
"Kalian kok bisa sama-sama? Dari mana memang kalian?", tanya Kinan ketika melihat Abi dan Hana berjalan bersama.
"Tadi ketemu di depan pintu toilet Mah", jawab Abi.
" Yaudah ayo cepat dihabiskan sarapannya terus kita ke rumah sakit", perintah Kinan. Mereka pun menikmati sarapan mereka.
Selesai dengan sarapan mereka, Abi meminta bill pada waitress. Waitress pun bergegas memberikan bill yang diminta, Abi kemudian membayar sarapan mereka. Mereka lalu bergegas ke rumah sakit.
***
"Assalamualaikum..", sapa Hana, Hanum dan Kinan bersamaan. Sedangkan Abi memilih menunggu diluar ruangan.
"Wa'alaikumsalam..", sahut Irma dan Angga bersamaan.
"Maaf Bu, Mas Angga kalo kita baru dateng. Mas Angga pasti repot yaaa?", tanya Hana.
"Enggak juga kok, Ibu enggak rewel tadi juga Mas banyak dibantu sama suster di sini", jawab Angga.
Hanum yang menahan sedih menghampiri Irma, mencium tangannya dan memeluknya.
"Ibu sakit apa?", tanya Hanum lirih.
"Ibu kecapek an aja kok sayang, kamu gak usah sedih? Kamu apa kabar? Gimana hasil rapor kamu?".
"Hanum baik Bu, hasil ujian Hanum seperti biasa Bu di belakang Hana. Ibu tau Hana jadi peringkat terbaik lagi lho. Dibalik kelakuannya yang aneh ternyata Hana jenius ya Bu, gak sia-sia Ibu melihara dia sampai gede", goda Hanum membuat Hana mencibirkan bibirnya sedangkan yang lain tertawa.
"Melihara, melihara? lo kira gw kucing!", kesal Hana yang membuat semua yang ada di ruangan makin tertawa.
"Oh yaaa semuanya, kalo begitu saya permisi pulang dulu yaa. Nanti sore saya ke sini lagi buat gantian jagain Ibu", pamit Angga.
"Mas Angga gak apa-apa bolak balik ke rumah sakit terus?", tanya Hana tidak enak hati.
"Iya Nak Angga, kamu gak usah balik lagi nanti sore. Istirahat aja di rumah, nanti kamu kecapekan lho", ucap Irma.
__ADS_1
"Enggak kok Bu, tenang aja. Aku kasihan kalo Hana kelamaan di rumah sakit, lagian aku juga enggak punya kesibukkan apa-apa kok. Kalo gitu Angga permisi dulu ya", sahut Angga. Sebelum pergi Kinan memberikan bungkusan berisi sarapan yang tadi dia pesankan, Angga pun mengucapkan terima kasih dan memberikan salam pada semua lalu beranjak pergi.
"Ibu udah sarapan?", tanya Hana pada Ibunya saat sudah berada di dekat Ibunya, Irma hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Hana.
"Ibu Irma apa kabar?", tanya Kinan.
"Sudah lebih baik Bu, terima kasih untuk semua perhatiannya, untuk semua bantuan Ibu Kinan pada saya dan Hana. Saya tidak tau harus bagaimana membalas kebaikan Ibu pada kami".
"Sudah jangan difikirkan, saya ikhlas dan tulus membantu Ibu dan Hana. Oh ya Bu, saya boleh minta sedikit bantuannya?".
" Bantuan apa Bu? Insya Allah jika saya bisa membantu saya akan bantu Bu", ucap Irma.
"Jadi begini Bu, saya kan mengeluarkan produk shampo dan saya ingin mengiklankan nya. Saya sangat suka rambut Hana yang alami dan menurut saya Hana sangat cocok dengan karakter yang saya mau. Jika boleh saya meminta izin sama Ibu agar Hana bisa membantu project iklan saya ini. Ibu tidak perlu khawatir, ini semua gak akan mengganggu aktifitas belajar Hana, jika diizinkan saya akan mulai membuat iklan ini disaat Hana liburan", pinta Kinan.
Sejenak Irma terdiam, memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil. Sebenarnya dia berat untuk membiarkan Hana bekerja sebelum ia lulus sekolah, apapun pekerjaannya itu. Tetapi menolak permintaan seseorang yang sangat berjasa pada mereka rasanya begitu tak enak hati.
"Bu Kinan apa boleh saya meminta waktu untuk memikirkannya dahulu?", tanya Irma.
"Tentu Bu..".
"Selamat pagi..", sapa Dokter bernama Rama itu ramah.
"Pagi Dok..", sahut mereka serempak membalas sapaan sang Dokter.
"Jadi Ibu Irma, bagaimana perasaannya pagi ini?", tanya Dokter sambil memeriksa keadaan Irma.
"Sudah lumayan enakan Dok..", jawab Irma.
"Semua bagus pagi ini Bu, tapi ada yang mau saya katakan pada Ibu juga keluarga", ucap Dokter Rama membuat semua yang ada di ruangan merasa khawatir, karena dilihat dari wajah sang Dokter yang berubah serius sepertinya apa yang akan disampaikan sang Dokter sepertinya adalah suatu hal yang penting.
"Saya berharap Ibu Irma dan keluarga sabar dan tetap semangat, semua penyakit di dunia Insya Allah akan ada obatnya, jadi saya berharap Ibu Irma atau pun keluarga tidak menyerah dan kita akan sama-sama berjuang sampai Ibu Irma sembuh.", ucap Dokter yang sedikit ragu untuk memberitahukan diagnosanya.
"Sebenarnya apa yang saya derita Dok?", tanya Ibu Irma mulai khawatir.
__ADS_1
"Ibu yang sabar yaa, dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan dan hasil tes darah serta laboratrium, Ibu menderita kanker payudara stadium 3. Tapi tidak ada yang tidak mungkin untuk sembuh, kami tim dokter akan berusaha sekeras mungkin untuk kesembuhan Ibu", jawab Dokter Rama dengan Iba.
Bagai disambar petir perasaan Hana dan Irma hancur seketika itu juga, rasanya mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja dokter katakan. Irma berusaha tegar menerima kenyataan yang ada, berbeda dengan Hana yang mulai histeris mendengar diagnosa Dokter Rama.
Kinan meminta Hanum yang saat itu juga menangis untuk membawa Hana keluar ruangan. Hanum pun memapah Hana untuk keluar ruangan.
Saat Hana sudah tidak berada di ruangan, Irma pun mulai melepaskan tangisnya. Yang ada dipikirannya saat ini adalah bagaimana jika usianya tidak lagi panjang, siapa yang akan menjaga putri satu-satunya. Dia tidak bisa membayangkan jika Hana yang usianya masih begitu belia harus hidup sebatang kara.
Kinan menghampiri Irma, memeluknya seakan ingin memberikan kekuatan pada Irma. Kinan tau saat ini Irma atau pun Hana sangatlah rapuh. Dokter memberikan waktu Irma untuk melepas kesedihannya.
"Jadi Dok, apa yang akan Dokter lakukan saat ini untuk dapat menyembuhkan sakit sahabat saya?", tanya Kinan mewakili Irma yang masih menangis di pelukkannya.
"Pertama-tama kami akan melakukan serangkain pemeriksaan lebih detail lagi seperti pemeriksaan darah, pemeriksaan fisik, pemindaian payudara dengan menggunakan mammografi, USG, CT scan, MRI, atau PET scan, untuk mendapatkan gambaran kondisi payudara secara lebih detail, baru setelah itu kita dapat memutuskan tahap selanjutnya pengobatan apa yang akan kami lakukan", Jawab Dokter Rama.
Mendengar penjelasan yang diberikan Dokter Rama, Irma semakin frustasi. Semua pemeriksaan yang dokter sarankan pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Lakukan apapun itu Dok, agar sahabat saya lekas sembuh", ucap Kinan membuat Irma menatapnya terkejut.
"Bu Kinan? Enggak perlu Bu, semua itu pasti mahal. Biarkan saya beralih ke pengobatan herbal saja. Jika memang kelak saya tidak mampu melawan penyakit saya, paling tidak saya tidak memberikan beban berat kepada Hana saat saya tiada nanti", sahut Irma putus asa.
"Saya membantu Ibu bukan dengan memberikan Ibu Hutang, saya tulus membantu Ibu dan Hana karena saya menyayangi kalian. Bu saya mohon jangan ragukan ketulusan saya ini yaa", ucap Kinan menyakinkan.
"Tapi Bu, semua itu butuh biaya yang sangat besar. Saya tidak bisa menerima kebaikan sebesar itu Bu. Saya tidak tau harus bagaimana saya membalas semua kebaikan Ibu nantinya".
"Itu artinya Bu Irma meragukan ketulusan saya. Bu, paling tidak jangan pikirkan bagaimana Ibu akan membalas kebaikan budi atau apapun itu kepada saya, tapi pikirkanlah tentang Hana. Ibu harus sembuh untuk Hana, Hana masih membutuhkan Ibu", ucap Kinan kembali menyakinkan Irma.
Sejenak Irma berfikir apa yang dikatakan Kinan semua benar. Hana masih membutuhkannya, dia harus sembuh. Irma pun menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Kinan.
"Baiklah Dok, lakukan apapun itu untuk kesembuhan sahabat saya. Saya yang bertanggung jawab atas biayanya", ucap Kinan pada Dokter Rama.
"Baiklah Bu, kami akan menjadwalkan semua pemeriksaan untuk Ibu Irma. Kalo begitu kami permisi dulu".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Untuk beberapa ungkapan medis di sini aku copy paste dari google, karena aku sendiri gak mengerti dan gak punya pengalaman dunia medis. Terima kasih untuk terus membaca karya ku, semoga suka. Tolong dukung aku dengan meng like, vote dan komen yaa biar aku semakin semangat nulisnya 🙏😘😘
"