My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)


__ADS_3

Pagi ini mereka mengawalinya dengan pertengkaran yang sangat sengit, kesengitan yang lebih di dominasi Hana. Abi yang tak faham sama sekali jika ajakannya pada Hana untuk memeriksakan diri ke psikiater membuat Hana begitu murka.


"Kaka fikir aku gila? Aku gak mau ke psikiater!" Geram Hana saat Abi mengutarakan ajakannya.


"Bukan, Sayang. Aku gak pernah nganggep kamu gila, aku ajak kamu ke psikiater sesuai anjuran Dokter Riana, supaya kamu gak takut lagi sama semua yang berhubungan dengan dunia medis, jadi kelak kamu lebih siap lagi menghadapi kehamilan!" Sahut Abi penuh kesabaran.


"Aku tau, tapi enggak harus sampe nemuin seorang psikiater juga. Nanti lama-lama juga aku gak takut, sabar ajalah!" Hana terlihat benar-benar tersinggung oleh ucapan suaminya.


"Bukan aku gak sabar Sayang, tapi alangkah lebih baiknya kita ikuti anjuran Dokter Riana. Lagian juga kan kamu pernah berkonsultasi ke psikiater kan?" Abi tak sadar perkataannya semakin menyulut amarah istrinya.


Ya, aku emang pernah. Hampir separuh hidup aku ke psikiater, huh! Konsultasi, terapi, obat-obatan yang setiap hari harus aku konsumsi ngebuat aku seakan beneran gila. Aku ngerasa berbeda dari orang lain dan kamu minta aku buat ngulangi masa-masa itu lagi? Enggak Ka, aku gak mau!" Ucap Hana menatap tajam suaminya.


"Oke, kita bicarain lagi nanti ya, kamu tenang!" Abi yang mulai faham penolakan Hana pun mulai mengalah.


"Gak ada pembicaraan apa-apa lagi nanti!" Ketus Hana, kemudian meninggalkan kamar mereka dengan raut wajah kesal.


Abi hanya menghela nafasnya berat menghadapi istrinya yang semakin tak bisa mengontrol emosinya semenjak kehamilan singkat yang pernah istrinya jalani.


Ia kemudian mengikuti langkah sang istri yang hendak ke ruang makan untuk sarapan.


"Ngapain kamu ngikutin aku?" Sinis Hana.


Aku juga mau sarapan Sayang, aku laper!" Jawab Abi memelas.


Hana tak menimpali ucapan suaminya, ia lebih memilih melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Abi di belakangnya.


"Sarapan di sofa yuk, sambil nonton tv!" Tanpa Abi ketahui ajakannya ini membuat sang istri semakin kesal saja.


"Kamu aja sendiri, aku jijik sama sofa itu?" Ketus Hana.


"Jijik? kenapa? Bukannya kamu selalu suka makan di ruang tengah, duduk di sofa itu sambil nonton tv?" Tanya Abi bingung.


"Iya, itu dulu sebelum aku tau mungkin aja di sofa itu berceceran cairan dosa!" Sindir Hana.


"Cairan dosa? Maksudnya? Sofa itu bersih kok, kan sebulan sekali selalu dibawa laudry khusus buat dicuci" terang Abi.


"Cih,, seberapa sering tuh sofa dicuci juga gak akan pernah menghilangkan dosa yang melekat di sana. Pokoknya aku mau buang sofa itu, aku mau ganti!" Tegas Hana semakin membuat Abi bingung.


"Lakukan apapun yang kamu mau Sayang!" Ucap Abi mengalah.


Saat sarapan pun mereka lebih banyak diam, tak ada seorang pun yang mau berbicara. Abi memilih diam karena menghindari perbincangan yang pasti berujung perdebatan mengingat suasana hati istrinya yang tidak baik saat ini.

__ADS_1


Pun saat mereka telah menyelesaikan sarapan mereka dan telah kembali ke kamar, tak seorang pun mau memulai obrolan.


Hana yang tengah asyik dengan ponselnya mengabaikan keberadaan suami di sebelahnya, hingga membuat Abi jengah.


"Kamu ngapain sih, sibuk banget sama hape?" Tegur Abi kesal.


"Aku lagi milih beberapa furniture baru buat ganti furniture lama kita, apalagi sofa di ruang tengah udah eneg aku ngeliatnya" Jawab Hana tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Kenapa tiba-tiba pengen ganti furniture di sini, semua kan masih bagus?" Tanya Abi lagi.


"Kenapa? Kamu gak rela kalo aku ganti? Kamu takut kehilangan kenangan-kenangan manis di tiap barang-barang di apartemen kamu ini?" Sengit Hana membuat Abi semakin mengernyitkan dahinya bingung.


"Kenangan apa? Kamu bebas kok ngatur apartemen ini sesuka hati kamu. Aku cuma mikir sayang aja masih bagus-bagus semua!" Sahut Abi tanpa ia sadari semakin membuat istrinya kesal.


"Tenang aja sih, nanti pake uang aku aja!" Ketus Hana yang salah tanggap ucapan Abi.


Abi memilih diam dibanding harus menimpali ucapan istrinya.


"Oh iya Ka, aku mau tanya mantan kamu itu paling benci warna apa? Tau enggak?" Tanya Hana menatap sekilas wajah suaminya.


"Ngapain kamu nanya-nanya tentang Raya lagi sih?" Bukan menjawab Abi justru malah kesal dibuatnya.


"Kenapa gak pake warna favorit kamu aja sih Han?" Abi mencoba memberi saran.


"Warna favorit aku adalah apapun warna yang dibenci sama mantan kamu itu!" Jawab Hana tersenyum smirk.


Otak cerdas Abi mulai menangkap sesuatu yang ganjal, ia tahu sesuatu telah terjadi antara istrinya dan Raya di apartemen mereka.


"Ungu, Raya paling enggak suka warna ungu!" Jawab Abi pasrah.


"Idihh.. Masih inget aja hal-hal tentang mantan!" Sidir Hana.


"Ya Allah Hana..!" Rasanya saat ini juga Abi ingin menyumpal mulut istrinya yang seakan tak pernah habis memiliki bahan untuk diributkan.


Hana hanya menaikan sebelah sudut bibirnya ke atas mendengar desahan suaminya.


***


Tepat saat makan malam Abi dan Hana telah tiba di mansion Hafidz, suasana haru sempat terasa dalam menyambut kedatangan Hana saat ini.


Kehilangan yang sangat membuat semua orang sedih masih sangat terasa, meskipun sebenarnya Hana telah mengikhlaskannya.

__ADS_1


Saat makan malam pun suasana masih juga diliputi kesedihan, terlebih Kinan yang memang paling terpukul atas musibah yang menimpa menantu kesayangannya itu.


Juga Hana yang sempat meluapkan kekesalannya atas kejadian pagi tadi saat Abi memintanya pergi ke psikiater, membuat Hana melakukan protesnya di atas meja makan.


"Pokoknya aku gak mau ke psikiater, aku janji next kalo Allah kasih kepercayaan aku lagi, aku udah lebih siap. Tolong jangan paksa Hana!" Pinta Hana membuat semua orang di meja makan tersebut memandangnya iba.


"Udah Sayang, sekarang fokus ke pemulihan kamu dulu aja gak perlu mikirin hal-hal lainnya. Jangan sedih lagi ya..!" Ucap Hafidz yang mengerti kegundahan hati cucu menantunya itu, Hana pun mengangguk mengiyakan. Begitu pula yang lainnya ikut menyetujui ucapan Hafidz.


"Kalo begitu Hana permisi duluan ke kamar ya, gak apa-apa kan? Hana pusing!" Izin Hana kemudian meninggalkan ruang makan setelah semua mengangguk mengizinkannya.


"Nanti boleh saya bicara dengan semua saat Hana sudah tertidur?" Tanya Irma ketika Hana telah meninggalkan ruang makan.


***


Setelah yakin istrinya telah terlelap, Abi bergegas turun ke ruang keluarga.


Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah semua anggota keluarga telah berkumpul, terlihat wajah Irma yang begitu gugup dan juga wajah-wajah anggota keluarga lainnya yang penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Irma.


"Sebelumnya saya minta maaf dengan apa yang akan saya akui sekarang..!" Irma menjeda ucapannya untuk menetralisir kegugupannya.


Mereka tidak sadar jika dibalik pintu ruang keluarga Hana yang tak benar-benar tidur justru mengikuti langkah suaminya dan saat ini ia sedang berdiri untuk mencuri dengar.


"Emh.. Sebenar ada sesuatu hal yang besar yang saya sembunyikan dari keluarga Bapak Hafidz tentang kondisi anak saya Hana!" Irma kembali menjeda ucapannya, terlihat wajahnya yang semakin gugup. Membuat semua orang semakin penasaran.


"Hana memiliki Mental Illness Problem (Gangguan Mental), lebih tepatnya Hana memiliki riwayat PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stres pasca trauma adalah kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa yang traumatis, sejak kecelakaan yang menimpa kami ketika usia Hana delapan tahun!" Lagi Irma kembali terdiam untuk menjeda pembicaraannya, namun kali ini dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Emhh.. Sejak bangun dari koma pasca kecelakaan, Hana langsung disibukan oleh rentetan terapi fisik, obat-obatan juga terapi kejiwaan karena kecelakaan tersebut benar-benar telah meninggalkan trauma hebat pada diri Hana. Bahkan Hana baru benar-benar berhenti mengkonsumsi obat-obatan anti depresi saat awal ia naik ke kelas 11, yang artinya kurang lebih dua tahun yang lalu!" Jelas Irma tanpa berani menatap orang-orang yang berada di ruang keluarga tersebut, dan jujur semua yang berada di sana pun merasa sangat terkejut.


"Saya meminta maaf karena tak berani mengatakan masalah ini saat keluarga Bapak Hafidz melamar Hana dan baru sekarang ini saya berani mengatakannya. Karena jujur saya takut jika dari awal saya ceritakan ini semua, Keluarga ini akan mengurungkan niat untuk menjadikan putri saya menantu di keluarga ini!" Air mata Irma mulai luruh.


"Saya, saya.. Saya tak tega saat saya tau jika saya memiliki penyakit kanker dan terbayang Hana tinggal sebatang kara pasca kepergian saya, maka saat Keluarga ini melamar Hana dan saya melihat kalian tulus terhadap putri saya, saya menyetujui lamaran yang diajukan keluarga Bapak Hafidz. Maaf jika saya terkesan memanfaatkan kalian, saya hanya benar-benar berharap Hana berada di tangan orang yang tepat ketika saya meninggalkannya nanti. Sekarang saya pasrah apapun keputusan Keluarga ini pada putri saya melihat bahwa Hana sepertinya kambali kambuh masalah mentalnya yang mungkin akan membuat keluarga ini malu atau pun menjadi kesulitan!" Irma sudah tak bisa membendung air matanya dan mulai terisak.


Mereka semua kini terdiam, berusaha mencerna semua ucapan yang terlontar dari Irma. Tapi jika boleh jujur tak ada sama sekali dari mereka yang marah pada pengakuan yang baru saja Irma katakan, justru mereka merasa sangat iba dengan kondisi yang dialami Hana. Itu semua karena keluarga Raffan yang memang tulus menyayangi gadis hebat itu sedari awal bertemu.


"Hana..!" Ucap Abi saat melihat bayangan istrinya yang mengintip dari balik dinding ruang keluarga, membuat semua yang tengah terdiam menengok ke arah pintu ruangan itu. Begitu pula Irma yang langsung memutar kursi rodanya untuk sekedar memastikan putrinya di sana.


Dan benar saja Hana keluar dari persembunyiannya dengan wajah sudah dipenuhi air mata, terlihat kesedihan dan kemarahan dari sorot matanya.


Namun saat Abi menghampirinya, Hana justru memundurkan langkahnya dan berlari menuju ke kamarnya lagi dan mengunci diri di kamarnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2