
Suara dentuman musik yang memekakan telinga langsung menyambut kedatangan Hana dan Abi. Abi yang terbiasa dengan tempat tersebut terlihat santai, berbeda dengan Hana yang sangat terlihat tak nyaman.
Hana terus melingkarkan tangannya di lengan suaminya, ia benar-benar kikuk dengan suasana yang baru ia rasakan. Abi yang melihat Hana begitu kikuk hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Itu mereka..!!"Tunjuk Abi pada sekelompok orang yang berada di bangku bar.
"Gue kira gak jadi dateng?" Sapa seorang laki-laki saat Abi dan Hana sudah berdiri di antara mereka.
"Datenglah..!" Jawab Abi.
Hana melihat ada tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan, ia ingat mereka datang saat pernikahannya.
"Hana kenalin, ini Reno, ini Zian, ini Raka, ini Hilda, dan ini Agnes!" Ucap Abi memperkenalkan satu per satu teman-temannya.
"Hana..!" Ucap Hana menyalami satu per satu teman-teman suaminya itu.
"Cantik yaa, beruntung banget Abi dapet bini masih muda and cantik banget pula!" Puji laki-laki bernama Zian.
"Lo fikir gue udah tua?" Kesal Abi memukul lengan Zian.
"Lah gak nyadar dia. Hahahaha..!" Kali ini Raka ikut meledek Abi.
Usia Hana dan Abi memang tarpaut cukup jauh. Hana baru berusia 18 tahun sedang Abi usianya kini menginjak 28 tahun, perbedaan umur mereka terpaut 10 tahun.
"Iya Han kok lo mau sih nikah sama Abimanyu, dia mah pantesnya jadi om lo Han. Hahaha..!" Hilda pun menimpali, makin kesal aja Abi.
"Tau bakal jadi bahan ledekan lo semua mah gue ogah ke sini, Sialan!" Abi benar-benar dibuat kesal, bukan merasa tak enak semua justru terbahak-bahak melihat tingkah Abi.
"Daniel mana?" Tanya Reno mengalihkan pembicaraan.
"Bentar lagi juga dateng!" Jawab Abi malas.
"Ihh Abi sekarang baperan, gak seru!" Lagi Agnes seperti ingin ikut serta membuat kesal temannya itu.
"Hana mau minum apa? Kamu bisa minum alkohol?" Tanya Hilda menawari.
"Bini gue gak minum alkohol, bikinin moctail blueberry-lavender fauxjito aja!" Jawab Abi posesif.
"Cie, cie.. Abimanyu posesif nih sekarang beda banget waktu sama mantan!" Goda Zian membuat yang lain terkekeh.
__ADS_1
"Sorry gue telat" Daniel pun datang menghampiri mereka.
"Hai, kamu ikut?" Sapa Daniel pada Hana sambil mengacak-acak puncak rambut Hana.
"Kita bahas di kantor aja yuk, biar fokus. Di sini rame banget!" Ajak Raka.
"Gue lagi males ahh bahas proyek lo-lo pada, cewek-cewek di sini aja cuci mata lihat bule goyang!" Sahut Hilda melirik ke arah Abi.
"Jangan ngajarin macem-macem sama bini gue lo!" Gertak Abi mengancam.
"Abi posesif ih, gak gue ajarin macem-macem kok. Cuma gue ajak lihat bule-bule aja, butek kali ngelihat lo terus!" Ucap Agnes jengah.
"Enggak kok, aku seneng ngelihat Ka Abi setiap hari. Aku gak butuh lihat bule-bule itu, toh suami aku juga bule!" Sahut Hana malu-malu membuat semua ternganga mendengar ucapan polosnya dan sesaat kemudian tergelak.
"Gue nitip Hana ya Da, Nes!" Abi benar-benar membuat Hana layaknya seorang anak kecil yang butuh pengawasan.
"Iya, iya sana gih kalian!" Usir Agnes mengibaskan tangannya, seakan mengusir para lelaki.
"Baru pertama kali ya ke tempat beginian?" Tanya Hilda saat memperhatikan ketidak nyamanan di wajah Hana.
"Keliatan banget ya Ka?" Hana sedikit malu mendapatkan pertanyaan tersebut.
"Gue sih bisa lihat mana yang biasa ke tempat beginian mana yang gak biasa!" Ucap Hilda, perempuan cantik berkulit eksotis dengan pakaian yang cukup sexy menurut Hana, namun terlihat pas ditubuh sintalnya.
Kantor mereka memang masih di bangunan yang sama dengan klub ini, hanya berada di lantai tiga. Kantor tersebut memang sengaja dipasang dinding kaca untuk mengawasi keadaan di bawah.
Hana langsung tersipu malu melihat Abi yang terus menerus memperhatikannya.
"Abi tuh tipe cowok susah jatuh cinta Han, makanya dia lama pacaran sama Raya. Ups.. gak apa-apa kan gue ngebahas mantan dia?" Agnes sedikit tak enak hati karena keceplosan.
"Gak apa-apa Ka, berarti Ka Agnes kenal sama Mbak Raya?" Tanya Hana penasaran, kemudian menyesap minuman yang tadi dipesankan suaminya untuk dirinya. "Ehh ini enak lho..!" Puji Hana pada minuman yang pertama kali lidahnya rasakan membuat Agnes dan Hilda tertawa kecil melihat kepolosan Hana.
"Kenal lah, gue gak suka sama Raya, terlalu egois. Menurut gue dia terlalu nyetir kehidupan Abi, muak ngeliatnya. Untung deh gak sampe nikah!" Keluh Agnes yang diangguki oleh Hilda.
"Abi tuh tipe orang yang serius sama setiap hubungan, jangankan percintaan, hubungan pertemanan aja dia gak main-main. Dia sangat menghargai, tapi lo tau sendiri kan gimana mati-matiannya Raya ngelarang Abi buat nge ekspos hubungan mereka dan lebih memilih menutupi hubungan mereka, padahal Raya tau Abi tuh paling gak suka sama hubungan mereka yang kucing-kucingan gitu!" Cerita Hilda dengan wajah kesal.
"Betul tuh Han, kita setiap ketemu sama mantannya Abi yang ono udah paling males aja deh. Over banget!!" Sahut Agnes tak kalah kesalnya.
"Inget banget tuh gue Nes, pas dia maki-maki gue gara-gara gue nemplok sama Abi padahal jelas-jelas gue gak sengaja gara-gara jatoh!" Hilda benar-benar gemas mengingat ceritanya dulu.
__ADS_1
"Eh Han, lo udah pernah ketemu sama si Raya?" Tanya Agnes memajukan duduknya agar lebih dekat dengan Hana.
"Pernah!" Jawab Hana jujur.
"Jutek kan?" Agnes seakan meminta dukungan untuk sama-sama berada di kubu hatersnya Raya.
"Banget.. Tapi aku suka sama dia!" Ucap Hana membuat kedua gadis itu mengernyit dahi bingung.
"Kok suka?" Hilda pun tak mau mati penasaran memutuskan untuk langsung bertanya.
"Iya aku suka karena dia bodoh, udah nyia-nyiain pangeran tampan macem Ka Abi. Kalo gak sebodoh itu mana bisa aku sekarang berstatus Ny. Abimanyu Raffan, iya kan Ka?" Jawab Hana dengan tersenyum bangga membuat kedua gadis yang lebih tua darinya itu terpingkal-pingkal.
"Aduhhh.. udah ah, gara-gara lo gue jadi pengen pipis nih Han, gue ke toilet dulu ya!" Izin Agnes kemudian meninggalkan Hana dan Hilda.
"Gak heran Abi se protektif gitu sama lo, polos banget sih lo Han!" Ucap Hilda masih dengan sisa-sisa tawanya.
Saat masih asyik mengobrol, ponsel Hilda berdering, ia pun meminta izin pada Hana untuk keluar sebentar mengangkat panggilan dari kekasihnya karena suara dentuman musik yang keras pasti akan menyulitkan mereka untuk berbicara.
"Gak apa-apa kan gue tinggal sebentaran, cowok gue nelpon, gak bakal kedengeran kalo gue angkat di sini. Lo jangan kemana-mana ya, entar Abi ngamuk kalo lo ngilang okeh!" Hana yang mengerti maksud Hilda pun mengangguk mengizinkan.
Hana sebenarnya risih berada di tempat semacam ini seorang diri, apalagi beberapa pasang mata memandangnya dengan tatapan aneh, terkadang dengan tatapan genit kepadanya.
"Hi beautiful girl, just alone. May I accompany you?" Sapa seorang bule yang langsung duduk di sebelahnya membuat Hana semakin gugup. Terlebih seorang teman dari si bule juga langung ikut duduk di sebelahnya, kini Hana diapit oleh kedua lelaki asing itu.
"I'm not alone, I came here with my husband!" Sahut Hana ketus.
"Hahahaha .. Hey little girl, don't brag! Look at you, you're too young to have a husband!" Gertak bule itu membuat Hana terlonjak kaget.
"If you were with your husband, where is he now? Why are you sitting alone?" Tanya bule satu lagi, dengan tatapan penuh nafsu ke arah Hana.
"He's here, he's discussing work with his friends! Please go, leave me alone!" Pinta Hana mulai terlihat panik. Kepanikan Hana justru membuat kedua lelaki asing itu menyeringai.
Faham jika kedua orang asing itu tidak mendengarkan permintaan Hana, Hana berinisiatif untuk meninggalkan mereka dan mencari bangku baru. Namun, salah seorang lelaki asing itu mencekal pergelangan tangan Hana.
"Don't touch me! I have nothing to do with you, either go away or let me get out of here!" Gertak Hana mencoba melepaskan cekalan tangan bule itu. Air mata Hana mulai luruh, ia benar-benar takut saat ini.
Abi yang saat ini sedang duduk dengan teman-temannya untuk membahas suatu proyek kerja sama antara dia dan teman-temannya terlihat gelisah. Ia pun memutuskan untuk melihat Hana dari dinding kaca seperti tadi, betapa terkejutnya Abi saat melihat Hana seperti sedang diganggu oleh dua orang asing, ia melihat tangan Hana terus menerus ditarik oleh kedua orang asing tersebut.
"Anjing..!" Seketika darah Abi mendidih melihat istrinya sedang diganggu, ia pun tanpa berpamitan atau menggubris pertanyaan teman-temannya langsung memutuskan untuk menghampiri Hana dengan wajah memerah dan rahang mengeras menahan amarah.
__ADS_1
Melihat ada yang tak beres dengan tingkah Abi, semua temannya mengikuti langkah Abi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=