meski fikirannya masih kepada Raya karena ia tau pasti saat ini Raya tengah memikirkan cara untuk mengganggu kehidupannya dengan Hana.
"Gimana Ka, udah oke belum penampilan aku? Udah cocok kan buat dinner di restaurant itu, gak bakal malu-maluin kan?" Hana meminta pendapat suaminya sambil terus memutar tubuhnya untuk mematutkan diri.
"As always, kamu cantik" puji Abi membuat Hana tersipu dan menggigit bibir bawahnya.
Hana tak sadar jika tindakan kecilnya mampu membuat Abi secara tiba-tiba menyerangnya dengan mencium, menyesap dan ******* bibir ranum Hana.
Meski sedikit terkejut Hana kini hanya mampu pasrah dan mengikuti permainan suaminya dengan susah payah.
Hingga dirasa saat pasokan oksigen mereka menipis akibat ciuman panas mereka, Abi baru melepaskan bibir Hana dari kuncian bibirnya.
"Kaka ihh rese deh ahh, berantakan kan jadinya rambut sama make up aku!" Gerutu Hana dengan nafas tersengal-sengal saat menatap dirinya di cermin.
"Makanya jangan mancing-mancing!" Elak Abi tak mau disalahkan, ia pun kemudian melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri.
"Mancing-mancing gimana? Iihh awas kek Ka aku gak bisa leluasa bergerak ini!" Hana benar-benar dibuat kesal oleh tingkah suaminya yang mengganggu dirinya yang sedang merapikan dirinya lagi.
"Itu tadi gigit-gigit bibir bawah kamu, kalo gak ngasih kode ke aku terus apa coba?" Kini Abi mengalah dengan melepaskan rangkulannya agar istrinya dapat leluasa merapikan diri dan duduk anteng di sofa dekat meja rias.
"Idih begitu doang kode, itu Kaka aja yang lemah! Entar aku gigit bibir atas dianggap kode juga lagi? Cih .. Modus!!" Sungut Hana membuat Abi terkekeh saat melihat wajah kesal sang istri.
"Di restauran nanti kamu mau makan apa?" Tanya Abi mengalihkan kekesalan istrinya.
"Apa ya? Aku gak tau namanya apa, waktu itu Mamah yang pesenin, aku tinggal makan aja. Pokoknya enak, harganya mahal itu doang yang aku inget" jawab Hana polos membuat Abi tertawa.
Sejenis makanan apa Sayang?" Tanya Abi.
Steak, tapi enak banget, banget, banget!" Jawab Hana seakan sedang menahan liurnya karena membayangkan rasa steak tersebut.
"Steak apa? Nelfon Mamah aja kali ya, tanya. Siapa tau Mamah masih inget kamu dulu makan steak apa?" Usul Abi.
***
Ternyata idenya menelfon Kinan untuk menanyakan makanan apa yang pernah Kinan pilihkan untuk Hana ketika mengunjungi restauran mewah ini merupakan sebuah blunder besar.
__ADS_1
Karena saat ini di private room yang telah ia pesan semua tengah berkumpul dengan personil lengkap.
Hafidz, Rendra, Kinan, dan juga Irma ternyata memutuskan untuk ikut bergabung di acara makan malam dirinya dan juga Hana.
"Bener-bener para lansia gak ada pengertiannya, kayak gak pernah muda aja. Bisa-bisanya malah ikut gabung di acara dinner romantis gue sama Hana, tau gitu gak gue telfon Mamah tadi!" Batin Abi menggerutu.
"Muka kamu kenapa ditekuk gitu Bi dari tadi?" Selidik Kinan menatap tajam ke arah puteranya.
"Kenapa muka Abi? Biasa aja!" Elak Abi asal dan berbeda dengan kata hatinya, "Pura-pura gak tau kenapa lagi? Udah tau pada gangguin, pake nanya gue kenapa!".
" Kamu gak suka, kita semua ikut gabung di acara dinner kamu sama Hana?" Pertanyaan telak dari Kinan langsung membuat Abi tergagap.
"Ahh, enggak kok! Seneng malahan pada ngumpul gini, jarang-jarang kan" Jawab Abi, berbeda sekali dengan isi otaknya yang menggerutu kehadiran keluarganya.
"Cihh, bohong banget! Mamah tau banget deh pasti kamu lagi ngegerutu dalam hati!" Lagi tebakan Kinan benar adanya.
"Eh masa gitu sih Mah? Gak boleh gitu dong Ka!" Tegur Hana.
"Mamah tau banget tuh, kalo muka dia lagi begitu artinya dia lagi keganggu, lagi gak seneng suasana hatinya!" Sindir Kinan, membuat Abi hanya menghela nafasnya berat.
"Maaf ya Nak Abi, kita semua jadi ganggu acara kalian berdua!" Ucap Irma tak enak hati.
"Iya Irma, aku cuma bercanda kok. Udah lama gak godain Abi!" Merasa tak enak, Kinan pun mengiyakan ucapan puteranya, ia sempat melihat senyum kemenangan di wajah sang putera membuatnya sedikit merasa kesal.
Makan malam mereka akhirnya berlangsung dengan seru, semua terlihat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama di luar.
Terlebih untuk Hana, rona bahagia tak henti-hentinya terpancar dari wajah cantiknya. Bahkan beberapa kali ia tertawa lepas demi menceritakan kembali kejadian heboh kemarin.
Abi yang awalnya kesal karena acara dinner romantisnya terganggu oleh rombongan keluarganya, kini berbalik senang.
Paling tidak makan malam ini bisa mengobati kerinduannya pada adik-adik iparnya juga sahabatnya.
Dalam hati Abi berdoa, semoga kebahagian keluarganya saat ini akan berlangsung selamanya tanpa adanya gangguan dari luar.
***
__ADS_1
Meski masih sangat khawatir untuk meninggalkan istrinya pergi ke Bandung, namun ia harus tetap profesional untuk menyelesaikan pekerjaannya di sana.
Dan hari ini Abi dengan berat hati harus siap berangkat ke kota kembang tersebut, meski diiringi dengan rengekan sang istri yang dari kemarin meminta untuk ikut ke Bandung.
Bukan tak ingin mengajaknya, namun mengingat kondisi Hana ia tak mau ambil resiko apalagi nasehat Riana yang terus menerus berputar di otaknya jika Hana harus bed rest total, semakin membuatnya enggan mengajak sang istri.
"Aku ikut sih Ka, Bandung gak jauh ini. Aku janji gak bakal capek-capek, aku bener-bener pengen ikut kamu!" Rengek Hana lagi sesaat sebelum ia berangkat.
"Bukan aku gak mau ngajak kamu Sayang, kamu tau senidiri kan Dokter Riana minta supaya kamu bed rest total. Waktu kemarinnya aku ngajak kamu dinner aja, aku was-was. Khawatir banget!" Abi mencoba mengingatkan Hana.
"Tapi buktinya aku fine-fine aja kan, tadi pagi juga aku gak muntah. Makan aku juga udah lumayan, aku yakin deh Ka kalo aku pasti kuat ke Bandung doang mah!" Hana tetap memohon berharap suaminya mau mengalah dan mengajaknya.
"Beda lah Sayang, ini tuh ke Bandung. Jauh! Bukan jarak ke restauran, nanti ya kalo udah dapet izin Dokter Riana. Aku janji ngajak kamu kemana pun kamu mau. Kalo sekarang aku gak mau ambil resiko, kamu baik-baik di apartemen demi Dedek. Nurut ya!" Rayu Abi yang mulai kehabisan kata-kata untuk melarang istrinya ikut dengannya, terlebih saat ini Hana merengek sambil terisak.
"Tapi aku beneran mau ikut kamu, aku gak mau jauh dari kamu, hiks..!" Pinta Hana sekali lagi lirih di sela isakannya.
"Aku usahain malem udah di sini lagi ya, gak akan nginep-nginep. Anggap aja aku kayak lagi syuting di sekitaran Jakarta ya, aku janji deh aku usahain pulang biar nanti malem bisa tidur sama kamu, sama Dedek!" Rayu Abi sekali lagi, tapi Hana tetap terisak, tetap berat melepas suaminya.
Mereka tak sadar jika rengekan Hana dari kemarin adalah sebuah firasat akan kehilangan yang sangat menyakitkan.
Dan dengan berat hati Abi harus tetap pergi meninggalkan Hana yang terus terisak, bahkan tangisannya semakin pilu membuat Abi tak tega dan memilih langsung melangkah pergi setelah menciumi wajah istrinya.
***
Selesai menunaikan kewajibannya shalat dzuhur, sayup-sayup Hana mendengar keributan dari lantai bawah. Ia pun bergegas untuk melihat ada keributan apa di bawah unitnya.
Hana cukup terkejut dengan kehadiran Raya yang saat ini tengah membentak-bentak Dewi, asisten rumah tangganya.
"Ada apa ini Mbak? Kok dia bisa dikasih masuk?" Tanya Hana dari atas tangga dengan raut wajah begitu kesal.
"Maaf Non, saya sendiri juga kaget dia tiba-tiba udah di dalem!" Jawab Dewi takut-takut.
"Kok bisa?" Tanya Hana bingung.
"Ya bisalah, ternyata pass code Abi gak pernah ganti ya. Tetep pake tanggal lahir gue, lo tau artinya apa? Artinya Abi belum sepenuh nya melepaskan gue!" Jawab Raya bangga sambil memperhatikan Hana yang saat ini tengah menuruni tangga untuk menghampirinya.
__ADS_1
"Mbak Dewi boleh ke belakang, buatin minum untuk tamu saya. Gimana pun juga meski pun seorang musuh yang masuk ke rumah kita, kita harus tetap memperlakukannya dengan baik, kan?" Sindir Hana, kemudian duduk di sofa sambil terus menatap tajam ke arah mantan kekasih suaminya tersebut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=