My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Nengokin Kamu


__ADS_3

Kinan baru saja turun dari mobilnya ketika mobil Abi juga datang dari arah belakang dan berhenti tepat di belakang mobilnya.


"Kamu ngapain ke sini? Hana mana?" Tanya Kinan heran saat Abi baru saja turun dari mobilnya seorang diri.


"Aku mau tidur di sini dulu!" Jawab Abi melewati Kinan.


Selesai membersihkan diri, Kinan langsung menemui Abi di kamarnya, ia yakin sekali anak dan menantunya pasti baru saja bertengkar.


Tokk, tokk, tokk..


"Bi, Mamah masuk ya..!" Izin Kinan kemudian membuka pintu kamar anaknya.


Ia tak melihat Abi di atas ranjangnya, Kinan pun berjalan ke arah balkon dimana pintunya terbuka, ia yakin Abi berada di sana.


Dan benar saja, ia melihat anaknya tengah menikmati rokoknya sambil menatap langit malam dengan pandangan kosong.


"Kamu berantem sama Hana?" Tanya Kinan yang sudah mendudukan dirinya di belakang Abi berdiri.


"Hmm..!" Abi hanya berdehem tanpa mau berminat menjawab panjang pertanyaan Kinan.


"Mamah gak mau ikut campur urusan rumah tangga kamu, Bi. Tapi Mamah harap kamu harus lebih, lebih extra bersabar lagi dengan istrimu mulai sekarang" ucap Kinan


"Iya aku ngerti, usia Hana masih sangat muda aku harus banyak mengalah!" Sahut Abi yang saat ini sudah menghadap ke arah Kinan.


"Jangan bilang Hana belum ngasih tau kamu?" Mendengar perkataan Abi, Kinan sangat yakin jika sang putra belum tau jika saat ini istrinya tengah hamil.


"Ngasih tau apa?" Tanya Abi bingung.


"Kamu dari dateng langsung berantem emang?" Bukan menjawab, Kinan justru balik bertanya dengan nada ketus.


"Semenjak aku baru sampe, Hana udah ngediemin aku Mah. Emang apa yang aku enggak tau sih?".


"Hana lagi hamil Bi..!" Jawab Kinan.


"Apa?" Abi begitu terkejut mendengar kabar baik itu.


"Dia sengaja gak ngasih tau kamu dulu, nunggu sampe kamu pulang ke Jakarta. Dia mau berita kehamilannya jadi kado buat kamu!" Kinan benar-benar tak habis fikir pada akhirnya dirinya juga lah yang memberitahukan kabar tersebut.

__ADS_1


Kinan kemudian menceritakan semuanya, kondisi kehamilan Hana dan tentang resiko-resiko terburuk yang saat ini membayangi kehamilan Hana.


"Hana dalam masa rentan Bi, kehamilannya bukan kehamilan yang sehat dengan situasi dia saat ini juga karena usianya yang masih terlalu muda membuat dia atau pun anak kalian dalam kondisi riskan. Terlebih saat ini Ibunya juga sedang dirawat dan trauma masa kecilnya yang masih membekas. Dokter Riana menjelaskan ketakutan Hana terhadap alat-alat medis sangat mempengaruhi mentalnya. Beliau meminta jauhkan Hana dari stress, beri istri kamu dukungan dan semangat. Selalu katakan semua baik-baik saja! Jadi Mamah mohon Bi, bersabarlah menghadapi istri kamu dan kalo bisa tinggallah di sisi dia sampai usia kehamilannya dinyatakan aman!".


Abi hanya terduduk lemas mendengar perkataan Kinan, dia begitu menyesali sikapnya pada Hana. Air matanya pun luruh saat teringat alasan pertengkaran mereka yang dia yakini menambahi beban fikiran Hana saat ini. Ya Tuhan, dia benar-benar mengutuk perbuatannya..


"Abi pamit pulang Mah!" Abi langsung beranjak meninggalkan Kinan, ia akan memohon maaf pada sang istri dan berjanji akan selalu ada dan bersabar dengan istrinya. Namun sebelum jauh Kinan sempat mengatakan jika pagi tadi Hana menangis, mengatakan jika ia sangat merindukan Abi. Mungkin itu bawaan sang bayi yang merindukan Papanya.


***


Sedang di kamar apartemen Hana, saat ini Hana mencurahkan semua kegelisahan pasca pertengkarannya dengan sang suami pada Imah. Ia tak mau menanggungnya sendiri, terlalu berat dan terlalu menyakitkan.


"Den Abi itu orangnya memang gak tegaan Non, mungkin yang dijelasin Den Abi bener, maaf bukan berarti Bibi bela kelakuan Den Abi, dia tetep salah. Tapi satu hal yang Bibi yakin tuh ya Non, percaya deh Den Abi tuh beneran sayang sama Non Hana!" Ucap Imah sambil terus mengusap lembut pinggang belakang Hana karena ia mengeluh sakit berbarengan dengan kram perut yang sempat dia alami tadi.


"Tapi Hana sakit hati Bi, dia nutupin kejadian itu dari Hana. Hana takut kalo Ka Abi gak cuma ngelakuin itu aja, tapi sesuatu yang lebih. Hiks..!" Ungkap Hana lirih dengan tangis yang masih setia menemani.


"Udah ya Non, jangan berfikir macem-macem dulu, jangan nangis terus. Kasihan si Dedek di dalem pasti ikutan sedih!" Imah begitu kasihan melihat kondisi Hana saat ini.


Hana yang biasa ceria dan lincah sudah beberapa hari ini terlihat lemah dan pucat.


"Maaf ya Bi Hana ngebelakangin Bibi, ngerepotin banget ya Hana!" Ia begitu tak enak hati membuat semua orang jadi sibuk semenjak kehamilannya.


"Gak apa-apa Non, biar nanti Dedek kalo udah lahir deket sama Bibi!" Goda Imah membuat Hana tersenyum.


Tak lama kemudian terlihat Hana sudah terlelap bersamaan dengan dibukanya pintu kamar oleh Abi yang baru saja datang.


"Bi..!" Sapa Abi saat melihat Imah tengah merapikan selimut di tubuh Hana.


"Iya Den, maaf Bibi di sini nemenin Non Hana sampe tidur!" Sahut Imah, Abi hanya mengangguk.


Ia pun melihat wajah pulas Hana yang tidur dalam posisi miring sambil memeluk guling, posisi tidur favorit istrinya.


Ia juga melihat piring berisi makanan yang hanya berkurang sedikit, serta susu yang masih utuh di atas nakas.


"Non Hana dari pagi makannya kurang lagi Den, biasanya kalo sama Nyonya Kinan kemarin-kemarin makannya mendingan. Pagi tadi juga masih mau makan ditemani Nyonya, tapi gak banyak. Jadi saya suapi di sini makan malamnya tapi cuma dapat tiga sendok, susunya juga gak mau diminum!" Imah yang melihat arah pandangan Abi pun menjelaskan.


Hati Abi begitu perih mendengar penjelasan asisten rumah tangganya itu, ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


"Den, Bibi minta maaf sebelumnya. Kalo bisa Den Abi yang sabar ya sama Non Hana, kasihan den. Tadi perutnya sempet kram pas Den Abi pergi takut kenapa-kenapa sama, emhh..!" Imah sedikit ragu untuk menjelaskan kehamilan Hana, karena Hana sempat melarangnya.


"Iya saya ngerti Bi, makasih ya udah ngurusin Hana!" Jawab Abi, Imah pun kemudian permisi untuk kembali ke kamarnya.


Abi langsung merebahkan tubuhnya menghadap sang istri. Wajah pucat Hana kini jadi fokusnya, ia pun membelai lembut pipi halus Hana dengan punggung jari-jarinya.


Hana yang beberapa hari terakhir mudah terusik tidurnya pun mengerjapkan matanya saat merasakan sentuhan di wajahnya.


Hana langsung menatap tajam suaminya saat matanya telah terbuka sempurna. Rasa marah dan sakit hati masih mendominasi hatinya saat ini, meski tak semarah tadi sebelum Bi Imah mencoba menasehatinya.


Tanpa ragu dan berucap apapun Hana langsung memutar tubuhnya membelakangi suaminya, ia masih enggan berinteraksi dengan suaminya.


Namun tanpa ia duga justru suaminya meringsek dari belakang, memeluk tubuhnya yang jujur sangat ia rindukan. Namun rasa marah di hatinya membuat Hana mencoba berkelit agar lepas dari pelukan sang suami, sayang semakin ia berkelit semakin Abi memeluknya erat bahkan saat ini bisa ia rasakan wajah suaminya berada di tengkuknya.


"Maaf, aku salah. Maaf buat kelakuan bodoh aku. Maaf lagi-lagi aku nyakitin kamu..!" Ucap Abi lirih sambil sesekali menghirup aroma tubuh istrinya, Hana hanya terdiam tanpa mau membalas ucapan suaminya.


Abi yang tak dapat respon istrinya sekali lagi menjelaskan situasi dia saat itu, mengapa hal bodoh itu sampai terjadi dan alasan keputusannya tidak menceritakannya pada Hana. Bedanya kali ini suara Abi lebih lembut saat menceritakannya, berharap istrinya mau memberikan maaf padanya. Sedang Hana tetap diam, namun air matanya tetap luruh.


"Jadi Dedek ini tuh kado dari Mamah buat Papah ya?" Ucap Abi sambil mengelus lembut perut rata istrinya.


"Aku gak mau dipanggil Mamah, aku maunya dipanggil Bunda!" Protes Hana, namun hal ini membuat Abi bisa tersenyum karena bisa mendengar suara istrinya meski dengan nada ketus dan protes.


"Oohh, oke kalo kamu dipanggil Bunda berarti Dedek manggil aku Ayah dong?" Goda Abi lagi.


"Terserah!" Sahut Hana masih dengam nada yang ketus.


"Oke, jadi kata Eyang Uti tadi pagi Dedek di dalem perut bikin Bunda nangis yaa gara-gara kangen sama Ayah. Sekarang Ayah udah di sini Sayang, bilang sama Bunda, jangan marah lagi sama Ayah biar Ayah bisa nengokin kamu langsung!" Seloroh Abi langsung membuat Hana membalikan tubuhnya dan menatapnya tajam.


"Apa tuh maksudnya?" Sengit Hana, namun Abi hanya mengedipkan matanya genit sambil terkekeh.


"Gak ada ya acara tengok-tengokan. Enak aja, dedek juga sakit hati sama kelakuan Ayahnya. Apalagi tadi pas balikin meja makan, bikin jantungan aja!" Gertak Hana kemudian kembali membelakangi suaminya.


"Maafin aku ya, please. Aku janji mulai sekarang aku bakal ceritain semuanya, gak ada yang aku tutup-tutupi lagi deh. Jangan marah lagi ya!" Pinta Abi memelas sambil mengeratkan pelukannya, namun lagi-lagi tak direspon oleh istrinya.


Hana yang sebenarnya merasa nyaman dan damai dalam pelukan suaminya pun membiarkan sang suami tetap memeluknya. Ia juga sangat nyaman saat tangan Abi yang terus menerus membelai lembut perutnya, seakan dirinya dan juga sang bayi merasakan ketenangan bersentuhan dengan sang Ayah. Hingga tak butuh lama Hana kembali terlelap dalam tidurnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2