
Sepeninggalan Riana, Abi langsung bergegas menuju kamarnya. Tadi ia sempat meminta Imah untuk membawakan makanan pada Hana dan menemaninya.
"Udah makannya?" Tanya Abi ketika melihat Imah sedang merapikan peralatan makan.
Hana yang masih mengunyah suapan terakhirnya hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Habis lho Non Hana makannya Den!" Ucap Imah tak kalah senang.
"Hana keren euy, Dedek juga hebat!" Puji Abi mengangkat dua jempol tangannya.
"Opor ayam bikinan Bibi emang enak, gak ada duanya deh!" Sahut Hana kini memuji Imah, yang disambut oleh senyum oleh Imah.
"Kalo begitu Bibi permisi dulu ya Non Hana, Den Abi!" Pamit Imah kemudian meninggalkan kamar mereka.
Abi langsung menyiapkan obat yang tadi diberikan oleh Riana, dan juga beberapa vitamin untuk diminumkan ke Hana sebelum pergi tidur.
"Lama banget nganter Dokter Riana?" Tanya Hana seusai meminum obat dan vitaminnya.
"Iya tadi banyak yang diobrolin di bawah, tadi siapa yang bantuin kamu ganti baju?".
"Bi Imah, sebelum disuapin tadi!" Jawab Hana. Ia kemudian merebahkan dirinya membelakangi Abi sambil memeluk guling dan membelakangi suaminya.
Abi tak ambil pusing dengan tingkah istrinya, menurutnya dengan melihat Hana tak meledak-ledak emosinya saja sudah cukup membuatnya tenang.
Ia pun langsung mengambil posisi di belakang Hana, memeluk sang istri yang belum terlelap tentunya.
"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Abi hati-hati, takut jika emosi istrinya terpancing lagi, namun diluar perkiraannya Hana menjawab dengan gelengan kepala.
"Maaf ya, aku tadi minta kamu ngontrol diri itu cuma bermaksud supaya pertengkaran kalian gak jadi pemberitaan media, kamu tau sendiri kan media itu gimana? Bakal susah ngeredamnya, belum lagi ancaman Raya buat ngasusin kamu ke pihak berwajib!" Jelas Abi sambil terus membelai lembut rambut istrinya.
"Raya gak mungkin berani ngelaporin aku ke polisi!" Jawab Hana ketus.
"Emh.. aku juga minta maaf nemuin dia diem-diem tadi. Bukan maksud aku gak ngehargain kamu, aku cuma gak mau dia ngedeketin kamu lagi, ngasih masalah ke kamu lagi. Tadi juga sebenernya aku gak mau diajak ngomong sama dia, tapi dia malah ngajak ketemu sama kamu, ngobrol sama kamu. Aku bener-bener pengen dia itu ngejauhin kamu makanya aku ikutin mau dia, sekalian mau ngomong supaya jauhin kita!" Jelas Abi lagi.
"Dasar gatel!" Umpat Hana membuat Abi terkekeh.
"Dan aku mau bilang sama kamu, kesalahan terbesar aku adalah ke Paris dan berciuman sama Raya tapi aku bersumpah aku gak pernah ngelakuin apa yang otak kamu fikirin itu!" Tegas Abi.
"Maaf..!" Ucap Hana lirih, Abi hanya tersenyum simpul mendengarkan ucapan istrinya.
"Maaf juga udah ngasih malam pertama yang begitu menyakitkan kamu!" Kini Abi membenamkan wajahnya di tengkuk sang istri.
Hana dapat merasakan getaran suara dari suaminya itu, nada suara penuh dengan penyesalan yang teramat dalam. Hingga tak terasa ia sendiri pun akhirnya meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Aku ngantuk, kita tidur ya!" Ajak Hana tanpa menoleh ke arah suaminya, Abi hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.
***
Benar saja, kejadian kemarin menjadi headline utama pemberitaan seputar selebriti bahkan juga pemberitaan nasional tak mau ketinggalan meliput kejadian kemarin.
Abi, Daniel dan Angga yang saat ini tengah berkumpul di ruang kerja sambil memantau perkembangan berita mereka hanya mampu tertawa getir saat beberapa media melebih-lebihkan pemberitaannya.
Dan Abi juga cukup geram saat ada media yang menyudutkan istrinya sebagai seorang pelakor, yang jelas-jelas tak benar sama sekali.
Belum adanya konfirmasi dari pihaknya juga pihak Raya membuat berita itu semakin kacau, karena dengan se enaknya media membuat alur pemberitaan.
"Parah sih Bi, kita kudu bergerak ini!" Desah Daniel memijit pangkal hidungnya.
"Lo harus bikin statement cepet-cepet Bi, biar masalahnya cepet clear, kalo begini terus gak bakal ada abisnya media nge blow up kejadian kemaren dengan dibumbu-bumbu in masalah semau mereka!" Sahut Angga gantian.
"Sampe sekarang pihak Raya masih diem juga?" Tanya Abi.
"Lo harus bisa bernafas lega Bi, gue rasa Raya juga lagi kelimpungan buat ngasih statement ke media. Lo tau sendiri kan, dia mati-matian dulu nutupin hubungan antara lo sama dia dan gue yakin sampe sekarang pun dia sama aja, apalagi ditambah lo udah merid mana berani dia ngancurin image dia sendiri!" Jawab Daniel dengan senyum liciknya.
"Oke kalo begitu, gue udah tau harus ngapain! Lo jadwalin konfrensi pers secepetnya, undang semua media tak terkecuali!" Ucap Abi yakin.
"Siap Boss!" Jawab Daniel mantap.
"Gak perlu lah, biar gue yang handle. Gue gak mau bini gue ikutan capek ngurusin ginian, biar dia duduk manis di sini!" Jawab Abi membuat Daniel dan Angga saling melemparkan pandangan dan senyuman.
***
Sedangkan di mansion kehebohan pun tengah terjadi menanggapi pemberitaan seputar Hana.
Hafidz, Rendra, Kinan juga Irma saat ini sedang di ruang keluarga menonton siaran tv yang tak ada habisnya membahas kejadian antara Hana dan Raya.
"Saya enggak nyangka, Hana yang selembut itu berani bertindak implusif begitu!" Ucap Irma menyesali perbuatan puterinya.
"Bawaan bayi mungkin Ir, lagian bagus dong Hana kayak gitu jadi gak ada yang bisa semena-mena sama dia!" Kinan justru sangat senang dengan tingkah menantu kesayangannya itu.
"Benar kata Kinan Irma, akan aneh kalo Hana diam aja, pasrah aja ada perempuan yang mau ganggu suaminya!" Kali ini Rendra ikut menimpali.
"Iya sih Mbak, Mas. Tapi pemberitaannya jadi ngalor ngidul gak jelas begitu, menyudutkan Hana. Saya takut kalo Hana jadi kepikiran yang enggak-enggak!" Ucap Irma penuh kekhawatiran.
"Tadi pagi aku udah telfon Abi, Hana baik-baik saja katanya. Abi juga udah ngejelasin ke Hana kalo media juga pasti bakal ngelebih-lebih in pemberitaannya dan sejauh ini Hana ngerti kok, jadi kamu tenang aja!" Kinan mencoba untuk mengurangi kekhawatiran besannya itu.
"Kamu tenang aja Irma, Abi pasti bisa nge handle semuanya kok. Percaya sama saya!" Kali ini giliran Hafidz yang mencoba menenangkan Irma.
__ADS_1
Sejenak situasi hening saat fokus mereka teralihkan oleh adegan pertengkaran antara Hana dan Raya, namun tak lama tawa mereka pecah, kecuai Irma tentunya melihat bagaimana Hana dengan tubuhnya yang mungil bisa menjatuhkan Raya dan membuat Raya tak mampu untuk melawan kemarahan Hana.
"Jelas jagoan nih, cucu saya!" Seloroh Rendra semakin membuat suasana ruang keluarga riuh dengan tawa.
***
Daniel dengan cepat langsung menjadwalkan konfrensi pers malam itu juga, mengingat jadwal Abi yang padat juga Abi yang lusa harus melakukan perjalanan ke Bandung.
Semua telah siap pada posisinya, tak disangka ternyata begitu banyak media yang hadir, media cetak, elektronik bahkan ada juga yang sengaja menyiarkannya secara live.
Sedangkan di tempat lain, Hana dengan gugup menonton dan mengira-ngira apa yang suaminya akan katakan.
Begitu juga Raya di apartemennya, dia benar-benar penasaran apa saja yang akan diucapkan oleh mantan kekasihnya itu.
Setelah sedikit berbasa-basi, kini mereka berada di puncak acara sesi pertanyaannya.
Media X : "Mas, untuk kasus kemarin bagaimana? Apa bener istri Mas Abi itu pelakor?"
Abi : " Bukanlah, ngaco!" Jawab Abi cuek.
Media B : "Terus maksud Mbak Raya mengumpat istri Mas itu bisa dijelasin?!".
Abi : "Kalo itu sih, Mas harus tanya sendiri ke yang bersangkutan!".
Media A : "Kalo emang gak ada masalah antara istri Mas Abi dengan Mbak Raya, kok mereka sampe ribut gitu?".
Abi : " Bawaan bayi kali Mbak, semenjak hamil emang istri saya itu posesif banget, cemburuan banget. Jangankan saya dipeluk orang lain, saya meluk Mamah saya aja tanduknya langsung keluar!" Seketika tawa semua orang membahana di ruangan itu saat mendengar jawaban Abi.
Abi tidak tau jika Hana saat ini mencibir jawabannya, meski kemudian ikut tertawa.
Media K : "Jadi bener gak nih Mas penuturan Mbak Raya waktu itu kalo Mas pernah punya hubungan sama dia?".
Abi : " Sebatas temenan doang Mas, karena kita beberapa kali terlibat kerja bareng sih. Jadi deketnya ya sekedar berteman doang!" Abi memang sengaja tidak mengungkapkan kebenarannya, karena ia tak mau lagi berhubungan dengan Raya dan lebih memilih menjaga perasaan istrinya.
Merasa cukup memberikan klarifikasinya, Abi pun menyudahi sesi wawancaranya, ia tak mau berlama-lama melayani para pewarta, meskipun beberapa media masih ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Hana begitu senang dengan jawaban-jawaban yang diberikan oleh suaminya, hatinya menghangat saat tahu jika kini suaminya akan berada di garis terdepan untuk melindungi dan menjaganya.
Berbanding terbalik dengan Raya, rasa sakit hati yang teramat sangat kini menyulut amarahnya. Ia tak terima dengan semua jawaban Abi yang menganggapnya tak pernah ada, ia merasa dibuang dengan cara paling mengenaskan oleh Abi setelah apa yang sebenarnya pernah terjadi antara dirinya dan mantan kekasihnya itu.
"Lo lihat Bi, gue bakal bikin perhitungan sama kalian. Enggak akan gue biarin kalian memperlakukan gue kayak gini. Bajing*an, sial*an! Jangan panggil gue Raya kalo gue gak bisa ngehancurin pernikahan lo!" Raya begitu terpukul dengan apa yang menimpanya saat ini, hingga setelah puas memaki-maki ia juga menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1